Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Residivis kasus penculikan
Tentu saja Ivy menggeleng dengan mata bulat sempurnanya, 11-24 lah sama mata Velvet, wajar...anak vs mami.
Enak aja pinjol! Jangankan jadi nasabah pinjol, pinjem receh aja ngga pernah, ngapain ihhh! Ibarat Lo jual mata indah Lo aja gue beli kok! Bibirnya sudah melengkung-lengkung julid memandang Panji.
"Eng---ga ada urusan sama Lo." Sergah Ivy segera meski ia cukup tersedak saliva sendiri saat mengatakannya, ia tak mau sampai melakukan kebodohan lainnya gara-gara sarapan pasta dan susu kambing setengah porsi.
Panji, ia mendengus geli sumbang, "saya cuma mau ngomong baik-baik. Oke?"
Oke, mari kita negosiasi.
Mata Ivy menatap horor nan judes ke arah tangannya yang masih dicengkram Panji, bukan lautan hanya kopi--susu....seolah berkata---don't touch me!
Oke! "Tapi janji jangan lari lagi, saya bukan debt collector kaya apa yang kamu bilang." Perlahan tapi pasti, Panji meregangkan cengkeramannya di pergelangan gadis yang---oke, cantik jelita menurutnya tapi kesan pertama yang ia dapatkan adalah gadis ini angkuh tak tertolong.
Sebelah tangan Panji mengangkat, tanda jika ia berjanji tak melakukan apapun yang mengancam tapi jidat Panji seolah muncul tulisan dengan font besar dan menyeramkan, seperti judul-judul film horor atau thriller di mata Ivy, Psycho....
Begitu lepas, Ivy bersiap untuk ambil langkah seribu. Namun, sayang seribu sayang....Panji sangat hafal dengan gelagat itu, hingga akhirnya Panji dengan refleks menangkapnya kembali.
"Aaaaa, damnnn!" umpat Ivy menatap sengit tapi sedetik kemudian ia merengek pasrah, mama...!!!
Hahahaha! Panji tertawa dalam hatinya, ia justru merasa sedang menang dalam sebuah permainan bersama Seera dan Arraz.
Sosok Gala kini terlihat muncul di belakang Panji, dan Ivy melihat sinyal-sinyal SOS yang bisa ia gunakan untuk meminta pertolongan pada Gala, help me kak...sorry ini Titan nya lepas!
"Nah kan, kamu tidak bisa kooperatif. Saya cuma mau tanya Mayra...dimana Mayra? Dia ada datang ke kampus, dari tadi saya kirim pesan tidak dibalas, ditelfon pun tidak diangkat."
Ivy masih melihat wajah Panji, yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah, apakah jika ia berbohong Panji akan tau?
Tak butuh waktu lama untuk merangkum kesimpulan tentang sosok Panji, ia tentara, ia sigap, ia tak mudah goyah, gesit dan selalu tau langkah yang akan diambil lawan. Oh lihatlah sorot matanya itu begitu mengintimidasi. Hufft Mayra si alan!
Ditambah, Gala turut hadir disana tepat di samping Panji, "Vy, sorry...ini abang sepupu gue..mau tanya yang namanya Mayra, itu temen Lo, kan?" oh, bahkan Gala baru mengetahui jika Panji memiliki kekasih yang berkuliah di UNJANA apa suaminya tau juga?
Mata dengan bingkai goresan tajam eyeliner yang memberi aksen tajam itu memandang Panji lagi setelah sempat mengangguk pada Gala, "Mayra sakit. Dia ngga masuk."
Ivy tak tau jika keputusannya ini benar atau salah, hanya saja ia mengucapkan yang ada di ujung lidahnya saja.
"Ha? Sakit?" kini Panji yang mengernyit menatap gadis dengan pahatan wajah jelita bak bintang ftv, rambut panjang tergerai, oh tentu saja setelah diamati ada rambut jambang yang manis membingkai saat gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Bibirnya yang tipis dan terkesan mungil itu berwarna merah muda yang segar mencebik-cebik minta di kokop sejak tadi.
Ivy mengangguk.
"Sakit apa?" tanya Panji tanpa sadar jika sejak tadi sebelah tangan mereka itu, Gala melipat bibirnya.
"Kanker."
"Hah?!" Panji dan Gala kompak terkejut membuat Ivy ikut kaget juga dengan jawabannya sendiri, "eh tumor."
Lagi, "tumor?!"
"Eh, kencing batu..ck, ahh! Ngga tau lah. Itu pokoknya." Ivy bingung sendiri akhirnya.
"Pokoknya hari ini dia ngga masuk, gue ngga tau juga tadi pagi wa sih jawabnya sakit..." ucapan Ivy mendadak seperti orang yang berkumur-kumur bagi Panji sekarang, karena kini---tepat di depan sana, ia melihat sendiri dengan sepasang netranya Mayra yang baru saja pergi dengan seorang lelaki, gestur, postur, gelagat, wajah dan semuanya 100 persen Mayra.
Kini Panji menyeringai, dengan hati yang sudah panas dan meletup-letup, lava pijar siap erupsi, "sakit ya?"
Ivy mengangguk mantap, "jadi tolong lepasin tangan gue ini, pegel...." karena Ivy merasa cengkraman Panji justru semakin mengerat ketat di tangannya, nih orang beneran psycho ya?
"Dari pagi gue ngga ketemu dia, di kelas pun absen."
Mata Panji menatap tajam, "yakin tidak bohong?"
Ivy kembali mengangguk, "lagian apa sih, Lo pacarnya tapi ngga tau Mayra...pantes aja May---" hampir ia keceplosan lagi.
Ada kernyitan di kedua alis Panji memandang Ivy, "kamu tau saya pacar Mayra, tapi kamu kabur, apa yang kamu tau, apa yang kamu sembunyikan?"
Gleuk...sorot yang sempat menatap mantap, jutek, angkuh dan menusuk itu mendadak ciut penuh keraguan, "apa sih? Lo ngomong apa?!" Ivy masih berusaha menarik tangannya dari lelaki ini---oke Mayra benar, lelaki ini memang Psycho.
"Bang." Gala meringis menyentuh tangan Panji.
"Katakan..." rahang Panji mengeras, mencecar tanpa ampun pada gadis yang ia curigai...oh bukan curiga lagi, namun sudah pasti ia sedang melindungi tersangka dan kebenaran kasus.
Benar, dua pasang mata yang berlainan irisnya itu saling menatap melempar ketajaman.
"Lo cowok posesif." Tiba-tiba hardik Ivy, "ngga akan ada cewek yang betah deket-deket sama Lo, dari perlakuan Lo sama orang baru aja begini." Kini tak ada lagi kebohongan yang Panji lihat dari mata Ivy.
"Masalah Lo sama Mayra, gue ngga ikut campur. Cuma Mayra titip pesen...dia mau putus dari lo dan----"
Kyaaaaa!
Mendadak tubuh Ivy tertarik dan terangkat oleh Panji, "tunjukan jalan kemana Mayra pergi, kost-annya atau tempat lain..."
Gala menggeleng dan justru menepuk jidatnya dengan aksi Panji yang alih-alih berlaku seperti seorang penyidik ia justru terlihat seperti seorang residivis penculikan anak anak gadis, "bang astaga!"
"Sarapppp! Cowok sarappp!" jerit Ivy mengundang atensi orang sekitar. Mereka praktis menghampiri hendak menolong tapi disana, Panji justru lebih pintar daripada cara primitif Ivy yang mengatakan, "tolong gueeee, gue diculik!!"
Gala meringis malu, ia menekan dial Duta air mineral 💞, "abanggg! Bang Panji ngacak-ngacak UNJANA..ini aku malu banget."
"Sorry, terusin aja kegiatan. Jangan terganggu. Saya Intel sedang menjalankan tugas!" Tentu saja Panji dengan mudah menyeret Ivy pergi, "cowok sakit lo! Enyahhh, aaarghhhh! Gue sumpahin anu Lo loyo! "
"Sorry ya...sorry ini murni ngga ada apa-apa." Gala sudah mengatupkan kedua tangannya, yang menunjukan arah jalanan dengan tingkat keramaian yang rendah pada Panji menuju parkiran.
.
.
.
.