Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Satu Jalan Menuju Dunia Luar
Delapan tahun telah berlalu, dan Hutan Bambu Ungu yang dulu menjadi tempat latihan awal kini menjadi saksi perubahan yang luar biasa, di mana suara tebasan tajam menggema di antara batang-batang bambu yang menjulang tinggi, memecah keheningan dengan irama yang penuh kekuatan.
Seorang pemuda berusia enam belas tahun melompat ke udara dengan tubuh yang ringan dan terkontrol, setiap gerakannya tegas tanpa ragu, mencerminkan latihan panjang yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Pedang di tangannya berkilat tajam, dilapisi petir ungu yang berdenyut seperti naga hidup, berkelok di sepanjang bilahnya dengan energi yang liar namun terkendali.
“Haah!” teriaknya, suaranya menggema di antara hutan.
Tebasan demi tebasan dilepaskan dalam satu rangkaian gerakan yang mengalir tanpa jeda.
Sreet! Sreet! Sreet!
Udara seolah terbelah oleh kecepatan dan kekuatan yang kini jauh melampaui apa yang pernah ia capai sebelumnya.
Dalam satu rangkaian gerakan yang mengalir tanpa cela, beberapa batang bambu ungu di sekitarnya terbelah bersamaan, potongannya jatuh serempak ke tanah dengan suara retakan yang bersih dan tajam, seolah tidak pernah memiliki ketahanan sedikit pun.
Pemuda itu mendarat dengan sempurna, kakinya menyentuh tanah tanpa getaran, tubuhnya tetap tenang dan tidak goyah sedikit pun, seolah seluruh gerakan barusan hanyalah hal biasa baginya.
Ia adalah Long Chen.
Delapan tahun telah mengubahnya.
Aura yang menyelimuti tubuhnya kini jauh lebih matang, dalam, dan stabil dibandingkan masa lalunya, tidak lagi liar atau tidak terkendali, melainkan tajam seperti pedang yang telah ditempa berkali-kali.
Di sisi lain, di bawah naungan bambu ungu yang bergoyang pelan, seorang gadis duduk di kursi roda, memperhatikan setiap gerakan dengan tatapan lembut yang penuh ketenangan.
Itu adalah Mei Ling.
Wajahnya masih pucat seperti dulu, namun sorot matanya kini jauh lebih hidup, seolah waktu tidak hanya membawa penderitaan, tetapi juga keteguhan.
“Junior Long Chen…” ucapnya pelan, suaranya lembut namun jelas.
Ia tersenyum tipis, matanya mengikuti bayangan pemuda yang baru saja mendarat dengan sempurna. “Aku tidak menyangka kau bisa berkembang secepat ini,” lanjutnya.
Nada suaranya mengandung kekaguman yang tulus.
“Kau memang berbakat.”
Long Chen menoleh ke arah Mei Ling, senyum ringan terukir di wajahnya yang kini lebih dewasa dan tenang, tidak lagi canggung seperti dulu. Tatapannya lembut, penuh rasa hormat yang tidak berubah sejak awal mereka bertemu.
“Semua ini… berkat Senior Mei Ling dan para senior lainnya,” ucapnya dengan jujur, tanpa sedikit pun kesombongan.
Ia melangkah mendekat beberapa langkah, lalu berhenti di hadapannya. “Kalau bukan karena kalian… mungkin aku tidak akan bisa sampai sejauh ini,” lanjutnya.
Mei Ling tersenyum lembut, tatapannya hangat saat memandang Long Chen yang kini berdiri di hadapannya dengan sosok yang jauh berbeda dari dulu. “Sudah delapan tahun sejak kau bergabung ke sini,” ucapnya pelan, seolah mengingat kembali setiap momen yang telah mereka lalui bersama.
Ia menarik napas kecil, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Kau tahu… aku sangat senang kau ada di sini,” katanya jujur.
Long Chen tidak langsung menjawab dengan kata-kata panjang.
Ia hanya tersenyum.
Sore hari pun tiba, langit berubah jingga keemasan yang menyelimuti Hutan Bambu Ungu dengan cahaya lembut, sementara bayangan batang-batang bambu memanjang di tanah yang sunyi. Long Chen berjalan perlahan di jalur setapak, tangannya mendorong kursi roda Mei Ling dengan hati-hati, menjaga setiap gerakan agar tetap stabil.
Di sepanjang perjalanan itu, suasana terasa tenang, hanya suara angin dan dedaunan yang bergesekan pelan.
Namun suara Long Chen memecah keheningan.
“Aku akan berusaha mencari obat untuk menyembuhkan penyakitmu, Senior,” ucapnya dengan nada serius, tanpa ragu.
Ia melanjutkan, suaranya semakin dalam, “Walaupun aku harus melanggar aturan sekte dengan turun ke bawah gunung.”
Mei Ling langsung menggeleng pelan, ekspresinya berubah lembut namun tegas. “Itu tidak perlu, junior,” jawabnya.
Tatapannya sedikit menunduk, ada perasaan yang ia tahan. “Saat ini saja aku sudah cukup merepotkanmu…”
Mei Ling menunduk, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuannya, suaranya terdengar pelan namun jelas mengandung kekhawatiran. “Apalagi jika kau benar-benar harus mengambil risiko dengan turun gunung, para pemimpin pasti akan memarahimu, dan aku tidak ingin itu terjadi,” ucapnya lirih.
Ia menarik napas kecil sebelum melanjutkan, “Anggota Sekte Pedang Langit tidak boleh turun gunung sembarangan, itu adalah aturan yang tidak bisa dilanggar.”
Tatapannya sedikit mengangkat, menatap ke depan dengan tenang namun berat. “Satu-satunya cara… adalah melalui Turnamen Tujuh Divisi, dan itu pun kau harus mencapai empat besar,” tambahnya.
Kata-kata itu terasa seperti batas yang jelas.
Namun Long Chen mengepalkan tangannya, ekspresinya berubah serius.
“Tapi aku tidak bisa hanya melihat Senior menderita seperti ini,” ujarnya tegas.
Suaranya tidak lagi ragu.
“Aku tidak mau diam saja. Aku harus berusaha untuk menyembuhkanmu …”
Mei Ling tersenyum tipis, senyumnya lembut namun penuh makna, seolah menyimpan rasa terima kasih yang tidak bisa sepenuhnya diungkapkan dengan kata-kata. “Kau terlalu baik, junior,” ucapnya pelan.
Tatapannya menunduk sedikit, lalu kembali menatap ke depan dengan tenang. “Terima kasih… karena sudah merawatku selama delapan tahun ini dan selalu mengkhawatirkanku,” lanjutnya, suaranya hangat namun sedikit bergetar.
Kata-kata itu sederhana, namun terasa begitu dalam hingga membuat Long Chen terdiam sejenak. Langkahnya tetap berjalan, perlahan mendorong kursi roda itu dengan hati-hati, seakan tak ingin mengusik ketenangan di sekitarnya. Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan, sesuatu yang perlahan mengusik ketenangan batinnya. Perasaan itu bukan sekadar kewajiban, bukan pula hanya rasa kasihan, melainkan sesuatu yang telah tumbuh diam-diam… tanpa pernah ia sadari sebelumnya.
Long Chen sedikit menunduk, lalu bertanya dengan nada yang masih menyimpan harapan, “Oh iya, Senior… kira-kira kapan turnamen itu akan diadakan lagi?”
Mei Ling berpikir sejenak, matanya sedikit menyipit seolah mengingat sesuatu dari masa lalu. “Kalau tidak salah, terakhir turnamen itu digelar enam tahun yang lalu,” jawabnya pelan.
Ia melanjutkan dengan nada tenang, “Dan saat itu Divisi Pedang Petir hanya mengirim dua orang, yaitu Senior Mo Fan dan Senior Shi Hao.”
Tatapannya sedikit berubah, ada bayangan kenangan di dalamnya. “Bahkan Senior Mo Fan hampir saja mendapatkan kesempatan untuk turun gunung… tapi sayangnya ia gugur di babak delapan besar,” tambahnya.
Long Chen menarik napas dalam, dadanya terasa sedikit berat mendengar itu.
Namun tekad di matanya tidak goyah.
“Mudah-mudahan saja… turnamen itu akan diadakan lagi,” ucapnya perlahan.
Tatapannya menatap ke depan.
“Dan aku bisa ikut serta, mewakili Divisi Pedang Petir… agar aku bisa mendapatkan izin untuk turun gunung.”
Angin sore berhembus pelan, dan untuk pertama kalinya, tujuannya menjadi semakin jelas.
End Chapter 21