"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN UNTUK SEKIAN KALINYA
Arya masih mendiamkan sang Adik, pria itu hanya diam menyaksikan siaran televisi di kamar rawatnya. Luka terbuka yang Arya dapatkan sudah di tangani, sudah dipastikan tidak ada yang membahayakan nyawa pria itu. Anjani yang mengetahui hal tersebut, tentu saja menghela napas penuh bersyukur.
"Kak, ayo sarapan dulu." ucap Anjani membujuk pria itu. Arya hanya menoleh sebentar dan tidak menjawab.
"Kamu saja yang makan," sahut Arya cuek.
Anjani menatap nampan berisi bubur tanpa rasa dan sayur. Anjani tidak menyukai masakan tanpa rasa itu. Ia merasa masakan rumah sakit jauh lebih buruk dari masakannya sendiri.
"Tapi sudah waktunya ...."
"Buang saja obatnya,"
Anjani menghela napas panjang, respon Arya sangat tidak ia harapkan. Setelah pertengkaran mereka kemarin, ia mengira Arya akan mengajak dirinya bicara, tetapi perkiraan meleset jauh. Pria itu mendiamkan dirinya sejak kemarin.
"Kak, keputusan ku untuk berhenti bersekolah murni karena keinginan ku, bukan karena semata-mata karena ingin merawat Kakak." Anjani ingin Arya mengerti dan memahami maksud serta tujuannya ia melakukan semua ini.
Arya masih diam dan terlihat tidak ingin mendengarkan apapun yang adiknya katakan. Anjani beranjak dari kursi dan langsung mematikan televisi dengan perasaan kesal.
"Apapun yang kamu katakan, Kakak tidak ingin tahu. Kakak hanya ingin kamu membatalkan niat dan kembali bersekolah seperti biasanya,"
Anjani lelah dan sebenarnya tidak ingin berdebat kembali dengan arya lagi. "Aku akan mengambil jalur C setelah urusan ini selesai,"
Setelah mengatakan itu, Anjani mendekatkan nampan dan meminta Arya untuk membuka mulutnya. "Makanlah, aku akan menyuapimu seperti biasanya."
"Jangan mengalihkan pembicaraan Anjani!"
Anjani berlagak acuh dan tetap menyuapi pria di hadapannya. "Berhentilah ngomel dan makan sarapannya, Kak."
Arya tidak memiliki pilihan selain membuka mulut dan sekali memandangi sang Adik yang sangat telaten menyuapi dirinya. Ia jadi teringat dengan masa kecilnya, di saat orang tuanya masih ada. Hari-harinya penuh dengan kebahagiaan dan canda tawa, namun karena satu kejadian membuat kebahagiaan mereka seketika sirna.
"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membayar rumah sakit?"
Anjani seketika mematung kembali, yang mengira kalau Arya tidak akan membahas hal tersebut. "Aku ... Kakak tidak perlu tahu aku mendapatkan uang dari mana."
Arya dapat menangkap rasa cemas dan gerak-gerik yang mencurigakan, "kamu tidak melakukan apapun yang tidak Kakak harapkan bukan?"
"Aku tidak mengerti apa yang Kakak maksud," Anjani mencoba untuk tidak menatap mata Arya, karena pria itu sangat peka dan bisa saja mengetahui apa yang ia sembunyikan.
"Kamu tidak menggunakan uang tabungan kamu kan?" Arya makin gencar untuk mempertanyakan uang yang didapat Anjani dalam waktu singkat itu.
Mana mungkin Anjani bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dilakukan ada orang yang membantunya. Rasa curiga dan gerak-gerik Anjani lah yang mendorong Arya untuk mengetahui lebih jauh.
Anjani tersenyum canggung dan kembali menyuapi sang Kakak, "seharusnya begitu."
"Lebih baik kamu jujur sebelum kakak mengetahui dari orang lain."
"Selesaikan ini dulu baru aku akan menjawab semua pertanyaanmu,"
Semua punya suapan masuk ke dalam mulut Arya, yang kamu putar tanpa rasa itu habis tak tersisa. Anjani memberikan obat-obatan dan melihat bagaimana Arya melakukan semuanya dengan cepat. Ia menjadi bingung dan tak tahu harus melakukan apa sekarang.
"Sudah selesai dan sekarang katakan semuanya,"
"Itu ... bagaimana kalau kita harus menunggu kondisimu lebih membaik." Anjani tersenyum lebar dan tampak memohon kepada pria di depannya.
"Anjani, kamu tahu kalau Kakak tidak akan pernah mengulang perkataan dua kali."
GLEK ....
"Apa kamu minjam uang dari Pak Kades?"
Anjani mulai memainkan jarinya dan bergerak gelisah, kalau ia mengatakan semuanya maka Arya akan semakin marah. Dia bisa membayangkan apa yang akan Arya lakukan kepadanya.
"Fika yang memberitahu Kakak,"
...****************...
Siang hari, Anjani berdiri di taman rumah sakit, sudut bibirnya tampak ada darah yang sudah mengering. Ya, Arya marah besar kepadanya dan secara tak sadar menampar Anjani dengan keras.
Anjani tak menyalahkan sikap Arya kepadanya, ia hanya tidak habis pikir kenapa Fika memberitahu Kakaknya perihal pinjamannya? Anjani menghela napas dan mendudukkan dirinya di sebuah kursi dekat air pancuran.
"Ekhem."
Anjani terkejut dengan kedatangan pria yang tak di undang, Arnold. Anjani memutar matanya malas saat Arnold mendudukkan diri di sebelahnya.
"Apa yang kamu pikirkan, Anjani?"
Anjani melirik sinis, kenapa pria di sebelahnya selalu bergentayangan di siang bolong seperti sekarang. Arnold tersenyum tipis dan memperhatikan Anjani dengan baik.
"Sepertinya kamu habis bertengkar dengan Kakak kamu," kata Arnold dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tuan tahu?" Anjani reflek menutup mulut, ia kelepasan berbicara.
Arnold terkekeh kecil, gadis polos di sebelahnya sangat lucu dan menggemaskan. "Tentu saja saya tahu."
Anjani hendak berdiri namun Arnold lebih dulu menahan tangannya, tangan kekar itu terasa sangat besar saat menyentuh lengan mungil Anjani. Kulit putih dan bersih, serta harum badan dari Anjani begitu membuat Arnold tergila-gila.
"Apakah kamu sudah memikirkan tawaran saya?" tanya Arnold membuat Anjani menjadi kesal.
Ia bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu sejak kemarin, mungkin sudah melupakannya bila Arnold tidak datang sekarang.
"Tuan, kita tidak saling mengenal dan mengapa anda terus saja menawarkannya kepada saya?" tanya Anjani kesal, wajah itu sangat imut dan menggemaskan saat sedang marah. Arnold menyukainya.
"Hanya kamu yang pantas mendapatkan tawaran itu, Anjani."
Gadis itu menjadi geli sendiri, bualan dan rayuan semata sudah ia dapatkan dari pada pemuda desa. Menurut nya, semua orang kaya sama saja seperti setan. Penjilat dan sangat serakah. Ia menatap Arnold dengan penuh selidik, dari mana pria di sebelahnya mengetahui namanya dan pertengkarannya?
"Apa Tuan seorang stalker?"
Arnold tertawa pelan, ia tak menyangka Anjani menanyakan hal seperti itu. Baginya memperolehnya informasi seperti ini sangat mudah, bahkan ia mengetahui semuanya tentang Anjani.
"No, baby." Arnold menyelipkan anak rambut gadis itu, "aku mengetahui semuanya tentang kamu."
Pria ini sudah gila. batin Anjani yang merasa takut.
"Aku hanya ingin menawarkan aliansi pernikahan dengan mu, tidak lebih. Lagipula untuk apa aku mencampuri urusan pribadi mu itu," ia tidak ingin Anjani merasa terancam saat berada di dekatnya, bagaimana pun juga ia harus memastikan Anjani menerima tawarannya darinya, maka hidup Arnold akan kembali seperti semula.
"Aku tidak mau!" tolak gadis itu dengan menepis tangan Arnold dari wajahnya.
"Itu artinya kamu menolak untuk mengambil kembali hak mu yang di rebut oleh warga desa?"
Anjani terdiam, ia ingin melakukan hal itu. Anjani memperhatikan Arnold, walaupun ia tidak mengenal Arnold namun ia yakin kalau pria di sebelahnya bukan orang biasa. Ia pernah mendengar nama Darmawangsa yang tersemat di nama belakang pria di sebelahnya. Ia tidak mengharapkan apapun ataupun melakukan hal bodoh lagi, namun setelah mendengar perkataan Arnold, Anjani mulai memikirkan banyak hal.
Hak-hak dirinya sebagai warga desa yang harusnya ia dapatkan, justru direbut secara paksa oleh warga desa lainnya. Lahan yang orang tuanya tinggalkan, justru diambil alih oleh warga yang semena-mena, Arya yang dipersulit untuk mencari pekerjaan di desa, hingga akhirnya diterima sebagai tukang angkut beras oleh Juragan di desanya.
"Pikirkanlah sekali lagi, saya tidak akan memaksa kamu tapi saya harap kamu menerima tawaran ini, tanpa paksaan dari saya." ucap Arnold yang terdengar pelan.
Anjani tidak mengerti mengapa Arnold begitu ingin ia menerima tawaran tersebut, Anjani ingin bertanya namun ia malu karena Arnold adalah pria asing, tempat ia rawat karena permintaan perawat.
"Kamu tidak perlu sungkan untuk bertanya apapun tentang saya, saya tidak akan berbohong dan akan menjawab semua pertanyaan."
Anjani dan Arnold saling terdiam, tidak ada yang bersuara. Anjani tampak memainkan jari-jarinya dengan gelisah, bila ia menerima tawaran dari Arnold, maka ia bisa mengambil kembali lahan peninggalan orang tuanya. Bahkan atau mungkin bisa membalas warga yang selama ini berlaku buruk padanya.
"Akan aku pikirkan, Tuan." perkataan Anjani membuat Arnold seketika menoleh.
"Aku senang mendengarnya, kamu bisa menghubungiku bila kamu sudah membuat keputusan."
Arnold kembali memberikan sebuah kartu nama berisi nomor telepon pribadi, Anjani ini tidak sungkan kembali untuk menerima kartu tersebut. melihat kepergian Arnold, iaa baru menyadari kalau pria itu sangat tampan, atau mungkin jauh lebih tampan dari pemuda di desanya.