NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Hari Yang Sangat Indah

Pagi itu Kaelric bangun awal, tapi dia agak terkejut juga. Biasanya, dia yang bangun terlebih dahulu. Tapi  sekarang nampak berbeda. Veliora terlihat lebih rajin. Rajin dalam segala hal.

Dia sudah nampak seperti gadis yang dewasa.

Kaelric menyadari itu. Dari mulai kebiasaannya setiap hari. Veliora sekarang lebih suka berkutat di dapur. Memasak dengan Bik Isa. Tapi, karena Bik Isa ijin pulang hari ini, sepertinya Veliora harus memasak sendirian.

Secangkir kopi hitam tanpa gula bertengger di atas meja. Kaelric menyunggingkan senyum tersembunyi.

Dia pun berjalan kearah meja makan. Duduk, lalu menyesap kopi buatan Veliora. Dia perhatikan putri Kaeden sambil menopang dagu.

"Kalau begini, rasanya malas mau ke kantor. Ah, biar di handle Ravian aja. Adiwinata biar kosong sementara waktu. Hmm... Biarkan saja seperti itu. Biar Bismantaka bersenang-senang dulu."

Dia akhirnya menulis pesan pada Ravian.

Kaelric Vorn : Ravian, hari ini kamu ke Aegis Tower saja. Aku ingin meluangkan waktu buat Veliora sejenak. Dan, ada kabar gembira. Ibu bersedia tinggal di rumah utama. Pagi ini Ibu mulai berkemas.

Ravian Kestler ; Baik Bos.

Setelah itu, handphone dia matikan.

Hari itu datang dengan cara yang berbeda. Tidak ada panggilan mendesak ataupun rapat yang harus didahulukan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama Kaelric Vorn memilih untuk tidak bekerja hari itu.

“Daddy… kita benar-benar keluar hari ini?”

Suara Veliora terdengar hati-hati, seolah takut jawabannya berubah.

Kaelric berdiri di dekat pintu, mengenakan pakaian yang jauh dari kesan formal.

Lebih santai. Lebih ringan.

“Bukan keluar,” jawabnya singkat.

“Kita akan berkeliling.”

Veliora mengerjap, lalu tersenyum lebar. Mobil itu sudah menunggu di area depan mansion.

Pintu terbuka pelan, dan Veliora masuk dengan sedikit ragu sebelum duduk di kursi samping.

Tangannya bertumpu di pangkuan.  Mesin pun menyala halus. Kaelric melirik Veliora sekilas.

“Pegangan yang kuat.”

"Hari ini kita berkeliling Mansion. Nanti, habis ini kita bantu Ibu. Jam segini Ibu biasanya masih di kebun taman belakang. "

Kata Kaelric seolah tahu kebiasaan Ibu Gerard. Tapi, memang benar yang dikatakan Kaelric. Pagi begini  Ibu Gerard masih sibuk merawat tanaman Anggrek di kebun belakang.

Mobil bergerak perlahan, menyusuri jalan panjang di dalam area mansion.

Tidak berjalan cepat atau agresif. Seolah menggambarkan bahwa hari itu bukan tentang kecepatan melainkan waktu.

Veliora awalnya diam. Namun perlahan, matanya mulai bergerak ke sana-sini, memperhatikan setiap sudut yang selama ini hanya ia lihat dari jauh.

“Luas sekali…”

Ia berbisik, lebih kepada dirinya sendiri.

Kaelric tidak menjawab.

Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Mereka berhenti di taman bagian belakang Mansion. Hamparan hijau membentang luas, dihiasi pepohonan yang tertata rapi.

Angin pagi berhembus pelan, membawa kesejukan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun juga.

Veliora turun lebih dulu. Langkahnya ringan, seolah takut merusak ketenangan itu.

“Ini semuanya punya Daddy?”

Kaelric berjalan mendekat.

“Untukmu juga.”

Jawaban itu sederhana. Namun cukup membuat Veliora terdiam sesaat.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.

Lorong yang panjang. Ruangan-ruangan yang sebelumnya tertutup kini terbuka satu per satu.

Hari itu, mansion tidak terasa seperti bangunan besar yang dingin, melainkan tempat yang perlahan mulai terlihat hidup.

“Kita ke Basement?” tanya Kaelric saat melihat arah pandang Veliora.

Tanpa ragu, Veliora mengangguk. Lift privat membawa mereka turun. Dan ketika pintu terbuka, cahaya terang menyambut.

Ruang luas itu tersusun rapi, menampilkan deretan kendaraan dengan berbagai karakter.

Elegan. Tajam. Dan mewah.

Veliora melangkah masuk dengan mata berbinar.

“Ini semuanya milik Daddy?”

“Sebagian.”

Jawaban yang sama.

Namun kali ini, Veliora tertawa kecil.

Ia berjalan di antara mobil-mobil itu, sesekali berhenti, memperhatikan detailnya.

Pantulan wajahnya terlihat di permukaan bodi yang mengilap.

“Kalau aku besar nanti…”

ia menoleh,

“aku boleh pilih satu?”

Kaelric berdiri tidak jauh.

“Kau tidak perlu menunggu besar.”

Veliora terdiam.

“Ambil apa yang kau mau.”

Suasana hening sejenak.

Namun bukan hening yang canggung, melainkan rasa hangat yang mulai menyergap.

Kaelric mendekati Veliora yang berdiri disamping mobil Lamborghini Aventandor milik Kaelric. Disentuh mobil itu dengan lembut.

Kaelric pun meraih tangan Veliora. Disentuhnya tangan halus itu, sejenak Veliora terhanyut dengan sentuhan itu. Dibaliknya badan Veliora, hingga mereka berhadapan kini.

"Veliora, kamu harus jadi milikku."

"Apa maksud Daddy?. Bukankah aku sekarang disini?.  Dengan Daddy."

Veliora berbisik manja. Kaelric mengunci kedua tangan Veliora ke mobilnya. Hingga Veliora tidak bisa bergerak sama sekali. Terdengar lenguhan lembut di bibirnya.

"Kamu sudah membuat hidupku susah, Veliora."

"Benarkah, Dad?."

Veliora memberanikan diri memagut bibir Kaelric.

"Begini lebih enak kan?" Bisiknya lagi.

Kaelric membuka beberapa kancing baju Veliora. Menyembullah benda bulat, kenyal. Kini, tangannya meremas benda itu. Sedang sebelahnya mengunci tangan Veliora yang lain.

"Daddy punya kebiasaan buruk."

"Apa maksud kamu?"

"Kita di basement, Daddy. Aku takut."

Kaelric tertawa renyah.

"Kita hanya berdua disini."

"Pintu bisa aku kunci otomatis dari sini."

Kaelric mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah benda kecil hampir mirip dengan remote. Lalu ditekannya hingga berbunyi klik!.

"Sekarang kita bebas mau ngapain juga."

Kedua tangan Veliora kini dikalungkan ke leher Kaelric.

"Aku tahu, Daddy bukan hanya sekedar ingin menyentuh diriku."

"Ini semua gara-gara kamu. Coba, kamu gak pijit aku, atau menyentuh diriku terlebih dahulu. Pasti aku gak akan begini."

"Masak iya sih, Dad?"

Kaelric menghujani wajah Veliora dengan ciuman. Lalu turun ke bibir gadis itu. Baju Veliora sudah tak berbentuk lagi.

Mereka berdua bercumbu di basement hingga beberapa saat lamanya.

"Jam berapa Ibu masuk ke rumah utama?"

"Sebentar lagi, Dad. Kemarin sore aku sudah bantu berkemas. Mungkin, sekarang anak buah Daddy yang bantu."

"Kenapa kamu gak bantu Ibu?"

"Daddy mengurung aku disini. Mana bisa aku bantu Ibu?"

Akhirnya, Kaelric melepaskan Veliora.

"Baiklah kita naik ke atas."

Kaelric menekan remote lagi untuk membuka pintu. Mereka pun berjalan menyusuri tangga untuk naik ke atas bagian Mansion.

Sementara itu, di atas.  Pintu utama mansion terbuka perlahan. Seorang wanita berdiri di ambang pintu.

Ibu Gerard datang tanpa iring-iringan apalagi keramaian. Langkahnya tenang saat memasuki rumah besar itu.

Seorang staf menyambutnya dengan hormat.

“Atas permintaan Nona Veliora, Anda dipersilakan masuk.”

Tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Seolah kehadirannya si rumah utama sudah menjadi keputusan.

Beberapa saat kemudian, Veliora muncul dari arah dalam.

Begitu melihatnya,  “Ibu!”

Ia berlari kecil, mendekat, lalu memeluk wanita itu tanpa ragu. Begitu hangat dan tulus.

Berbeda dari suasana mansion yang biasanya terasa jauh. Ibu Gerard membalas pelukan itu dengan lembut.

"Sekarang kita tinggal bersama Ibu. ”

Ibu Gerard mengangguk.

“Iya, Veliora. Aku merasa bahagia sekali rasanya. Meski terasa berat, tapi... Karena ada kamu, Ibu jadi turut bahagia."

Dari kejauhan, Kaelric Vorn memperhatikan mereka berdua.

Tatapannya tenang.  Ia melangkah mendekat.

Berhenti tepat di hadapan Ibu Gerard.

“Veliora ingin Ibu disini. Sama juga dengan diriku. ”

Bukan pertanyaan. Ibu Gerard mengangguk pelan.

“Maafkan, Ibu. Tapi, ini demi kebaikan kita bersama. Dan, Ibu juga tidak ingin jauh dari kalian berdua.”

Hening sejenak.

Tidak ada tekanan yang jelas, namun cukup untuk menunjukkan bahwa keduanya saling memahami batas.

Kaelric tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun sikapnya sudah cukup jelas.Ia mau menerima bahkan lebih dari itu.

Hari itu berjalan tanpa gangguan. Langkah-langkah ringan terdengar di berbagai sudut rumah utama. Percakapan sederhana sekarang mengisi ruang yang sebelumnya sunyi.

Dan untuk pertama kalinya mansion itu tidak terasa kosong.

Namun .di tempat lain, ketenangan tidak selalu berarti akhir. Bagi sebagian orang, itu hanyalah jeda.

Sebuah waktu singkat sebelum sesuatu dimulai kembali. Dan seseorang yang belum benar-benar menerima kekalahannya,  perlahan mulai bergerak lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!