NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Malam itu, langit tampak seperti kain hitam tebal yang menutupi seluruh dunia, tanpa secercah bintang pun yang berani menampakkan diri. Angin bertiup kencang, menerpa dinding rumah dengan suara desisan yang menusuk tulang, seolah-olah ada sesuatu yang berbisik di telinga, mengirimkan getaran dingin yang merambat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.

Di luar, pohon-pohon bergoyang liar, dahan-dahannya beradu menciptakan bayangan aneh yang menari-nari di dinding kamar, menyerupai sosok-sosok tak kasat mata yang sedang mengintai dari kegelapan. Suara jangkrik yang biasanya menenangkan, kini terdengar aneh dan terputus-putus, seolah-olah mereka pun ikut ketakutan dan berhenti bernyanyi setiap kali ada gerakan mencurigakan.

Di dalam rumah, suasana terasa semakin mencekam. Lampu-lampu berkedip-kedip tak menentu, kadang terang benderang, kadang mati total, meninggalkan semua orang dalam kegelapan yang pekat. Udara terasa berat dan pengap, seolah-olah oksigen perlahan menghilang, membuat napas menjadi sesak dan dada terasa sesak oleh rasa cemas yang tak beralasan.

Setelah kepergian Iroh, suasana di sekitar gubuk itu semakin tak bersahabat. Mata-mata merah menyala bermunculan dari balik semak belukar, jumlahnya semakin banyak, menatap tajam bagaikan serigala kelaparan yang siap menerkam mangsa. Santi dan adik-adiknya hanya bisa memejamkan mata, terus merapalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam hati sebagai tameng paling kuat.

Berbeda dengan mereka, tubuh Zaki, Alex, dan Prediansyah justru gemetar hebat. Rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum membuat bulu kuduk mereka berdiri tegak. Walaupun Predi dan Alex adalah orang-orang yang biasa menghadapi bahaya di dunia nyata, namun menghadapi makhluk gaib yang tak kasat mata seperti ini adalah pengalaman yang jauh lebih menakutkan dan di luar nalar mereka.

"Abang... jangan takut. Percayalah bahwa kita adalah makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan. Seharusnya justru mereka yang takut pada kita," ucap Santi lembut namun tegas, setelah membuka matanya dan melihat Prediansyah, Zaki, dan Alex yang tubuhnya gemetar hebat.

"Bacalah doa apa saja yang Abang-abang hapal, asal... jangan doa makan ya! Hihihihi," canda Santi, seolah melupakan bahaya yang mengintai. Di situasi yang begitu mencekam dan menyeramkan pun, gadis itu masih saja punya akal untuk mengerjai mereka bertiga.

Mendengar candaan Santi, mereka bertiga yang tadinya gemetar hebat langsung melotot lebar menatap gadis itu. Tatapan mereka campur aduk antara kesal, kaget, dan malu karena ketahuan ketakutan.

"Santiii...!!" geram mereka serentak dalam hati.

Namun belum sempat mereka membalas, tiba-tiba...

"BUUMMMM!!"

Ledakan keras kembali mengguncang tanah dan dinding rumah, membuat kaca-kaca bergetar hebat. Rasa kaget dan ngeri kembali menerpa tubuh mereka seketika, membuat napas mereka tercekat di tenggorokan.

Dan yang lebih mengerikan, tepat setelah ledakan itu mereda, terdengar suara tawa melengking yang menggema dari segala arah.

"Hihihihi...... Hihihihi......"

Suara itu halus namun menusuk, terdengar jelas di telinga mereka, membuat bulu kuduk di sekujur tubuh berdiri tegak dan darah seolah berhenti mengalir.

"Kun..... kunti........ kunti..........." Zaki terbata-bata, wajahnya pucat pasi, matanya melotot menatap kosong ke arah pintu.

Namun seketika ketegangan itu pecah ketika terdengar suara nyaring yang sangat familier:

"Ciak...... Ciak............ Ciak.......... "

Ternyata itu bukan suara hantu, melainkan suara anak ayam! Zaki pun bernapas lega, jantungnya yang mau copot perlahan kembali normal setelah tahu bahwa "musuh" di luar sana hanyalah sekumpulan anak ayam yang hilang induknya.

Berbeda dengan Zaki yang masih syok, Alex justru berubah drastis. Lututnya yang tadi gemetar hebat kini langsung tegak kaku, dadanya membusung penuh percaya diri. Tiba-tiba dia teringat sebuah 'teori' aneh yang sering dia lihat di film-film horor: Kalau Kunti datang, buka celana pasti dia lari!

Tanpa pikir panjang, Alex melangkah tegap seolah siap perang, hendak keluar menuju pintu.

Melihat gelagat anak buah kepercayaannya itu yang mulai tidak waras, Prediansyah langsung berseru dengan napas memburu karena masih sisa ketakutan:

"Lex! Kau mau ke mana?! Jangan keluar nanti dibawa hantu lho, tau rasa!"

Alex menoleh sedikit, senyumnya menyeringai jail dan penuh keyakinan.

"Santai Tuan Muda... Di luar itu wanita cantik, akan aku nikahi!

Santi dan keempat adiknya hanya bisa saling pandang lalu serentak menepuk jidat mereka masing-masing. Tak habis pikir melihat tingkah aneh lelaki kota yang baru saja mereka temui ini. Beda dunia banget pikirannya!

Zaki pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat keberanian "palsu" Alex yang melangkah keluar rumah dengan gaya setegas jawara.

"Sue lu Lek...............!"

Ciiih... dasar gila! Prediansyah mengumpat.

Dengan gagah berani Alex melangkah keluar. Tanpa rasa malu sedikitpun, dia langsung menurunkan resleting celananya hingga celana dalamnya pun ikut terlihat menjuntai di bawah lutut.

"Hei hantu! Lihat nie! Kalau berani sini maju! Kalau tak berani... gue yang kejar, gue nikahi! Hahahaha!" teriaknya penuh tantangan, merasa dirinya paling jagoan.

Namun... naas!

Senyum sombongnya langsung lenyap seketika, berganti dengan wajah pucat pasi dan mata melotot tak percaya. Yang tampak di hadapannya bukan sekadar hantu biasa, melainkan ratusan makhluk mengerikan dari berbagai bangsa siluman. Ada yang berwujud setan bertanduk besar, ada yang berkepala binatang, hingga sosok iblis mengerikan yang siap menerkam!

"AAAAAASTAGA!!!!"

Alex tak sempat berpikir panjang. Dengan celana yang masih melorot di kaki, dia langsung berlari sekencang-kencangnya masuk kembali ke dalam rumah menggunakan teknik langkah seribu! Malu sudah dia lupakan, yang penting nyawa selamat!

"Aaaaaaaaaaa... Mas Alex itu pentungan bedugnya belum ditutupiiiiii!!" teriak Santi nyaring seraya menutup kedua matanya kuat-kuat dengan kedua tangan, mukanya memerah padam karena malu dan kaget.

Mendengar teriakan Santi, Prediansyah langsung memicingkan mata dan melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya dia melihat anak buah kepercayaannya itu berlari kocar-kacir dengan keadaan telanjang dada dan celana yang masih melorot sampai betis, memperlihatkan "aset" yang seharusnya tertutup rapat!

"Alex! Gila kau apa?! Itu burung mu kelihatan semua! Cepat pakai celanamu, dasar gila!" tegur Prediansyah sambil memukul pelan kepala Alex, campur aduk antara kesal, malu, dan panik.

Dengan tangan gemetar, Alex buru-buru menarik dan menaikkan celananya kembali, wajahnya masih pucat pasi dan napasnya memburu karena kaget setengah mati.

Belum sempat suasana tenang, tiba-tiba terdengar suara berat dan mendalam yang menggema dari segala penjuru, menusuk sampai ke ulu hati:

"Geer........... Geer............... "

Suara itu bergema terus-menerus, semakin keras dan semakin dekat. Bagi Santi dan adik-adiknya, suara seperti itu memang bukan hal asing di tempat itu. Namun malam ini suaranya terasa berbeda, jauh lebih mengerikan dan penuh amarah, seolah-olah seluruh bangsa siluman benar-benar ingin mengamuk.

Karena saat ini Ayah dan Ibu mereka tidak ada di sana untuk menjadi tameng, Santi dan keempat adiknya hanya bisa saling memeluk erat. Mata mereka terpejam kuat, air mata mulai mengalir, terus-menerus merapalkan doa memohon perlindungan kepada Sang Hyang Pencipta Alam, agar dijauhkan dari gangguan dan marah bangsa siluman itu.

Bersambung.

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!