NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Puncak Pembuangan dan Kabut Arwah Terlupakan

Meninggalkan kenyamanan Aula Seribu Angin terasa seperti meninggalkan pelukan hangat menuju badai salju yang membeku. **Wang Jian** dan **Lin Meiling** meluncur turun dari kuil melayang menggunakan **Sayap Petir** tipis yang berpendar di punggung Jian. Meskipun Jian baru berada di **Ranah Penguatan Tulang Bintang 8**, efisiensi energi dari **Inti Ganda** miliknya memungkinkan dia untuk menggendong Meiling sambil melayang stabil melewati pusaran angin puyuh yang mematikan.

Tujuan mereka adalah **Puncak Pembuangan**, sebuah gunung hitam yang tampak seperti taring raksasa yang menusuk langit, terletak di wilayah paling terisolasi di Lembah Naga. Gunung ini tidak tertutup oleh salju atau pepohonan, melainkan diselimuti oleh **Api Hitam Primordial** yang terus berkobar tanpa panas, namun mampu membakar jiwa siapa pun yang tidak memiliki kehendak yang kuat.

"Jian, lihat di bawah!" seru Meiling sambil menunjuk ke lembah di bawah lereng gunung.

Di sana, sisa-sisa bangunan kuno yang telah hancur berserakan. Ini adalah reruntuhan tempat tinggal para narapidana klan Wang dari ribuan tahun lalu—mereka yang memiliki darah Wang namun dianggap sebagai pengkhianat atau "cacat" oleh garis keturunan utama. Atmosfer di sini sangat berat; setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu sejarah yang pahit.

### **Ujian Api Hitam dan Manifestasi Ketakutan**

Saat mereka mendarat di kaki Puncak Pembuangan, api hitam yang menyelimuti gunung itu mulai bereaksi. Api ini dikenal sebagai *Nirvana Gelap*, api yang tidak membakar kulit tetapi mencari setiap celah keraguan di dalam hati seorang kultivator.

"Tetap di dekatku, Meiling! Jangan biarkan pikiranmu mengembara ke masa lalu!" perintah Jian. Ia melepaskan aura **Angin Primordial** untuk membentuk kubah pelindung.

Namun, api hitam itu menembus angin seolah-olah angin itu tidak ada. Meiling tiba-tiba terjatuh berlutut, matanya membelalak ketakutan. "Ayah... Ibu... maafkan aku... aku tidak bisa menyelamatkan klinik kita..."

Jian menyadari bahwa Meiling sedang terjebak dalam ilusi masa lalunya. Tanpa ragu, Jian menggenggam tangan Meiling dan menyuntikkan sedikit energi **Petir Surgawi**-nya. Arus listrik kecil itu mengejutkan sistem saraf Meiling, memaksanya kembali ke realitas.

"Dunia ini tidak peduli pada permintaan maafmu, Meiling! Yang mereka pedulikan adalah apakah kau berdiri atau tetap bersujud!" suara Jian menggelegar, dibantu oleh tekanan auranya.

Meiling terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia berdiri dengan gemetar, namun matanya kini memancarkan tekad baru. Ia mengeluarkan botol berisi cairan berwarna perak. "Ini **Cairan Embun Bintang**, ia bisa menekan aktivitas jiwa untuk sementara. Kita harus menggunakannya agar api ini tidak bisa mendeteksi emosi kita."

Mereka berdua meminum cairan itu dan mulai mendaki jalur setapak yang sempit. Di sepanjang jalan, mereka melihat pemandangan mengerikan: tubuh-tubuh kultivator yang telah membatu, terjebak dalam posisi memohon atau meratap. Mereka adalah orang-orang yang gagal melewati ujian api hitam dan jiwa mereka telah terhapus, menyisakan cangkang kosong yang abadi.

### **Pertemuan dengan Penjaga Puncak: Si Buta Wang Mo**

Di tengah pendakian, langkah mereka terhenti oleh sosok pria tua yang duduk bersila di tengah jalan. Pria itu mengenakan jubah abu-abu yang sudah compang-camping, rambutnya putih panjang menjuntai hingga ke tanah, dan matanya tertutup oleh kain hitam. Di pangkuannya terletak sebuah pedang kayu tua yang tampak rapuh.

"Sudah delapan ratus tahun... sejak terakhir kali ada keturunan Wang yang berani menginjakkan kaki di tempat sampah ini," suara pria tua itu serak seperti gesekan batu.

Wang Jian melangkah maju, tangannya siap di gagang tombak hitam. "Kami datang untuk mengambil apa yang menjadi hak pewaris sejati. Bagian kedua dari teknik **Sembilan Putaran Angin**."

Pria tua itu, yang dikenal sebagai **Wang Mo**, mantan algojo klan Wang yang dibuang karena menolak membantai cabang selir, tertawa pelan. "Hak? Di puncak ini, hanya ada satu hukum: **Kehampaan**. Jika kau bisa melewati pedang kayuku tanpa menggunakan penglihatanmu, maka kau layak."

Wang Mo berdiri. Meskipun ia buta dan tidak memancarkan *Qi* yang besar, atmosfer di sekitar puncak itu mendadak berubah. Setiap bilah api hitam di sekeliling mereka seolah-olah tunduk pada pedang kayunya.

"Meiling, menjauhlah sejauh mungkin!" teriak Jian.

Jian menutup matanya, mengikuti tantangan Wang Mo. Ia mengaktifkan **Indra Angin**-nya. Dalam kegelapan visualnya, dunia berubah menjadi aliran partikel udara. Ia bisa merasakan setiap napas Wang Mo, setiap getaran kecil dari api hitam, dan... pedang kayu itu.

*SYUT!*

Wang Mo bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Pedang kayunya tidak membelah udara, melainkan menyatu dengan udara. Jian nyaris tidak sempat menghindar; ujung pedang kayu itu menggores pipinya, meninggalkan luka yang berdenyut panas.

"Jangan hanya merasakan angin, Bocah. Jadilah angin itu sendiri. Angin tidak memiliki bentuk, jadi bagaimana mungkin kau bisa memukul sesuatu yang tidak berbentuk?" ucap Wang Mo filosofis.

Jian tersentak. Ia menyadari kesalahannya selama ini. Ia selalu memperlakukan teknik anginnya sebagai "alat" atau "senjata" eksternal. Ia harus mengubah persepsinya.

Ia membiarkan pertahanannya turun. Ia melepaskan egonya. Dantian ganda miliknya mulai berputar dengan harmoni yang berbeda. Angin dan Petir tidak lagi saling menekan, melainkan saling melengkapi dalam pola spiral yang disebut **Spiral Kehampaan**.

Saat Wang Mo menyerang kembali dengan tusukan mematikan ke arah jantung, Jian tidak bergerak ke samping. Ia justru melangkah maju, membiarkan tubuhnya "mengikuti" aliran udara yang diciptakan oleh pedang Wang Mo.

*Wuuusss...*

Tubuh Jian seolah-olah menjadi transparan. Pedang kayu Wang Mo melewati ketiak Jian tanpa menyentuhnya sehelai benang pun. Di saat yang sama, Jian mendaratkan telapak tangannya di bahu Wang Mo—bukan dengan kekuatan penghancur, tapi dengan sentuhan ringan selembar daun.

Hening.

Wang Mo menurunkan pedangnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan melepaskan kain penutup matanya, memperlihatkan mata yang putih tanpa pupil. "Kau... kau telah memahami esensi dari **Putaran Kelima: Tubuh Tanpa Bentuk**. Masuklah, pewaris muda. Teknik itu ada di dalam **Gua Penyesalan** di puncak."

### **Gua Penyesalan dan Penemuan Tahap Kedua**

Wang Jian dan Meiling memasuki gua di puncak gunung. Di dalamnya, dinding-dinding gua dipenuhi oleh tulisan tangan yang digoreskan menggunakan jari manusia—sejarah asli klan Wang yang disembunyikan dari dunia luar.

Di tengah gua, terdapat sebuah altar batu kecil dengan sebuah gulungan giok berwarna hitam. Saat Jian menyentuh gulungan itu, sebuah proyeksi mental langsung membanjiri otaknya.

> **"Sembilan Putaran Angin: Tahap Kedua (Putaran 4-6)"**

> * **Putaran 4: Kompresi Atmosfer** (Menciptakan tekanan yang mampu menghancurkan Inti Emas).

> * **Putaran 5: Tubuh Tanpa Bentuk** (Kemampuan untuk membiarkan serangan fisik melewati tubuh melalui manipulasi udara).

> * **Putaran 6: Pelahap Badai** (Kemampuan untuk menyerap seluruh energi serangan lawan dan mengubahnya menjadi ledakan balasan).

>

Jian terduduk bersila, langsung memasuki mode meditasi dalam untuk mencerna informasi tersebut. Sementara itu, Meiling menemukan sesuatu yang tak kalah berharga di sudut gua: taman jamur bawah tanah yang tumbuh dari energi api hitam.

"Ini **Jamur Jiwa Hitam**! Jika aku mencampurnya dengan **Inti Naga Petir** yang diberikan Long Wei, aku bisa membuat **Pil Rebirth Primordial**!" Meiling sangat bersemangat. Ia segera menyiapkan alat-alatnya, menyadari bahwa Jian akan membutuhkan lonjakan kekuatan besar setelah memahami teknik baru ini.

### **Kenaikan Ranah: Menembus Batas Bintang 9**

Selama tujuh hari tujuh malam, Puncak Pembuangan bergetar. Langit di atas gunung itu terbelah oleh petir biru dan api hitam yang saling bertarung. Wang Jian berada di tengah-tengah kekacauan energi ini.

Dengan bimbingan teknik tahap kedua, Jian mulai melakukan **Kompresi Atmosfer** pada Dantian gandanya. Ia memaksa Inti Angin dan Inti Petirnya untuk menyatu menjadi satu titik yang sangat padat—**Inti Primordial**.

*KRAAAKKKK!*

Seluruh tulang di tubuh Jian berpendar terang. Impuritas terakhir yang tersisa di dalam sumsum tulangnya dipaksa keluar oleh tekanan atmosfer yang ia ciptakan sendiri.

"Meiling, sekarang! Pilnya!" teriak Jian di tengah badai.

Meiling melemparkan pil berwarna emas-hitam yang baru saja ia selesaikan. Jian menangkapnya dan menelannya. Energi dari pil itu meledak, memberikan nutrisi spiritual yang dibutuhkan tubuh Jian untuk melakukan lompatan besar.

**[MOMEN TEROBOSAN]:**

* **Ranah:** Penguatan Tulang Bintang 9 (Puncak Kesempurnaan).

* **Efek:** Tubuh Jian kini memiliki berat jenis yang sama dengan logam dewa, namun ia bisa bergerak secepat kilat. Ia telah mencapai batas tertinggi dari apa yang bisa dicapai tubuh manusia di Fase Bumi.

Saat Jian membuka matanya, aura yang ia pancarkan membuat api hitam di sekitarnya padam seketika. Ia berdiri, dan setiap langkahnya kini meninggalkan pola petir di atas lantai gua.

### **Kejutan Tak Terduga: Pengkhianatan dari Luar**

Saat mereka hendak keluar dari gua, suara ledakan besar terdengar dari kaki gunung. Jian dan Meiling berlari ke tepi tebing dan melihat pemandangan yang mengejutkan.

Pasukan besar dari **Klan Wang-Sui** (garis utama) dan **Klan Wang-Xuelan** (garis es) telah mengepung Puncak Pembuangan. Di depan mereka berdiri **Wang Feng**, jenius yang dulu menghina Jian di upacara klan, kini ia telah mencapai **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 8**.

"Wang Jian! Keluar kau, sampah!" teriak Wang Feng melalui alat pengeras suara *Qi*. "Leluhur telah memerintahkan penangkapanmu karena mencuri warisan terlarang! Serahkan gulungan itu dan gadis alkemis itu, atau kami akan meratakan gunung ini!"

Di samping Wang Feng, berdiri seorang tetua dengan jubah biru tua—**Penatua Wang Ruo-shan**, orang yang sama yang mengusir Jian.

Wang Jian menatap mereka dari puncak gunung dengan tatapan yang sangat dingin. Ia tidak lagi merasa marah; yang ia rasakan hanyalah rasa jijik pada kemunafikan mereka.

"Meiling," ucap Jian sambil menggenggam tombak hitamnya yang kini diselimuti api hitam dan petir biru. "Kau bilang dunia luar akan mengejarku. Kau benar. Tapi mereka salah mengira satu hal."

"Apa itu?" tanya Meiling sambil menyiapkan bubuk alkimia penghancurnya.

"Mereka mengira aku adalah mangsa yang terpojok. Padahal, aku baru saja membuka pintu kandang singa."

Jian melompat dari puncak gunung, tidak menggunakan sayap petir, melainkan jatuh seperti meteor yang terbakar. Dengan kekuatan **Bintang 9** dan teknik **Kompresi Atmosfer**, ia siap memberikan pelajaran pertama kepada klan utama tentang apa artinya memancing kemarahan pewaris sejati.

**Status di Akhir Bab 12:**

* **Wang Jian:** Ranah Penguatan Tulang Bintang 9 (Puncak), Menguasai Tahap Kedua Sembilan Putaran Angin, Memiliki Inti Primordial Ganda.

* **Lin Meiling:** Alkemis Kelas Perak (Baru naik setelah meracik Pil Rebirth), Memiliki koleksi Jamur Jiwa Hitam.

* **Musuh:** Aliansi Klan Wang-Sui dan Wang-Xuelan (Pasukan Pembersihan).

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!