NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Ruang

Pagi ini, aroma udara di lantai lima belas terasa berbeda. Bukan lagi sekadar campuran kopi saset dan pengharum ruangan otomatis yang membosankan, melainkan ada semacam aroma kemenangan yang dingin dan jernih. Aku berdiri di depan kubikelku—tempat yang selama tujuh tahun ini menjadi saksi bisu betapa seringnya aku menundukkan kepala demi meninggikan ego pria di sebelahku.

​Di atas meja, sebuah kardus kosong sudah menunggu.

​"Kamu benar-benar akan pindah?"

​Suara itu datang dari samping, rendah dan penuh dengan getaran yang tidak stabil. Kaivan berdiri di sana, bersandar pada pembatas kubikel kami. Penampilannya pagi ini jauh dari kata rapi. Matanya merah, mungkin kurang tidur karena mengurusi drama Nadine atau mungkin karena dihantui oleh bayangan kegagalannya sendiri.

​Aku tidak segera menjawab. Aku mengambil tempat pulpen kayu yang dulu kami beli bersama di sebuah pasar seni di Yogyakarta. Aku menatapnya sejenak, lalu meletakkannya dengan mantap ke dalam kardus. "Pak Dimas yang memintanya, Kaivan. Kamu tahu itu."

​"Pak Dimas memintanya karena Bastian Adhitama yang mendikte, kan?" Kaivan tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat pahit di telingaku. "Hebat ya, Rel. Hanya butuh beberapa minggu dengan pria kaya itu untuk membuatmu melupakan tujuh tahun kita di sini. Sekarang kamu punya 'ruang' sendiri. Selamat."

​Aku berhenti mengemas barang. Aku menoleh perlahan, menatap Kaivan dengan tatapan yang sangat jernih. "Tujuh tahun itu tidak pernah memberiku ruang untuk bernapas, Van. Tujuh tahun itu hanyalah tentang bagaimana aku memastikan kamu tidak jatuh, sementara aku sendiri sudah lama terperosok. Jika sekarang aku punya ruang sendiri, itu karena kompetensiku akhirnya mendapatkan pengakuan yang tidak pernah kamu berikan."

​"Aku memberikan segalanya padamu, Arelia!" suaranya meninggi, membuat beberapa staf junior yang baru datang menoleh dengan cemas.

​"Kamu memberiku ketergantungan, bukan pengakuan," balasku tenang. "Sekarang, tolong geser sedikit. Kamu menghalangi jalanku."

​Aku mengangkat kardus itu. Beratnya tidak seberapa, namun rasanya seperti memikul seluruh masa laluku untuk dibuang ke tempat yang baru. Aku berjalan melewati Kaivan tanpa menoleh lagi. Maya yang berdiri di dekat mesin fotokopi memberiku senyum lebar dan kepalan tangan penuh semangat.

​Kantor privatku terletak tepat di sebelah ruangan Pak Dimas. Pintunya terbuat dari kayu jati dengan kaca buram di tengahnya. Di sana, tertempel sebuah papan nama kecil yang masih terasa asing namun sangat nyata: Arelia - Senior Lead Analyst.

​Begitu masuk, aku disambut oleh kesunyian yang mewah. Ruangan ini tidak besar, namun memiliki jendela yang luas menghadap langsung ke arah gedung-gedung pencakar langit Sudirman. Di atas meja kerja yang bersih, sebuah vas kristal berisi bunga lili putih sudah bertengger manis. Kartu di sampingnya hanya bertuliskan: "Ruang untuk bersinar. - B".

​Aku meletakkan kardusku di lantai, duduk di kursi manajer yang empuk, dan menarik napas dalam-dalam. Oksigen di ruangan ini terasa begitu melimpah. Tidak ada lagi Kaivan yang akan memutar kursinya setiap sepuluh menit hanya untuk mengeluh atau memintaku memeriksa laporannya. Di sini, aku hanya berurusan dengan pikiranku sendiri.

​Pukul sebelas siang, ketukan di pintu memecah fokusku pada data audit vendor sektor D.

​Pintu terbuka, dan Kaivan masuk tanpa menunggu izin. Ia membawa map yang terlihat berantakan di tangannya. Wajahnya tampak mendung, dan ada semacam aura gelap yang mengikutinya.

​"Rel, aku nggak ngerti ini," ia melempar map itu ke mejaku. "Data korespondensi logistik yang kamu minta. Kenapa harus se-detail ini? Ini tugas admin, bukan tugas analis."

​Aku menutup laptopku perlahan. Aku menunjuk kursi di depanku. "Duduklah, Kaivan. Di ruangan ini, kita bicara secara profesional."

​Kaivan mendengus, namun ia duduk juga. Ia tampak tidak nyaman berada di ruangan yang "level"-nya lebih tinggi darinya. "Profesional? Kamu bicara kayak orang asing, Rel."

​"Itu karena kita memang mulai menjadi orang asing," kataku tegas. Aku membuka map yang ia bawa. Hanya dalam tiga detik, aku menemukan lima kesalahan input data. "Ini berantakan, Kaivan. Kamu memasukkan nomor faktur sebagai nilai nominal. Jika laporan ini sampai ke tangan tim legal Adhitama, mereka akan menganggap kita tidak kompeten."

​"Aku pusing, Rel! Nadine masuk rumah sakit lagi tadi malam. Dia stres gara-gara postingan Instagram-nya dihapus paksa oleh manajemen atas. Dia merasa kamu yang melakukannya!"

​"Aku tidak melakukan apa-apa, Kaivan. Tapi Bastian Adhitama punya tim legal yang sangat protektif terhadap reputasi mitra strategis mereka. Jika Nadine menyerangku secara publik, dia menyerang kepentingan bisnis Bastian. Kamu seharusnya tahu itu," aku mengembalikan map itu padanya. "Perbaiki ini dalam satu jam. Atau aku terpaksa melaporkan keterlambatan ini ke Pak Dimas."

​"Kamu mengancamku?" Kaivan berdiri, wajahnya merah padam. "Demi Tuhan, Arelia! Aku ini sahabatmu! Kita nyaris jadi pasangan, kita nyaris punya masa depan!"

​"Kuncinya ada pada kata 'nyaris', Kaivan," aku berdiri, menyeimbangkan posisiku dengannya. "Nyaris itu artinya tidak pernah terjadi. Dan alasan kenapa itu tidak terjadi adalah karena kamu tidak pernah benar-benar menginginkannya. Kamu hanya menginginkan kegunaanku, bukan kehadiranku. Sekarang, silakan keluar. Aku punya rapat koordinasi dengan Bastian lewat Zoom sebentar lagi."

​Kaivan menatapku dengan kebencian yang murni. Ia menyambar mapnya dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.

​"Jangan pikir kamu sudah menang, Rel. Bastian Adhitama itu hanya menggunakanku untuk mendekati data internal kita melalui kamu. Begitu proyek ini selesai, dia akan membuangmu seperti sampah. Dan saat itu terjadi, jangan pernah cari aku lagi."

​Pintu dibanting dengan keras hingga vas bunga di mejaku sedikit bergetar.

​Aku terdiam, mematung di tengah ruangan yang sunyi. Kata-kata Kaivan adalah racun yang ia semprotkan untuk merusak ketenanganku. Selama tujuh tahun, ia tahu persis di mana letak rasa tidak percayaku. Ia mencoba menanamkan keraguan tentang Bastian.

​Namun, kali ini racun itu tidak bekerja.

​Aku meraih ponselku. Sebuah pesan baru saja masuk.

​Bastian Adhitama: Saya sudah melihat draft awal sektor D. Sangat presisi. Sore ini saya akan mampir ke kantor Pak Dimas untuk tanda tangan dokumen tambahan. Ingin minum kopi sebentar setelahnya? Di ruang barumu.

​Aku mengetik balasan dengan jari yang stabil.

​Arelia: Tentu, Bastian. Aku tunggu di ruanganku.

​Sore harinya, Jakarta diguyur hujan lebat. Dari balik jendela kantorku, kota tampak seperti lukisan cat air yang luntur. Pukul empat sore, pintu kantorku kembali diketuk. Kali ini, ketukannya berirama dan tenang.

​Bastian masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ia membawa dua gelas kopi dari kedai favorit kami di lobi.

​"Ruangan yang sangat bagus," ucapnya sambil memberikan satu gelas padaku. "Sesuai dengan pemiliknya."

​"Terima kasih, Bastian. Masih terasa sedikit asing bagiku," aku menyesap kopi hangat itu, merasakan ketegangan di bahuku sedikit mengendur.

​Bastian duduk di kursi tamu, menatapku dengan binar mata yang selalu terasa seperti jangkar di tengah badai. "Kaivan baru saja keluar dari ruangan Pak Dimas dengan wajah yang sangat gelap. Saya rasa dia tidak senang dengan perubahan 'ruang' ini."

​"Dia merasa kehilangan pelayannya, Bastian. Bukan kehilangan sahabatnya."

​"Orang-orang seperti dia biasanya akan melakukan hal nekat saat merasa terpojok," Bastian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Arelia, saya ingin kamu waspada. Tim IT saya mendeteksi adanya aktivitas login yang tidak wajar pada akun servermu tadi pagi. Seseorang mencoba mengakses file audit final yang sudah kamu kunci."

​Jantungku berdegup kencang. "Kaivan?"

​"Kami sedang memastikannya. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak lagi memiliki akses legal ke sana. Jika dia mencobanya lagi, itu adalah pelanggaran pidana pembocoran rahasia perusahaan," Bastian menatapku lekat. "Saya memberitahumu ini agar kamu tidak lagi merasa bersalah jika suatu saat terjadi sesuatu yang buruk padanya karena ulahnya sendiri."

​Aku terdiam. Jadi, Kaivan benar-benar mencoba menyabotasemu? Pria yang pernah kusematkan harapan masa depan padanya, kini mencoba menghancurkan satu-satunya hal yang kubangun dengan kerja kerasku sendiri.

​"Aku mengerti, Bastian. Terima kasih sudah menjagaku."

​"Itu karena kamu layak dijaga, Arelia. Bukan hanya karena pekerjaanmu, tapi karena siapa kamu sebenarnya," Bastian berdiri, ia berjalan menuju jendelaku, menatap hujan yang mulai mereda. "Malam ini, tinggalkan pekerjaanmu lebih awal. Saya akan mengajakmu ke suatu tempat. Bukan untuk bicara bisnis. Hanya untuk bicara tentang kita... tanpa kata 'nyaris'."

​Aku menatap punggung tegap Bastian. Di ruangan ini, di ruang pribadiku yang baru, aku merasa sebuah babak baru benar-benar telah dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk bayang-bayang Kaivan, untuk mencuri cahaya yang baru saja kutemukan.

​"Aku akan siap dalam sepuluh menit," kataku mantap.

​Bastian berbalik dan tersenyum—senyuman yang membuatku sadar bahwa 'ruang' ini bukan hanya tentang kantor baru, tapi tentang ruang baru di hatiku yang mulai ia isi dengan rasa aman yang sejati.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!