Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serial Animasi dan Rahasia Pagi Hari
Kereta rel listrik Sektor Tujuh meluncur membelah terowongan bawah tanah dengan suara mendesing yang halus. Di dalam gerbong yang penuh sesak oleh para pekerja kantoran yang tampak lesu, Arthur berdiri sambil berpegangan pada tiang besi yang dingin. Tinggi badannya yang hanya mencapai pinggang orang dewasa membuatnya hampir tenggelam di antara kerumunan jas abu-abu dan aroma kopi instan.
Tidak ada satu pun orang di gerbong itu yang menyadari bahwa bocah yang sedang menguap lebar di depan mereka baru saja menghapus ancaman level Apocalypse dalam satu jentikan jari. Bagi mereka, Arthur hanyalah anak kecil yang mungkin tersesat atau baru pulang dari tempat les tambahan. Arthur melirik jam digital di dinding gerbong.
17:45.
"Tinggal lima belas menit lagi," gumam Arthur dengan nada cemas. "Jika kereta ini mengalami penundaan lagi, aku bersumpah akan mendorong gerbong ini sampai ke stasiun berikutnya dengan tanganku sendiri."
Tepat pukul 17:55, Arthur melompat keluar dari pintu kereta bahkan sebelum pintu itu terbuka sepenuhnya ia menggunakan sedikit manipulasi ruang untuk melewati celah sempit tersebut. Ia berlari menaiki tangga eskalator, melewati kerumunan orang yang berjalan lambat, dan melesat keluar menuju kompleks apartemen murah di pinggiran distrik.
Langkah kaki kecilnya menciptakan bunyi tak...tak...tak... yang cepat di atas trotoar beton. Ia tidak menggunakan kekuatan kosmik nya untuk terbang, karena itu akan memicu alarm sensor energi kota. Sebaliknya, ia mengandalkan kekuatan fisik murni yang sudah ia tekan hingga ke titik terendah. Meski begitu, kecepatannya masih setara dengan atlet lari olimpiade.
Arthur sampai di depan pintu apartemen nomor 402 tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 17:59. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur detak jantungnya agar kembali normal, lalu membuka pintu dengan kunci manualnya.
"Aku pulang!" teriak Arthur sambil melemparkan tas dinosaurusnya ke atas sofa kulit yang sudah terkelupas.
"Arthur? Kau terlambat sepuluh menit dari biasanya," sebuah suara lembut menyahut dari arah dapur.
Seorang wanita muda dengan rambut yang diikat asal asalan muncul sambil memegang spatula. Namanya adalah Clara. Dia adalah pengasuh Arthur, atau lebih tepatnya, seseorang yang dibayar oleh panti asuhan tempat Arthur ditemukan untuk menjaganya di apartemen kecil ini. Clara adalah seorang mahasiswi yang sedang kesulitan biaya, dan baginya, menjaga Arthur adalah pekerjaan termudah di dunia karena bocah itu jarang mengeluh.
"Tadi... ada gangguan di Sektor Empat. Keretanya berhenti lama," jawab Arthur sambil melompat ke depan televisi tua miliknya.
Clara menghela napas, menyeka keringat di dahinya. "Ya, aku melihatnya di berita. Katanya pahlawan Valerius baru saja menyelamatkan dunia lagi. Kau beruntung tidak berada terlalu dekat dengan lokasi kejadian. Sekarang, cepat mandi setelah menonton kartun mu. Aku sedang memasak sup jagung."
Arthur tidak lagi mendengarkan. Matanya sudah terpaku pada layar televisi yang menampilkan lagu pembuka serial Mecha Knight. Baginya, ini adalah momen paling sakral dalam hidupnya. Melihat robot raksasa bertarung melawan monster karet di layar kaca memberikan rasa kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh pertempuran aslinya di dunia nyata.
Di layar televisi, sang protagonis berteriak, "Serangan Pedang Keadilan!" lalu menebas monster itu dengan gerakan yang sangat lambat dan dramatis.
Arthur tersenyum tipis. "Teknik yang buruk, tapi koreografinya boleh juga," bisiknya sambil mengunyah biskuit yang ia temukan di atas meja.
Sementara Arthur menikmati dunianya, di sisi lain kota, Valerius sedang berada dalam situasi yang sangat berbeda. Ia berdiri di tengah reruntuhan Sektor Empat, dikelilingi oleh ratusan lampu kilat dari kamera drone media. Debu dan asap masih mengepul di sekitarnya, memberikan efek visual yang sangat heroik bagi siapa pun yang menonton siaran langsung tersebut.
"Komandan Valerius! Bagaimana Anda bisa menutup retakan dimensi tipe S secepat itu?" tanya seorang jurnalis wanita yang tampak gemetar karena kegembiraan. "Sensor GDC mencatat bahwa energi yang Anda lepaskan tidak terdeteksi oleh radar konvensional! Apakah ini teknologi baru?"
Valerius memasang ekspresi paling tenang yang bisa ia tunjukkan, meskipun di balik helm emasnya, ia sedang berkeringat hebat. Ia teringat pesan Arthur: Buatlah pose yang paling keren.
"Ini adalah hasil dari meditasi panjang di Puncak Celestia," bohong Valerius dengan suara bariton yang dibuat buat. "Aku belajar untuk memusatkan seluruh energi jiwaku pada satu titik koordinat. Aku menyebutnya... The Silent Judgement."
Suara riuh rendah kekaguman terdengar dari kerumunan. Nama teknik yang baru saja dikarang Valerius secara mendadak itu langsung menjadi trending topik di seluruh jaringan saraf global. Namun, di antara kerumunan itu, ada seorang pria yang tidak ikut bersorak.
Pria itu mengenakan jas hitam panjang dengan kacamata sensorik yang terus berkedip. Ia adalah Silas, Kepala Divisi Investigasi Anomali GDC. Silas menatap layar perangkat genggamnya yang menampilkan grafik kerusakan ruang-waktu di lokasi tersebut.
"Silent Judgement?" Silas bergumam sinis. "Tekanan ini tidak berpola seperti energi jiwa manusia. Ini lebih menyerupai... penghapusan konsep."
Silas menatap ke arah tempat Arthur tadi berdiri di atas tiang lampu jalan. Meskipun Arthur sudah pergi, Silas bisa melihat sisa-sisa partikel kuantum yang tidak stabil di sana. Ia kemudian melihat ke arah Valerius yang sedang sibuk memberikan tanda tangan di atas reruntuhan.
"Kau aktor yang hebat, Valerius," ucap Silas dalam hati. "Tapi pahlawan tidak mungkin melakukan hal sesempurna ini tanpa meninggalkan jejak panas sedikit pun. Ada sesuatu di kota ini yang jauh lebih berbahaya dari sekadar pahlawan peringkat satu."
Silas mematikan perangkatnya dan berjalan menjauh dari kerumunan. Ia tidak akan melaporkan hal ini ke Dewan sekarang. Ia ingin berburu sendiri. Ia ingin menemukan siapa tangan kanan tersembunyi yang sedang bermain main dengan hukum alam semesta di Sektor Tujuh.
Kemalaman nya di apartemen 402, Arthur baru saja selesai mandi. Ia mengenakan piyama bergambar bintang-bintang dan duduk di meja makan kecil bersama Clara. Sup jagung buatan Clara sebenarnya tidak memiliki rasa yang mewah, tapi bagi Arthur, ini adalah makanan terbaik yang pernah ada.
"Arthur, tadi ada paket datang untukmu," ujar Clara sambil menunjuk ke sebuah boks besar yang diletakkan di sudut ruangan. "Tidak ada nama pengirimnya, hanya tertulis 'Untuk Teman Kecil'. Isinya... sangat banyak susu stroberi merek Aether Grade. Itu sangat mahal, lho! Dari mana kau mendapatkan teman sekaya itu?"
Arthur hampir tersedak sup nya. Valerius bekerja sangat cepat, pikirnya.
"Oh, itu... mungkin dari paman yang ku tolong menyeberang jalan kemarin," jawab Arthur asal. "Dia bilang dia punya pabrik susu."
Clara mengernyitkan dahi, tidak percaya begitu saja, tapi dia terlalu lelah untuk berdebat. "Yah, apa pun itu, jangan meminum semuanya dalam satu malam. Gigimu bisa rusak."
Arthur hanya mengangguk patuh. Setelah makan malam, ia masuk ke kamarnya yang sempit. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang ditempeli stiker glow in the dark berbentuk planet.
Kesunyian malam mulai menyelimuti. Di saat-saat seperti ini, memori jutaan tahun sebagai The Sovereign terkadang muncul kembali. Ia ingat saat ia duduk di singgasana yang terbuat dari fragmen bintang, dikelilingi oleh para dewa yang berlutut ketakutan. Ia ingat betapa bosannya ia melihat galaksi lahir dan mati hanya dengan satu kedipan matanya.
Sekarang, ia hanyalah Arthur. Seorang bocah yang harus bangun pagi untuk sekolah, yang harus khawatir tentang nilai matematika, dan yang memiliki pengasuh yang cerewet.
"Hidup ini... tidak buruk juga," gumam Arthur sambil menarik selimutnya.
Namun, indra sensitifnya tiba-tiba menangkap sesuatu. Sebuah getaran halus di udara, sekitar lima ratus meter dari apartemennya. Seseorang sedang mengawasi tempat ini dengan sensor jarak jauh tipe X.
Arthur tidak bergerak. Ia tidak membuka matanya. Ia hanya mengirimkan sebuah pesan mental kecil ke arah sensor tersebut sebuah getaran frekuensi yang akan merusak sistem alat pengintai itu tanpa melukai penggunanya.
Di luar sana, di atas atap gedung seberang, Silas terkejut saat kacamata sensorik nya tiba-tiba meledak kecil dan mengeluarkan asap. Ia segera melepas alat itu dan membuangnya ke tanah.
"Dia tahu aku di sini?" Silas terengah engah. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang tiba-tiba muncul entah dari mana. "Hanya dengan menatap... tidak, dia bahkan tidak melihatku. Dia hanya memikirkan aku, dan alatku hancur?"
Silas mundur beberapa langkah, lalu menghilang di balik kegelapan. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berurusan dengan pahlawan atau monster. Ia sedang berurusan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Di dalam kamarnya, Arthur kembali memejamkan mata dengan tenang.
"Jangan ganggu waktu tidurku, orang asing," bisiknya pelan sebelum akhirnya terlelap.
Hari pertama perjanjian dengan Valerius telah usai. Arthur telah mengamankan pasokan susunya, menjaga kedamaiannya, dan menyelamatkan jutaan nyawa tanpa ada yang tahu. Namun, ia tahu bahwa Silas hanyalah awal. Semakin besar ia menggunakan kekuatannya, semakin besar riak yang ia ciptakan di kolam tenang alam semesta.
Dan di suatu tempat di dimensi tinggi, para Architects mulai menyadari bahwa penghapus yang mereka kirim ke Bumi tidak pernah kembali. Sesuatu yang lebih besar dari kiamat sedang menunggu di balik tirai.