Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia, Bumi, dan Angkasa
Setelah susah payah melewati kerumunan mahasiswi yang heboh, akhirnya Angkasa berhasil menjelajah gedung satu Fakultas Sastra, tempat diadakannya ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Bukan tanpa alasan. Dikarenakan ada banyak hal yang harus diurus sebelum mendaftar perkuliahan, Angkasa terpaksa menunda kuliah satu tahun dan mengikuti kelas vokasi di Jepang untuk mengisi waktu luangnya.
Angkasa tak ingin melanjutkan kuliah disana. Bukan karena tak bisa lolos dari seleksi penerimaan mahasiswa, melainkan karena Angkasa ingin pulang ke tanah yang sudah lama dia tinggalkan.
Dia sebenarnya tak terlalu berminat untuk kuliah. Toh dia sudah memiliki cukup keterampilan dari sekolah vokasi yang dia jalani setelah lulus SMA di Jepang. Tapi, mamanya sangat menuntut Angkasa untuk melanjutkan kuliah, entah di universitas mana dan jurusan apa, mamanya tak peduli.
Nyonya Mahendra hanya menginginkan Angkasa untuk kuliah. Tuan Mahendra sendiri tak pernah memaksa Angkasa untuk melakukan apapun. Baginya, Angkasa menjadi bagian dari keluarganya saja itu sudah lebih dari cukup.
Angkasa sudah melihat ruangan yang digunakan untuk ujian seleksi. Selagi disana, Angkasa berniat berkeliling fakultas yang menurutnya lumayan eksentrik. Saat sedang berkeliling, pandangannya tertuju pada gedung di seberang yang sepertinya milik anak seni. Banyak mahasiswa yang tengah mengerjakan proyek seni di bangku taman belakang gedung tersebut. Angkasa teringat pada Nia yang dulu suka sekali menggambar.
"Aku pengen jadi pelukis," kata Nia kecil dengan semangat waktu itu.
Hasil gambar Nia selalu memukau Angkasa. Untuk anak seusia mereka kala itu, gambar Nia bukan lagi bagus, tapi luar biasa. Nia bahkan sering menggambar Angkasa dalam berbagai situasi.
Angkasa berdiri cukup lama disana, mengamati aktifitas para mahasiswa seni yang terlihat sibuk dan menyenangkan. Angkasa membayangkan Nia berada di antara para mahasiswa seni disana. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sedikit sekali, nyaris tak terlihat.
'Dia bakal pas berada disana,'
***
Seratus lima puluh menit hampir berlalu. Selain bertema 'Keindahan di Akhir Penantian', Bu Indah sempat menekankan pentingnya teknik pencahayaan dan blending warna dalam kuliahnya kali ini sambil berkeliling mengamati hasil lukisan para mahasiswanya.
Nia hampir menyelesaikan lukisannya. Bu Indah berdiri lama di belakang Nia memperhatikan Nia melakukan finishing pada karyanya.
"Hasil lukisan kamu selalu terasa... hangat," puji Bu Indah sambil menatap hasil lukisan Nia. Nia menoleh, tersenyum.
"Terimakasih, Bu," ucap Nia.
"Mungkin kamu berminat mengikuti kompetisi seni kontemporer tahunan? Saya ada brosurnya," kata Bu Indah sambil berjalan menuju mejanya.
"Saya akan bagikan pada Nia via chat. Nia bisa tolong diteruskan di grup kelas?" kata Bu Indah sambil sibuk mengusap layar ponselnya.
"Baik, Bu," kata Nia.
"Baik. Untuk hari ini cukup. Yang sudah selesai bisa di kumpulkan ke saya, yang belum, saya tunggu sampe jam lima nanti ya. Makasih," kata Bu Indah lalu pergi meninggalkan studio seni.
"Tema kompetisinya apa, Ya?" tanya Rasi.
"Identity and Diversity," kata Nia sambil membaca selebaran kompetisi yang Bu Indah bagi via aplikasi chat.
"Agak berat juga temanya," komentar Bumi.
"Lo nggak ikut?" tanya Rasi pada Bumi. Bumi hanya menaikkan kedua bahunya.
"Dunia, ikut?" tanya Bumi. Nia menatap selebaran kompetisi di layar ponselnya.
"Mmmm... entah," kata Nia.
"Keluar dulu yuk. Studio mau dipake kelas yang lain," kata Rara, ketua kelas.
Nia dan beberapa mahasiswa lain segera menghambur keluar.
"Kantin?" tanya Rasi sambil berjalan keluar studio.
"KanSas (Kantin Sastra)?" tanya Bumi.
"Ogah! Mbok Jum aja. Merakyat," kata Rasi.
"Dunia pilih mana? KanSas atau Mbok Jum?" tanya Bumi pada Nia. Nia tersenyum lalu melirik Rasi.
"Mbok Jum aja deh," jawab Nia.
"Jangan takut menyampaikan pendapat kamu, Dunia. Jangan biarkan orang lain menekan kamu," kata Bumi sambil melirik Rasi.
"Heh! Lo pikir Nia tertekan sama gue. Sama lo tu!" kata Rasi, kesal.
"Udaaah... Bumi, aku pilih Mbok Jum karena ini udah deket akhir bulan, mau irit. Aku belum dapet honor dari kelas gambar di TK," kata Nia mencoba menenangkan dua sahabatnya itu.
"Okelah. Gas, Mbok Jum!" kata Bumi, menyerah.
Lima menit kemudian Nia, Rasi, dan Bumi sudah ikut berdesakan di kantin Mbok Jum, kantin yang tersohor ke se-antero kampus karena harganya yang normal, dengan porsi tak normal alias jumbo.
Kantin Mbok Jum, yang terletak lima puluh meter dari KanSas, seperti halnya kantin-kantin fakultas lain, menyediakan berbagai macam menu, dari nasi soto, nasi pecel, nasi rames, nasi sayur, hingga nasi goreng, dilengkapi dengan berbagai jenis lauk seperti tempe, tahu, telur, bakwan dan masih banyak lagi. Tak lupa varian minuman juga tersedia yang tak kalah lengkap dari menu-menu makanannya.
Setelah mengambil sepiring nasi pecel dan es teh, Nia dan Rasi terlihat celingukan mencari kursi kosong.
"Dunia! Sini!" panggil Bumi, membuat hampir semua yang ada di Kantin Mbok Jum menoleh ke arahnya. Termasuk satu orang yang duduk di samping Bumi.
Nia dan Rasi yang sedikit malu menghampiri Bumi.
"Pas banget, ada yang kosong tiga kursi," kata Bumi saat Nia dan Rasi menghampirinya.
"Makasih," kata Nia sambil duduk.
"Sama-sama, Dunia," kata Bumi sambil tersenyum. Sosok di samping Bumi melirik, memastikan Dunia yang dipanggil orang di sebelahnya adalah orang yang sama dengan yang dia kenal.
"Aang?"
Dan satu panggilan itu telah memverifikasi pertanyaan Angkasa yang kebetulan duduk di samping Bumi.
"Kamu lagi," kata Angkasa dingin.
"Kamu masih disini? Belum pulang?" tanya Nia antusias.
"Mungkin, kamu mau tuker kursi, Dunia?" tanya Bumi pada Nia, menawarkan.
"Oh? Boleh?" tanya Nia pada Bumi. Bumi mengangguk sambil tersenyum lalu beralih ke kursi Nia. Angkasa melirik.
"Jadi kamu daftar kemana aja?" tanya Nia pada Angkasa antusias.
"Belum tau," jawab Angkasa dingin. Nia menaikkan kedua alisnya.
"Bukannya biasanya pas daftar itu kita disuruh milih dua opsi universitas sama jurusannya ya?" tanya Bumi, menyela. Rasi menyenggol lengan Bumi, mengisyaratkannya untuk diam. Bumi mendengus. Nia tersenyum.
"Kamu tinggal dimana sekarang? Masih di alamat yang sama?" tanya Nia pada Angkasa, lalu menyuapkan nasi pecel ke mulut.
"Hm," jawab Angkasa dingin. Bumi terlihat mengerutkan alisnya.
"Mmm... Nomor kamu yang lam..."
"Udah nggak aktif," jawab Angkasa cepat dan datar.
"Oh, pantesan aku hubungi nggak bisa," kata Nia dengan nada lega.
"Boleh minta..."
"Sorry, aku harus pulang sekarang," kata Angkasa sambil beranjak dari kursinya.
"Eh, Bro, dia nanyanya sopan ya. Kenapa lo jawab ketus?!" tiba-tiba Bumi sudah menghadang Angkasa yang hendak pergi.
Seisi kantin sontak melihat ke arah mereka. Dengan cepat Nia berdiri di antara mereka berusaha menengahi.
"Eh, udah, Bumi. Nggak apa-apa. Mungkin memang aku yang kurang sopan nanya orang pas makan. Maaf ya," kata Nia pada Bumi, lalu tersenyum pada Angkasa yang melihatnya dengan tatapan dingin.
Angkasa menatap Nia sejenak lalu berganti menatap Bumi, kemudian berlalu meninggalkan Kantin Mbok Jum dengan aura dingin yang menguar dari wajahnya.
'Dunia dan Bumi... Nice combi,'
***