NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Sci-Fi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Sejak membuka mata pagi tadi, perasaan Lilis tidak tenang. Ada rasa resah yang terus mengusik hatinya. Konsentrasinya saat mengajar di kelas pun berkali-kali terpecah, hingga jam pulang sekolah tiba.

Saat ia sedang merapikan tasnya di ruang guru, Hana, rekan sesama guru, mendekat dan menegurnya.

"Lis, jadi nggak pulangnya bareng aku? Kok masih bengong saja?" tanya Hana sambil menyampirkan tas di bahunya.

Lilis tersadar dari lamunannya dan menoleh. "Eh, Hana. Kamu pulang duluan saja, Han. Aku... aku masih ada urusan lain sebentar."

Hana menatap Lilis dengan dahi berkerut, merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu. "Urusan apa? Kamu pucat lho, Lis. Yakin nggak mau bareng?"

"Yakin, Han. Cuma urusan kecil kok," jawab Lilis berusaha meyakinkan.

"Ya sudah kalau gitu aku duluan ya. Kalau sudah sampai rumah, jangan lupa kabari aku ya," pesan Hana sambil melangkah menuju pintu.

"Iya. Hati-hati di jalan, Hana," sahut Lilis sambil melambaikan tangan.

Setelah Hana berlalu dari pandangan, Lilis segera melangkah keluar gerbang sekolah. Sebuah taksi online yang sudah ia pesan sejak tadi ternyata sudah menunggu. Dengan langkah terburu-buru, ia masuk ke dalam mobil.

"Ke kafe yang di alamat itu ya, Pak," ucap Lilis pelan.

Di sepanjang perjalanan, jemarinya terus meremas tali tas. Ia merasa bersalah karena tidak memberi tahu Arka tentang pertemuan ini. Namun, rasa penasaran dan keresahan yang ia rasakan sejak pagi memaksanya untuk bergerak sendiri terlebih dahulu.

Sesampainya di kafe, Lilis mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan yang cukup tenang itu. Matanya terpaku pada seorang wanita yang duduk di pojok. Wanita itu mengenakan pakaian muslimah yang senada dengan gayanya, hanya saja ia tidak mengenakan cadar. Di pelukannya, ada seorang bayi yang sedang tertidur lelap.

Lilis segera menghampiri meja tersebut dan duduk di depannya.

"Sudah lama, Mbak? Maaf ya, Mbak. Tadi ada sedikit kendala di jalan," ucap Lilis merasa tidak enak hati karena datang terlambat.

Wanita yang bernama Syafa itu mendongak, lalu memberikan senyum hangat yang menyejukkan.

"Nggak apa-apa kok, Lis. Aku juga baru lima menit di sini," jawab Syafa lembut.

Lilis memanggil pelayan untuk memesan minuman demi sedikit mencairkan suasana yang terasa kaku. Setelah pelayan pergi, Lilis kembali menatap Syafa. Ia tidak ingin membuang waktu.

"Ada apa ya, Mbak, tiba-tiba mengajak saya bertemu? Jujur, saya sempat bingung saat menerima pesan dari Mbak," tanya Lilis.

Syafa, istri dari Rama pria yang dulu pernah hampir menikah dengan Lilis terdiam sejenak. Ia mengusap pipi bayinya yang tertidur lelap dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum miris tersungging di bibirnya sebelum ia menatap Lilis dalam-dalam.

"Lis, sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu," ucap Syafa dengan suara yang sedikit bergetar.

Lilis mengernyitkan dahi. "Terima kasih untuk apa, Mbak?"

"Terima kasih karena kamu dulu tidak jadi menikah dengan Mas Rama. Terima kasih karena kamu memilih untuk pergi," lanjut Syafa. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.

"Aku... aku tidak tahu kalau Mas Rama ternyata masih belum berubah. Bahkan saat aku sedang hamil besar, dia dengan teganya mencari perempuan lain dan berniat menikah lagi. Aku baru tahu soal rencana itu dari ponselnya."

"Mertuaku... mereka juga sama saja, Lis," Syafa melanjutkan ceritanya dengan nada getir.

"Bukannya membelaku sebagai menantu yang sedang mengandung cucu mereka, mereka justru mendukung Mas Rama. Alasannya klasik, katanya agar ada yang mengurus Mas Rama lebih baik. Selama ini aku hanya diam, mencoba bertahan demi anak ini. Tapi melihat mereka ingin menghancurkan hidup orang lain lagi, aku merasa harus bergerak."

Lilis menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia menatap Syafa dengan tatapan prihatin sekaligus rasa bersalah yang sempat melintas.

"Jujur, Mbak... dulu aku benar-benar tidak tahu kalau Mas Rama sudah punya istri. Dia mengaku masih bujang, bahkan keluarganya pun bicara begitu," ucap Lilis dengan suara bergetar. "Aku percaya saja karena dulu dia dikenal sebagai orang yang sangat baik dan sopan. Aku tidak menyangka ternyata ada kenyataan sepahit ini di baliknya."

Syafa tersenyum getir, seolah sudah terbiasa mendengar topeng suaminya itu. "Aku percaya kok, Lis. Kamu tidak salah karena memang mereka sangat pintar bersandiwara. Tapi kamu harus tahu, mereka sebenarnya tidak sebaik itu. Semua keramahan itu cuma bungkusnya saja."

Syafa kemudian menyeka sudut matanya yang sedikit basah. Ia tampak tersadar bahwa pembicaraan ini menjadi sangat emosional.

"Aduh, maaf ya, Lis... aku malah jadi curhat panjang lebar begini," ucap Syafa dengan nada tidak enak hati. "Aku cuma takut kamu jadi sasarannya lagi. Aku tidak mau ada perempuan lain yang terjebak di lubang yang sama. Cukup aku saja yang merasakan ini."

Lilis menggeleng tegas. Ia meraih tangan Syafa dan menggenggamnya kuat, memberikan dukungan moral yang ia bisa.

"Nggak akan, Mbak. Dan tidak akan pernah terjadi lagi," tegas Lilis.

"Lagi pula aku sudah menikah mbak."

"Terima kasih ya, Lis, sudah mau mendengarkan. Aku merasa lebih tenang sekarang," bisik Syafa tulus.

Setelah berbincang lama, Syafa bangkit dari duduknya dengan hati-hati agar tidak membangunkan bayi di gendongannya. Ia menatap Lilis sekali lagi, memberikan senyum yang seolah menjadi tanda penguat bagi sesama wanita.

"Aku duluan ya, Lis. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu," pamit Syafa.

"Sama-sama, Mbak. Hati-hati di jalan ya," jawab Lilis tulus.

Lilis mengantar Syafa sampai ke depan kafe dan memastikan wanita itu masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu. Ia berdiri diam di trotoar, menatap mobil itu hingga hilang di belokan jalan.

Segera, Lilis merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia harus cepat sampai ke rumah. Ia membuka aplikasi ojek online untuk memesan kendaraan. Namun, baru saja ia hendak menekan tombol pesan, sebuah suara rendah dan familiar tertangkap oleh pendengarannya dari arah belakang.

"Kenapa belum pulang?"

"Astaghfirullah! Mas Arka!" seru Lilis spontan. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya karena saking terkejutnya.

Lilis berbalik dan mendapati Arka sudah berdiri tepat di belakangnya. Arka masih mengenakan kemeja kerjanya, menatap Lilis dengan dahi berkerut dan tatapan menyelidik. Jantung Lilis berdegup dua kali lebih kencang.

"Mas... Mas kok ada di sini?" tanya Lilis terbata, berusaha mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan.

Arka tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah kafe, lalu kembali menatap mata istrinya. "Harusnya Mas yang tanya, kenapa kamu di sini sendirian? ."

Arka tidak menunggu jawaban panjang lebar dari istrinya. Ia langsung mengambil alih tas yang disampirkan di bahu Lilis.

"Sudah, ayo pulang," ucap Arka singkat sambil menuntun Lilis menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.

Lilis mengekor di sampingnya dengan langkah sedikit terburu-buru, mencoba mensejajarkan langkah dengan kaki jenjang suaminya. "Mas kok sudah pulang jam segini? Biasanya kan sampai sore di rumah sakit," tanya Lilis penasaran.

Arka membukakan pintu mobil untuk Lilis sebelum ia sendiri masuk ke kursi kemudi.

"Memangnya nggak boleh kalau Mas pulang cepat?" tanya Arka balik.

"Ya boleh dong, Mas. Malah bagus, aku jadi ada temannya."

Arka mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Mas nggak ada jadwal lagi hari ini.."

1
aroem
bagus
Aghitsna Agis
lis cerita ke mas arka biar nga salah faham
𝐈𝐬𝐭𝐲
arka kok jadi seorang yg pencemburu ya🤔 cemburu boleh tapi jgn terlalu malah jadinya gak baik...
Aidil Kenzie Zie
si Arka pencemburu
Aidil Kenzie Zie
ingat waktu TK dulu Liam dibuat nangis sama Tiara gara gara diajak menikah sama Liam e. taunya beneran mau dinikahi 🤭🤭🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
𝐈𝐬𝐭𝐲
Lumayan
Aghitsna Agis
arka kan lilisnya juga nga nerima rama malah nolak keras sm rama hrsnya arka senang lilis nolak rama bkn malah meledak marah2 kalau nerima batu metasa harga firinya diinjak2
Nice1808
Gila rama ngaku bujang padahal bristri dan anak, wadoh tau agama kok gak terus terang🤭🤣
Aghitsna Agis
lilis harus hati kalau dirumah sendirian takutnya tiba2 rama datang lagi dan rama senak jidatnya aja faham agama dari mana kaya gitu
Ryan Dynaz
sepupu blh nikah tuh...oke aja kok
falea sezi
sah aja masih kaku
Aidil Kenzie Zie
udah sah juga dibiasakan aja💪💪💪
Sri Supriatin
mampir Thor, langsung gercep semangat 8 bab nich, lanjut Thor 🤭🤭🙏🙏🙏
Nice1808
lanjut thor semngat💪💪💪
・゚・ Mitchi ・゚・
bukannya sepupu ga bisa nikah ya thor, kan masih hubungan darah mba rita sama arya. 🤔
Nabila Nabil: Arya sama rita sekandung lhooo.....
total 2 replies
Evi Lusiana
arka sm lilis itu sepupu an y thor,arka anakny arya,adikny mb rita
ig: denaa_127: iya Arya almarhum ayah arka dan tiara
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Lilis 🤔🤔🤔
ig: denaa_127: namanya Lilis, tapi nama asli Elisa 🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Arka beneran gercep
Aidil Kenzie Zie
mampir tor padahal cerita maknya belum kelar dibaca malah lari kesini 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!