AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jual batu Ah biar kaya.
Pagi yang cerah. Matahari bersinar hangat menyapa bumi. Namun di dalam kompleks Kuil Beringin, suasana terasa berbeda. Tenang, damai, dan penuh misteri yang kini sudah terungkap.
Deon Key dan Kakek Genpo berdiri di depan gerbang utama yang kini megah dan kokoh. Di tangan mereka, tidak ada kapak atau pahat. Yang ada hanyalah sebuah kantong kain kecil yang terlihat biasa saja, tapi isinya... luar biasa.
"Siap Kek? Kita jalan ya?" tanya Deon santai.
"Siap... tapi hati-hati Deon," Genpo masih membetulkan letak topi dan sarungnya, wajahnya terlihat gugup campur bangga. "Ingat, kita ini sekarang orang penting. Jangan sembarangan kasih tahu orang lain soal rumah kita ya."
"Hahaha tenang Kek. Kita cuma mau cari duit buat beli beras, minyak, dan perabotan baru. Gubuk kita kan sekarang jadi istana, tapi isinya masih kosong melompong."
Mereka berjalan keluar melewati gerbang tak terlihat. Saat kaki Deon melangkah, udara di depannya seakan membelah dengan sendirinya, membiarkan mereka lewat dengan mudah. Begitu keluar beberapa meter, Genpo menoleh ke belakang.
"Wah... sungguh ajaib."
Dari luar, kuil itu tetap terlihat berdiri indah dan megah, tapi ada samar-samar cahaya yang membuat orang biasa mungkin akan menganggapnya fatamorgana atau kabut tebal. Tidak ada yang berani mendekat, dan tidak ada yang bisa masuk kecuali diizinkan.
Berjalan di jalan setapak ini rasanya beda sekarang.
Dulu aku jalan cuma pakai kaki dan mata biasa. Sekarang? Aku bisa merasakan aliran energi di tanah. Aku bisa tahu pohon mana yang kayunya paling kuat hanya dengan melihat getarannya.
Tapi aku menyembunyikan semua itu. Aku pakai baju biasa, rambut agak berantakan, tetap terlihat seperti anak desa yang polos. Biar orang tidak curiga.
"Kek, kita ambil strategi 'Jual Sedikit Dapat Banyak'," kataku sambil tersenyum. "Kita tidak jual yang besar-besar, nanti pasar kaget. Cukup dua buah seukuran kepalan tangan. Itu saja sudah cukup buat kita hidup nyaman setahun."
"Betul kata anak pintar. Kakek setuju," jawab Genpo. "Tapi nanti tawar-menawarnya Kakek yang urus ya. Kamu jangan banyak omong soal fisika atau kimia, nanti pembelinya bingung."
Mereka kembali ke tempat yang sama. Kedai Batu Eyrod.
Saat mereka masuk, Eyrod yang sedang membersihkan batu-batuannya langsung menoleh. Matanya yang tajam langsung menyapu penampilan keduanya.
"Woi! Genpo! Kemana aja kau hah?!" sapa Eyrod keras-keras. "Kabar soal batu Giok Zamrud 3 kg itu masih heboh lho! Orang-orang pada cari-cari siapa yang punya!"
Genpo langsung berkeringat dingin, tapi Deon menyenggol pelan kakinya.
"Hehehe... kami cuma orang kecil Rod. Bukan urusan kami," jawab Genpo berbasa-basi. "Kami kesini mau jual barang dikit. Barang bagus tapi nggak seheboh itu."
Eyrod memicingkan mata. "Oh ya? Tunjukkan."
Deon membuka kantong kainnya perlahan. Ia mengeluarkan dua buah batu Giok Zamrud.
Bukan yang besar, tapi kualitasnya... sempurna.
Warnanya hijau pekat bening, tanpa cacat, tanpa retak, mengkilap seperti air. Bentuknya sudah dipoles sedikit oleh Deon agar terlihat menarik.
Mata Eyrod seketika membelalak. Mulutnya menganga lebar. Ia langsung mengambil batu itu dengan tangan gemetar, memeriksanya di bawah cahaya matahari yang masuk dari jendela.
"INI... INI ZAMRUD MURNI TANPA CACAT?!" seru Eyrod histeris. "Kualitas Imperial Grade! Dimana kau dapat ini Gen?! Bahkan batu yang 3 kg itu ada retakannya dikit, ini bersih kayak kaca!"
"Sudah dapat dari leluhur... sudah dapat dari leluhur..." jawab Genpo mengelak sambil tersenyum misterius. "Gimana Rod? Beli nggak? Atau Kakek cari pembeli lain?"
"BELI! TENTU SAJA BELI!" Eyrod langsung pasang badan. "Harganya... karena kita teman lama, Kakek beli 500 Keping Emas buat dua buah ini! Gimana?!"
Genpo hampir jatuh pingsan. 500 keping emas?! Itu jumlah yang luar biasa besar!
Tapi Deon hanya mengangguk santai. "Deal. Tapi kami mau setengahnya uang kertas buat belanja, setengahnya emas batangan kecil."
"SIAP! SEGERA SAYA SIAPKAN!" Eyrod langsung lari masuk seperti anak kecil, takut pembatalan.
Duh Gusti... 500 keping emas...
Aku duduk lemas di bangku kayu, memegangi dada.
"Deon... kita kaya... kita benar-benar kaya sekarang..." bisikku tak percaya. "Dulu kakek kerja setahun cuma dapat 10 keping emas. Ini cuma dua batu sebesar kepalan tangan... dapat 500!"
"Kan sudah kubilang Kek, ilmu dan kesabaran itu harganya mahal," jawab Deon santai sambil meminum teh yang disuguhkan pelayan toko. "Sekarang kita bisa beli apa saja yang kita mau."
Setelah transaksi selesai dan kantong mereka terasa berat berisi uang dan emas, mereka pun beranjak pergi. Kali ini langkah mereka lebih ringan dan percaya diri.
Mereka berjalan menyusuri pasar utama Kota Alengka.
Wah, ramai sekali.
Mataku berbinar melihat berbagai macam barang. Toko kain, toko perabot, toko peralatan makan, toko buku...
"Kek! Kita butuh kasur empuk! Yang di gubuk itu sudah kayak papan!"
"Kita butuh piring dan gelas baru! Yang ada masih pecah-pecah!"
"Kita butuh rak buku besar! Buku-bukuku mau numpuk di lantai terus!"
Sudut Pandang Kakek Genpo:
Anak ini... kalau sudah belanja matanya berbinar semua.
"Ya sudah, ya sudah... beli! Beli semuanya! Sekarang kan kita sultan desa!" seru Genpo ikut semangat. Jiwa mudanya kembali bangkit.
Deon memilih perabot kayu terbaik, memeriksa serat kayunya, memastikan tidak ada hama. Genpo tawar-menawar dengan para pedagang dengan lihai, kadang pakai logika, kadang pakai rayuan halus.
"Pak, ini kayunya kurang kering lho... kurangin harganya dikit ya..." celetuk Deon. Pedagangnya kaget karena benar saja!
Mereka membeli karpet tebal untuk di dalam aula, membeli lampu-lampu hias cantik (meski kuil sudah terang, tapi buat hiasan), membeli beras satu karung besar, minyak goreng, gula, teh, dan berbagai macam makanan kaleng serta sayur segar.
"Kek, beli daging juga! Aku mau makan rendang! Kakek kan jago masak!"
"BELI! BELI SEMUANYA!"
Suasana menjadi sangat ceria dan bahagia. Mereka berjalan bergandengan tangan di tengah keramaian, membawa banyak kantong belanjaan yang penuh. Wajah mereka sumringah, melupakan sejenak beban berat sebagai penjaga kuil dan rahasia Zaman Q.
Hari ini... mereka hanya Deon dan Kakek Genpo yang sedang bersenang-senang menikmati hasil jerih payah (dan keberuntungan gila) mereka.
"Tuh kan Kek," kata Deon sambil menggigit jagung bakar yang baru dibeli. "Hidup itu enak kalau pintar mengatur. Dapat harta, dapat rumah baru, dapat perut kenyang."
"Hahaha! Betul kata cucu kesayangan Kakek! Ayo pulang! Nanti barang-barangnya kebawa angin!"