NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 4

Amelia tidak menyukai benda yang disebutnya sebagai bukti itu. Bukti berupa foto-foto Olivia bersama Caelan, Amelia tidak suka melihatnya. Bukan karena foto-foto itu tidak pantas. Foto-foto itu hanya berisi sepasang kekasih yang saling mencintai. Dua orang yang tersenyum ke kamera, berfose bersama, dan terlihat bahagia.

Foto itu mengungkap perasaan intim sepasang kekasih yang seolah tidak terpisahkan. Melihat foto itu membuat Amelia merasa sakit, karena Olivia yang terlihat begitu bahagia dalam foto itu sudah tidak ada.

“Akan kuambilkan untukmu.”

Amelia bangun dari kursi. Langkahnya menjauh dari dapur tanpa menoleh, ditujunya kamar tidur di belakang yang bersebelahan dengan tangga. Lemari kayu lawas peninggalan ibunya. Amelia ingat, ibunya sangat menyukai lemari berukir itu.

Setelah mengambil sebuah amplop dari lemari, langkah Amelia kembali ke dapur. Langkahnya tertahan sesaat ketika menyaksikan Caelan menatap Emi yang sedang tidur. Pria itu tampak begitu penasaran terhadap Emi. Jemari Caelan terangkat ingin menyentuh Emi, tapi ditarik kembali seolah takut jika ujungnya menyentuh Emi akan membuat bayi mungil itu pecah.

“Kau bisa menyentuhnya, dia tidak akan pecah,” ujar Amelia sambil melanjutkan langkah.

“Aku boleh menyentuhnya?” tanya Caelan.

“Kau bahkan sudah pernah menggendongnya, kan?”

Caelan mengangguk. Pria itu berusah terlihat tenang, tapi jemari besar sedikit bergetar ketika menyentuh Emi. Sentuhan pertama Caelan di pipi Emi dengan ujung jari telunjuk tidak mengganggu bayi itu sama sekali. Membuat Caelan memberanikan diri menyentuh lagi.

Amelia mengamati interaksi ayah dan anak itu. Tersenyum melihat Caelan yang canggung menyentuh Emi dengan hati-hati. Emi sama sekali tidak terlihat terganggu, seolah membiarkan sang ayah mengenali dan terbiasa dengannya.

“Dia lembut sekali,” ucap Caelan lirih.

“Sebelumnya, kau sudah pernah menggendongnya,” sahut Amelia.

“Ya, tapi ini rasanya berbeda.” Caelan bersuara pelan, takut membangunkan Emi. Namun, tidak mau mengakhir interaksi dengan bayi yang masih terlelap itu. Jadi, Amelia membiarkan pria itu, menunggu hingga Caelan selesai.

Beberapa menit setelahnya, Caelan kembali duduk di kursi dan fokus pada Amelia.

“Ini.”

Amplop cokelat berisi foto itu Amelia letakkan di meja.

Caelan mengambilnya, membuka amplop dan mengeluarkan foto-foto itu dengan ekspresi aneh. Amelia mengawasi Caelan memerhatikan masing-masing foto berulang kali, dengan perlahan-lahan.

Kemudian tanpa kata, Caelan menyimpan foto-foto itu ke dalam amplop. Mendongak pada Amelia dengan sorot mata sedih. Amelia bertanya-tanya apa yang menyebabkan ekspresi itu. Apakah Caelan akhirnya mengingat Olivia, wanita yang pernah memiliki hubungan singkat dengan pria itu? Apakah itu menghidupkan perasaan lama Caelan terhadap Olivia?

Amelia berusaha menebak-nebak, tapi hanya menyimpan tebakannya di dalam kepala. Hingga akhirnya perkataan Caelan membuktikan bahwa semua tebakannya salah.

“Pria yang ada di dalam foto-foto itu bukan aku, tapi saudara kembarku.”

Amelia menatap Caelan tanpa ekspresi untuk beberapa saat, lalu tertawa. “Usaha yang bagus. Kau jauh-jauh ke sini hanya untuk membuat alasan agar bisa berkelit dari tanggung jawab. Jadi, kau punya saudara kembar yang bernama Caelan juga?”

Caelan menggeleng. “Namanya Henry.”

Amelia bersidekap. “Berarti yang di foto itu bukan kembaranmu Henry, karena Olivia menyebutnya Caelan.”

“Sepertinya Henry berpura-pura menjadi aku ketika berkenalan dengan adikmu. Dia sering melakukan itu.”

“Benarkah?” sahut Amelia sarkas. Ia sama sekali tidak percaya dengan alasan saudara kembar bernama Henry yang berpura-pura menjadi Caelan itu.

Caelan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto keluarga pada Amelia. Di foto itu ada seorang wanita yang duduk di kursi, di belakangnya seorang pria paruh baya berdiri. Di sisi kanan ada Caelan dan di sisi kiri ada pria lain yang sama persis rupanya dengan Caelan, hanya lebih pendek.

“Kau bisa mencari tahu tentang kami di internet.”

Mengikuti perkataan Caelan, Amelia mencari tahu mengenai keluarga pria itu di internet. Seperti yang dikatakan Caelan, pria itu memang memiliki saudara kembar yang bernama Henry. Namun, saudara pria itu sudah meninggal enam bulan yang lalu.

“Meninggal?” tanya Amelia pelan.

“Foto-foto ini,” Caelan menunjuk amplop di tengah meja, “diambil saat aku sedang dinas di London. Bulan Februari. Saat itu, Henry menempati apartemenku selama seminggu. Ternyata, dia tidak hanya meminjam apartemen, tapi juga namaku. Kapan Emi lahir?”

Amelia yang masih mencoba mencerna informasi dari Caelan dan yang didapatnya dari internet, butuh beberapa saat sebelum menjawab, “Pertengahan November.”

“Kurasa waktunya tepat, jika mereka bertemu dan berpacaran di Februari, kemudian adikmu hamil dan melahirkan Emi di November.”

Amelia tidak menanggapi, masih sibuk denga nisi pikirannya sendiri.

“Kalau kau masih ragu, aku punya bukti keberadaanku di London. Ada foto-foto, bukti tiket, hotel, juga orang yang bisa menjadi saksi keberadaanku di London untuk pekerjaan di sana.”

Caelan terus berbicara, tapi Amelia tidak memerhatikan. Ia masih mencoba menelaah dan menerima informasi yang baru saja didapatkan. Dikeluarkannya foto-foto dari dalam amplop, diperhatikannya dengan hati-hati wajah pria dalam foto itu, lalu dibandingkan dengan pria di depannya. Semula ia tidak menemukan perbedaan itu, tapi sekarang bisa melihatnya.

Pria di dalam foto memiliki sedikit lengkungan di batang hidungnya, tanda permanen dari insiden di masa lalu, yang tidak dimilliki oleh pria yang duduk di depan Amelia sekarang.

Amelia lemas, harapannya hancur lebur. Pria yang bersama dengan Olivia bukanlah Caelan melainkan Henry. Jadi, Emi adalah anak Henry. Caelan tidak mungkin akan membiayai anak Henry. Sepertinya, Amelia harus menjual rumah dan pindah ke rumah lebih kecil atau menyewa apartemen kecil agar bisa tetap bertahan hidup dengan Emi. Karena apa pun yang terjadi, Amelia tidak akan mengirimkan Emi ke panti asuhan.

“Kapan Henry meninggal?” Akhirnya Amelia bisa bersuara.

“September, tapi masih tidak terasa nyata bagiku.”

Amelia bisa mendengar kesedihan dalam suara Caelan. Kesedihan yang sama seperti Amelia.

“Waktu akan mengobati,” ujar Amelia lirih sambil memandangi Emi. Sebenarnya, ia berkata seperti itu untuk dirinya sendiri. Amelia percaya kalau waktu akan mengobati luka kehilangan Olivia. Namun, yang menjadi pikirannya sekarang bukan tentang luka, tapi bagaimana bertahan hidup bersama Emi.

“Dia tidak mirip Henry.”

“Dia sangat mirip Olivia.”

“Seandainya, Emi lebih mirip Henry, dia akan mengingatkanku pada Henry. Pasti akan menyenangkan.”

“Jika ingin mengenang Henry, kau bisa bercermin,” ujar Amelia pelan, dan Caelan tersenyum sedih.

“Rasanya tidak sama.”

Amelia mengerti hal itu. Kehilangan seseorang yang menjadi bagian penting dalam hidup tidak pernah mudah. Ia sudah merasakannya dua kali, tapi rasanya masih sangat menyakitkan.

Lama keduanya diam. Amelia tidak menghitung waktu, mungkin lima menit, setengah jam, atau lebih. Hingga akhirnya ia membuka suara, “Aku minta maaf.”

“Untuk apa?” Caelan terlihat bingung.

“Karena sudah menuduhmu,” jawab Amelia sembari menatap Caelan. “Aku mendatangi kantormu dan menuduhmu. Aku benar-benar sudah membuat masalah untukmu.”

Caelan menggeleng pelan. “Kita tidak perlu mempermasalahkan hal itu lagi. Kau sama tidak tahunya seperti aku tentang hal ini.”

“Tetap saja,” Amelia menghela napas, “itu benar-benar memalukan. Aku benar-benar yakin kaulah ayah dari Emi, tapi ternyata ….” Bahu Amelia terkulai. Selama ini Caelan berkata jujur, sementara Amelia yang berpikiran salah mengenai pria itu.

“Itu tidak masalah, aku bisa menjadi ayah Emi.”

Tubuh Amelia kembali tegak. Matanya menatap Caelan tanpa berkedip. Tidak percaya apa yang baru didengarnya.

“Aku punya penawaran untukmu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!