NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Logika yang Terluka

​Lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara pagi ini terasa seperti sebuah akuarium raksasa yang kekurangan oksigen. Suara ketikan papan ketik yang biasanya terdengar seperti ritme kerja yang produktif, kini terdengar bagai rentetan tembakan senjata mesin yang memekakkan telinga.

​Kanaya Larasati duduk kaku di kursi ergonomisnya. Matanya yang merah karena kurang tidur tertuju pada layar monitor, namun fokusnya telah lama menguap. Fail AutoCAD yang terbuka di hadapannya menampilkan detail sambungan struktural pilar lobi, tetapi yang ia lihat bukanlah garis-garis vektor biru dan putih.

​Ia melihat bayangan Arjuna Dirgantara yang berdiri di lorong lantai tiga puluh kemarin sore. Ia mendengar suara baritonnya yang tenang namun menghancurkan, menyebutnya sebagai 'koleksi keindahan'.

​'Koleksi. Hanya sebuah benda mati yang dikurasi untuk memuaskan ego sang kolektor,' batin Naya, jemarinya meremas pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

​Rasa mual kembali menyerang ulu hatinya. Itu bukan mual karena asam lambung akibat overdosis kopi hitam, melainkan mual psikologis karena merasa dirinya baru saja direduksi menjadi aset tanpa nyawa. Harga diri Naya yang selama bertahun-tahun ia bangun sebagai perisai melawan dunia, kini terasa seperti tumpukan kartu yang ditiup angin kencang.

​'Berhenti menangis, Kanaya. Menangis adalah variabel yang tidak berguna,' ia memarahi dirinya sendiri, meskipun matanya terasa panas. 'Kau tahu siapa dia sejak awal. Seorang pria yang menganggap emosi sebagai cacat produksi. Harusnya kau bersyukur dia menunjukkan wajah aslinya sekarang, sebelum kau melangkah terlalu jauh ke dalam labirinnya.'

​Naya meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, menyesap isinya yang terasa seperti abu. Pahit. Sepahit kenyataan bahwa ciuman di Bali—momen yang sempat ia kira sebagai sebuah koneksi manusiawi—hanyalah sebuah tindakan impulsif dari seorang penguasa yang ingin 'mencicipi' barang koleksi terbarunya.

​"Naya? Kau melamun lagi?"

​Suara Siska memecah lamunan Naya. Desainer senior itu berdiri di samping kubikelnya, memegang secangkir matcha latte dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca—setengah kasihan, setengah menyelidik.

​Naya segera mematikan monitornya, memberikan gestur bahwa ia sedang sibuk. "Hanya sedang menghitung ulang debit cahaya untuk pilar ketiga, Mbak. Ada apa?"

​Siska menghela napas, ia duduk di kursi kosong di sebelah Naya. "Kudengar rapat direksi kemarin sangat berat. Pak Juna... dia sedang dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Seisi lantai ini kena semprot pagi tadi hanya karena salah format laporan. Kau baik-baik saja?"

​'Seisi lantai kena semprot? Tentu saja. Dia sedang melampiaskan rasa bersalahnya pada seluruh dunia,' gumam Naya dalam hati.

​"Saya baik-baik saja, Mbak Siska. Pak Arjuna memang selalu menuntut kesempurnaan, bukan?" sahut Naya dengan nada datar yang paling profesional yang bisa ia buat.

​"Bukan itu," Siska merendahkan suaranya, melirik ke arah lift eksekutif. "Biasanya dia setidaknya memberikan instruksi melalui Riko. Tapi pagi ini, dia sendiri yang keluar dari ruangannya, menatap kubikelmu seperti ingin membakar tempat ini dengan matanya, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Kau membuat kesalahan besar di Bali?"

​Naya tertegun. Juna menatap kubikelnya?

​'Untuk apa? Untuk memastikan koleksinya masih berada di tempatnya? Atau untuk memastikan aku tidak menyerahkan surat pengunduran diri?' batin Naya meradang.

​"Saya melakukan tugas saya dengan benar, Mbak. Jika beliau tidak puas, itu adalah standar pribadinya yang mungkin memang mustahil dicapai," jawab Naya tegas. Ia kembali menyalakan monitornya, sebuah isyarat halus bahwa ia ingin mengakhiri pembicaraan.

​Sepeninggal Siska, Naya tidak bisa lagi berpura-pura bekerja. Ia meraih tas ranselnya, mengambil sebuah buku catatan kecil berwarna hitam yang berisi sketsa-sketsa kasarnya. Di halaman terakhir, ada sketsa wajah seseorang yang belum sempat ia selesaikan. Garis rahang yang tegas, mata yang tajam namun menyimpan luka.

​Tanpa ragu, Naya merobek halaman itu. Ia meremasnya hingga menjadi bola kecil dan melemparkannya ke tempat sampah di bawah mejanya.

​'Cukup. Tidak ada lagi sketsa. Tidak ada lagi perasaan. Mulai hari ini, Arjuna Dirgantara adalah target yang harus kulampaui, bukan pria yang harus kupahami.'

​Pukul dua siang, rintik hujan mulai membasahi kaca-kaca pencakar langit Jakarta. Di dalam ruang kerja CEO, suasananya jauh lebih gelap daripada cuaca di luar.

​Arjuna Dirgantara berdiri di depan jendela panorama, menatap arus lalu lintas di bawah yang tampak seperti aliran semut yang terjebak di dalam air. Ia tidak mengenakan jasnya. Kemeja putihnya sudah berkerut di beberapa bagian, dan dasinya sudah ia lepaskan sejak satu jam yang lalu.

​Di tangannya, ia memegang sebatang rokok yang sudah hampir habis, namun ia tidak menghisapnya. Matanya yang lelah terus tertuju pada pantulan bayangan dirinya di kaca.

​'Kau baru saja menghancurkannya, Arjuna. Kau baru saja membunuh binar di matanya hanya untuk menyelamatkan egomu sendiri,' batin Juna, rasa hampa di dadanya terasa seperti lubang hitam yang semakin membesar.

​Kata-kata Naya kemarin sore terus bergaung di telinganya: "Saya tidak akan pernah membiarkan bibir saya bersentuhan dengan robot tanpa nurani seperti Anda lagi."

​Setiap kata itu terasa seperti sayatan pisau bedah yang sangat presisi di hatinya. Juna selalu menganggap dirinya sebagai mesin yang sempurna, namun sejak kepulangan dari Bali, mesin itu mengalami malfungsi yang parah. Ia tidak bisa fokus. Ia melihat bayangan Naya di setiap sudut ruangannya. Ia mencium aroma vanila setiap kali angin dari pendingin ruangan berhembus.

​Juna berjalan menuju meja kerjanya, menatap tempat sampah mewahnya yang masih berisi mawar putih yang ia kirimkan tadi pagi. Mawar itu dibuang oleh Naya bahkan sebelum bunga-bunga itu sempat layu.

​'Dia membenciku. Dan dia memiliki setiap alasan untuk itu,' gumam Juna dalam hati. Ia mematikan rokoknya di asbak kristal dengan tenaga yang berlebihan.

​Ia memanggil Riko melalui interkom. "Panggil Kanaya Larasati ke sini. Sekarang."

​"Tapi Pak, Nona Kanaya sedang berada di gudang teknis untuk pengujian beban terakhir pilar prototipe," sahut Riko melalui speaker.

​"Panggil dia kembali. Ini adalah perintah," tegas Juna, suaranya tidak menerima bantahan.

​Sepuluh menit kemudian, pintu mahoni ruang CEO terbuka. Naya melangkah masuk. Ia tidak mengenakan blazer hitam profesionalnya lagi. Ia hanya mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda yang lengan bajunya digulung, dan celana bahan yang sedikit ternoda oleh debu epoksi dari gudang.

​Wajah Naya terlihat sangat lelah, namun matanya memancarkan permusuhan yang sangat murni. Ia tidak lagi menunduk. Ia menatap Juna dengan dagu yang terangkat, menantang sang penguasa Dirgantara.

​"Anda memanggil saya, Pak Arjuna? Saya sedang berada di tengah pengujian kritis yang Anda minta sendiri kemarin," ucap Naya, suaranya dingin dan tanpa emosi.

​Juna berjalan mengitari mejanya, berhenti tepat di depan Naya. Ia mengamati penampilan gadis itu—debu di bajunya, keringat di pelipisnya, dan luka kecil di jari telunjuknya yang mungkin ia dapatkan saat memasang serat karbon.

​"Pengujian itu bisa menunggu. Ada hal yang lebih mendesak," ucap Juna, mencoba menjaga suaranya agar tetap berwibawa.

​Naya tertawa kecil, sebuah tawa kering yang membuat Juna tersentak. "Hal yang lebih mendesak? Apa lagi? Apakah ada koleksi lain yang ingin Anda pamerkan? Atau Anda ingin memberikan kuliah tambahan tentang anomali biologis manusia?"

​"Kanaya, jaga bicara Anda," desis Juna, langkahnya maju satu tahap, menginvasi ruang pribadi Naya.

​"Kenapa? Karena kebenaran itu menyakitkan telinga Anda yang terhormat?" Naya melangkah maju, tidak mundur sedikit pun. "Anda menyebut saya koleksi. Anda mereduksi seluruh kerja keras dan dedikasi saya menjadi sebuah barang hiasan. Dan sekarang Anda ingin saya bersikap manis dan patuh?"

​Juna merasakan amarah dan penyesalan berperang di dalam dadanya. "Saya mengatakannya untuk menetapkan batasan. Antara kita tidak boleh ada variabel emosional yang merusak proyek. Anda sendiri yang bilang bahwa kehilangan kendali adalah hal yang fatal."

​"Dan Anda melakukannya dengan cara menghina saya?" mata Naya mulai berkaca-kaca, namun ia menolak untuk membiarkan air mata itu jatuh. "Anda mencium saya di Bali, Pak Arjuna. Jangan berani-berani Anda menyangkal itu atau menyebutnya sebagai kesalahan teknis. Anda melakukannya karena saat itu Anda merasa kesepian, dan saya adalah objek yang paling mudah untuk Anda gunakan."

​"Cukup!" bentak Juna, suaranya menggelegar di ruangan yang luas itu.

​Hening seketika. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang antik.

​Juna memejamkan matanya, mencoba mengontrol napasnya yang memburu. "Saya tidak memanggil Anda ke sini untuk membahas perasaan. Saya memanggil Anda untuk memberitahu bahwa dewan direksi telah menyetujui anggaran tambahan untuk implementasi serat karbon di seluruh pilar utama."

​Naya terdiam. Kabar itu seharusnya menjadi kemenangan besar baginya, namun rasanya hambar.

​"Bagus. Berarti pekerjaan saya diakui," sahut Naya singkat.

​"Tapi ada syaratnya," Juna membuka matanya, menatap Naya dengan intensitas yang berbeda. "Dewan direksi menginginkan tim inti Grand Azure—termasuk Anda—untuk tinggal di site konstruksi selama dua minggu ke depan untuk mengawasi instalasi awal. Kita akan bekerja di lapangan, dua puluh empat jam sehari."

​Naya mengerutkan dahi. "Kita? Maksud Anda... Anda juga akan di sana?"

​"Saya adalah CEO dan arsitek utama. Tentu saja saya akan di sana untuk memastikan tidak ada kesalahan satu milimeter pun," jawab Juna datar.

​'Dua minggu? Di site konstruksi yang berdebu dan sempit? Bersamanya?' batin Naya merasa seolah-olah ia baru saja dijatuhi hukuman tambahan.

​"Saya akan bersiap," ucap Naya, berbalik untuk pergi.

​"Kanaya," panggil Juna pelan.

​Naya berhenti, namun tidak berbalik.

​"Tentang bunga itu... saya tidak bermaksud menjadikannya sebagai 'kompensasi'. Saya hanya..." Juna menjeda, kata-katanya tertahan di tenggorokan.

​"Anda hanya ingin memastikan aset Anda tidak terlalu rusak karena stres, bukan? Saya mengerti, Pak," potong Naya tanpa menoleh. "Jangan khawatir. Koleksi Anda ini masih dalam kondisi kerja yang sangat baik. Permisi."

​Naya melangkah keluar, meninggalkan Juna yang masih mematung sendirian.

​Begitu pintu tertutup, Juna menjatuhkan dirinya ke kursi direkturnya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia baru saja menciptakan neraka baru bagi dirinya sendiri. Dua minggu di lapangan, tanpa jarak kantor yang aman, bersama seorang gadis yang kini membencinya dengan sepenuh jiwa.

​'Kau benar-benar sosiopat yang buruk, Arjuna,' batin Juna, menatap meja marmernya yang kosong. 'Kau ingin menjaganya agar tetap dalam jangkauanmu, namun kau terlalu pengecut untuk mengakui bahwa kau membutuhkannya.'

​Sore itu, Naya kembali ke kubikelnya. Ia melihat tempat sampah di bawah mejanya, di mana bola kertas berisi sketsa wajah Juna berada. Ia mengambil bola kertas itu, namun ia tidak membuangnya ke tempat sampah besar di luar. Ia memasukkannya ke dalam saku celananya.

​'Dua minggu di lapangan,' bisik Naya pada dirinya sendiri. 'Ini bukan lagi soal desain. Ini adalah soal siapa yang akan bertahan lebih lama tanpa menghancurkan hatinya sendiri.'

​Jakarta sedang hujan deras saat Naya meninggalkan gedung. Ia berdiri di lobi, menatap air yang turun dengan deras. Kali ini, ia tidak menunggu taksi. Ia berjalan menembus hujan, membiarkan air membasahi kemeja dan rambutnya, berharap dinginnya air hujan bisa mematikan rasa panas yang membakar jiwanya.

​Di lantai dua puluh lima, dari balik jendela kaca yang gelap, Arjuna Dirgantara memperhatikan siluet mungil Naya yang berjalan menjauh di bawah guyuran hujan. Ia ingin berlari turun, membawakan payung, atau memaksanya masuk ke dalam mobilnya.

​Namun, ia hanya berdiri di sana, diam, membiarkan tangannya menyentuh kaca yang dingin, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan hak untuk melindungi gadis itu.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak cepat menyusuri koridor sebuah apartemen mewah di London. Suasana sunyi, hanya terdengar suara musik klasik yang mengalun dari sebuah piringan hitam tua.

​Tujuh tahun yang lalu.

​Arjuna remaja, baru berusia dua puluh satu tahun, sedang duduk di meja gambarnya yang luas. Di hadapannya, berserakan ratusan sketsa bangunan yang tidak pernah ia selesaikan. Matanya yang merah menunjukkan bahwa ia sudah tidak tidur selama berhari-hari.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari ayahnya.

​"Jangan pulang untuk libur musim panas. Saya sudah mengatur magang Anda di biro arsitektur milik Tuan Henderson. Anda harus belajar bagaimana cara membedah beton, bukan cara menikmati matahari."

​Juna menatap pesan itu tanpa emosi. Ia meraih sebuah gelas berisi wiski, meminumnya dalam satu tegukan. Ia menoleh ke arah jendela, menatap langit London yang selalu kelabu.

​Ia mengambil sebuah penggaris besi, lalu dengan sengaja menggores permukaan meja gambarnya yang mahal. Sebuah goresan yang dalam dan permanen.

​'Logika adalah satu-satunya pelindungku,' bisik Juna remaja pada ruangan yang kosong. 'Perasaan hanya akan membuat goresan-goresan yang menyakitkan seperti ini. Aku akan menjadi sekeras beton, agar tidak ada lagi kata-kata Ayah yang bisa menembus kulitku.'

​Kamera melakukan close-up pada mata Juna yang kini terlihat sangat kosong, tatapan yang sama yang kini sedang ia gunakan untuk menatap hujan di Jakarta, menyadari bahwa beton yang ia bangun di sekeliling hatinya mulai retak oleh seorang gadis bernama Kanaya.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!