Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 四
Matahari mulai meninggi, mengusir sisa-sisa embun yang membasahi tanah desa yang gersang. Setelah memastikan A-Chen makan dengan kenyang dan perutnya sendiri tidak lagi berteriak protes, Chu Yue memutuskan untuk melangkah keluar dari zona nyamannya. Ia tahu, keajaiban dari Ruang Dimensi tidak boleh dipamerkan secara cuma-cuma. Ia butuh sebuah "alibi" atau alasan yang masuk akal bagi penduduk desa jika suatu saat ia tiba-tiba memiliki uang atau barang-barang bagus.
"A-Chen, Kakak akan pergi ke hutan sebentar untuk mencari beberapa akar kayu dan buah-buahan." ucap Chu Yue sambil mengikat rambutnya yang kusam dengan seutas kain bersih.
A-Chen yang sedang asyik membersihkan lantai gubuk seketika menghentikan kegiatannya. Wajah kecilnya pucat pasi. "Hutan? Maksud Jie-jie... Hutan Kematian di balik bukit itu? Jangan Jie-jie! Orang-orang bilang di sana banyak siluman dan hewan buas yang siap memangsa siapa saja yang masuk!"
Chu Yue tersenyum tenang, sebuah senyuman yang membawa wibawa seorang putri yang pernah memimpin ratusan pelayan. Ia mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Jangan khawatir. Kakakmu ini memiliki mata yang tajam. Aku tidak akan masuk terlalu dalam. Kau cukup di rumah, kunci pintu dari dalam, dan jangan biarkan siapapun masuk kecuali Kakak yang memanggilmu. Mengerti?"
A-Chen hanya bisa mengangguk pasrah, meski kekhawatiran masih jelas terpancar dari matanya. Chu Yue melangkah pergi dengan membawa sebuah keranjang bambu yang sudah bolong di beberapa bagian.
Hutan yang ditakuti penduduk desa itu sebenarnya adalah surga bagi seorang tabib agung seperti dirinya. Begitu kakinya menginjak tanah hutan yang lembap, indra penciumannya langsung bekerja. Bau tanah, lumut, dan aroma samar dari berbagai jenis tumbuhan liar menyergapnya. Baginya, ini bukan hutan terkutuk, melainkan gudang harta karun yang tak ternilai harganya.
“Bodohnya orang-orang di sini.” batin Chu Yue sambil berjongkok di bawah sebuah pohon tua yang besar. “Mereka menyebut ini hutan kematian, padahal di depan mata mereka tumbuh Herbal Penawar Racun yang harganya bisa menyamai satu batang emas di kerajaanku dulu.”
Tangan lentiknya dengan cekatan mencabut beberapa tanaman yang tampak seperti rumput liar bagi orang awam. Ia menemukan Jamur Lingzhi liar yang tumbuh di batang kayu lapuk dan beberapa akar ginseng yang usianya mungkin sudah puluhan tahun. Ia tidak memasukkan semuanya ke dalam keranjang. Sebagian besar tanaman yang masih segar dan memiliki akar yang kuat, ia masukkan ke dalam Ruang Dimensi dengan satu sentuhan ringan pada tanda lahir di pergelangan tangannya.
“Tumbuhlah dengan baik di sana. Berikan aku khasiat tiga kali lipat agar aku bisa menyembuhkan tubuh malang ini.” bisiknya pada tanaman itu.
Setelah hampir dua jam berjalan menembus semak belukar, langkah Chu Yue terhenti. Telinganya yang tajam menangkap suara yang asing, suara gesekan logam dan deru mesin yang aneh, diikuti oleh bau darah yang sangat tajam dan bau amis yang unik.
Ia menyibak semak-semak dan tertegun. Di sebuah jalan setapak yang jarang dilalui kendaraan, terdapat sebuah kotak besi besar berwarna hitam mengkilap yang tampak sangat mewah. Kereta perang tanpa kuda, pikirnya sesaat sebelum ingatannya sebagai Lin Xiaoxi menyebut benda itu sebagai 'mobil'.
Di samping mobil itu, seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas hitam tampak mondar-mandir dengan wajah panik. Itu adalah Zuo Fan. Ia memegang sebuah benda kecil di telinganya dan berteriak, "Sinyal sialan! Mengapa di tempat terkutuk ini tidak ada sinyal?!"
Pandangan Chu Yue beralih ke kursi belakang mobil yang pintunya terbuka sedikit. Di sana, seorang pria duduk bersandar dengan kepala terkulai. Wajah pria itu, 'Mo Yan' tampak seputih kertas porselen. Bibirnya membiru, dan dari jarak beberapa meter pun, Chu Yue bisa merasakan aura dingin yang menusuk keluar dari tubuh pria itu.
“Penyakit Dingin Abadi?” batin Chu Yue terperanjat. “Bagaimana mungkin di dunia modern ini ada seseorang yang menderita kutukan aliran Qi yang membeku seperti itu?”
Tanpa rasa takut, Chu Yue melangkah keluar dari semak-semak. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Zuo Fan tersentak dan langsung memasang posisi waspada.
"Siapa kau?! Berhenti di sana, gadis desa!" bentak Zuo Fan. Matanya menatap tajam pada baju Chu Yue yang lusuh dan penuh noda tanah. "Pergi dari sini! Ini bukan tempat untuk bermain!"
Chu Yue tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan langkah yang anggun, seolah-olah gubuk hutan itu adalah aula istana. "Jika kau terus berteriak padaku dan mengabaikan tuanmu, dalam tiga belas denyut jantung, aliran darah di paru-parunya akan membeku dan dia akan menemui ajalnya."
Zuo Fan tertegun. Suara gadis itu... begitu tenang, dingin, dan penuh otoritas. Bagaimana mungkin seorang gadis desa yang tampak kotor memiliki aura seperti seorang permaisuri?
"Apa yang kau tahu tentang penyakit Tuan Mo?!" Zuo Fan menghalangi jalan Chu Yue. "Kami sudah memanggil dokter terbaik, mereka sedang dalam perjalanan!"
"Doktermu tidak akan sampai tepat waktu, dan alat-alat mereka tidak akan bisa mencairkan es yang membekukan jantungnya." ucap Chu Yue tajam. Ia menatap Mo Yan yang mulai menggigil hebat meski cuaca sedang panas. "Minggir, atau biarkan dia mati di depan matamu."
Entah mengapa, Zuo Fan merasa terintimidasi oleh tatapan jernih gadis di depannya. Ia perlahan mundur, membiarkan Chu Yue mendekati Mo Yan.
Chu Yue meraih pergelangan tangan Mo Yan. Kulit pria itu terasa sedingin es kutub. Ia menutup matanya, merasakan aliran nadi yang hampir berhenti. Ini bukan penyakit biasa ini adalah penyumbatan energi murni yang sangat ganas.
"Sial, aku tidak membawa jarum perakku." gumamnya kesal. Ia kemudian melirik ke keranjangnya, mengambil sebatang kayu kecil dari tanaman herbal yang baru saja ia petik, lalu dengan kuku jempolnya yang tajam, ia meruncingkan ujung kayu itu.
"Apa yang kau lakukan?! Kau ingin menusuknya dengan kayu?!" Zuo Fan ingin menghentikannya, namun Chu Yue memberikan tatapan peringatan yang membuat asisten itu terpaku di tempat.
"Diam dan lihatlah." perintah Chu Yue.
Dengan kecepatan yang tak kasat mata, Chu Yue menusukkan ujung kayu herbal itu ke titik saraf di dekat leher dan pergelangan tangan Mo Yan. Ia menyalurkan sedikit energi hangat yang ia dapatkan dari mata air roh di dimensinya melalui ujung kayu tersebut.
Keajaiban terjadi. Tubuh Mo Yan yang tadinya kaku perlahan mulai rileks. Napasnya yang tadi tersengal-sengal mulai kembali teratur. Rona merah tipis mulai muncul di wajahnya yang pucat.
Mo Yan perlahan membuka matanya. Pandangannya yang kabur perlahan terfokus pada seorang gadis yang berada sangat dekat dengannya. Gadis itu tidak cantik dalam standar modern, wajahnya kusam dan rambutnya berantakan, namun matanya... mata itu begitu tajam, jernih, dan memancarkan kecerdasan yang melampaui usia penampilannya.
"Siapa... kau?" suara Mo Yan terdengar lemah, namun berat.
Chu Yue menarik kembali tangannya dan berdiri tegak. Ia membersihkan tangannya pada kain bajunya seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang biasa. "Hanya seorang tabib lewat yang merasa terganggu oleh hawa dinginmu."
Ia kemudian mengambil beberapa lembar daun dari keranjangnya dan melemparkannya ke pangkuan Mo Yan. "Rebus daun ini dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Minumlah saat hangat untuk menjaga jantungmu tetap cair selama dua belas jam ke depan. Jangan mencariku, aku benci keributan."
Tanpa menunggu jawaban atau ucapan terima kasih, Chu Yue berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam hutan lebat, menghilang di balik kabut pepohonan secepat ia muncul.
Zuo Fan terpaku, menatap daun-daun di pangkuan tuannya. "Tuan... Anda... Anda sudah bisa bicara? Gadis itu... siapa dia sebenarnya?"
Mo Yan menyentuh titik di lehernya yang tadi ditusuk. Rasa hangat masih tertinggal di sana, mencairkan rasa sakit yang selama bertahun-tahun menyiksanya. Ia menatap ke arah hutan tempat Chu Yue menghilang.
"Cari dia." ucap Mo Yan dengan suara dingin namun penuh ketegasan. "Aku ingin tahu siapa gadis desa yang mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh para profesor medis di seluruh dunia."
Sementara itu, di dalam hutan, Chu Yue menggerutu pelan sambil mempercepat langkahnya. “Dewa sialan, kenapa aku harus bertemu dengan pria yang membawa masalah besar seperti itu? Aliran energinya begitu kuat... jika aku tidak hati-hati, dia akan menyeretku ke dalam pusaran masalahnya.”
Namun, senyum tipis terukir di bibirnya. Setidaknya, ia tahu satu hal, kemampuannya masih tajam, dan dunia ini baru saja menyaksikan sedikit dari kehebatan Sang Putri Tabib.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/