Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama Singa
Pesta pernikahan yang megah dan penuh gemerlap itu akhirnya usai. Tepuk tangan, sorak-sorai, dan pujian kini tinggal menjadi kenangan. Mobil mewah yang membawa mereka melaju meninggalkan keramaian kota, menuju sebuah kediaman besar yang sunyi, tenang, dan bagi Vira... terasa sangat menakutkan.
Ini adalah rumah Farzhan Ibrahim. Dan mulai detik ini, rumah ini juga menjadi rumahnya. Secara hukum, ia adalah Nyonya Muda di sini. Namun, rasanya lebih seperti seorang tahanan yang hendak dipindahkan ke sel baru yang lebih mewah, tapi penjaganya jauh lebih galak.
Mobil berhenti di halaman depan. Pintu dibuka oleh sopir. Farzhan turun lebih dulu dengan gaya yang tampan dan keren. Ia berjalan mengelilingi mobil untuk membukakan pintu bagi Vira, sesuai dengan sopan santun yang diajarkan orang tuanya. Tapi begitu Vira turun dan mereka berdua masuk ke dalam rumah yang sepi, wajah ramah Farzhan seketika berganti.
Wajah dingin, kaku, dan tajam itu kembali. Bahkan kali ini levelnya naik beberapa tingkat.
"Letakkan sepatu di rak, susun rapi. Jangan sembarangan taruh," perintah Farzhan begitu pintu tertutup rapat. Suaranya datar, namun memiliki aura yang membuat bulu kuduk merinding.
Vira yang masih memakai gaun pengantin yang berat dan mewah itu, hanya bisa mengangguk patuh seperti anak kecil yang baru saja dimarahi. "I... iya..."
Mereka berjalan masuk ke ruang tengah. Rumah itu sangat besar, sangat rapi, dan sangat bersih. Terlalu rapi hingga terasa hampa dan dingin. Tidak ada mainan yang berserakan seperti rumahnya, tidak ada benda yang tidak pada tempatnya seperti kamarnya. Semuanya presisi. Seperti rumah pameran, bukan rumah untuk ditinggali manusia biasa.
"Kamar kamu di sebelah sana," Farzhan menunjuk ke sebuah pintu di ujung lorong. "Kamar tamu yang sudah saya renovasi. Isinya lengkap, tapi ingat aturan main di kontrak. Jangan pernah melangkah masuk ke kamarku kalau tidak ada izin. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan Majikan..." jawab Vira pelan.
"Bagus. Sekarang, pergi ganti baju. Rapikan gaun pengantin itu, masukkan ke plastiknya dengan benar. Jangan sampai kotor atau kusut. Itu mahal." perintahnya dengan tegas tanpa ampun.
Vira menghela napas panjang. Ya ampun... ini baru hari pertama. Apa aku sanggup hidup begini seterusnya?
Beberapa jam berlalu dengan cepat. Sore berganti malam. Vira sudah berganti menjadi piyama santai yang nyaman. Ia merasa sedikit lega bisa melepaskan gaun berat dan riasan tebal itu. Namun, tugasnya hari ini belum selesai. Sebagai istri (dan sekaligus mantan pembantu), ia punya kewajiban menyiapkan makan malam.
"Dapurnya ada di situ," tunjuk Farzhan sambil duduk santai di ruang keluarga sambil memegang tablet, memantau pekerjaan. "Aku mau makan malam. Menu sudah ada di kulkas, bahan-bahan sudah disiapkan. Masak yang benar. Jangan terlalu asin, jangan terlalu manis. Dan yang paling penting... Jangan terjadi kekacauan, dapur harus tetap bersih saat kamu selesai."
"Siap, Tuan Majikan!" Vira memberi hormat sedikit bercanda, berharap bisa mencairkan suasana. Tapi Farzhan sama sekali tidak tersenyum. Ia hanya menatap tajam, seolah berkata 'Jangan main-main'.
Vira langsung berlari kecil ke dapur. Jantungnya berdegup kencang. Oke Vira, fokus. Kali ini jangan ceroboh. Kali ini harus sempurna. Jangan sampai membuat singa itu marah.
Awalnya berjalan lancar. Vira mencuci beras, menyalakan kompor, menyiapkan bahan-bahan masakan untuk membuat lauk. Ia berusaha sangat hati-hati. Tapi... sifat asli sulit dihindarkan.
Saat sedang mengaduk panci, tangan Vira sedikit tergelincir. Sendok sayur terbentur di panci, membuat kuah panas sedikit memercik ke luar dan menodai meja dapur yang putih bersih.
"Ah!" Vira terkejut. Ia buru-buru mengambil lap untuk membersihkannya. Tapi karena panik, ia malah menabrak botol minyak goreng yang tutupnya terbuka dan posisinya memang agak, ehm.. bukan agak tapi sangat di tepi.
Brak!
Byur!
Botol itu terguling. Minyak goreng tumpah membasahi lantai keramik yang mengkilap itu, membentuk genangan yang licin dan berminyak.
"Ya Tuhan... tidak... tidak... tidak!" Vira panik setengah mati. Ia mencoba mengambil spons, mencoba mengelap, tapi malah membuat minyak itu makin menyebar.
Suasana dapur yang tadinya tenang, kini berubah menjadi lokasi bencana alam kecil.
Dan saat itulah... langkah kaki terdengar mendekat. Langkah kaki yang berat, perlahan, dan penuh aura intimidasi.
Tak... tak... tak...
Vira membeku di tempat. Ia tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan kehadiran sosok manusia yang tinggi besar itu berdiri di ambang pintu dapur. Udara di sekitarnya seakan mendadak turun suhunya menjadi minus sepuluh derajat.
"Apa yang terjadi?"
Suara Farzhan terdengar pelan, sangat pelan. Tapi justru itu yang paling menakutkan. Itu adalah suara sebelum badai datang.
"Z-Zhan... aku... aku tidak sengaja..." Vira gemetar, tangannya masih memegang spons yang penuh minyak. "Botolnya terpental... aku lagi bersihkan kekacauan ini kok..."
Farzhan tidak menjawab. Ia melangkah masuk. Matanya mengamati genangan minyak di lantai, melihat meja yang berantakan, panci yang masih mendidih tidak terurus, dan wajah Vira yang pucat pasi.
Wajah Farzhan berubah drastis. Alisnya bertaut rapat, matanya menyala tajam, dan rahangnya mengeras. Ia tidak terlihat seperti manusia biasa lagi. Ia terlihat seperti seekor singa yang sedang marah besar karena wilayahnya terinjak-injak.
"Vira..." panggil Farzhan lagi, suaranya rendah dan bergetar menahan emosi. "Sudah berapa tahun kita kenal?"
Vira hanya menyengir dengan ketakutan, keringat dingin mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
Dari umur enam tahun kan? Sampai sekarang umur kita dua puluh enam. Dua puluh tahun lebih aku tahu sifat kamu. Dan aku pikir, setelah menjadi seorang istri dan punya kontrak ketat, kamu akan berubah!"
Farzhan melangkah maju selangkah, membuat Vira mundur ketakutan sampai punggungnya menabrak lemari.
"Tapi lihat ini!" bentak Farzhan, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Baru beberapa jam kamu di rumah ini! Belum sehari! Dan kamu sudah bikin kekacauan sebesar ini?! Minyak tumpah sembarangan! Dapur berantakan! Apa sih yang bisa kamu lakukan dengan benar hah?!" emosinya sudah tidak dapat di tahan. Sumber kekacauan itu sudah merusak wilayah zona hijau.
Vira sudah mulai menangis tersedu-sedu. "Ma... maaf Zhan... aku panik... aku mau bersihin kok..."
"MAAF ITU GAK BERGUNA!" teriak Farzhan, membuat Vira tersentak dan menutup mata.
"Kamu pikir maaf bisa bersihin minyak di lantai?! Kamu pikir maaf bisa bikin lantai ini kembali kinclong?! Aku capek Vi! Aku capek setiap hari harus ngeliat kebodohan dan kecerobohan kamu yang tidak ada habisnya!"
Farzhan memijat pelipisnya kuat-kuat, napasnya memburu karena emosi. "Rumah ini tempat aku istirahat. Tempat aku tenang. Tapi sejak kamu masuk, rasanya aku tinggal di pasar pagi! Berisik, kotor, dan penuh kejutan menyebalkan!"
Vira menangis semakin keras. Ia merasa sangat kecil, sangat bodoh, dan sangat tidak berguna saat itu juga. Farzhan benar. Ia memang pembawa masalah. Ia memang beban.
"Ka... kamu jahat, Zhan" isak Vira di antara air mata. "Kamu galak sekali, aku kan tidak sengaja.."
"YA GIMANA AKU TIDAK GALAK! ITU SEMUA KARENA KAMU, VIRA!" balas Farzhan tak kalah keras. "Kalau kamu rajin, kalau kamu teliti, kenapa aku harus marah hah?! Jawab aku?!" bentaknya.
Vira tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis, membenamkan wajah di kedua tangan. Hatinya sakit luar biasa. Ia merasa seolah-olah ia bukan istri, tapi budak yang sedang dimaki habis-habisan oleh tuannya.
Melihat Vira yang sudah menangis sesenggukan, Farzhan akhirnya berhenti berteriak. Tapi wajahnya masih sangat masam dan dingin. Ia melirik jam tangannya.
"Sudah, jangan menangis lagi! Air mata kamu tidak akan berguna!" hardiknya lagi. "Sekarang, bersihkan semua kekacauan yang kamu buat ini sampai bersih tanpa ada sisa minyak sedikitpun. Kalau lantainya masih terasa licin saat aku injak besok, siap-siap aja denda bertambah dua kali lipat. Mengerti?!"
"M-mengerti..." jawab Vira pelan, suaranya parau.
Tanpa menunggu lagi, Farzhan berbalik badan dan berjalan keluar dari dapur dengan langkah lebar dan penuh kemarahan. Pintu dapur ditutupnya dengan cukup keras, membuat dinding seakan bergetar.
Brak!!
Hening kembali menyelimuti ruangan. Hanya tersisa suara isak tangis Vira dan suara kompor yang masih mendesis.
Vira meluncur ke bawah, duduk di lantai yang berminyak itu. Ia memeluk lututnya, menangis tersedu-sedu.
"Benar-benar jahat Dia benar-benar mengaum seperti singa..." gumam Vira pelan, tubuhnya masih gemetar hebat karena ketakutan. "Aku bisa kurus lama-lama kalau begini terus. Ya Allah, kenapa nasib aku harus begini..."
Malam itu, di bawah cahaya lampu dapur yang terang benderang, Vira bekerja keras mengelap lantai sampai keringat bercucuran. Tangannya pegal, hatinya perih, dan matanya bengkak karena menangis.
Ia sadar betul sekarang. Pernikahan ini bukan kisah dongeng yang manis. Ini adalah perang. Dan ia, Vira Calista, kini resmi tinggal bersama singa lapar yang siap menerkamnya kapan saja jika ia melakukan satu kesalahan kecil saja.