"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kelaparan Massal di Kayangan dan Demo Para Dewa
Keadaan di Alam Dewa benar-benar kacau. Sejak Dewa Dapur "magang" di gubuk Ye Xuan, tidak ada lagi aroma persembahan yang sampai ke langit. Meja makan para dewa kosong melompong. Dewa Perang mulai mengunyah gagang tombaknya karena lapar, sementara Dewa Kebijaksanaan mencoba merebus buku-buku kunonya untuk dijadikan sup.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Dewa Dapur pasti diculik oleh iblis tingkat tinggi!" seru Dewa Petir sambil memegang perutnya yang keroncongan, suaranya menggelegar tapi terdengar lemas.
Bersama pasukan dewa lainnya, Dewa Petir turun ke bumi dengan awan hitam yang dahsyat. Mereka mendarat di Puncak Awan Tersembunyi dengan petir yang menyambar-nyambar, siap untuk menghancurkan siapapun yang menyandera rekan mereka.
"Lepaskan Dewa Dapur atau aku akan menghanguskan tempat ini dengan—" Kalimat Dewa Petir terhenti saat melihat pemandangan di bawahnya.
Ia melihat Dewa Dapur sedang asyik jongkok di samping kaisar manusia, keduanya sedang serius memeras santan dari parutan kelapa.
"Waduh, ada kembang api lagi," gumam Ye Xuan sambil menutupi jemuran ikannya agar tidak terkena debu sambaran petir. "Heh, Mas yang pegang palu! Tolong jangan nyalakan petir dekat sini, nanti santannya pecah! Kalau mau bertamu, taruh senjatanya di rak sepatu!"
Dewa Petir melongo. "Apa? Santan pecah? Kau tahu siapa aku?! Aku adalah—"
"Iya, iya, kamu Dewa Petir, kan? Kebetulan sekali!" Ye Xuan memotong pembicaraan sambil melempar sebuah nampan bambu besar berisi irisan daging sapi ke arah sang Dewa. "Kompor saya apinya kecil sekali, butuh waktu lama buat bikin rendang. Bisa tolong kasih percikan listrik sedikit ke kuali besar itu? Tapi ingat, pakai api kecil saja, jangan sampai gosong!"
Dewa Petir menangkap nampan itu dengan bingung. "Kau... kau menyuruhku menjadi pemantik kompor?!"
"Daripada marah-marah bikin polusi suara, mending berguna buat masyarakat," sahut Ye Xuan konyol. "Lihat itu temanmu, Dewa Dapur saja sudah jago meras santan. Kamu mau makan rendang tidak? Kalau mau, kerja!"
Mendengar kata "Rendang," air liur para dewa yang ikut turun tadi langsung membanjiri halaman. Bau rempah yang ditumis Ye Xuan—perpaduan lengkuas, serai, dan santan segar—membuat pertahanan mental mereka runtuh lebih cepat daripada benteng kayu yang kena rayap.
Satu jam kemudian, Puncak Awan Tersembunyi berubah menjadi dapur raksasa antar-dimensi. Dewa Petir duduk dengan patuh di depan kuali, tangannya mengeluarkan percikan listrik biru yang stabil untuk menjaga suhu rendang. Dewa Angin bertugas meniup bara api agar asapnya tidak mengenai muka Ye Xuan, dan Dewa Kecantikan sibuk memetik daun kunyit di kebun belakang.
"Pak Tua," bisik Ye Xuan pada Ao Guang sambil mencicipi bumbu rendang. "Apa menurutmu aku harus mulai menarik tiket masuk? Sepertinya dewa-dewa ini lebih rajin bekerja daripada tentara kaisar kemarin."
Ao Guang menyeka keringat di dahi naganya. "Senior, jika para penghuni langit tahu bahwa mereka bisa makan enak hanya dengan menjadi kuli di sini, saya khawatir besok matahari tidak akan terbit karena dewa matahari sedang sibuk mencuci piring Anda."
Malam itu, Puncak Awan Tersembunyi bercahaya sangat terang, bukan karena serangan musuh, tapi karena ribuan makhluk dari berbagai alam sedang duduk melingkar, makan rendang bersama dengan lahap sambil memuji "Keajaiban Micin" yang diajarkan oleh sang petani konyol.