NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Temui Dia, Vito!

Merasa sangat kesal setelah menjalani hari melelahkan, Vito langsung menuju tempat penyimpanan minuman begitu tiba di rumah. Ia menuang segelas anggur putih, meneguknya hingga habis, menikmati sensasi panas yang membakar tenggorokannya.

Ia menuang sedikit lagi dan duduk di atas sofa sambil memegang gelas itu, ketika bel rumah berbunyi.

Vito mengembuskan napas dengan rasa kesal. Semoga saja siapa pun itu segera pergi.

Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Namun, usahanya sia-sia. Orang di luar malah terus menekan bel dengan cepat, lalu mengetuk pintu dengan keras menggunakan kepalan tangan.

Dengan langkah yang berat dan malas, Vito akhirnya berjalan menuju pintu, bersiap memarahi siapa pun orang tidak sopan itu. Lalu, suara sahabatnya terdengar dari balik pintu.

“Buka pintunya, Vito. Aku tahu kamu ada di dalam.”

Vito membuka pintu, cukup terkejut melihat Bass yang tampak sangat kacau. Namun, setelah melewati hari yang berat, ia benar-benar tidak memiliki tenaga lagi untuk menghadapi masalah apa pun.

“Hei, bro. Nggak nyangka kamu datang. Hari ini panjang banget, aku lagi nggak mood buat ditemenin.”

“Kita perlu ngobrol.”

Nada suara Bass terdengar tegang saat ia langsung melangkah masuk melewati Vito, sama sekali mengabaikan isyarat halus agar ia pulang.

Vito menutup pintu, lalu mengikuti Bass menuju ruang tamu. Ia melihat sahabatnya itu berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan kesal Vito seketika lenyap, digantikan oleh rasa khawatir.

“Bro, kamu oke?” tanyanya dengan bingung.

Bass menatapnya. Wajahnya memperlihatkan betapa kacaunya perasaannya saat ini. Ia mengusap rambutnya dan memejamkan mata lebih lama.

“Bass…”

“Soal Nowi.”

Dua kata. Hanya itu. Namun, cukup membuat seluruh dunianya berantakan. Tubuh Vito seketika membeku. Butuh waktu satu menit penuh agar otaknya dapat mencerna ucapan Bass.

Ia hanya menatap dengan mulut ternganga, sementara rasa bingung memenuhi seluruh pikirannya. Bass belum pernah bertemu langsung dengan gadis itu. Bass juga tahu betapa pentingnya Nowi baginya di masa lalu.

Bass bahkan ada di sisinya saat ia merasa hancur setahun yang lalu, setelah pemakaman orang tua Nowi, saat Nowi tidak datang seperti yang seharusnya.

Namun, apa maksud Bass sekarang?

“Apa ... kamu bisa ulangi?” suara Vito terdengar pelan namun tegang. “Apa maksudnya soal Nowi?”

“Vito…” Bass menarik napas panjang. “Dia ada di sini. Aku ketemu dia. Hari ini.”

Bass terus berjalan mondar-mandir, dengan suara yang sedikit bergetar. Sementara itu, Vito berdiri lumpuh.

“Coba jelasin, bro.”

Tanpa sadar, Vito mengusap bagian dadanya, tepat di tempat di mana hatinya dulu terasa begitu hidup. Ia masih menunggunya.

“Aku ke rumah orang tuanya buat mastiin semuanya baik-baik aja, kayak yang selalu aku lakuin tiap bulan. Terus dia masuk ke rumah.”

Rasa kaget Vito perlahan berubah menjadi campuran berbagai emosi yang sulit dikendalikan. “Maksud kamu apa dia masuk ke rumah?”

“Dia beneran masuk gitu aja. Aku ninggalin pintu nggak terkunci dan lagi ngecek lantai bawah seperti biasa, terus dia masuk dan langsung kaget setengah mati waktu lihat aku.” Bass mengusap wajahnya. “Dia galak banget, Vito… dan cuma…”

Kalimatnya terputus saat ia mendongak dengan rasa frustasi.

“Terus?”

Vito sama sekali tidak menyukai cara Bass bereaksi saat berbicara tentang Nowi. Berbagai kemungkinan buruk seketika muncul di dalam pikirannya.

“Ya … aku jelasin kenapa aku di sana dan siapa aku. Terus aku tanya balik siapa dia. Butuh sedikit tekanan sampai akhirnya dia bilang namanya.” Bass mengacak-acak rambutnya lagi. “Semuanya nggak terduga. Dari apa yang dia omongin, aku sempat mikir … entahlah. Pokoknya aku nggak nyangka itu dia.”

“Cuma itu?”

Bass berhenti berjalan dan menatap Vito dengan wajah pasrah.

“Vito … aku nggak ngerti apa yang terjadi sama kalian.” Dia menghela napas dengan kasar. “Dia cantik banget, bro. Tipe cewek yang bisa bikin cowok cowok bengong. Pinter ngomong. Berani. Dan sialnya dia tuh cuma…” Dia mengerang dengan rasa frustasi. “Pokoknya dia bikin aku kehilangan fokus.”

Lalu, Bass mengucapkan sesuatu yang seketika membuat darah Vito mendidih.

“Mungkin … aku sempat godain dia. Sedikit. aku bahkan nggak tahu, bro. Kepala aku kacau. Otak aku berhenti di dekat dia. Maaf. Nggak ada apa-apa yang terjadi, sumpah.”

Tangan Vito seketika mengepal erat. Mereka telah bersahabat selama bertahun-tahun, namun saat ini ia benar-benar ingin memukul wajah Bass.

“Apa barusan yang kamu bilang?”

Bass segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda membela diri.

“Ayolah, aku juga nggak ngerti!” katanya dengan cepat. “Dia lagi nelepon temennya, ngomong kalau vibrator lebih bagus daripada titid cowok. Tau-tau aku malah nyudutin dia ke tembok dan nanya apa aku boleh buktiin kalau dia salah, kalau barang aku lebih bagus.” Bass mengerang karena merasa malu. “Sumpah, ini kedengeran kacau banget. Ada apa sih sama kalian? Vito, kamu kenal aku. aku nggak kayak gini. Tapi habis dia bilang namanya, aku langsung mundur.”

Vito mengeratkan rahangnya. “Bass…”

Rasanya, menghancurkan wajah sahabatnya terdengar sangat memuaskan saat ini.

“Pas aku mau pergi, dia malah mohon mohon supaya aku nggak bilang siapa-siapa kalau dia ada di sini,” lanjut Bass dengan cepat. “Dia kelihatan takut banget soal itu. Kalau nggak, aku pasti langsung nelepon kamu. aku beneran bingung harus gimana. Kalau kamu lihat cara dia minta ke aku, kamu pasti ngerti posisi aku.”

Vito masih terdiam. “Aku tadinya mau lari sebentar buat nenangin kepala.”

Vito belum pernah melihat Bass segugup ini. Dan mungkin itu satu-satunya alasan wajah Bass masih utuh. Biasanya, lelaki itu bersikap tenang, santai, bahkan cenderung lembut meski memiliki tubuh yang kekar.

Apa pun yang terjadi di antara mereka jelas telah mengguncang diri Bass. Namun, Vito hampir tidak dapat mengendalikan emosinya lagi.

“Lanjut,” katanya dengan nada dingin.

“Aku keluar buat lari, terus dia juga keluar rumah di waktu yang sama.”

Vito menatap tajam. “Jadi kamu malah pergi lari? Bukannya langsung nelepon aku?”

“Dia… dia juga lagi lari.” Bass buru-buru menjelaskan. “Katanya dia udah sering lari. Itu cuma kebetulan lagi.” Dia mengembuskan napas. “Dengar, ini bukan soal itu. Kondisinya buruk banget, Vito. aku tahu aku harus kasih tahu kamu kalau dia ada di sini, makanya aku datang. Tapi kamu harus dengerin aku. Dia benar-benar nggak baik-baik aja. Apa pun yang dia alami, kayaknya dia nggak punya pilihan lain selain balik ke sini. Menurut aku … kamu sebaiknya jangan temui dia dulu.”

“Aku harus nunggu gitu?” ulang Vito dengan suara yang terdengar terlalu tenang, sementara tangannya mengepal lalu terbuka berulang kali di sisi tubuhnya.

“Dia langsung lari ke Golden Spring. Awalnya kami ngobrol dan dia kelihatan baik-baik aja. Tapi begitu keluar dari jalan utama masuk ke jalur sumber air, dia langsung diam.” Bass menelan ludah. “Aku kasih dia ruang. Tapi begitu sampai, dia teriak teriak , marah marah, terus duduk dan nangis sejadi jadinya.”

“Dia nangis?”

Rasa sakit yang terdengar dalam suara Vito membuat Bass sedikit tersentak.

“Iya,” jawab Bass pelan. “Dia nangis. aku udah bilang, dia lagi hancur.”

Tanpa berpikir panjang, Vito segera bergerak menuju pintu depan. Ia telah membuang terlalu banyak waktu hanya mendengarkan cerita Bass. Ia berjongkok untuk mengenakan sepatu, ketika Bass menarik lengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!