Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Tepi Sungai
Matahari mulai merangkak naik, menyengat kulit dengan hawa panas yang lembap. Larasati berjalan dengan langkah ringan di antara rombongan gadis desa lainnya.
Tawa mereka masih menyisakan gema di sepanjang jalan setapak yang diapit rimbunnya pohon kopi. Namun, langkah Laras tiba-tiba terhenti. Tiba-tiba Laras sedikit bimbang dengan cuciannya yang ada di dalam ember yang ia jinjing. Ia merogoh isi ember plastiknya dengan raut wajah cemas.
"Aduh, Sari! Jarit batik milik Ibu tertinggal!" seru Laras sembari menepuk dahinya.
Sari menoleh, menghentikan langkahnya yang santai. "Loh, kok bisa, Ras? Bukannya tadi sudah kamu masukkan paling bawah?"
"Sepertinya tadi jatuh saat aku membilas di atas batu besar. Itu kain kesayangan Ibu, peninggalan almarhum nenek. Aku harus kembali mengambilnya," ucap Laras panik.
"Mau kutemani?" tawar Sari.
Laras menggeleng cepat sembari tersenyum menenangkan. "Tidak usah, Sar. Kalian duluan saja ke desa. Aku lari sebentar juga sampai. Lagi pula bapak-bapak tadi sepertinya sudah pergi jauh. Aku tidak akan lama."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Laras memutar arah. Ia berlari kecil menyusuri jalan setapak yang baru saja mereka lalui.
Rambutnya yang masih agak basah melambai ditiup angin. Menciptakan aroma wangi sampo tradisional yang tertinggal di udara. Ia tidak menyadari bahwa keputusan untuk kembali sendirian adalah awal dari sebuah mimpi buruk yang akan menghantuinya seumur hidup.
Di balik rimbunnya semak belukar yang tak jauh dari bibir sungai, Permadi sebenarnya belum benar-benar pergi. Ia dan anak buahnya hanya bersembunyi setelah ditegur oleh Pak Tarno. Dari celah dedaunan, mata merah Permadi yang dipenuhi nafsu melihat sosok Laras yang kembali berlari menuju sungai sendirian.
"Lihat itu... mangsa kita kembali tanpa pengawal," bisik Permadi dengan suara parau.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah. Melainkan karena gejolak liar yang membakar isi kepalanya. Sejak melihat kulit pualam Laras di sungai tadi.
"Bos, mau kita sikat sekarang?" tanya si preman berpipi parut, jemarinya sudah mencengkeram gagang belati di pinggangnya.
Permadi menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang menguning karena rokok, "Jangan pakai senjata. Aku ingin menikmati setiap jengkal keindahannya dulu. Kepung dia dari dua arah, jangan sampai ada suara jeritan yang terdengar sampai ke desa!"
Laras sampai di tepi sungai dengan napas yang sedikit terengah. Benar saja, kain jarit batik berwarna cokelat gelap milik ibunya tergeletak di atas batu besar.
Separuhnya terendam air sungai yang jernih. Laras menghela napas lega. Ia melangkah perlahan ke tengah aliran air yang dangkal. Membungkuk untuk memungut kain tersebut. Saat itulah, keheningan hutan di sekeliling sungai pecah oleh suara ranting yang patah secara serempak.
Laras tersentak, ia berdiri tegak, memeluk kain basah itu di dadanya. Perasaannya mendadak tidak enak. Suasana yang tadinya asri kini terasa mencekam. Burung-burung yang tadi berkicau mendadak diam seolah memberi peringatan.
"Siapa di sana?" suara Laras bergetar.
Dari balik pohon beringin besar, muncul Permadi dengan langkah santai namun intimidatif. Disusul oleh dua anak buahnya yang keluar dari arah semak-semak. Menutup jalur pelarian Laras menuju jalan setapak.
"Mau ke mana, Manis? Terburu-buru sekali," ucap Permadi sembari terus mendekat. Matanya menatap tajam ke arah kembeng Laras yang masih lembap, menempel ketat di lekuk tubuhnya.
Laras melangkah mundur, kakinya yang telanjang gemetar di atas bebatuan sungai yang licin, "Bapak-Bapak mau apa? Tolong, jangan macam-macam. Ayah saya ada di sekitar sini!"
"Ayahmu sudah pergi jauh, Sayang. Sekarang hanya ada kita, suara air, dan keinginan yang harus segera dituntaskan," Permadi tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Laras.
“Kau tahu? Kecantikanmu itu terlalu mahal untuk disia-siakan di desa busuk seperti ini. Bagaimana kalau kau ikut aku ke kota? Aku punya segalanya."
"Tidak! Pergi! Pergi kalian!" Laras berteriak sekencang mungkin, namun suaranya seolah tertelan oleh derasnya gemericik air terjun kecil di hulu.
Laras mencoba berlari menerobos celah di antara dua anak buah Permadi. Namun, karena rasa takut yang luar biasa dan kondisi batu yang berlumut, kakinya tersangkut.
BRAK!
Laras jatuh tersungkur di tepian sungai. Kain jarit di kakinya tersingkap hebat. Menampakkan paha putih mulusnya yang kini tergores bebatuan tajam. Hingga mengeluarkan sedikit darah. Pemandangan itu bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam api nafsu Permadi.
"Lihat itu... bahkan alam pun ingin aku melihat keindahanmu lebih jelas," desis Permadi. Ia memberi kode pada anak buahnya.
“Pegang tangan dan kakinya! Jangan sampai dia melukai wajahnya yang cantik itu!"
Dua preman bertubuh besar itu segera menerjang dengan beringas. Mereka mencengkeram pergelangan tangan Laras dan menindih kakinya ke atas pasir sungai. Laras meronta hebat, air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang kotor oleh tanah.
"Tolong! Tolong! Bapak! Tolong!" jerit Laras dengan sisa-sisa kekuatannya.
Permadi berlutut di hadapan Laras yang sudah tidak berdaya. Ia mendekatkan wajahnya yang berbau alkohol dan rokok ke leher Laras. Menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus. Tangan kasarnya mulai meraba bahu Laras yang gemetar hebat.
"Ssssht... diamlah. Semakin kau melawan, aku akan semakin bersemangat," bisik Permadi tepat di telinga Laras. Ia bersiap untuk melakukan tindakan lebih jauh. Tangannya mulai meraih ikatan kembeng Laras dengan niat jahat yang sudah memuncak.
Laras memejamkan mata, hatinya menjerit menyebut nama Tuhan dan ayahnya. Ia merasa martabatnya akan terenggut di tempat yang paling ia cintai ini.
Namun, tepat sebelum tangan kotor Permadi menyentuh kulit Laras lebih dalam. Sebuah bayangan melesat dari arah rimbunnya pohon kopi di atas tebing sungai.
WHUUSSS! DUK!
Sebuah batang kayu jati seukuran lengan orang dewasa. Melayang dengan kecepatan tinggi, menghantam tepat di pelipis kanan Permadi. Benturan itu begitu keras hingga terdengar suara tulang yang retak. Permadi bahkan tidak sempat mengerang, tubuh gempalnya seketika terkulai lemas. Jatuh menimpa tubuh Laras sebelum akhirnya terguling ke dalam air sungai yang dangkal.
Dua anak buahnya tersentak kaget. Mereka segera melepaskan pegangan pada Laras dan berdiri tegak. Menatap ke arah semak-semak dengan wajah pucat.
"Siapa itu?! Keluar!" teriak si preman pipi parut sembari mencabut belatinya.
Seorang pria muncul dari balik kabut tipis di antara pepohonan. Napasnya memburu, matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Tangannya masih memegang sebilah arit yang biasanya digunakan untuk membersihkan kebun.
Laras, dengan sisa kekuatannya, merayap mundur. Sembari menarik kainnya untuk menutupi tubuhnya yang tersingkap. Ia menatap sosok penyelamat itu dengan pandangan kabur karena air mata.
"Lepaskan dia... atau batang kayu berikutnya akan menghantam tenggorokan kalian," suara dingin itu memecah ketegangan di tepi sungai.