Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Setuju
Tuk... Tuk... Tuk...
Bunyi sepatu hak tinggi terdengar di lantai marmer.
Semua orang langsung mengalihkan atensinya pada suara itu.
Langkah kaki yang menggunakan sepatu hak tinggi mulai muncul. Perlahan dan pasti, tubuh itu perlahan mulai terlihat.
Dan nampaklah seorang gadis cantik yang mengenakan baju berwarna pink dan rok bermotif bunga, dengan rambut yang terurai dan makeup yang natural membuat semua orang menatap dirinya.
Violet, saat ini tengah berdiri menghadap semua orang dengan diam.
Sebelumnya, pelayan telah memberitahukan dirinya untuk berbenah diri dan tampil cantik untuk menemui tamu ayahnya.
Namun tak ia sangka, ia melihat dua orang menggunakan topeng berwarna putih dan hanya mata saja yang terlihat.
Semua orang langsung kembali ke kesadarannya.
"Ini, siapa Tuan Darius?" tanya Kelvin.
"I-ini... Putri kami yang kedua, namanya Violetta Rosalyn," jawab Darius gugup.
Mata Kelvin langsung melirik Tuan X, seolah bertanya, "Bagaimana, tuan?"
Tuan X hanya mengangguk, seolah setuju dengan pikiran asistennya. Padahal dalam hati, dia bersorak riang dan bergumam, "cantik dan menarik."
"Jadi, nona ini yang akan menikah dengan Tuan X?" tanya Kelvin.
"I-iya/tidak," ucap Darius dan Viony berbarengan namun berbeda jawaban.
Papa Darius yang mendengar jawaban yang berbeda dari istrinya, langsung melirik dengan tajam.
Sedangkan yang dilirik seolah meminta maaf. "Sebentar, Tuan. Saya ingin berbicara dengan istri saya."
" Ma..." bisik Tuan Darius di telinga istrinya.
"Apa sih, Pa?" jawab Mama Viony.
"Bukannya mama yang mengusulkan untuk membiarkan Violet jadi istri Tuan X itu?"
"Eh, iya... Ya ampun, maaf pa, mama lupa," ucap Mama Viony sambil meminta maaf.
" Ehmmm..." Tuan Darius berdehem memecah keheningan.
" Tuan, ini putri saya yang akan menikah dengan Tuan X," ucap Papa Darius.
"Apa maksud papa menikahkan aku dengan orang yang gak aku kenal?!" tanya Violet tegas.
"Kamu gak berhak untuk membantah, Violet. Ini demi hutang keluarga kita agar cepat lunas," ucap Papa Darius tanpa memikirkan perasaan Violet.
"Jadi maksud papa, aku menikah dengan itu sebagai alat penebus hutang?!" jerit Violet.
" Tak cukupkah mama dan papa menyiksa diriku terus yang bahkan bukan kesalahanku. Dan sekarang papa minta aku untuk menikah dengan tuan itu-" belum selesai Violet berucap, omongannya langsung di potong oleh Papa Darius.
" Cukup, Violet," bentak Papa Darius yang tak terima dengan ucapan Violet yang seolah sudah membuka kartunya dihadapan Tuan Kelvin dan Tuan X.
"Kenapa, pa? Memang benarkan apa yang aku ucapkan itu,"
" Hentikan, Violet." potong Papa Darius yang mulai wajahnya terlihat memerah.
"Violet, kamu dengarkan ucapan Papa, ya. Ini demi kebagian kita semua. Kalau kita gak bayar hutang itu, kita akan tidur dimana?" ucap membujuk Mama Viony dengan lembut.
Napas Violet masih memburu, mata yang memerah tajam seolah tengah merasakan rasa sakit Violet yang asli.
Setelah menarik napas panjang, Violet kini dengan berani menatap Mama dan Papa nya dengan tajam. " Baik, aku akan menikah dengan Tuan X. Tapi... dengan satu syarat."
Papa Darius dan Mama Viony yang mendengar itu langsung berbinar. "Apa syaratnya, sayang?"
"Papa harus menjadi wali nikah aku dan setelah itu, kita putus hubungan kekeluargaan kita. Kita tidak mengenal satu sama lain. Dan satu lagi, jangan pernah temui aku di manapun itu. Bagaimana?"
"Baik, baik. Kami setuju. Tapi, kamu harus membayar keseluruhan biaya dari kamu bayi hingga kamu tumbuh besar, sekarang."
Violet pun langsung membuka hp nya dan langsung mentransferkan sejumlah uang sebesar 5 miliar rupiah.
Violet pun langsung menunjukkannya pada Papa Darius dan Mama Violet bukti transferannya.
Mereka langsung berbinar melihat sejumlah uang itu.
Sedangkan Tuan X dan Tuan Kelvin, mereka seperti sedang melihat tayangan televisi secara gratis.
"Ehhhmmm..."
" Karena Nona Violet telah setuju untuk menikah dengan Tuan X, maka sekarang, Nona Violet wajib ikut bersama kami," ucap Kelvin.
" Lalu, bagaimana dengan barang-barangku, tuan?" tanya Violet.
" Nona bisa membawa semua barang-barang yang penting saja. Seperti pakaian sekolah, baju sehari-hari yang masih layak pakai,serta peralatan sekolah. Sisanya bisa nanti beli yang baru," jawab Kelvin.
"Baiklah, kalau begitu. Saya ambil barang-barangku dulu."
Setelah mengucapkan hal itu, Violet langsung berbalik tanpa melihat wajah kedua orang tua nya.
Violet pun berjalan menuju arah kamar yang kini ia yakini benar dari ingatan Violet yang asli.
Ketika membuka kamar itu, jiwa Irene yang berada di dalam tubuh Violet merasakan sesak.
Ia melihat kamar itu jauh berbeda dari kamarnya yang ada di mansion daddy Axel Dominic. Air matanya jatuh perlahan mengingat bayangan Violet yang asli.
"Violet... Kalau saja aku menemukanmu dari awal, mungkin hidupmu tidak akan sesusah ini. Maafkan aku Violet," gumamnya sambil menyeka air matanya.
" Tapi mulai sekarang, Irene yang berada di tubuh Violet akan membuat hidup Violet menjadi berwarna. Tidak hanya hitam, putih atau bahkan abu-abu."
"Setelah itu, aku akan membuat dirimu dihormati oleh semua orang dan orang yang menyakitimu akan segan untuk mendekat," ucapnya sambil membayangkan orang-orang yang menindas nya bertekuk lutut di bawah kakinya.
Dengan penuh semangat, Violet pun mulai membereskan pakaian yang ia rasa masih cocok dan warna nya tidak pudar. Selain itu, ia juga membereskan buku pelajarannya.
Setelah melihat-lihat apalagi yang masih kurang, ia pun mengalihkan pandangannya ke dalam lemari.
Dari ingatan Violet yang asli, violet menerima sebuah gelang yang usang yang dibungkus oleh sebuah kotak berwarna hijau.
Ingatan Violet langsung mundur ke beberapa waktu ke belakang.
...****************...
Flashback...
Saat itu Violet tengah selesai dari perpustakaan kota. Ketika sudah diluar, ia melihat seorang nenek tua tengah berdiri di tepi jalan.
Violet pun langsung menghampirinya.
"Nek? Nenek mau kemana?"
"Nenek mau nyebrang ke jalan sana, cu," ucap nenek itu dengan lembut.
"Oh... Seperti itu... Kalau begitu biar saya yang bantu nenek untuk menyeberang, ya," jawab Violet.
Setelah itu, Violet pun langsung membantu menyeberang nenek tua itu.
Akhirnya, nenek itu tiba di seberang jalan.
" Cu, terima kasih telah membatu nenek menyeberang jalan ya," ucap nenek tua itu.
"Sama-sama, nek. Kalau begitu saya mau nyebrang lagi ya, karena sebentar lagi bis yang membawa saya akan segera tiba,"
"Tunggu sebentar, cu," ucap nenek itu untuk mencegah Violet menyeberang.
Sang nenek pun membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak usang.
" Maaf, cu. Nenek hanya punya ini untuk sebagai ucapan terima kasih,"
" Tidak apa-apa, nek. Nenek tidak perlu memberikanku apa-apa," tolak Violet.
"Ambillah, cu. Siapa tau benda ini mungkin akan menjadi obat bagimu," ucap paksa sang nenek.
"B-baiklah... Terima kasih sebelumnya nek. Tapi ngomong-ngomong, ini benda apa nek?" tanya Violet pada sang nenek.
Namun, ketika melihatnya, nenek itu sudah tidak ada di sana.
" Loh... Kemana nenek itu? Nek? Nenek dimana?" panggil Violet.
"Sepertinya, nenek itu sudah pergi. Kalau begitu, aku juga harus kembali ke seberang jalan."
Bis pun akhirnya tiba, dan pergi meninggalkan perpustakaan.
*Flashback off...
...... to be continued ......