Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Kepribadian ganda
Selepas membeli semua barang yang dia inginkan Zayn yang mengaku dirinya sebagai Dewa dalam perjalanan pulang di antar oleh Riana karena dia bilang tidak bisa menyetir, meski sedikit tak percaya Riana tetap menurutinya karena dia adalah Bosnya.
“Mis,” Ucapnya tepat di daun telinga Riana.
“Astaga, Bapak bikin saya kaget,” keluh Riana, dia sedikit menjauhkan diri karena Zayn menaruh dagunya di atas sandaran kursi pengemudi yang di duduki Riana.
“K-kenapa Pak?”
‘Nih orang ko lama-lama bikin gue ngeri ya.’
“Gak papa, aku cuma pengen manggil kamu aja,” Ucapnya sambil menarik diri menegakkan tubuhnya kembali seperti semula.
Dih...
“Sekertaris Zayn yang dulu kemana?” tanyanya.
“Sudah Resign, Pak,” sahut Riana, dia tetap menjawab meski antara percaya dan tidak.
“Baguslah, aku tidak suka dia. Dia bermuka dua, di depan dia baik pada Zayn sedang di belakang dia menganggapnya orang gila.”
Riana tersenyum kaku, sejujurnya dia juga berpikir hal yang sama tentang Zayn.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mobil pun sampai di kediaman Zayn, rumah dua lantai yang cukup mewah.
Pintu gerbang terbuka otomatis Riana pun melajukan mobilnya masuk dan berhenti di depan pintu masuk. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk mereka, dia terdiam saat melihat Riana membantu Zayn membawa barang belanjaannya yang cukup banyak masuk kedalam rumah yang kemudian ia letakkan di meja ruang tamu.
“Wah, akhirnya setelah sekian lama aku bisa membeli semuanya,” kekehnya, Zayn tampak senang dia sibuk melihat dan memeriksa barang belanjaannya, dia bahkan sampai menghitungnya juga mungkin takut ada yang kurang dari jumlah barang yang dia beli.
Ibu pengurus rumah mendekati Riana, “menginap saja disini Nak, ini sudah malam bahaya kalau kamu pulang sendirian di jam begini,” ucapnya.
“Benar Mis, menginaplah disini,” tambahnya diiringi senyum penuh arti, yang jujur membuat bulu kuduk Riana seketika berdiri.
“Tidak usah Pak, Bu, saya pulang saja,” tolak Riana, dia hendak berlalu namun Ibu pengurus rumah lagi-lagi berkata.
“Nak, menginaplah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu juga,” ungkapnya.
Riana melirik kearah Zayn, kemudian mengangguk mengiyakan.
“Minumlah,” Ibu pengurus rumah menyodorkan cangkir berisi teh hijau pada Riana, kini mereka tengah duduk di meja makan, sementara Zayn sudah pergi ke kamarnya bersama barang-barang tadi.
“Terimakasih Bu,” ucap Riana sambil meminumnya.
“Pasti banyak pertanyaan yang ingin kamu tanyakan pada Ibu kan,” dia memulai percakapan.
“Sejujurnya Iya, tapi kalau Ibu gak mau carita juga gak papa, tidak semua hal di dunia harus saya tahu, tetap ada yang namanya privasi,” ucap Riana.
Dia tersenyum kemudian menyesap cangkirnya sendiri sebelum kembali bicara “Ibu bekerja disini sudah cukup lama, Ibu tahu seluk beluk tempat ini bahkan Ibu tahu semua yang terjadi di dalamnya. Kamu pasti penasaran mengapa di rumah sebesar ini hanya aku dan Zayn yang tinggal, dan aku sendiri juga yang merawatnya, jawabannya sudah kau lihat sendiri. Bukan karena aku mampu, bahkan aku juga sudah cukup Tua untuk mengurus semuanya, Zayn pernah menyuruhku untuk mencari beberapa pelayan lagi untuk membantuku, namun aku menolaknya karena itu beresiko.”
“Apa Pak Zayn kerasukan hantu?” tanya Riana.
Dia mendengus senyum, “Jika hanya kerasukan mungkin akan sangat mudah untuk menyembuhkannya. Itu hal yang lain, dia mengalami Gangguan Identitas Disosiatif (DID) aku pernah memintanya untuk pergi ke psikiater namun dia menolak karena takut keluarganya mengetahui penyakitnya.”
“Apa, tapi kenapa? Bukankah keluarganya juga harus tahu tentang penyakitnya, siapa tahu itu bisa membantu proses penyembuhannya,” saran Riana.
“Ya menurutku juga begitu. Tapi Zayn tetap kekeh ingin merahasiakan penyakitnya dari semua orang, hanya aku yang tahu dan sekarang kamu. Berapa nama yang sudah kau temui?”
“Berapa? Apa maksud Ibu masih ada identitas lain yang ada dalam diri Pak Zayn?” Riana menatap tak percaya.
“Berjanjilah untuk menjaga rahasia ini, jika kau berjanji aku akan menceritakan semuanya.”
Riana mengangguk setuju, “Ya, saya berjanji akan merahasiakannya.”
Ibu Rumiati pun mulai bercerita, dia menerangkan tentang trauma masa kecil yang di alami Zayn, dia bilang orang tua kandung Zayn meninggal bunuh diri karena terlilit hutang, mereka juga ingin membawa Zayn ikut mati bersama mereka. Namun bocah 8 tahun itu menolak dia berusaha lari dari kobaran api yang telah melalap separuh rumahnya. Dia berhasil selamat, namun lagi-lagi nasib sial menimpanya, dia dibawa oleh sekelompok preman yang biasa menyuruh anak-anak bekerja sebagai pengemis atau pengamen dan disitulah dia menghabiskan waktunya selama dua bulan, hingga akhirnya dia melarikan diri dan berakhir di sebuah panti asuhan, kemudian ia pun di adopsi dan orang tuanya yang sekarang adalah orang tua angkatnya.
Zayn tak ingin mereka tahu soal penyakitnya, dia takut jika sampai mereka tahu mungkin mereka tidak akan mau menerimanya lagi sebagai putranya karena penyakit anehnya itu.
‘Ck, ternyata si Bos gila itu punya masa lalu yang berat, jujur sekarang aku merasa kasihan padanya,’ batin Riana. Saat ini dia tengah berbaring di kamar tamu rumah Zayn dia tak berani pulang karena sudah terlalu malam.
Riana merubah posisi tidurnya menjadi miring, saat itulah dia melihat sepasang mata tengah menatap kearahnya, pupil matanya melebar sempurna, Riana sontak terbangun, jantungnya berdegup kencang.
“P-pak Zayn, se-sedang apa Bapak disini?” Pekiknya.
Zayn menatap Riana dengan pandangan berbeda sambil menaruh dagunya di bibir ranjang “Kakak siapa?” dia buka suara.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄