Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarkas Yang Terangterangan
Hari berikutnya, tim produksi memutuskan mengambil gambar di sekitar air terjun dan hutan yang masih asri. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan tinggi, suara gemuruh air jatuh terdengar menenangkan.
Kamera bergerak menyapu panorama hijau yang memanjakan mata.
Damar berdiri tak jauh dari aliran sungai kecil, dia hanya mengenakan kaos putih polos dan celana taktis.
Kontras dengan kulitnya yang kecokelatan, kaos itu menonjolkan bahu bidang dan postur tegap seorang perwira terlatih.
Dari kejauhan Carmen bersiul pelan.
“Visual-nya gila banget sih,” gumam Carmen sambil memperhatikan monitor kecil di tangannya.
“Serius, dia nggak kepikiran jadi aktor aja ya?” sahut Dion pelan sambil terus mengarahkan lensa ke arah Damar.
Carmen terkekeh. “Ini bisa jadi idola ‘halo dek’ baru di timeline.”
Beberapa prajurit yang mendengar hanya saling menyikut, menahan tawa.
Sementara itu, di sisi lain jalur setapak, Kirana terlihat kesulitan berjalan. Sepatu mahalnya tenggelam di lumpur lembek.
“Duh! Kenapa sih aku pakai sepatu ini?” keluhnya sambil mengangkat sedikit kakinya yang kotor.
“Carmen, kenapa kita harus eksplor tempat kayak gini?”
“Perintah produser,” jawab Carmen santai.
“Rating naik kalau kelihatan natural, siap ya, tiga, dua, satu, on!”
Sekejap raut kesal Kirana menghilang, senyum cerah terpasang.
“Keindahan alam di sini luar biasa,” ucapnya lembut ke arah kamera.
“Sayang sekali tempat seindah ini belum banyak mendapat perhatian."
"Saya ingin mengajak anak muda untuk peduli membuat gerakan nyata menjaga lingkungan demi masa depan bangsa.”
Damar yang berdiri tak jauh dari situ hanya menggeleng pelan. Rasa muaknya semakin menjadi, Kirana meliriknya sekilas dia tauq Damar memperhatikannya.
“Dan tentu saja,” lanjut Kirana sambil berjalan mendekat, “pemandangan indah ini terasa lebih lengkap dengan kehadiran para prajurit yang menjaga kami.”
Kamera langsung beralih pada Damar.
“Terutama Kapten kita yang…” Kirana menggantung kalimatnya, menatap Damar dengan senyum samar.
“…yang terlihat selaras dengan alam sekitar,” lanjutnya ringan.
Beberapa prajurit hampir tertawa mendengar ucapan Kirana.
“Dia pikir Kapten monyet, selaras dengan alam,” bisik salah satu prajurit, membuat yang lain menahan tawa.
Damar menoleh wajahnya tetap datar, dia tau kamera menyorotnya. Demi nama baik instansi, dia memaksakan senyum tipis.
“Kesan Bapak tentang saya bagaimana?” tanya Kirana tiba-tiba, sambil menatap Damar dengan tatapan penuh tantangan.
Damar menatapnya sejenak, Ada kilatan sarkas yang tertahan.
“Saya kagum,” katanya akhirnya, suaranya tenang “Jarang ada anak muda yang mau turun langsung ke lapangan seperti Mbak Kirana.”
Kirana tersenyum puas menatap Damar.
“Apalagi?” lanjut Kirana tanpa melepas tatapannya, “Anda begitu… percaya diri menunjukkan kepeduliannya.”
Nada suaranya terdengar netral, tapi maknanya berlapis.
Kirana menangkap sindiran itu.
“Terima kasih atas pujiannya, Kapten,” balasnya manis, meski sudut matanya sedikit menegang.
“Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat,” jawab Damar sambil tetap tersenyum ke arah kamera.
“Jadi menurut Kapten, saya terlihat tulus?” pancing Kirana.
“Saya perwira militer, mbak Kirana,” jawab Damar tenang. “Saya terbiasa bersikap netral,”
“Dan saya terlihat seperti apa?” tanya Kirana, kini lebih personal.
Damar sedikit mendekat agar tak terdengar kamera.
“Anda seseorang yang haus sorotan.” bisik Damar.
Kirana terdiam sepersekian detik, lalu tertawa seolah mendengar lelucon.
“Lucu,” balasnya pelan. “Anda terlihat paling tidak nyaman berada di bawah sorotan.”
“Saya bekerja untuk negara tidak biasa menjadi sorotan.”
“Tapi Anda tetap tersenyum tadi.” kata Kirana menyindir.
“Itu bagian dari tugas.” sahut Damar menjawab dengan sabar.
Tatapan mereka bertemu, kali ini lebih lama lebih dalam, Kirana tersenyum miring.
“Kapten, Anda selalu sesinis ini?”
“Hanya kepada orang tertentu.”
Jawaban itu membuat Kirana terdiam, Ada sedikit rasa marah di hatinya.
Tiba-tiba, suara gemerisik keras terdengar dari arah hutan. Beberapa prajurit spontan menoleh waspada.
Damar langsung berubah senyumnya hilang, tubuhnya refleks siaga.
“Semua mundur,” perintahnya tegas.
Kirana menatapnya, untuk pertama kalinya melihat sisi asli Damar bukan sekadar pria sinis, tapi seorang pemimpin yang siap menghadapi bahaya.