Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Saya Sebentar
Gedung pos komando utama yang terbuat dari susunan batu bata dan semen itu terasa jauh lebih hangat dan kokoh. Begitu pintu kayu yang tebal ditutup rapat oleh Sersan Baim, suara bising hujan di luar seketika meredam. Di dalam aula tengah yang luas, tenaga medis dan para prajurit yang sedang tidak berdinas tampak duduk berkumpul di sekitar lampu petromaks dan beberapa lilin yang menyala.
Gavin melepaskan pegangannya pada Hazel begitu mereka sampai di area yang terang, ia langsung kembali ke mode formalnya sebagai komandan.
"Sersan Baim, bagikan selimut kering dan sediakan teh hangat untuk mereka," perintah Gavin tegas sambil membuka jaket luarnya yang basah kuyup, menyisakan kaus hitam ketat yang mencetak jelas bentuk tubuh tegapnya.
"Siap, laksanakan Kapten!" Jawab Sersan Baim.
Dokter Tyas, Suster Kinan dan Suster Nayla langsung memilih tempat duduk di dekat barisan kursi panjang, sementara Hazel masih berdiri agak canggung di dekat pintu masuk, mencoba mengeringkan sisa air hujan di wajahnya menggunakan tisu yang ia ambil dari kantong. Setelah itu, Hazel pun ikut duduk bersama yang lainnya.
Gavin berjalan menuju tempat duduk para prajurit yang berada di sudut aula, berbicara sebentar dengan navigator yang sedang memantau radio komunikasi perbatasan. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Hazel yang tampak menggigil kecil karena pakaian bagian bawahnya sedikit basah terkena cipratan air hujan.
Tidak lama kemudian, Sersan Baim datang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa potong selimut tebal milik pos militer.
"Silakan, Dok. Diminum dulu tehnya supaya hangat," ucap Sersan Baim.
"Terima kasih banyak, Sersan," jawab Hazel tulus.
Hazel dan yang lainnya menerima gelas itu, membiarkan kehangatan menjalar ke telapak tangannya yang membeku.
Saat Hazel sedang menikmati tehnya dalam diam, Gavin berjalan mendekatinya. Langkah kakinya yang berat terdengar konstan di atas lantai semen. Ia berhenti tepat di depan Hazel, membuat Hazel mendongak menatap wajah tegas yang kini tidak lagi memakai kacamata itu.
"Ikut saya sebentar," ucap Gavin, hingga membuat Dokter Tyas, Suster Kinan dan Suster Nayla saling pandang satu sama lain.
Hazel sempat terpaku selama beberapa detik, memegangi gelas teh hangatnya yang masih mengepul. Tatapan mata Dokter Tyas, Suster Kinan dan Suster Nayla yang tertuju padanya membuat tenggorokan Hazel mendadak kering.
Ada binar penuh tanya sekaligus godaan tersirat dari mata mereka, Dokter Tyas pun tersenyum tipis, seolah memberikan izin tak tertulis.
"I-iya, Kapten," jawab Hazel dan segera meletakkan gelas tehnya dengan hati-hati di atas meja kayu kecil lalu berdiri.
Gavin tidak menunggu, pria itu langsung berbalik dan melangkah lebar menuju sebuah lorong pendek di sisi kanan aula yang mengarah ke ruang kerja pribadinya. Hazel berjalan mengekor di belakang, mencoba mengabaikan debaran jantungnya yang kembali berpacu tidak karuan.
Begitu mereka masuk, Gavin menyalakan sebuah lampu petromaks yang diletakkan di atas lemari. Cahaya kuning keemasan seketika berpendar, mengusir kegelapan dan menciptakan bayangan panjang di dinding ruangan yang kokoh itu. Gavin menutup pintu kayu di belakang Hazel, meredam sisa-sisa suara obrolan dari aula depan.
"Ada yang perlu saya bantu, Kapten?" tanya Hazel, kembali memasang mode formal sebagai benteng pertahanan dirinya.
Gavin tidak langsung menjawab, ia berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil sebuah handuk kecil yang kering dan bersih dari dalam laci lalu berbalik dan berdiri dihadapan Hazel. Matanya menatap lurus ke arah rambut Hazel yang agak basah di bagian ujungnya, serta kausnya yang basah di bagian bawah dan lembap di area bahu akibat cipratan air hujan tadi.
Tanpa diduga, Gavin melangkah maju hingga jarak mereka kembali terkikis. Ia mengangkat tangannya yang memegang handuk, lalu menyampirkan handuk itu ke atas kepala Hazel.
"Keringkan rambutmu, jangan sampai besok pagi kamu malah ikut mengantre sebagai pasien," ucap Gavin dengan suara baritonnya yang rendah namun terdengar begitu hangat di telinga Hazel.
Hazel tertegun, tangannya refleks terangkat untuk memegang handuk di kepalanya, sentuhan Gavin yang tiba-tiba selalu berhasil mengacaukan skenario yang sudah ia susun rapi di otaknya.
"Terima kasih, Kapten. Saya bisa sendiri," jawab Hazel pelan dan mulai menggosok rambutnya perlahan di balik handuk.
Gavin berpindah duduk di tepi meja kerjanya, melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus memperhatikan setiap gerak-gerik Hazel. Di bawah temaram cahaya petromaks, wajah Hazel yang biasanya putih pucat kini tampak merona kemerahan, entah karena suhu ruangan yang hangat atau karena efek kedekatan mereka.
"Hujannya awet, jalanan ke desa seberang kemungkinan besar akan ditutup sementara sampai besok siang atau bahkan beberapa hari karena debit air sungai di bawah jembatan gantung naik drastis," Gavin membuka obrolan dan mengalihkan perhatian dari rasa canggung yang sempat menyergap.
Hazel menurunkan handuk dari kepalanya, membiarkan rambutnya yang agak berantakan terurai bebas. "Terus gimana sama pelayanannya?" tanya Hazel.
"Mau bagaimana lagi, tidak ada akses ke desa kalau air sungai naik," jawab Gavin.
"Kenapa tidak dibuatkan jembatan permanen? Maksudku, jembatan ke desa itu pakai kayu dan sudha goyang juga, padahal kan itu akses utama warga desa untuk ke kota," tanya Hazel.
Gavin mengembuskan napas panjang, tatapannya beralih dari Hazel menuju peta topografi wilayah perbatasan yang tertempel besar di dinding. Sorot matanya yang tajam mendadak berubah menjadi agak redup, sarat akan beban tanggung jawab yang selama ini ia pikul sendirian di pos utara ini.
"Kamu pikir kami di sini tinggal diam?" tanya Gavin, suaranya terdengar berat dan lelah.
Gavin menurunkan tangannya yang terlipat di dada lalu mengetuk salah satu titik di peta dengan telunjuknya, "Pengajuan untuk pembangunan jembatan itu sudah masuk ke meja dinas pekerjaan umum daerah sejak tiga tahun lalu, bahkan sebelum aku dipindahtugaskan ke sini. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana birokrasi di negeri kita, Hazel. Daerah perbatasan selalu menjadi urutan nomor sekian setelah proyek-proyek besar di pusat kota selesai," lanjut Gavin.
Hazel terdiam, ia melangkah mendekat ke arah meja kerja Gavin, ikut memperhatikan peta wilayah yang dipenuhi garis-garis kontur rumit dan tanda silang merah. Di bawah temaram lampu petromaks, ia bisa melihat betapa terisolasinya desa tempat pelayanannya, jika jembatan gantung itu sampai terputus.
"Jadi, kalau air sungai meluap seperti sekarang, warga desa benar-benar terisolasi total?" tanya Hazel, nada suaranya terdengar sangat prihatin.
Sebagai seorang Dokter, yang pertama kali terlintas di kepalanya adalah bagaimana jika ada warga lain yang mendadak mengalami kondisi darurat seperti Pak Joko semalam.
"Iya," jawab Gavin pendek sambil menoleh kembali menatap Hazel.
"Satu-satunya akses mereka ya cuma jembatan gantung itu, kalau arus sungai di bawahnya sudah terlalu deras dan membawa material gelondongan kayu dari hulu, menyeberang lewat sana sama saja dengan bunuh diri. Makanya, begitu cuaca ekstrem seperti ini, tugasku bukan cuma patroli patok perbatasan, tapi juga memastikan warga tidak ada yang nekat menyeberang," lanjutnya.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak