NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Ceritanya aja dulu.

.....

Siang ini sebenarnya Morline memiliki rencana untuk membaca di ruang baca, tapi karena Nina memberi tahu jika Cessie datang setelah dua hari lalu mengirim surat pemberitahuan, Morline mengurungkan niatnya.

Dia pergi menyambut Cassie di ruang tamu istana. Perempuan itu berdiri ketika mendengar langkahnya, matanya terpaku padanya dengan tatapan seolah terkejut. Morline tersenyum saja, "duduk nona Weftlle."

"Anda, bukankah orang yang mewawancarai saya waktu itu?"

"Ya, itu saya. Saya Morline Moralles yang juga seorang ratu."

Tubuh Cessie bergetar, dia menjatuhkan diri hingga suara benturan tulangnya dengan lantai terdengar ngilu di telinga Morline. Cessie berlutut. "Maafkan saya yang mulia! Saya tak mengenali anda dengan baik! Maafkan saya!"

Morline yang terkejut dengan reaksi Cessie menjadi panik, dia menarik bahu Cessie agar berdiri. "Berdiri dulu nona Weftlle, mari kita duduk di sofa." Morline mendorong pelan tubuh Cessie ke sofa, dia lalu duduk di sebrangnya.

Banyak pekerja yang dia rekrut memang langsung terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang mewawancarai mereka ternyata seorang ratu, reaksi mereka tak berbeda jauh dari Cessie. Namun dia juga tetap terkejut saat perempuan itu justru berlutut di hadapannya.

Sebenarnya saat sesi wawancara hari itu ada dua kandidat yang curiga padanya karena mereka tahu bahwa ratu bertubuh gemuk. Dua kandidat itu langsung Morline loloskan karena penilaian mereka yang tajam, Morline cukup terkesan dengan keduanya.

Morline duduk berhadapan dengan Cessie dengan meja sebagai batas mereka. Di atasnya terdapat jamuan kecil yang Chasi letakkan tadi.

"Kenapa anda ingin menemui saya nona Weftlle? Seingat saya, saya tak mengirim surat balasan apapun dari anda kemarin?"

"Saya, Saya hanya ingin bertemu anda yang mulia. Saya ingin menjadi dayang anda." Kedua tangan Cessie saling meremas di balik meja, kepalanya menunduk dengan suara bergetar.

Morline tidak tahu kenapa dia seperti itu? Yang jelas Cessie tampak aneh di matanya.

"Maaf saya sedang tak membutuhkan dayang jadi terimakasih atas tawaran diri anda."

"Yang mulia bisa menjadikan saya pelayan saja, saya tak masalah."

Morline meraih cangkir tehnya. Alisnya mengkerut saat menyesap cairan cokelat yang agak sepat. "Anda terlihat bersikeras masuk istana ya nona Weftlle?" Tatapan mata Morline lurus pada kedua manik yang tak bisa menatap kedepan itu. Morline curiga padanya tapi dia masih memiliki empati untuk tidak menekannya. "Jika tak ada lagi yang perlu dibicarakan, silahkan nona Weftlle beranjak dari sini. Saya memiliki beberapa urusan yang tertunda karena harus melayani anda."

"Oh! Ah! Maafkan saya yang mulia."

Morline berdiri dan berbalik untuk meninggalkan ruang tamu, di belakangnya siluet Cassie yang berdiri terlihat buram. Nina dan Chasi dibelakang mengikutinya.

"Chasi."

"Ya, yang mulia?"

"Perintahkan orang untuk menyelidiki nona Cassie Weftlle."

"Saya akan melaksanakan perintah anda."

Di ruang baca, hanya ada Nina yang menemani Morline.

Sebuah meja dari kayu ek yang kokoh menjadi tempat Morline bermeditasi dengan buku berjudul pengolahan tanah dan irigasi. Di belakangnya rak-rak menjulang penuh buku menjadi latar belakang, Nina di ijinkan membaca buku di sebrang rak, jauh dari tempat Morline berada.

Aroma kayu yang menua dan buku dengan aroma samar vanilla mengudara, memenuhi perpustakaan dengan bau yang khas. Suara pelan saat Morline membalik halaman buku menjadi tanda waktu masih berjalan di ruangan itu.

Mata Morline bergerak dengan konstan dari kanan ke kiri sembari mulut yang berbisik pelan membaca kata demi kata. Jari-jarinya yang gemuk dan berlemak menari di atas lembaran buku, membalik halaman entah sudah yang keberapa kali.

"Yang mulia maaf mengganggu anda, tuan Theo ingin bicara dengan anda mengenai penyelidikan Erma."

Saat menyadari kedatangan Chasi, Morline langsung menutup bukunya. "Panggil saja ke sini."

Chasi mengangguk kemudian berbalik pergi untuk memanggil Theo yang berada di luar perpustakaan.

Pria dengan segaram ksatria dan sebuah pedang yang tergantung di pinggang melangkah pelan. Dia meletakkan tangan kanan ke dada kirinya lalu membungkuk. "Salam yang mulia."

"Theo apa hasil penyelidikanmu tentang Erma?"

"Saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang pedagang yang disebutkan Erma yang mulia, memang ada pedagang keliling, tapi bukan pedagang kain melainkan pedagang kulit hewan. Dan pedagang itu samasekali tak menjual kain apapun. Lalu saya juga menyelidiki pelayan-pelayan yang dekat dengan Erma, mereka tak mengetahui apapun tentang pembelian di waktu yang anda sebutkan.

Kata mereka di waktu tertentu seperti jam enam sore atau tujuh malam, Erma selalu tak terlihat di waktu itu. Mereka bilang Erma selalu menjawab sedang istirahat, tapi para pelayan maupun ketua pelayan tak tahu dimana tempat istirahat Erma."

"Apa kau sudah menyelidikinya?"

Theo mengangguk. "Sudah yang mulia. Ternyata dia pergi diam-diam dari istana di jam-jam itu. Dia pergi ke sebuah kedai anggur. Ternyata Erma sering ke sana untuk bersenang-senang, bahkan orang-orang di kedai itu sangat mengenal Erma dengan baik. Dia sering berjudi, minum kadang Erma diketahui sering menyewa pria." Kalimat akhir Theo ucapkan pelan karena segan dan merasa itu tak pantas didengar seorang ratu yang masih muda.

"Oh ya apa Chasi sudah memberi tahumu?"

"Sudah yang mulia." Theo tahu bahwa dia memiliki tugas baru setelah ini.

"Aku hanya curiga pada nona Cessie itu, dia bersikeras masuk ke dalam istana apa motivasinya? Aneh bukan? Jadi selidiki dia, lingkungan pertemanannya, siapa saja yang sering dia temui hal-hal mencurigakan lainnya."

"Apa saya harus menyelidiki keluarganya?"

"Aku mengenal sejarah keluarganya, mereka berjiwa patriotik. Sebagian besar anggota keluarga Weftlle mendedikasikan hidupnya pada Hesperias, namun jika memang perlu, selidiki juga mereka. Bawa rekan-rekanmu, ya."

"Baik yang mulia."

...............****

"Pangeran nona Cassie ingin bertemu anda."

"Biarkan saja! Aku tak peduli padanya!" Saat ini Edward sedang pusing karena mengurus berbagai hal di wilayah Utara, tanggu jawabnya sebagai pemimpin kelompok harus membuat Edward lebih berhati-hati lagi agar mereka tak mencium jejaknya.

Untuk saat ini, Edward hanya bisa memantau kelompoknya tanpa bisa ikut campur.

"Tapi kata nona Cassie ingin membicarakan tentang ratu dengan anda?"

Alis Edward mengkerut saat kepala pelayan itu menyebutkan kata ratu. Dia yang asik membaca laporan tentang wilayah di Utara meletakkan kertas itu ke meja, berdiri keluar dari balik meja kerjanya.

Sang kepala pelayan menatap kepergian Edward dengan heran, dia mengikutinya dari belakang.

Melihat kedatangan Edward senyum di bibir Cassie merekah sempurna. Dia melangkah dengan kedua tangan terentang kedepan, dengan cepat memeluk tubuh Edward. "Pangeran, saya merindukan anda."

Sudah cukup lama sejak pertemuan terakhir mereka, Cessie yang merindukan sentuhan Edward tak bisa benar-benar melupakannya. Namun Cessie tahu bahwa Edward bukan pria yang mudah didekati, jadi dia berinisiatif pergi ke istana untuk mencoba masuk ke sana, sekalipun menjadi pelayan, Cessie tak masalah. Asal Edward bisa menerimanya kembali.

Edward mengernyit tak suka, dia meraih kedua tangan Cassie yang melingkar di pinggangnya dan mendorongnya menjauh. Wajah Cassie tertegun kemudian berbuah sedih. "Pangeran...."

"Sudah cukup! Kenapa kau datang ke sini?!" Edward segera menjauh dari Cassie, dia tak ingin wanita itu menyentuhnya sembarangan.

"Tidakkah anda memberi saya belas kasih, saya merindukan anda pangeran." Cassie menatap mengiba pada mata gelap Edward.

"Katakan apa keperluanmu kalau tidak aku akan pergi."

Cassie menunduk sedih, kedua tangannya meremas gaunnya. "Saya ingin bicara tentang ratu, dia ternyata orang yang juga mewawancarai saya saat melamar menjadi pelayan."

Salah satu alis Edward terangkat. Berpikir jika wajar saja Cassie tak diterima bekerja di sana, apakah karena Morline sendiri yang mewawancarai mereka? Apa gadis itu mengetahui sesuatu? Ada rasa heran di benak Edward saat mengetahuinya. "Hanya itu?"

"Emm saya juga mengetahui dari beberapa pelayan yang saya tanya, kata mereka yang mulia raja kembali aktif di pemerintahan. Tapi penampilannya aneh, dia selalu memakai topeng."

Edward mengerutkan keningnya, kakaknya memakai topeng? Untuk apa topeng itu? Apa yang dia sembunyikan?

Edward memiliki kecurigaan jika pria yang mereka lihat bukanlah Cedric yang sebenarnya, melainkan orang lain yang menggantikan Cedric.

Semakin Edward pikirkan semakin dia membuat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di istana.

Sepertinya aku sudah lama tak menjenguk kakakku sendiri. Apa salahnya aku dayang kan? Batin Edward penuh pertimbangan.

"Pangeran." Cassie menatap Edward, wajah pria itu langsung berubah dingin. "Saya sudah memberikan informasi pada anda tentang kondisi istana sekarang, bisakah saya mendapat hadiah?"

"Runni berikan dia imbalan emas." Edward segera memanggil kepala pelayannya.

"Bukan itu yang saya inginkan." Cassie menggeleng keras, mencegah Runni pergi untuk mengindahkan perintah Edward.

Edward tak membiarkan wanita itu mengatakan apa yang dia inginkan, dirinya segera berbalik dan melangkah. "Runni berikan semua emas yang ada di kotak itu, dan katakan padanya jangan pernah menemuiku lagi."

"Pangeran! Pangeran saya mencintai anda! Bisakah anda memberi sedikit saja perhatian anda pada saya!" Teriak Cassie yang hendak mengejar Edward tapi Runni segera menariknya dan menahan tubuhnya.

......****

"Yang mulia apa salah saya?! Saya tidak salah apapun!" Erma berteriak marah ketika Morline memutuskan dirinya bersalah atas penggelapan dana istana.

"Aku sudah bilang bukan? Jika kau tak bisa membuktikan dirimu salah maka kau salah, jika kau bisa membuktikannya yaa seharusnya tidak ada kejadian seperti ini." Morline menanggapi dengan santai. "Penjarakan dia!"

Kedua prajurit yang menunggu perintah segera bergerak menahan Erma yang hendak lari. Wanita itu berteriak dengan kaki yang menendang-nendang udara saat di seret.

Morline bersandar di kursi, menghela nafas. Nina sang dayang mendekat ke sisi Morline. "Apa anda ingin cemilan manis yang mulia?"

"Em, boleh. Aku ingin kukis coklat. Oh, ya apa raja menghubungiku hari ini?"

"Tidak yang mulia, raja sepertinya sedang sibuk dengan urusan kerajaan."

"Aku ingin bicara dengan raja malam ini, siapkan tempat di luar."

Nina mengangguk. "Baik yang mulia."

Cedric baru saja selesai membaca berbagai dokumen terkait kerajaan tepat saat Joseph mengetuk pintunya. Pria itu sebenarnya masih dalam perawatan, tapi Joseph bersikeras ingin dirinya sendiri yang melayaninya. Cedric tak mampu menolak keinginan pria tua itu.

"Yang mulia, ratu ingin bertemu dengan anda di gazebo taman belakang."

Cedric melepas topengnya, pantulan cahaya lilin yang tenang menyinari wajahnya dengan lembut.  Sisa-sisa luka bakar yang mengering berubah menjadi keloid kecil yang tampak mengerikan. Cedric mengurut alisnya, merasa kepalanya pusing. "Ada apa?"

"Ratu tak mengatakan apa alasannya."

Cedric diam untuk mempertimbangkan ajakan itu. Sebenarnya dia cukup lelah karena seharusnya istirahat, setelah menyelesaikan membaca berbagai laporan dan berkas kerajaan.  Beberapa menit berpikir akhirnya Cedric memutuskan untuk pergi.

Dia kembali memakai topeng peraknya. Melangkah ditemani Joseph yang berjalan di belakangnya, sepanjang perjalanan Cedric sempat meminta agar Joseph pergi istirahat dan memulihkan kondisinya. Joseph yang memang merasa tubuhnya lelah kali ini menurut, dia undur diri saat mereka sampai di taman.

Cedric melangkah mendekati gazebo dimana sudah ada Morline yang duduk menunggu, di depannya ada beberapa cemilan dan teko kopi. Cedric tak langsung duduk, dia berdiri menunduk menatap Morline yang menyesap kopi dengan pelan. "Kenapa?" tanya Cedric pada intinya.

"Saya ingin keluar istana." Karena tahu Cedric membenci basa-basi begitu pula dengan dirinya, Morline langsung mengatakan keinginannya. "Saya ingin melihat keadaan wilayah di Utara bagaimana."

"Kau tak bisa sembarangan pergi keluar." Kali ini Cedric mengambil tempat di depan Morline, duduk berhadapan dengannya.

Angin malam menerpa kulit lehernya, rasa sejuk itu sedikit membuat kepalanya ringan. Dia bersandar di kursi, melipat kakinya dengan santai sambil menatap Morline yang menggigit kukis cokelat seperti tupai.

"Saya tahu, saya akan menyamarkan identitas saya." Morline menggelap mulutnya sembari melepehkan remahan kukis yang terasa pahit, dahinya mengernyit melihat kukis cokelat itu. "Ini gosong ya?" gumamnya.

.

"...." Cedric tak membalas. Di balik topeng dia menatap wajah Morline yang lembut karena pantulan cahaya bulan, gadis itu sedang memilah-milah kukis, terlihat mencari sesuatu.

Diperhatikan lebih lama, entah kenapa Cedric merasa gadis di depannya bukanlah seorang ratu, melainkan anak kecil. Gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukkan keanggunan dan kedewasaan, tapi yang membuatnya heran adalah otak gadis itu sangat cerdas. Di ruang rapat tadi, dia memberikan saran dan ide yang bahkan pria cendekiawan saja tak pikirkan.

Morline mendongak, menatap dua lubang hitam di topeng itu. "Bagaimana? Apa anda mengizinkan saya pergi?"

Cedric tersentak dalam diam, dia menenggakkan punggungnya dan berdehem pelan, "sebenarnya aku memang butuh informasi valid tentang wilayah Utara. Banyak laporan buruk tentang wilayah itu yang aku baca hari ini." Entah kenapa Cedric menceritakan keresahannya terhadap wilayah itu pada Morline.

Morline menyesap kopinya, dia tak menawari Cedric kopi karena tahu dia tak bisa membuka topengnya. "Saya juga sempat membaca laporan itu, katanya di sana mengalami gagal panen. Penguasa di sana juga korup, saya ingin melihat secara langsung dan terlibat dengan urusan di sana. Mungkin saya akan meminjam orang anda?"

Cedric mengangkat satu alisnya. "Siapa?"

"Tuan Gengi? Apa bisa?"

"Hem lakukanlah."

"Jadi anda mengizinkan saya pergi."

Cedric mengangguk. "Jika bersama Gengi, aku percaya."

Hening, kesunyian itu memberikan panggung bagi suara gesekan daun yang pelan dan nyanyian jangkrik yang saling bersautan di balik semak. Semilir angin malam menambah kesan keheningan yang aneh tapi nyaman.

"Oh ya bagaimana dengan urusan kerajaan tetangga? Apa anda sudah mengirim diplomat ke sana?" Suara Morline memecah keheningan itu, mengembalikan Cedric dari pikirannya yang mendadak hilang di tempat.

Cedric menatap mata hijau itu lebih lama, di bawah sinar bulan kedua iris itu terlihat sangat indah dan memikat. "Sudah, untuk saat ini mereka sedang proses negosiasi. Jika negosiasi berhasil maka penyelidikan akan dilakukan. Jika kondisi tak terkendali, jenderal Arnad harus mempersiapkan pasukan untuk menjaga wilayah perbatasan."

"Itu antisipasi yang bagus. Semoga saja mereka berhasil, ya. Tapi kalau dipikir lagi, bagaimana kronologi awal kerusuhan itu terjadi ya? Tak mungkin orang dari kerajaan tetangga menuduh kita begitu saja kan?"

Cedric merasa itu benar. Tak mungkin jika ada orang meninggal di perbatasan, lalu warga setempat menuduh merekalah pelakunya, tanpa diberikan alasan dan bukti yang jelas.

Malam terus berlanjut, bulan tetap terjaga di atas sana, Cedric dan Morline berdiskusi mengenai kasus perbatasan dan wilayah Utara. Berbagai opini dan ide keduanya mengalir deras bagai dua rival yang saling berdebat.

Karena malam semakin larut, Morline memulai mengantuk, dia menahan untuk tidak menguap di depan Cedric. Namun Cedric lebih peka dari apa yang dia kira, dengan matanya yang tajam di balik topeng dia bisa melihat bibir Morline bergetar, kadang Morline sengaja batuk untuk menutupi mulutnya yang tak tahan menguap.

Menyadari gadis itu sudah mengantuk, Cedric  menyudahi diskusi mereka. "Aku akan kembali ke istana." Katanya lalu beranjak pergi.

Melihat Cedric pergi, Morline segera bangkit, dia ingin segera tidur dan membaringkan tubuhnya di kasur empuk. Saat berjalan beberapa kali mata Morline tertutup karena kelopak matanya sudah memberat.

Sampainya di kamar, Morline merebahkan diri. Awalnya dia hanya berniat berbaring sebentar, tapi karena terlalu mengantuk, Morline ketiduran tanpa mengganti gaunnya dan membersihkan diri dahulu.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!