“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Tua, Sudah Pikun
...****************...
Mereka kembali melanjutkan langkah menuju area parkir. Sore itu suasana kampus sudah jauh lebih lengang dibanding beberapa jam sebelumnya. Sebagian besar mahasiswa sudah beranjak pulang, menyisakan hanya beberapa orang yang masih terlihat berlalu‑lalang di sekitar gedung fakultas.
Rhea berjalan di samping Dito sambil menjajarkan langkahnya, tangannya sesekali menarik dan merapikan kembali tali tas yang sedikit melorot dari bahu. Meski dari luar ia terlihat tenang, pikirannya masih saja tertinggal di tempat tadi...pada sosok Arga yang hanya melewatinya begitu saja, seolah tak ada apa‑apa di antara mereka.
“Kenapa, Rhe? Capek?”
“Lumayan sih, Mas. Padahal belum sampai setengah jalan persiapannya,” jawabnya pelan.
“Hmm… besok rasanya akan jauh lebih melelahkan. Jadi nanti begitu sampai rumah, langsung istirahat dan tidur. Mengerti?” ucap Dito tegas namun lembut.
“Iya, Mas…”
“Dan satu lagi… besok jangan lupa pakai topi.”
“Kenapa memangnya, Mas?”
Dito tak langsung menjawab. Ia malah menunjuk perlahan ke arah kedua pipi Rhea yang kini tampak kemerahan karena terlalu lama terpapar sinar matahari seharian penuh.
“Lihat ini… wajahmu sudah persis seperti kepiting rebus.”
Rhea langsung terhenti sejenak, lalu dengan cepat tangannya menyentuh kedua pipinya sendiri. Terasa hangat dan sedikit perih.
“Eh? Merah banget ya, Mas?”
“Iya.”
“Ya ampun… iya deh besok aku bawa topi. Makasih ya Mas udah ngingetin,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
“Hmm… Ya sudah, kamu masuk mobil saja dulu dan langsung pulang.”
“Iya. Mas Dito hati‑hati di jalan ya.”
“Iya, kamu juga.”
“Bye, Mas.”
Begitu Rhea masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat, Dito baru melambaikan tangannya perlahan. Ia tetap berdiri di sana sejenak sampai kendaraan itu perlahan bergerak menjauh, barulah ia berbalik badan dan melangkah menuju bagian lain tempat ia memarkirkan motor sportnya.
Matahari sore perlahan turun menyentuh garis cakrawala, membiarkan langit berubah warna menjadi jingga kemerahan. Sepanjang perjalanan pulang, Rhea masih merasakan hangat di pipinya...campuran antara panas matahari dan perasaan yang belum sepenuhnya tenang.
Sementara di jalan yang berbeda, Dito pun melaju meninggalkan kampus. Wajahnya terlihat sama santainya seperti biasa, meski sesekali ia teringat pada gadis yang sejak pagi terus bekerja di bawah terik matahari tanpa banyak mengeluh.
...****************...
Hari‑hari berikutnya berlalu di tengah kesibukan yang nyaris tak pernah berubah. Pagi dihabiskan untuk mengikuti perkuliahan, siang hingga sore sepenuhnya dicurahkan untuk kepentingan acara CIS, dan malam tiba baru digunakan untuk menyelesaikan berkas atau persiapan yang belum sempat rampung di kampus.
Semakin mendekati hari pelaksanaan, lokasi acara pun makin ramai dan hidup. Tenda‑tenda mulai berdiri kokoh, panggung utama hampir rampung dibangun, sementara para panitia terlihat sibuk hilir mudik mengangkut perlengkapan, menata hiasan, hingga memeriksa kelengkapan peralatan.
Siang itu, Rhea duduk bersila di lantai ruang sekretariat. Di hadapannya menumpuk papan nama peserta yang masih berantakan, tangannya terus bergerak menyusun dan menuliskan keterangan tanpa berhenti.
Di sekelilingnya, panitia lain juga sibuk masing‑masing... ada yang menempel spanduk, menyortir berkas, hingga mengecek daftar kebutuhan.
“Rhe… makan dulu,” panggil Dito. Ia baru saja masuk sambil membawa dua kotak makan siang yang masih terasa hangat.
Namun Rhea bahkan tak sedikit pun mengangkat kepalanya, matanya tetap terpaku pada pekerjaan di depannya.
“Sebentar lagi, Mas. Tinggal sedikit ini,” jawabnya singkat.
Dito hanya menghela napas pelan. Ia diam di tempat, menunggu. Sepuluh menit berlalu, Rhea masih betah di posisinya, belum juga berhenti.
Akhirnya pria itu berjalan mendekat, lalu ikut duduk di lantai tepat di samping gadis itu. Tanpa banyak bicara, ia membuka kotak makan di tangannya, mengambil satu suapan penuh, lalu perlahan menyodorkannya tepat di depan mulut Rhea.
Rhea yang masih terpusat pada tugasnya refleks menoleh. Menatap sendok di depan wajahnya, lalu ke arah wajah Dito yang tampak tenang seolah tak melakukan hal istimewa. Beberapa detik ia diam, sebelum akhirnya pasrah membuka mulut dan menerima suapan itu.
“Wihhhh…”
“Cieeee…”
Teriakan dan sorakan langsung meledak dari berbagai sudut ruangan.
Rhea yang sedang mengunyah spontan membelalakkan mata, wajahnya seketika memerah padam. Begitu menelan makanannya, ia buru‑buru membela diri.
“Eh! Apa ini kok heboh sih?”
“Jelas heboh dong, Rhe.” sahut salah satu panitia sambil menahan tawa.
“Iya tuh… jarang lho ada yang disuapin langsung sama Ketua kita,” tambah yang lain disusul tawa tertahan.
Suasana ruangan seketika riuh oleh gelak tawa. Sementara Dito, yang menjadi pusat perhatian itu, malah tampak sama sekali tak terganggu atau merasa canggung. Ia justru menatap satu per satu rekan‑rekannya dengan tatapan datar.
“Kerjaan kalian udah selesai semua?” tanyanya rendah namun tegas.
Seketika riuh itu lenyap. Seluruh isi ruangan kembali hening sekejap.
“Belum, Mas Dit…” jawab seseorang pelan.
“Ya sudah kalau begitu, lanjutkan kerjaan kalian,” perintahnya singkat.
Dan dalam sekejap, ruangan kembali sibuk... kini tanpa ada lagi yang berani bersorak atau menggoda.
...****************...
Keesokan harinya, suasana di ruang sekretariat jauh lebih ricuh dari biasanya. Beberapa map berserakan tak beraturan di atas meja, tumpukan berkas yang selalu dijaga kerapiannya kini tampak berantakan seolah baru saja dibongkar kesana‑kemari.
Dito berdiri tegak di depan meja besar itu, tangannya sibuk membolak‑balik tumpukan dokumen yang tersisa, raut wajahnya tampak tegang.
“Siapa yang terakhir pegang proposal rundown acara?” tanyanya dengan nada yang tak terdengar ramah.
Tak ada satu pun suara yang menjawab. Beberapa panitia malah saling bertatapan, ragu dan takut menjadi sasaran kemarahan.
Saat itulah Rhea baru saja melangkah masuk. Melihat suasana yang menegangkan dan wajah Dito yang tampak siap meledak, gadis itu langsung mengernyit tak setuju.
“Kenapa sih, Mas? Marah‑marah terus dari tadi. Bikin pusing kepala tahu,” ucapnya terus terang tanpa ragu.
Dito seketika menoleh cepat ke arahnya.
“Aku malah jauh lebih pusing. Proposal rundown nggak ketemu di mana‑mana. Terakhir kali yang pegang Sonia,” jawabnya nada tinggi.
“Hah? Hilang?” Rhea ikut terkejut.
“Iya.”
Rhea segera mendekat, matanya meneliti setiap tumpukan berkas yang ada di meja, berusaha mencari meski tahu pasti sudah dicari orang lain sebelumnya.
Ia diam sejenak, pikirannya menelusuri kembali kejadian kemarin. Tak lama kemudian matanya seketika membesar, seolah baru teringat sesuatu yang penting.
“Eh, sebentar…”
“Apa lagi?” tanya Dito tak sabar.
“Bukannya kemarin berkas itu dipinjam Pak Surya untuk diperiksa?”
Dito langsung terdiam kaku di tempatnya. Beberapa detik berlalu dalam hening, sampai akhirnya ia perlahan mengusap wajahnya sendiri dengan perasaan malu.
“Oh iya ya... Dibawa Pak Surya, aku lupa” gumamnya pelan.
Rhea langsung menatapnya dengan pandangan menang.
“Belum tua kok sudah mulai pikun. Makanya lain kali jangan buru‑buru marah dulu,” celetuknya santai.
Para panitia yang sedari tadi menahan napas dan tegang seketika tertawa lega. Suasana yang tadinya berat perlahan mencair.
Sementara Dito hanya mendecak pelan karena tak punya pembelaan, lalu segera meraih ponsel di sakunya untuk menghubungi dosen pembina acara.
...****************...
Hari demi hari berlalu terasa makin cepat, seolah waktu melesat tak mau berhenti. Pagi selalu dihabiskan untuk mengikuti perkuliahan, siang hingga sore sepenuhnya dicurahkan untuk keperluan CIS, dan malam tiba baru dimanfaatkan untuk menyelesaikan segala perbaikan serta revisi yang belum sempat rampung di siang hari.
Hari Senin dipakai untuk memeriksa satu per satu perlengkapan peserta yang baru saja dikirimkan. Hari Selasa mereka sibuk memastikan penempatan stan para penyokong acara sudah persis sesuai denah terbaru yang sudah disepakati.
Hari Rabu, seluruh panitia berkumpul untuk mengikuti latihan menyeluruh pertama yang baru selesai berlangsung saat langit mulai kemerahan menjelang waktu salat Magrib. Lalu hari Kamis, mereka kembali berkumpul di ruang sekretariat untuk menata dan memeriksa kelengkapan pendaftaran yang nantinya akan dipakai saat hari pelaksanaan nanti.
Segala kesibukan yang tak putus itu membuat waktu terasa berjalan jauh lebih cepat dibanding hari‑hari biasa. Tanpa terasa, persiapan hampir semuanya rampung dan hari pelaksanaan CIS kini tinggal di depan mata, tinggal menghitung beberapa hari saja lagi.