NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Pukulan

Tanpa peringatan, Xiao Chen berbalik. Mengabaikan rasa sakit di perutnya, ia melesat maju bagai anak panah yang lepas dari busur.

​BUGGG!!!

​Satu pukulan mentah yang sarat akan emosi murni menghantam telak rahang kiri Feng Lin. Kekuatan pukulan itu cukup kuat hingga membuat tubuh Feng Lin terhuyung dan jatuh tersungkur di atas lantai batu pelataran.

​Bisik... Bisik...

​Murid-murid luar yang berada di sekitar pelataran seketika menghentikan aktivitas mereka. Suasana menjadi sunyi senyap. Semua mata membelalak tidak percaya.

Seorang murid luar yang baru sembuh, berani melayangkan pukulan fisik kepada Feng Lin, murid yang cukup menonjol dari murid dalam? Ini adalah pelanggaran besar!

​"Kau..." Xiao Chen berdiri di atas Feng Lin, napasnya memburu, matanya merah menyala karena amarah yang meledak-ledak. "Kau tidak memiliki hak sedikit pun untuk menghina kematian mereka, Feng Lin!"

​Feng Lin memegang rahangnya yang terasa bergeser, menatap Xiao Chen dengan kilatan syok dan murka.

​"Dulu kau selalu menghina mimpiku, menghina usahaku, dan aku masih bisa menahannya!" Teriak Xiao Chen, suaranya menggelegar membelah gerimis. "Tapi hari ini, kau menghina nyawa dan perjuangan mereka seolah-olah itu bukan apa-apa?! Ingat ini di dalam otak busukmu... mimpi mereka, perjuangan hidup dan mati mereka di lembah itu, jauh lebih mulia dan berharga daripada seluruh kesombongan yang kau miliki! Kau adalah makhluk paling menyedihkan, paling kerdil, dan paling menjijikkan yang pernah kukenal seumur hidupku, Feng Lin!"

​Mendengar makian yang begitu menusuk dari mulut Xiao Chen, Feng Lin tertegun di atas tanah.

Tatapan tajam dan penuh amarah dari Xiao Chen entah mengapa memicu sesuatu di dalam kepalanya, menarik paksa memorinya kembali ke masa beberapa tahun lalu di Desa Bambu.

​Sejak kecil, Feng Lin selalu menjadi pusat perhatian.

​"Feng Lin, kau adalah anak yang hebat. Kau kuat, bakatmu luar biasa. Suatu hari nanti kau harus menjadi pendekar besar yang dihormati dunia," kalimat itu adalah apa yang selalu diucapkan oleh ayah dan ibunya.

Mereka memberikan apa saja yang Feng Lin inginkan, memujinya setinggi langit, dan menanamkan doktrin bahwa dirinya berada di kasta yang berbeda dari anak-anak desa lainnya.

Didikan itu membentuk Feng Lin menjadi sosok yang arogan, yang tidak akan pernah sudi diinjak atau disaingi oleh siapa pun.

​Hingga suatu hari, saat ia sedang berjalan angkuh di pasar desa, pandangannya terjatuh pada seorang anak laki-laki berpakaian compang-camping.

Anak itu sedang memikul tumpukan kayu bakar yang beratnya melampaui ukuran tubuhnya untuk dijual demi sebongkah roti dan koin perak.

​"Menyedihkan," gumam Feng Lin kecil saat itu, bersiap untuk memalingkan wajah karena muak.

​Namun, ada satu hal yang membuat Feng Lin berhenti. Tatapan mata anak kecil pemikul kayu itu, Xiao Chen sama sekali tidak menunjukkan rasa putus asa. Matanya jernih, tajam, dan penuh dengan binar kehidupan yang menolak untuk tunduk pada kemiskinan.

​Rasa tidak nyaman dan penasaran yang aneh membuat Feng Lin mulai membuntuti Xiao Chen diam-diam.

​Ia melihat betapa buruknya kehidupan keluarga Xiao Chen. Ia melihat bagaimana anak itu, di malam hari yang dingin, menyelinap ke belakang rumahnya hanya untuk berlatih mengayunkan ranting pohon secara otodidak, meniru gerakan pedang tanpa guru, dan terkadang menangis sendirian di balik semak-semak setelah di pukuli ayahnya.

​Melihat air mata keputusasaan Xiao Chen, Feng Lin kecil menyeringai puas. “Ah, ternyata dia bisa menangis juga,” pikirnya. Sejak saat itulah, Feng Lin mulai mendekati Li Yuan dan Shen Yue, menghasut mereka untuk selalu merundung, menghina, dan memukuli Xiao Chen di setiap kesempatan.

​Anehnya, sekeras apa pun mereka mencoba menghancurkan mental Xiao Chen, anak pemikul kayu itu tidak pernah menyerah.

Setiap kali jatuh ke tanah lumpur, Xiao Chen selalu bangkit kembali dengan tatapan mata jernih yang sama, tatapan yang perlahan mulai memicu rasa takut tersembunyi di dalam hati Feng Lin.

​Puncak dari segala kebencian Feng Lin terjadi pada suatu sore, ketika seorang Master Pedang kelana pengembara singgah di Desa Bambu.

​Seluruh penduduk desa berkumpul di lapangan, termasuk Feng Lin dan orang tuanya. Master Pedang itu menunjukkan beberapa teknik pedang kayu yang luar biasa untuk menghibur warga.

Feng Lin benar-benar terpukau melihat keindahan dan kekuatan dari pedang kayu tersebut.

​Saat pertunjukan selesai, Master Pedang itu berjalan mendekat ke arah kerumunan. Pandangannya terjatuh ke arah Feng Lin. Pria tua itu tersenyum, lalu menyodorkan pedang kayunya ke depan.

​"Ambillah, Nak," ucap sang Master.

​Feng Lin tersenyum lebar, dadanya membusung penuh kebanggaan. Ia mengulurkan tangannya, mengira bahwa bakatnya telah diakui oleh sang master.

Namun, sebelum jemarinya menyentuh hulu pedang, Master Pedang itu melangkah melewatinya begitu saja.

Pria tua itu berjalan lurus ke arah belakang, lalu memberikan pedang kayu tersebut kepada Xiao Chen yang sedang berdiri diam di sudut paling belakang.

​Kebencian Feng Lin meledak seketika pada hari itu. Sejak saat itu, melihat Xiao Chen bertumbuh, melihat Xiao Chen berlatih, dan saat di mana melihat Xiao Chen masuk ke sekte yang sama dengannya adalah mimpi buruk yang terus menghantui ego Feng Lin.

Ia takut, sangat takut jika suatu hari nanti posisinya akan direbut oleh anak sampah yang dulu memikul kayu bakar di pasar desa.

​Kembali ke masa kini, di atas pelataran sekte yang basah oleh sisa gerimis.

​Feng Lin memegang pipinya yang memerah dan membengkak akibat pukulan Xiao Chen. Rasa perih di wajahnya tidak sebanding dengan rasa terhina yang membakar harga dirinya di depan umum. Matanya melotot lebar, urat-urat di lehernya menegang penuh amarah yang murni.

​Ia mengepalkan tinjunya hingga bergetar, lalu berteriak histeris sambil bangkit berdiri.

​"SIALAAAN KAU, XIAO CHEN!!! KAU PIKIR KAU SIAPA, HAH?!" Raung Feng Lin, aura Qi dari ranah Pendekar ahli meledak, menentang gravitasi dan menerbangkan air hujan di sekitarnya. "Kau hanyalah sampah desa! Kau tidak lebih dari cacing tanah yang beruntung bisa selamat dari lembah! Beraninya kau menyentuhku!"

​Xiao Chen tidak mundur satu langkah pun. Meski luka di perutnya kembali merembeskan sedikit darah akibat gerakan tiba-tiba tadi, ia tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat.

Tatapan matanya kini tidak lagi menunjukkan kelelahan, melainkan sebuah ketetapan hati yang tak tergoyahkan.

​Dua pasang mata itu saling mengunci di tengah pelataran sekte, menandai akhir dari masa lalu mereka dan awal dari sebuah permusuhan baru yang jauh lebih mematikan di faksi Murid Dalam.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!