Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Tatapan Yang Berbeda
Sore itu udara masih membawa sisa bau hujan semalam yang belum sepenuhnya hilang. Aspal tampak lebih gelap dari biasanya, dan genangan kecil di pinggir jalan memantulkan bayangan lampu serta langit yang belum benar-benar cerah. Orang-orang bergerak sedikit lebih lambat, seolah kota masih menyesuaikan diri setelah hujan panjang.
Di depan tempat les, suasana ramai dengan ritme yang khas. Beberapa orang tua berdiri sambil memegang payung, sebagian lain berteduh di bawah kanopi kecil, berbicara pelan sambil sesekali melirik pintu masuk. Suara anak-anak terdengar samar dari dalam, bercampur dengan suara kendaraan yang lewat.
Mobil hitam milik Zayden berhenti tidak jauh dari pintu masuk, berada di posisi yang cukup untuk melihat tanpa menarik perhatian berlebihan. Mesin sudah dimatikan, tetapi ia belum juga keluar. Tangannya masih bertumpu di setir, sementara pandangannya terkunci pada bangunan kecil di seberang jalan.
Dari sudut itu, ia bisa melihat ke dalam melalui jendela kaca. Ruang kelas tampak sederhana, dengan meja kecil dan kursi warna-warni yang disusun rapi. Anak-anak duduk di tempat masing-masing, beberapa terlihat serius, beberapa lainnya sesekali bercanda kecil saat guru menoleh ke arah lain.
Di antara mereka, ada satu yang langsung ia kenali tanpa perlu mencari lama.
Rheon.
Anak itu duduk di barisan kedua, tubuhnya sedikit condong ke depan dengan fokus yang terlihat jelas. Tangannya bergerak cepat menulis sesuatu, lalu berhenti sesaat untuk mendengar, kemudian kembali bekerja dengan cara yang sama. Gerakan kecil yang berulang itu terasa akrab di mata Zayden.
Ia memperhatikan tanpa tergesa, seolah setiap detik yang lewat membawa detail baru yang ingin ia simpan. Pikirannya masih penuh dengan perhitungan dan kemungkinan sejak beberapa hari terakhir, tetapi di saat seperti ini, semua itu seakan melambat. Fokusnya hanya satu.
Melihat.
Memastikan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan hanya lewat angka.
Pintu kelas terbuka, dan suara riuh langsung mengisi halaman. Anak-anak keluar dengan langkah ringan, membawa tas dan kertas hasil kerja mereka. Beberapa berlari ke arah orang tua, beberapa berjalan santai sambil bercerita.
Zayden akhirnya membuka pintu mobil dan turun. Ia berdiri di sisi kendaraan, tidak terlalu dekat dengan kerumunan, namun cukup jelas untuk terlihat oleh siapa pun yang kebetulan melirik.
Rheon melihatnya.
Bocah itu berhenti di tengah langkah, seperti ada sesuatu yang langsung menarik perhatiannya. Wajahnya berubah dalam sekejap, dari biasa menjadi cerah, dan tanpa ragu ia berseru dengan suara yang cukup keras.
"Om dingin!"
Beberapa orang dewasa menoleh, tetapi Zayden tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya mengangkat sedikit pandangan, dan sudut bibirnya bergerak tipis tanpa benar-benar menjadi senyum penuh.
Rheon berlari kecil mendekat, tasnya bergoyang di punggung, langkahnya cepat meski sedikit tidak teratur.
"Kamu datang lagi."
"Aku lewat."
"Bohong."
Zayden mengangkat alis sedikit, tidak tergesa membalas.
"Kenapa."
"Kalau lewat, biasanya orang jalan. Om berdiri."
Jawaban itu sederhana, tetapi tepat. Ia terdiam sepersekian detik, memperhatikan cara anak itu menyusun logika tanpa ragu. Hal kecil seperti itu tidak seharusnya terasa istimewa, tetapi entah kenapa, ia memperhatikannya lebih lama.
"Kamu pintar."
Rheon tersenyum lebar, jelas bangga dengan pengakuan itu.
"Mommy juga bilang begitu."
Zayden mengangguk pelan, tidak menambahkan apa-apa, tetapi pandangannya tetap tinggal di wajah anak itu lebih lama dari yang diperlukan.
"Aku sudah tidak demam," kata Rheon lagi sambil mendongak, seolah ingin memastikan kabar itu diterima.
"Bagus."
"Aku minum obat pahit."
"Berarti kamu kuat."
Rheon mengangguk cepat, ekspresinya berubah serius sesaat sebelum kembali santai.
"Iya."
Mereka berdiri berhadapan tanpa terburu-buru. Percakapan yang terjadi tidak penting dalam arti besar, namun terasa cukup untuk mengisi ruang di antara mereka tanpa canggung. Waktu berjalan pelan, dan halaman mulai sedikit lebih sepi seiring orang tua membawa pulang anak masing-masing.
"Mommy belum datang," kata Rheon sambil melirik ke arah jalan, nada suaranya sedikit turun.
"Kamu tunggu di sini."
"Iya."
Zayden memperhatikan sekeliling, memastikan situasi aman sebelum kembali menatap anak itu. Ada satu detail kecil yang tertangkap perhatiannya, sesuatu yang hampir tidak terlihat jika tidak benar-benar diperhatikan.
"Kamu lapar."
Rheon berkedip, sedikit terkejut.
"Bisa tahu?"
"Kamu pegang perutmu dua kali."
Anak itu langsung menurunkan tangan, wajahnya menunjukkan sedikit rasa malu yang jujur.
"Sedikit."
Zayden menatapnya sejenak, lalu berkata singkat.
"Tunggu."
Ia berjalan ke minimarket kecil di samping jalan dengan langkah yang tidak terburu, membeli beberapa hal tanpa berpikir lama. Tidak ada pertimbangan besar, hanya pilihan sederhana yang terasa tepat untuk anak seusia itu.
Beberapa menit kemudian, ia kembali dan menyerahkan kantong kecil itu.
"Ini."
Rheon membukanya dengan hati-hati, matanya langsung berubah cerah saat melihat isi di dalamnya.
Roti, susu, dan biskuit.
"Terima kasih, Om dingin."
Zayden tidak menjawab, tetapi tetap berdiri di dekatnya. Ia memperhatikan cara Rheon makan dengan pelan, tidak terburu, menikmati setiap gigitan seolah itu hal paling penting saat ini. Gerakan sederhana itu terasa lebih lama dari seharusnya, seolah waktu ikut menyesuaikan diri.
Ia tidak banyak bicara. Hanya berdiri, melihat, dan menyimpan setiap detail tanpa sadar.
Perasaan itu kembali muncul.
Bukan sekadar rasa ingin tahu.
Bukan sekadar perhatian biasa.
Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak ia beri nama, tetapi terus muncul setiap kali ia berada di dekat anak ini.
Ia mengalihkan pandangan sebentar, mencoba mengatur pikirannya sendiri, namun saat kembali melihat, Rheon sudah menatapnya lebih dulu.
"Om."
"Apa."
"Kamu selalu lihat aku."
"Karena kamu berisik."
"Aku lagi makan."
"Itu juga berisik."
Rheon tertawa kecil, suara itu ringan dan tanpa beban. Suara sederhana yang entah kenapa membuat suasana di sekitar terasa lebih longgar.
"Aku suka Om," katanya tiba-tiba tanpa ragu.
Zayden sedikit terdiam, bukan karena tidak tahu kata itu, tetapi karena tidak menyangka akan mendengarnya dalam konteks seperti ini.
"Kenapa."
"Om tidak marah waktu aku tabrak dulu."
"Itu bukan alasan besar."
"Terus Om kasih aku makan."
"Itu juga bukan alasan besar."
Rheon berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada yang lebih yakin.
"Om dingin, tapi baik."
Kalimat itu pendek, tetapi cukup untuk membuat Zayden tidak langsung menjawab. Ia menatap anak itu dengan cara yang berbeda, bukan hanya sebagai seseorang yang kebetulan ia temui, tetapi sebagai sesuatu yang mulai terasa dekat dengan cara yang tidak biasa.
Ia mengulurkan tangan, mengusap rambut Rheon pelan tanpa tekanan. Gerakan itu terasa alami, tidak dibuat-buat, dan yang lebih mengejutkan, tidak ditolak.
Rheon justru sedikit mendekat.
Seolah sentuhan itu bukan hal baru.
Hal kecil itu membuat napas Zayden berubah sejenak. Ia menarik tangannya perlahan, namun pandangannya tetap tinggal lebih lama.
Setiap garis wajah.
Setiap ekspresi.
Semua terasa semakin familiar.
Bukan karena ia pernah melihatnya sebelumnya, tetapi karena ada sesuatu yang terasa cocok tanpa penjelasan.
"Om."
"Apa lagi."
"Kalau aku besar, aku bisa jadi seperti Om?"
Zayden menatapnya lebih dalam, kali ini dengan perhatian penuh.
"Seperti apa."
"Kerja di kantor tinggi."
Ia hampir tersenyum, tetapi menahannya.
"Kalau kamu mau."
"Aku mau."
"Berarti kamu harus lebih rajin dari sekarang."
Rheon mengangguk serius, tanpa ragu sedikit pun.
"Aku bisa."
Zayden memperhatikan ekspresi itu. Ada kesungguhan kecil yang tidak dibuat-buat, kepercayaan diri yang muncul secara alami. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi pikirannya bergerak ke arah yang tidak ia rencanakan.
Bagaimana jika semua ini bukan kebetulan.
Bagaimana jika perasaan ini punya alasan.
Suara mobil yang berhenti memotong alur pikirannya. Elvara turun dengan langkah cepat, wajahnya langsung berubah saat melihat mereka berdua berdiri berdekatan.
"Rheon."
"Mommy."
Anak itu langsung berlari ke arahnya, memeluk tanpa ragu. Elvara membalas dengan cepat, tangannya langsung menyentuh dahi anak itu, memastikan kondisinya tanpa perlu bertanya.
Zayden berdiri di tempat, memperhatikan tanpa ikut campur.
"Terima kasih sudah menemani," kata Elvara, nada suaranya datar tetapi tidak sepenuhnya dingin.
"Nanti dia lapar lagi."
"Aku bawa makanan."
"Dia sudah makan."
Elvara melirik kantong di tangan Rheon, ekspresinya berubah sedikit, tetapi ia tidak memperpanjang.
"Kami pulang dulu."
Zayden tidak langsung menjawab. Ia menatap mereka berdua, bergantian, menyimpan sesuatu yang tidak terlihat di wajahnya.
Rheon melambaikan tangan dengan ceria.
"Bye Om dingin."
Zayden mengangguk pelan.
"Jangan sakit lagi."
"Iya."
Mereka berjalan menjauh, langkah mereka perlahan hilang di tikungan jalan. Zayden tetap berdiri di tempatnya, tidak bergerak, membiarkan pandangannya mengikuti sampai tidak ada lagi yang bisa dilihat.
Udara sore terasa lebih berat.
Bukan karena cuaca.
Tetapi karena sesuatu yang kini tidak bisa lagi ia abaikan.
Perasaan yang muncul setiap kali ia melihat Rheon sudah berubah. Tidak lagi sekadar rasa ingin tahu, tidak lagi sekadar kebetulan yang berulang. Itu sesuatu yang lebih dalam, lebih dekat, dan semakin sulit dipisahkan dari dirinya sendiri.
Dan semakin ia mencoba menolaknya, semakin jelas arah yang ditunjukkannya.
Seolah ada ikatan yang perlahan menemukan bentuknya tanpa meminta izin.