NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Lari Saat Hamil / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjelang Lima Hari Festival

Hari sudah mulai petang, namun ketiga wanita itu masih belum juga pulang. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan tambahan yang benar-benar menguras tenaga dan waktu.

Alena sudah berkali-kali mondar-mandir mengendarai motornya antara rumah makan dan rumah pelanggan. Rambutnya mulai berantakan diterpa angin sore, telapak kakinya terasa pegal karena sejak pagi hampir tidak sempat duduk.

Bahkan beberapa kali tangannya sampai gemetar kecil saat membawa pesanan.

Namun semua rasa lelah itu seperti tidak berarti saat mengingat wajah Kai yang begitu antusias membuat layang-layangnya.

“Anakku harus ikut festival itu…” gumam Alena lirih sambil kembali menyalakan motornya.

Sementara di sisi lain, Senna juga tidak kalah kewalahan.

Sejak sore tadi wanita itu sudah membersihkan empat toilet umum sekaligus, mulai dari mengepel lantai, menguras bak air, sampai membersihkan wastafel yang kotor.

Padahal pekerjaan seperti itu benar-benar bukan hal yang biasa ia lakukan.

Beberapa kali Senna sampai mengeluh sambil memegangi pinggangnya sendiri.

“Ya Tuhan… pinggangku mau copot,” gerutunya.

Namun sedetik kemudian bayangan wajah Kai kembali muncul di kepalanya.

Tentang bagaimana anak itu menggambar dirinya di layang-layang dengan senyum penuh bangga.

Dan entah kenapa… rasa lelahnya perlahan menghilang begitu saja.

“Pokoknya anakku harus ikut festival itu,” ucapnya lagi penuh tekad sambil kembali mengambil alat pel.

Masih di tempat yang sama hanya berbeda ruang saja, Anne juga terus bolak-balik mengantar pesanan pelanggan yang tidak ada habisnya.

Langkahnya nyaris tidak berhenti sejak tadi. Belum selesai mengantar satu meja, pesanan lain kembali datang. Dalam situasi seperti itu, tenaganya dituntut untuk terus cepat agar tidak mendapat komplain dari pelanggan.

Keringat mulai membasahi pelipisnya, bahkan napasnya beberapa kali terdengar berat.

Namun wanita itu tetap tersenyum ramah pada setiap pelanggan yang datang.

Karena di dalam hatinya hanya ada satu hal yang terus ia pikirkan.

Kai.

Mimpi kecil anak itu kini perlahan berubah menjadi perjuangan besar bagi mereka bertiga.

"Festival itu tinggal hitungan hari saja, semoga saja hasil kerja keras kita hari ini bisa terkumpulkan.

  ☘️☘️☘️☘️☘️

Tidak hanya mereka bertiga yang ikut berjuang demi Kai. Di kota besar sana yang jauh dari pesisir sana, Rina juga tidak ingin tinggal diam.

Meski jarak memisahkan mereka, hatinya tetap tertinggal pada anak kecil yang selama ini selalu memanggilnya “Ibu Rina” dengan penuh hangat.

Malam itu suasana club kembali ramai seperti biasanya. Lampu remang-remang memenuhi ruangan, dentuman musik terdengar memekakkan telinga, sementara para tamu terus datang silih berganti.

Rina baru saja selesai mengantarkan minuman ke salah satu meja VIP sebelum akhirnya duduk sebentar di ruang istirahat karyawan.

Tubuhnya terasa lelah. Sepatu hak tinggi yang sejak tadi dipakainya bahkan mulai membuat tumitnya nyeri. Perlahan wanita itu mengambil ponselnya, lalu menatap foto Kai yang tersimpan di layar.

Foto saat anak itu tersenyum sambil memeluk tubuhnya dengan erat. Seketika dada Rina terasa sesak, karena untuk pertama kalinya, bulan ini ia benar-benar tidak punya cukup uang untuk membantu.

Gajinya bulan lalu sudah habis untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Mulai dari cicilan KPR kecilnya, biaya makan, tagihan listrik, hingga ongkos hidup di kota besar yang semakin hari terasa semakin menyesakkan.

Dari luar, orang-orang mungkin mengira hidupnya glamor karena bekerja di club malam. Padahal kenyataan kadang tidak sesuai dengan realita yang ada.

Rina juga sama seperti perempuan lain yang sering pusing memikirkan uang sampai sulit tidur.

“Aduh Kai…” gumamnya lirih sambil menatap foto anak itu. “Ibu Rina belum bisa bantu banyak.”

Untuk beberapa saat wanita itu hanya diam termenung. Hingga tiba-tiba tatapannya jatuh pada kacamata fashion miliknya yang terletak di dalam tas.

Bukan barang mahal. Namun kacamata itu dulu ia beli cukup lama dengan uang hasil lemburnya sendiri. Harganya sekitar lima ratus ribu dan selama ini selalu ia jaga baik-baik karena membuatnya terlihat lebih percaya diri saat bekerja.

Rina menatap benda itu cukup lama. Lalu perlahan bibirnya tersenyum tipis seolah sudah mengambil keputusan.

“Kayaknya… ini masih bisa dijual deh.”

Malam itu juga ia mulai memfoto kacamata tersebut dari berbagai sosial media yang ia punya, lalu mengunggahnya ke marketplace sederhana di ponselnya.

Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk.

“300 ribu boleh?”

Seketika Rina terkejut, baru saja ia memposting dan barangnya langsung ada yang menawar, akan tetapi rasa terkejutnya itu perlahan sirna karena jujur saja ia menginginkan harga itu jauh seperti yang ia harapkan.

Namun setelah beberapa detik berpikir, wanita itu akhirnya tersenyum kecil sambil mengetik balasan singkat.

 “Boleh kak."

  Karena baginya sekarang bukan lagi tentang harga ataupun barang kesayangan. Melainkan tentang bagaimana caranya agar mimpi kecil Kai tetap bisa terbang tinggi.

 ☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara di tempat lain, suasana ruang kerja Kael semakin mencengkam. Bahkan pria itu tidak mengenal waktu, hari-harinya ia gunakan untuk bekerja dan bekerja.

  Dan malam ini, beberapa anak buah yang ia perintah untuk mencari keberadaan Alena. Dan lagi-lagi mereka gagal menemukannya.

Sudah entah berapa banyak informasi palsu yang ia dapatkan selama ini. Mulai dari kabar wanita mirip Alena di luar negeri, di kota kecil, bahkan sampai laporan orang suruhannya yang ternyata hanya memberi harapan kosong. Dan setiap kali harapan itu runtuh… emosinya selalu semakin sulit dikendalikan.

Brak!

Seketika gelas whiskey di tangannya menghantam lantai hingga pecah berkeping-keping.

“Apa kalian benar-benar mencari?!” bentaknya penuh amarah pada beberapa anak buahnya yang hanya bisa menunduk ketakutan.

“Delapan tahun!” rahangnya mengeras. “Delapan tahun tapi kalian bahkan tidak bisa menemukan satu perempuan dan satu anak!”

Kemarahan itu menggelegar, beberapa anak buahnya tidak ada yang berani menatap wajahnya, namun saat suasana genting seperti ini tiba-tiba saja.

Brzzztt…

Ponselnya bergetar di atas meja. Tatapan tajam Kael langsung beralih. Nama Edgar muncul di layar. Dengan rahang masih mengeras, pria itu menjawab kasar.

“Apa?”

Di seberang sana Edgar sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.

“Tuan… saya hanya ingin mengingatkan. Acara festival peresmian dermaga tinggal lima hari lagi.”

Deg.

Seketika wajah Kael berubah semakin dingin. Di saat hatinya sedang hancur karena kembali kehilangan jejak Alena, orang-orang itu justru sibuk menghubunginya hanya untuk membahas festival layang-layang.

Tawa pendek penuh emosi lolos dari bibirnya.

“Festival?” ulangnya lirih namun terdengar mengerikan.

Tangannya mengepal kuat hingga urat di lehernya terlihat jelas.

“Di saat seperti ini…” tatapannya berubah tajam penuh tekanan. “Mereka pikir aku peduli pada acara bermain layang-layang?”

Edgar langsung menelan ludah gugup di seberang sana. Namun belum sempat ia menjelaskan, Kael lebih dulu memotong dengan nada rendah yang membuat suasana semakin menekan.

“Kalau bukan karena proyek dermaga itu menghasilkan miliaran…” suaranya terdengar dingin. “Aku bahkan tidak akan melirik kota kecil itu sama sekali.”

  Ucapnya terdengar menakutkan, namun tanpa ia sadari di tempat itulah, ia akan menemukan jawaban selama delapan tahun itu.

Bersambung ...

Selamat sore Kakak semoga suka ya

1
Sugiharti Rusli
bahkan dengan kekayaan yang si Kael miliki berapapun, ga akan membuat Alena silau sejak dulu dan sampai kapanpun,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia mengatakan ingin menebus kesalahannya dulu, tapi luka yang Kael buat terlalu dalam bagi Alena,,,
Sugiharti Rusli
padahal dalam rahim Alena saat itu sedang dikandung putra yang dulu tidak dia harapkan kehadirannya,,,
Sugiharti Rusli
dan itu dulu Kael lakukan dengan sadar saat gengsi dalam dirinya terlalu tinggi dan meremehkan perempuan rendah menurut dia seperti Alena,,,
Sugiharti Rusli
yah terkadang manusia tuh baru menyadari kalo sebenarnya dia sudah kehilangan harta paling berharga karena keegoisannya sendiri yah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya dia harus melakukan pendekatan berbeda kepada Alena sih, karena dia pasti trauma kalo sampai berhadapan kembali sama si Kael
Sugiharti Rusli
masa iya si Kael akan melakukan hal yang sama kepada yang dia yakini kalo Kai adalah putra kandungnya sendiri
Sugiharti Rusli
karena baik Alena dan teman" nya tidak tahu masa lalu Kael yang sangat kelam tentang ibunya yang dibunuh ayahnya sendiri kan,,,
Sugiharti Rusli
padahal di sisi lain justru si Kael takut Alena akan pergi lagi begitu melhat dirinya, apalagi saat melihat dirinya kecil pada wajah Kai,,,
Sugiharti Rusli
di sini Alena dan sahabatnya mengkhawatir kan apa yang akan bisa Kael lakukan terhadap putranya yah,,,
tia
ditunggu kelanjutannya thor
Sugiharti Rusli
entah apa yang nanti Alena akan lakukan setelah kembali bertemu si Kael setelah 8 tahun berusaha hidup dengan tenang meski serba sederhana bersama sang putra,,,
Sugiharti Rusli
kalo si Kai mungkin masih belum nyadar yah kalo wajah laki" itu ada kemiripan dengannya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi dulu dia yang menyarankan agar Alena mendatangi si Kael ke kantornya,,,
Sugiharti Rusli
tapi seharusnya Rina tahu kan kalo dulu Alena dilecehkan oleh bos Ardion itu namanya,,,
Sugiharti Rusli
memang jadi semacam ada rasa tegang dan canggung tanpa semua yang di sana ketahui yah,,,
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Ayu Alina segera saja kabur lagi sejauh-jauhnya!
tia
hayo gerak kael jgn lemot lemot.
Hesty
good
Hesty
yah thorrr up gi☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!