"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pembalasan yang Tertunda
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menembus celah jendela ruang perawatan darurat di dalam kompleks pabrik pusat Arsa Food Group. Ruangan itu hening, hanya menyisakan suara ritmis dari mesin pemantau kejut jantung yang sengaja dikecilkan volumenya. Bau tajam cairan antiseptik kembali memenuhi udara, bercampur dengan aroma kopi hitam yang sudah mulai mendingin di atas meja sudut.
Adrian duduk di tepi ranjang medis dengan tubuh bagian atas yang bertelanjang dada. Luka robek di lengan kanannya yang kembali terbuka akibat aksi baku tembak di perbukitan semalam, kini telah dijahit ulang dengan rapi oleh tim dokter spesialis internal perusahaan. Balutan perban putih yang baru tampak kontras dengan warna kulitnya yang tegas. Meskipun sisa-sisa rasa perih yang membakar masih berdenyut di otot lengannya, ekspresi di wajah tampan Adrian tetap sedingin es, seolah-olah rasa sakit fisik itu sama sekali tidak memiliki hak untuk mengusik konsentrasinya.
Di hadapannya, Elena berdiri dengan anggun sembari memegang sebuah cangkir porselen hangat. Setelah melewati malam yang panjang dan menegangkan di jalur perbukitan selatan, wanita itu telah mengganti pakaian taktisnya dengan setelan kemeja formal baru yang pas di tubuh rampingnya. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan sorot sepasang mata indahnya yang kini dipenuhi oleh binar kelegaan sekaligus kecerdasan taktis yang tajam.
"Dokter bilang kamu harus mengistirahatkan lengan kananmu selama minimal tiga hari ke depan, Adrian," kata Elena, suaranya terdengar lembut namun sarat akan nada perintah yang tidak bisa dibantah. Ia melangkah mendekat, meletakkan cangkir hangat itu di atas meja di samping Adrian. "Jika jahitan itu sampai robek untuk ketiga kalinya, jaringan ototmu bisa mengalami kerusakan permanen."
Adrian mendongak, menatap dalam-dalam ke dalam mata Elena. Sudut lipatan bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk senyuman hangat yang hanya pernah ia perlihatkan khusus untuk istrinya. Tangan kiri Adrian yang bebas dari cedera perlahan terangkat, meraih jemari tangan Elena dan menggenggamnya dengan remasan yang lembut namun posesif.
"Lengan ini tidak akan rusak hanya karena beberapa tusukan jarum medis, Putri Kecil," ucap Adrian dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam. "Yang lebih penting adalah pasokan gandum dan minyak nabati dari pangkalan rahasia selatan kini sudah sepenuhnya masuk ke dalam mesin produksi. Pabrik kita beroperasi dengan kapasitas penuh sejak dua jam lalu. Rencana pencekikan logistik fisik yang disusun oleh faksi atas Syndicate telah gagal total."
Elena mengembusan napas panjang, membiarkan jemarinya tetap berada di dalam genggaman hangat tangan kiri Adrian. "Ya, mereka gagal di jalur darat. Tapi Hendra baru saja memberikan laporan baru dari gedung sebelah. Begitu fajar datang dan berita mengenai pabrik kita yang tetap beroperasi normal tersebar ke luar, perwakilan Syndicate di wilayah barat langsung menarik seluruh pasukan pengintai mereka dari pelabuhan."
CEKLEK.
Pintu ruang perawatan darurat itu mendadak terbuka dengan ketukan yang tergesa-gesa. Hendra melangkah masuk dengan setelan jas yang sedikit berantakan, wajahnya tampak sangat tegang sembari mendekap sebuah komputer tablet taktis yang layarnya terus berkedip merah.
"Tuan Adrian, Nyonya Elena," Hendra membungkuk hormat dengan cepat, memutus atmosfer intim di antara pasangan suami istri itu. "Situasi di luar kembali memanas. Faksi atas Syndicate tampaknya menyadari bahwa mereka telah kalah telak dalam perang logistik fisik dan pasar saham. Mereka kini menggunakan kartu truf terakhir mereka untuk menghancurkan kita lewat jalur hukum internasional."
Adrian perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Elena, auranya seketika berubah menjadi sangat dingin dan mengintimidasi bagai seorang predator yang siap berburu kembali. "Kartu truf apa yang mereka gunakan, Hendra?"
Hendra melangkah maju, meletakkan tablet digitalnya di atas meja agar bisa dilihat langsung oleh Adrian dan Elena. "Dua puluh menit yang lalu, jaringan media utama yang dikendalikan oleh Vanguard Maritim merilis sebuah dokumen tuntutan hukum resmi. Petinggi faksi atas menuduh bahwa operasi pengamanan yang kita lakukan di jalur darat selatan semalam adalah bentuk tindakan terorisme korporat ilegal yang melibatkan unit militer swasta tak terdaftar."
Elena mengernyitkan alisnya, matanya bergerak cepat membaca barisan teks tuntutan di layar. "Itu konyol! Kita bergerak untuk melindungi aset komoditas pangan kita sendiri dari sabotase mereka!"
"Masalahnya bukan pada alasan kita, Nyonya," lanjut Hendra dengan nada mendesak. "Mereka memanfaatkan celah hukum batas wilayah faksi pusat. Karena jalur perbukitan selatan secara administratif berada di bawah pengawasan netral, mereka menuntut agar Komisi Tindak Integritas (KTI) dan Otoritas Pengawas Finansial melakukan pembekuan total terhadap seluruh operasional Arsa Food Group dan Luminous Beauty selama masa penyelidikan berlangsung."
Mendengar penjelasan Hendra, Elena merasakan ketegangan baru kembali merayap di dadanya. Taktik musuh kali ini benar-benar sangat licik. Jika KTI dan otoritas keuangan terpaksa membekukan operasional perusahaan hanya untuk keperluan penyelidikan selama beberapa minggu, efeknya akan sama saja dengan blokade logistik kemarin. Perusahaan mereka akan lumpuh karena hukum, dan saham mereka yang baru saja diselamatkan lewat jebakan kemarin bisa kembali runtuh ke titik terendah.
"Mereka ingin memenjarakan kita di dalam lingkaran birokrasi hukum yang mereka atur sendiri," desis Elena tajam, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
Adrian berdiri dari tepi ranjang medis, mengabaikan tarikan perih pada otot lengan kanannya saat ia menegakkan tubuh tegapnya yang gagah. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah deretan truk kargo yang kini sedang melakukan bongkar muat di halaman pabrik dengan pandangan mata yang sedingin badai salju.
"Mereka mengira mereka bisa menggunakan KTI untuk menekan kita," ucap Adrian, suara baritonnya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman mutlak yang mematikan. "Mereka lupa bahwa dokumen kejahatan finansial dan manifes ilegal milik Syndicate yang kita rebut dari Pulau Karang Hitam sudah berada di tangan ketua komisi hukum sejak kemarin siang."
Adrian berbalik, menatap Elena dengan kilatan kecerdasan yang sangat pekat di matanya. "Elena, saatnya kita mengaktifkan rencana balasan yang sesungguhnya. Kita tidak akan menunggu KTI datang untuk memeriksa kita. Kita yang akan memaksa KTI untuk menjatuhkan vonis mati hukum bagi seluruh petinggi faksi atas hari ini juga."
Elena langsung menangkap arah pemikiran suaminya. Senyuman menantang yang sangat elegan dan menawan kembali terukir di wajah cantiknya. "Kamu mau merilis sisa data enkripsi tingkat tiga yang berisi daftar nama para pejabat luar yang menerima aliran dana suap dari Syndicate?"
"Tepat sekali," sudut lipatan bibir Adrian terangkat, membentuk senyuman kejam yang sangat tipis. "Selama ini kita menahan data tingkat tiga itu agar tidak memicu kekacauan politik di faksi pusat. Namun, karena mereka memilih untuk menggunakan jalur hukum untuk mencekik kita, kita akan meledakkan seluruh jaringan mereka sekalian. Begitu nama-nama pejabat korup itu terekspos ke sistem KTI, otoritas tidak akan punya pilihan lain selain menangkap seluruh petinggi faksi atas Syndicate atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap keamanan wilayah."
Adrian melangkah mendekati Elena, kembali memperkecil jarak di antara mereka hingga aura dominannya yang posesif sepenuhnya menyelimuti wanita itu. "Hendra, hubungi jalur komunikasi langsung dengan ketua Komisi Tindak Integritas (KTI). Katakan pada mereka, Arsa Group akan menyerahkan kunci enkripsi terakhir sekarang juga."
"Baik, Tuan." Hendra langsung mengutak-atik tabletnya, mencoba menyambungkan panggilan prioritas ke pusat komando hukum KTI.
Namun, bukannya nada sambung yang terdengar, sebuah logo peringatan berwarna merah justru mendadak mengunci seluruh akses komunikasi tablet Hendra. Detik berikutnya, siaran berita darurat memotong paksa layar monitor utama di ruang perawatan tersebut.
BZZZZ...
Wajah seorang pembawa berita senior dari stasiun televisi internasional muncul dengan ekspresi tegang.
"Berita utama pagi ini. Komisi Tindak Integritas baru saja mengeluarkan pernyataan resmi yang mengejutkan. Dokumen data korporat yang diserahkan oleh Luminous Beauty kemarin siang kini dinyatakan sebagai barang bukti palsu yang sengaja direkayasa untuk menjatuhkan pesaing bisnis. Ketua komisi hukum KTI juga dikabarkan telah dinonaktifkan secara mendadak atas dugaan menerima suap Dari pihak Arsa Group."
Kamar perawatan itu seketika berubah menjadi sedingin es. Elena mundur satu langkah, wajah cantiknya memucat karena terkejut. "Apa... apa katanya? Barang bukti palsu? Ketua KTI dinonaktifkan?"
Belum sempat rasa terkejut itu reda, layar televisi berganti menampilkan cuplikan video amatir yang sengaja buram, memperlihatkan aksi baku tembak jip taktis Adrian di jalur selatan semalam. Narasi berita terus berjalan dengan kejam.
"Bukan hanya itu, Adrian Arsa kini resmi ditetapkan sebagai buronan wilayah atas tuduhan pemerasan hukum dengan menggunakan tentara bayaran ilegal di sektor selatan. Otoritas Pengawas Finansial telah membekukan seluruh aset taktis Arsa Group sampai waktu yang tidak ditentukan."
Pembunuhan karakter berskala masif telah diluncurkan. Dalam hitungan menit, faksi atas Syndicate membuktikan bahwa uang dan pengaruh mereka telah menyusup jauh ke dalam sistem hukum faksi pusat. Mereka telah membeli pejabat hukum tingkat tinggi untuk membalikkan fakta, menghancurkan reputasi Adrian dan Elena di mata publik dalam semalam.
Hendra menatap layar dengan tangan yang gemetar hebat. "Tuan Adrian... faksi atas... mereka sudah membeli orang dalam KTI. Seluruh gerbang keluar kompleks pabrik ini sekarang sedang dikepung oleh unit taktis otoritas hukum yang sudah disuap oleh mereka."
Elena menoleh ke arah Adrian, detak jantungnya berpacu liar. Untuk pertama kalinya, ia melihat dinding pertahanan hukum yang mereka bangun dengan susah payah justru runtuh akibat taktik suap musuh yang terlalu masif. Ini bukan lagi sekadar perang angka atau logistik. Mereka kini adalah buronan publik.
Namun, di tengah badai kepanikan yang mendadak melanda ruangan itu, Adrian justru memejamkan matanya perlahan. Napasnya teratur, dan saat ia kembali membuka mata, tidak ada rasa takut sedikit pun di sana. Hanya ada kilatan amarah predator yang kini makin pekat dan berbahaya.
Adrian melangkah maju, tangan kirinya bergerak cepat meraih pergelangan tangan Elena dengan remasan yang sangat kuat, protektif, dan posesif. Ia menarik tubuh Elena mendekat hingga dada mereka saling bersentuhan, menyalurkan seluruh sisa kehangatan dan kekuatan yang ia miliki langsung ke dalam tubuh istrinya yang mulai mendingin.
"Jangan melihat ke arah layar itu, Elena. Tatap mataku," bisik Adrian rendah, suaranya yang berat terdengar begitu tenang namun penuh dengan otoritas yang mutlak di tengah suara bising televisi. "Mereka pikir mereka bisa mengunci kita dengan hukum yang mereka beli. Mereka salah besar."
Elena mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap Adrian yang sedalam samudra. Di dalam dekapan suaminya, di tengah kehancuran reputasi mereka di dunia luar, entah mengapa rasa aman yang mutlak justru kembali merayap di hatinya. Ikatan kontrak di antara mereka kini terasa mengencang, berubah menjadi sebuah emosi nyata yang menuntut mereka untuk saling menjaga hidup satu sama lain.
"Kita akan keluar dari sini, Putri Kecil," ucap Adrian, matanya berkilat menantang badai yang sedang mengepung mereka. "Perang ini baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka menyentuhmu."
......BERSAMBUNG......