hidup dibayang-bayang kekuasaan dan perebutan warisan membuat gadis mungil harus bertahan bersikap arogan dan sombong ini bukan kemauan tapi menjaga diri dari saudara kandung dari ayahnya yang ingin merebut hak milik gadis itu, tapi semuanya sia-sia karena perjanjian hak waris yang ditulis oleh sang kakek bahwa warisan itu berada ditangan seorang pria yang cukup memiliki kekuasaan, dan perjanjian yang mengharuskan sang gadis menikahi nya.
apakah pernikahan yang dijodohkan akan bahagia atau malah membawanya kelubang luka yang dalam.
yuk mulai baca biar gak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khotimah04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. status kepemilikan yang sah
Suasana ruangan meeting sangat mencekam dan menengan kan,delisa yang duduk di kursi Presdir dengan pembawaan tenang tapi buat siapa pun menunduk takut termasuk beberapa orang yang Memang menentang delisa secara terang-terangan,
Alvaro hanya duduk santai menatap beberapa orang yang memberikan tatapan sinis pada istrinya,mungkin mereka pikir delisa hanya anak kemarin sore yang tidak tau apa-apa nyatanya delisa paham tentang struktur perusahaan yang selama ini dipegang oleh kakeknya, delisa cucu yang di percaya oleh kakek Artatama untuk memimpin perusahaan mana mungkin tidak tau bagaimana mana perusahaan ini beroperasi,maka dari itu kakek sangat mempercayakan perusahaan sepenuhnya pada delisa.
" apa yang kalian inginkan" nada yang cukup dingin dan penuh kewibawaan siapapun pasti yang mendengar tidak akan percaya bahwa delisa masih SMA,
" kami tidak setuju kalau perusahaan ini nona kelola mengingat nona masih SMA " ucap salah satu pemegang saham
Handoyo tersenyum senang karena bisa memengaruhi beberapa pemegang saham agar bisa menjatuhkan posisi delisa menjadi miliknya dia tidak perduli dengan ancaman tuan Adipati yang dia perduli kan hanya harta, kekayaan serta jabatan.
" alasan " ucap Alvaro menatap tajam sosok pria baru baya yang saat ini dengan terang-terangan mengakui tidak setuju,
" karena dia masih kecil dan lagi itu putusan sepihak dari tuan Artatama " ucap pemegang saham lainya yang juga tidak setuju
" sepihak??, sejak kapan kakek memutuskan hanya sepihak bukan kah kalian tau sejak awal kalau perusahaan ini akan diserahkan pada ku, lalu kenapa kalian tidak menolak saat kakek masih ada ?? " ucap delisa tatapan penuh kemenangan,beberapa orang mulai berbisik membenarkan ucapan delisa barusan,
" kami hanya menghargai keputusan tuan artatama" mengelak ucapan itu sangat tidak nyambung dengan kata lain mereka menghargai
" menghargai yang seperti apa?, dan lagi kalian juga tidak hak untuk mencampuri soal kepemimpinan karena semua ini hak kakek " ucap delisa tersenyum mengejek semua orang yang menentang dia,
" kami disini hanya ingin perusahaan tetap pada posisinya " ucapannya seakan menggebu membela diri merasa tidak salah
" bukan kah selama kepemimpinan Bayu semua tetap pada posisinya, dan kalian juga tau kalau saya hanya orang di balik layar, bagian mananya yang harus pada posisinya? " skamat ucapan delisa bak duri tajam di pendengaran mereka,
" ya seharusnya seperti itu,Bayu yang harusnya menduduki posisi Presdir bukan kamu" ucap Handoyo dengan nada kesal karena malah putranya yang terpilih untuk sementara menjadi pimpinan harusnya dia tapi dengan cara membela Bayu dia bisa mengambil simpati orang-orang disana,
" saat itu saya sedang tidak baik-baik saja dan anda tau itu paman,setelah kepergian orang yang pernah saya cintai lalu tidak lama kakek juga ikut pergi adalah pukulan cambuk bagi saya, Bayu hanya berusaha menjaga dan menstabilkan koneksi perusahaan agar tidak anjlok saat ditinggal kakek dan saya, lalu saya ingin kembali ke perusahaan kenapa kalian menentang keras?" ucap delisa tidak untuk menyalahkan Bayu tapi menurut delisa dia hanya menitipkan bukan untuk menyerahkan,
" kami hanya ingin perusahaan ini maju dan selalu makmur kalau kepemimpinan seorang laki-laki " ucap lantang seseorang yang nyatanya hanya memandang gender
" hei bapak tua memangnya ini jaman apa,kenapa harus laki-laki yang memimpin perusahaan apakah ada meragukan seorang wanita " ucap Alvaro yang sejak tadi hanya diam menahan setiap amarah, laki-laki yang berucap lantang yang menyimpulkan bahwa wanita tidak pantas memimpin tadi merasa marah atas sikap Alvaro yang mengatai dirinya tua,
" karena saya disini Ingin perusahaan terus sejahtera kalau dia yang memimpin belum tentu bisa terus diatas" ucap lelaki itu menggebu meluapkan kekesalannya,
" hahahaha pantas suami saya sampai mengatai anda tua ternyata pemikiran anda terlalu kolot dan tidak masuk akal " tawa dengan nada ejekan dari delisa membuat lelaki itu semakin murka,
" jaga ucapan kamu nona delisa,saya ini orang tua harusnya anda bisa bersikap sopan " ucap lelaki itu dengan marah
" kurang sopan apa saya sama anda, semua yang saya ucapkan itu benar kalau anda hanya memandang gender, anda tidak tau siapa yang selama ini membantu kakek mengurus semua perusahaan,bukan dia atau anda tapi saya,disaat perusahaan ini ada penurunan 1thn lalu siapa yang masih berada disisi kakek kalau bukan saya,malah anda yang saat itu angkat tangan dan tidak ingin tau,bukankah begitu " ucap telak delisa yang nyatanya benar, Handoyo yang semulanya yakin bisa merebut kekuasaan kini menjadi menciut karena sebagian orang mendukung keputusan delisa, mereka semua diam dengan menunduk kepala mendengar setiap kalimat yang sedikit melukai perasaan mereka.
" nona maaf saya lancang mencela ucapan anda, tapi apa yang dikatakan nona delisa benar kita wanita bisa berdiri dikaki kita masing-masing karena rasa percaya diri terhadap kemampuan yang selama ini kita miliki, dan saya sebagai wanita juga ikut tersinggung atas ucapan anda tuan Andika karena wanita juga punya hak sama dengan kalian para laki-laki " ucap wanita yang menyandang status sebagai direktur divisi keuangan
" bukan kah nona delisa sejak awal memang dilatih untuk mengurus semua perusahaan oleh tuan Artatama,pasti kalian tidak tau bagaimana nona delisa memenangkan tender perdagangan internasional saat umur nya masih 16 thn dan seenaknya kalian-kalian ini menuduh dia tidak mempuni " ucap wanita itu lagi menunjukan fakta yang nyata kepada mereka semua yang diam tanpa berkutik sedikit pun.
" mau bicara apa lagi silahkan kalau kalian ingin mengutarakan maksud kalian disini " ucap delisa menatap mereka dengan tajam,
" tidak nona itu sudah cukup saya disini ingin meminta maaf mewakili mereka semua, saya sebenarnya tidak mempermasalahkan siapa yang jadi pemimpin karena bagi saya perusahaan tetap maju dan berdiri tegak itu saja sudah cukup, mohon nona tetap pada posisi anda saat ini,terus terang saya mengagumi cara anda memimpin,dan saya yakin dengan kemampuan anda nona "ucap lelaki muda mungkin seusia dengan Alvaro yang menyandang status sebagai direktur divisi.
" terimakasih atas pujiannya,baiklah kalau tidak ada lagi kami berdua permisi untuk undur diri" ucap delisa berdiri dari tempat duduknya Alvaro juga mengikuti jejak istrinya,mereka segera melangkahkan kaki menjauh pergi dari ruang meeting.
Handoyo mengepal kuat tangannya ia benar-benar meremehkan delisa yang masih bocah,Handoyo harus memikirkan cara kembali untuk merebut perusahaan,
Saat delisa dan Alvaro keluar dari ruangan ia berpapasan dengan Melisa.
" hai kak Alvaro " sapa Melisa dengan nada yang dibuat menggoda, Malah itu membuat Alvaro jijik sendiri.
" setan kayak Lo gak bisa apa menghilang" ucap Alvaro pedas delisa terkikik geli dengan ucapan suaminya
" kok kak Alvaro gitu sih,aku sebenarnya kurang apa?, aku cantik dan sexy sebenarnya apa yang kak Alvaro cari dari delisa " ucap Melisa kesal
" jangan bandingkan istri saya sama Lo yang nyatanya cuman wanita murahan" ucap Alvaro setelah nya menarik pergelangan tangan delisa untuk segera pergi, Melisa menghentakkan kakinya sangat kesal karena ucapan yang mengatai dirinya murahan.