Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Malam itu, kediaman Widjaja diselimuti kesunyian yang semu. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan pepohonan yang menari ditiup angin malam. Di lantai dua, kamar Aurora tampak gelap, seolah sang penghuni sudah terlelap mimpi indah. Namun, realitanya sangat berbeda.
Dengan mengenakan piyama satin berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya, dan dibalut cardigan tipis, Aurora melangkah berjinjit menuruni tangga darurat di belakang dapur. Kakinya yang baru sembuh ia paksakan melangkah ringan, meski sesekali masih terasa kaku.
Di dekat gerbang samping menuju paviliun, sesosok pria dengan seragam safari gelap tampak berjaga sambil menyeruput kopi. Pak Bambang.
"Dimana dia?" tanya Aurora berbisik, muncul tiba-tiba dari balik semak hias.
Pak Bambang hampir saja menyemburkan kopinya. Ia mengelus dada, menatap Aurora dengan wajah cemas sekaligus gemas. "Aduh, Non! Bikin jantung saya mau copot saja. Kalau Bapak bangun gimana?"
"Papa sudah minum obat tidurnya, tenang saja. Haura juga asyik nonton drakor pakai headphone," Aurora menyengir lebar, matanya berkilat penuh tekad. "Jadi, Mas Langit di mana?"
Pak Bambang menghela napas, lalu menunjuk ke arah jendela paviliun yang masih memancarkan cahaya redup. "Tuh, Non. Baru saja selesai laporan jadwal buat besok. Bintang lagi ke minimarket depan beli rokok, jadi aman."
"Oke. Makasih Pak Bambang. Bapak emang paling the best!" Aurora memberikan jempol sebelum melesat cepat menuju pintu paviliun.
"Hati-hati, Non! Jangan berisik!" seru Pak Bambang pelan, menggelengkan kepala melihat tingkah nekat putri majikannya itu.
Di dalam paviliun, Langit baru saja melepas kemeja safarinya, menyisakan kaos dalam berwarna hitam yang melekat ketat di tubuh atletisnya. Ia sedang duduk di pinggir tempat tidur, memijat tengkuknya yang terasa kaku setelah seharian menghadapi tamu-tamu politik Anggara—terutama si Roni yang terus-menerus mencoba mendekati Aurora.
Tiba-tiba, pintu kamarnya yang tidak terkunci terbuka perlahan. Sesosok gadis menyelinap masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam.
Langit berdiri dengan sigap, insting ajudannya langsung aktif. Namun, begitu melihat siapa yang berdiri di sana, ia terpaku. "Non? Apa yang Anda lakukan di sini? Ini sudah jam sebelas malam!"
Aurora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melepaskan cardigan-nya, membiarkannya jatuh ke lantai, memperlihatkan piyama satin tipisnya yang mempertegas lekuk tubuhnya. Aroma parfum mawar dan vanila langsung memenuhi ruang sempit itu.
"Kenapa? Nggak boleh aku ke sini?" Aurora melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.
"Non, ini sangat berbahaya. Kalau Pak Bambang atau Bintang—"
"Pak Bambang yang bantuin aku ke sini," potong Aurora sambil meletakkan kedua tangannya di dada bidang Langit. Ia bisa merasakan detak jantung Langit yang berpacu kencang di bawah telapak tangannya. "Dan soal Roni tadi... Mas tahu nggak betapa bosannya aku dengerin dia pamer soal kuda-kuda mahalnya?"
Langit menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan intens Aurora. "Dia pria yang baik untuk masa depan Anda, Non. Bapak sangat menyukainya."
"Tapi aku nggak suka," bisik Aurora, jemarinya mulai merayap naik ke leher Langit, mempermainkan helai rambut pendek di tengkuk sang ajudan. "Aku cuma suka sama satu orang. Orang yang kaku, yang hobinya bilang 'siap', tapi kalau ciuman... bikin aku nggak bisa tidur."
"Aurora..." suara Langit terdengar parau, penuh dengan perjuangan antara logika dan nafsu yang mulai merayap naik.
"Panggil aku Aurora lagi, Mas. Tanpa 'Non'," tantang Aurora. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Langit, memberikan hembusan napas hangat yang membuat Langit merinding. "Jangan jadi robot malam ini. Jadilah Mas Langit-ku."
Pertahanan Langit yang dibangun bertahun-tahun lewat kedisiplinan militer runtuh seketika. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Tangannya yang besar dan kasar melingkar kuat di pinggang Aurora, menarik gadis itu hingga tubuh mereka tidak memiliki celah sedikit pun.
"Anda benar-benar nakal, Aurora," gumam Langit sebelum menundukkan kepalanya, menyambar bibir Aurora dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dan panas dibandingkan di lobi tempo hari.
Aurora membalas ciuman itu dengan penuh gairah, tangannya meremas rambut Langit, menarik pria itu semakin dalam. Rasa rindu, rasa cemburu karena Roni tadi siang, dan ketegangan rahasia mereka meledak dalam satu momen. Langit mengangkat tubuh Aurora, mendudukkannya di atas meja kerja yang penuh dengan berkas jadwal, mengabaikan suara kertas yang berhamburan.
Ciuman itu turun ke leher Aurora, membuat gadis itu mendesah pelan. "Mas..."
"Saya sudah memperingatkan Anda, ini bukan permainan," bisik Langit di ceruk leher Aurora, suaranya rendah dan penuh gairah yang tertahan. Tangannya merambat naik di atas permukaan satin yang licin, memberikan sensasi terbakar di kulit Aurora.
Aurora memejamkan mata, kepalanya tertengadah. "Ini bukan permainan, Mas. Aku serius. Aku milik kamu malam ini."
Langit menatap mata Aurora yang berkabut oleh gairah. Di bawah cahaya lampu neon yang remang, Aurora tampak seperti dewi yang turun untuk menghancurkan seluruh prinsip hidupnya. Dan Langit sama sekali tidak keberatan untuk hancur malam ini.
Ia kembali mencium Aurora, kali ini lebih lembut namun penuh penguasaan. Tangan Langit yang terbiasa memegang senjata kini memperlakukan tubuh Aurora dengan kelembutan yang memabukkan. Setiap sentuhannya seolah mengklaim bahwa gadis ini adalah miliknya, terlepas dari apa pun status sosial mereka.
Beberapa saat kemudian, suasana di kamar itu hanya diisi oleh suara napas yang terengah dan detak jam dinding yang berdetak pelan. Aurora bersandar di dada Langit, mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai stabil.
"Mas..." panggil Aurora lirih.
"Hmm?" Langit mengusap bahu Aurora, menyelimuti gadis itu dengan kaosnya yang ia lepaskan tadi.
"Jangan pernah kasih aku ke Roni ya? Jangan pernah biarin Papa jodohin aku sama siapa pun."
Langit mengecup puncak kepala Aurora. "Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengambil kamu, Aurora. Meski saya harus melawan dunia, atau bahkan melawan Papa kamu sendiri."
Aurora tersenyum puas, memeluk Langit lebih erat. Malam itu, di paviliun ajudan yang sederhana, mereka telah melampaui batas yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Rahasia mereka kini semakin dalam, semakin berbahaya, namun juga semakin manis untuk dijalani.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah luar, disusul suara siulan Bintang yang baru pulang dari minimarket.
"Bang Langit! Belum tidur? Ini martabaknya dapet nih!" teriak Bintang dari ruang depan.
Aurora langsung terbelalak kaget, sementara Langit dengan sigap membantu Aurora turun dari meja dan memberikan cardigan-nya.
"Sembunyi di balik lemari. Cepat!" bisik Langit panik.
Aurora terkekeh pelan melihat wajah panik "Mas Woo-seok"-nya, namun tetap menuruti perintah itu. Sementara Langit dengan cepat mengenakan kembali kaosnya, bersiap menghadapi interupsi sang rekan kerja dengan jantung yang masih berdebar kencang karena sisa-sisa kebersamaan mereka yang panas.