NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon ratu yang angkuh

Kemeriahan pesta di alun-alun itu akhirnya usai. Satu per satu warga mulai membubarkan diri, menyisakan debu yang beterbangan di bawah temaram lampu jalan.

Nayan menoleh ke sekeliling dengan cemas, matanya mencari sosok Cakra yang tak kunjung kelihatan.

"Ke mana perginya Cakra? Apa perutnya sesakit itu sampai dia tidak kembali lagi?" gumam Nayan gelisah.

"Kakak... ayo kita pulang," ajak Ana sambil menarik pelan ujung baju Nayan. Wajah gadis kecil itu tampak letih setelah seharian penuh antusias mengikuti festival.

Nayan mengulas senyum tipis, lalu menangkup wajah Ana dengan lembut. "Baiklah, ayo kita pulang."

Nayan menggandeng tangan Ana erat. Namun, di tengah kerumunan yang masih padat, pegangan Ana terlepas. Gadis kecil itu tak sengaja menabrak seseorang hingga jatuh tersungkur. Akibatnya, siku Ana tergores tanah dan mulai mengeluarkan darah.

"Dasar bocah sialan! Di mana matamu?!" bentak sebuah suara melengking. Rupanya, Rani-lah yang baru saja ditabrak oleh Ana.

Nayan yang melihat itu langsung sigap membantu Ana berdiri, mengusap debu dari luka di pergelangan sikunya . Sementara itu, Ana hanya bisa terisak ketakutan melihat sorot mata Rani yang melotot tajam ke arahnya.

"Maaf, Nona. Lain kali aku akan menjaganya dengan lebih baik." ucap Nayan sambil membungkuk sedikit.

Dalam hati, Nayan merasakan gejolak amarah. Sebagai Sedra, ia sangat membenci penindasan seperti ini.

"Sepertinya dia seorang bangsawan, tapi sifatnya kasar dan angkuh sekali.." batin Nayan sembari menelisik sosok Rani dari ujung kaki hingga kepala.

"Minta maaf katamu?!" Rani berkacak pinggang, wajahnya memerah padam. "Apa kau buta? Kau tidak lihat gaunku kotor gara-gara anak bodoh ini?"

Nayan mengepalkan tangannya dengan kuat . Kesabarannya pun sudah mulai menipis . ingin rasanya dia membungkam mulut wanita sombong di hadapannya itu.

"Sekali lagi kami minta maaf, Nona. Nona pasti memiliki hati yang luas sehingga tidak akan memperpanjang urusan sepele ini." ujar Nayan, mencoba tetap tenang meski suaranya terdengar dingin.

Rani justru semakin meradang. "Apa kau tidak tahu siapa aku, hah?! Aku ini calon istri Pangeran Selatan! Aku akan menjadi ratu di kerajaan ini! Kau pikir aku akan melepaskan orang rendahan seperti kalian begitu saja?"

Keributan itu akhirnya memancing perhatian Permaisuri Suhita yang melangkah mendekat.

"Ada apa ini, Putri? Kenapa kau terlihat begitu murka?" tanya Suhita lembut namun berwibawa.

Seketika, ekspresi Rani berubah drastis. Wajah angkuhnya lenyap, berganti dengan raut memelas yang sangat dramatis.

"Bunda Ratu... coba lihat ini ." adu Rani sambil menunjukkan noda di gaunnya dengan suara yang dibuat bergetar. "Gaun kesayanganku rusak..."

Rani segera melancarkan aksinya sebagai korban. Wajahnya yang semula garang berubah total di hadapan permaisuri, matanya kini berkaca-kaca, seolah dia adalah pihak yang paling teraniaya dalam kejadian ini.

"Bunda Ratu...," ucap Rani dengan nada suara yang sengaja dibuat gemetar.

"Anak ini tadi tidak sengaja menabrakku sampai terjatuh. Tentu saja aku tidak marah, aku justru merasa kasihan dan mencoba menolongnya untuk berdiri."

Rani melirik sekilas ke arah Nayan dengan tatapan tajam yang tersembunyi, lalu kembali menatap Permaisuri dengan raut wajah memelas.

"Tapi... saat aku ingin membantunya, ibunya datang dan malah memaki-makiku Bunda. Dia menuduhku yang tidak tidak . Aku sungguh tidak menyangka niat baikku akan dibalas dengan perlakuan sekasar ini." lanjut Rani sembari menyembunyikan wajah di balik punggung tangan, berpura-pura terisak.

Nayan yang mendengar kebohongan itu hanya bisa terpaku. Ia meremas kuat pada ujung jubah kusamnya, menahan gejolak amarah yang hampir meledak. Ia tak menyangka ada manusia yang bisa memutarbalikkan fakta secepat dan selicin itu. Kelakuan wanita di depannya ini benar-benar menyulut jiwa Sedra yang terpendam dalam dirinya. Amarahnya mendidih, namun ia harus tetap menahan diri.

" Wanita seperti ini ingin jadi ratu? Akan jadi apa kerajaan ini nanti ? " batin Nayan sinis.

" Dia benar-benar sebelas dua belas dengan Pangeran Elias sama sama licik dan manipulatif. " Nayan terus mengumpat dalam hati .

Permaisuri Suhita tampak mengamati situasi sejenak. Ia menyadari kerumunan mulai memperhatikan mereka. Dengan suara rendah, ia berbisik ke telinga Rani.

"Pergilah, Putri. Biar aku yang mengurus sisanya."

"Tapi, Yang Mulia Ratu..." Rani mencoba memprotes, namun tatapan Suhita memberinya isyarat tegas agar segera patuh.

Dengan langkah angkuh, Rani akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Suhita kini melangkah mendekati Nayan dan Ana. Ia memperhatikan keduanya dari ujung kaki hingga kepala dengan sorot mata yang menyiratkan sedikit penghinaan.

"Ini, ambillah.." ucap Suhita dingin sembari melemparkan sebungkus kain berisi beberapa uang koin ke tanah, tepat di depan kaki Nayan.

"Anggap saja kau tidak pernah melihat kejadian tadi. Jangan sampai ada gosip miring tentang Putri Rani yang tersebar ke telinga rakyat."

Nayan berdecak pelan, sebuah senyum kecut tersungging di bibirnya. Ia melihat bungkusan uang itu sebagai penghinaan terhadap harga dirinya.

"Jadi begini cara seorang bangsawan tinggi menyelesaikan masalah?" gumam Nayan pelan namun tajam.

Ia membungkuk, mengambil bungkusan koin itu, lalu melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan Suhita. Sorot matanya kini menatap sang Permaisuri dengan tajam tanpa rasa takut sedikit pun.

"Nyonya... dengan meminta maaf, seseorang tidak akan menjadi tinggi ataupun rendah, dan yang memaafkan hatinya pasti mulia ." ujar Nayan dengan suara yang tenang namun menusuk.

"Tapi jika di lingkungan Anda hukum seperti itu tidak berlaku... maka aku tidak akan mau menerima ini."Nayan meraih tangan Suhita, lalu meletakkan bungkusan uang itu kembali ke telapak tangan sang Permaisuri.

"Ambil kembali uang Anda. Kami tidak membutuhkannya."

Rahang Suhita seketika mengeras. Jemarinya mengepal kuat di balik lengan baju kebesarannya, merasa terhina oleh perlakuan berani wanita di hadapannya.

"Kau hanyalah rakyat rendahan ! " desis Suhita dengan nada rendah yang sarat akan amarah. "Berani sekali kau menghinaku?"

Alih-alih gemetar ketakutan, Nayan justru terlihat sangat tenang. Sebuah senyum tipis bahkan tersungging di wajahnya, menunjukkan ketangguhan mental yang tak tergoyahkan.

"Saya tidak pernah menghina siapa pun, Nyonya. Saya hanya mengatakan apa yang menurut saya benar." sahut Nayan tenang.

"Dan karena Anda adalah Permaisuri Agung, tentu saja saya sangat menghormati posisi Anda."

Nayan membungkuk hormat sekilas."Mohon maaf karena telah menimbulkan kekacauan Nyonya , kami permisi."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Nayan segera menuntun Ana menjauh dari tempat itu, meninggalkan sang Permaisuri yang masih terpaku.

Suhita menatap tajam punggung Nayan yang perlahan menghilang di balik kerumunan. Baru kali ini ada seorang jelata yang berani melontarkan kata-kata semenusuk itu tepat di hadapannya. Namun, kemarahan Suhita perlahan mereda, berganti dengan perenungan yang sunyi. Ia menyadari bahwa kata-kata wanita tadi tidak sepenuhnya salah. Dan yang lebih mengherankannya lagi, wanita itu sama sekali tidak silau oleh uang.

" Sepertinya aku memang harus lebih mendisiplinkan Putri Rani ." batin Suhita.

"Selama ini aku terlalu memanjakannya. Jangan sampai Raja ataupun Cakra tahu tentang kelakuannya hari ini, atau Cakra akan semakin keras kepala dan menolak untuk menikahi Rani."

Bersambung....

🦐🦐🦐🦐

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!