Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sehelai Daun Melawan Embun Beku
Udara di sekitar mereka seolah membeku. Gemericik air terjun menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Wajah Liu Xue'er yang biasanya sedingin es kini memucat karena amarah. Di seluruh Kota Awan Angin, dialah sang jenius yang dipuja, sang peri yang tak tersentuh. Kapan pernah ada orang yang berani menyuruhnya enyah? Terlebih lagi, orang itu adalah Lin Feng, mantan tunangannya yang ia anggap lebih rendah dari debu.
"Kau... mencari mati."
Tiga kata dingin keluar dari bibir merahnya. Kemarahan di matanya begitu kuat hingga energi spiritual di sekitarnya menjadi tidak stabil. Tanpa ragu, dia mengangkat tangan kanannya yang ramping. Jari telunjuknya yang seputih giok menunjuk ke arah Lin Feng.
Udara di ujung jarinya dengan cepat mengembun, membentuk serpihan es kecil. Hawa dingin yang menusuk tulang menyebar, membuat embun di daun bambu langsung membeku.
"Jari Embun Beku!"
Ini adalah salah satu teknik andalannya, sebuah seni bela diri tingkat tinggi yang bisa membekukan energi spiritual dan meridian lawan. Dia tidak berniat membunuh Lin Feng, tetapi dia akan membuatnya merasakan penderitaan karena membeku dari dalam, sebuah pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Swish!"
Sebuah sinar putih kebiruan, secepat kilat, melesat dari ujung jarinya, lurus menuju Dantian Lin Feng. Dia ingin melumpuhkan kultivasinya sekali lagi.
Para penonton, jika ada, pasti akan melihat pemandangan di mana Lin Feng tidak memiliki kesempatan sama sekali. Perbedaan kekuatan antara tingkat tiga dan tingkat enam terlalu besar, bagaikan langit dan bumi.
Namun, menghadapi serangan yang bisa melumpuhkan kultivator tingkat lima dengan mudah ini, Lin Feng bahkan tidak beranjak dari posisi duduknya.
Ekspresinya tetap acuh tak acuh. Di matanya, serangan Liu Xue'er memang cepat dan kuat, tetapi kontrol energinya masih terlalu mentah.
Saat sinar es itu hanya berjarak beberapa meter darinya, Lin Feng akhirnya bergerak.
Gerakannya sangat sederhana dan santai. Dia mengulurkan dua jarinya, memetik sehelai daun bambu yang melayang di dekatnya, dan dengan jentikan pergelangan tangan yang ringan, dia melemparkannya ke depan.
Daun bambu hijau itu berputar di udara. Selama sepersekian detik, daun itu tampak bersinar dengan cahaya emas yang sangat redup, hampir tak terlihat, sebelum kembali normal. Itu adalah jejak Qi Kekacauan yang disalurkan Lin Feng ke dalamnya.
"Ting!"
Sebuah suara renyah yang aneh terdengar.
Pemandangan yang tidak akan dipercaya oleh siapa pun terjadi. Daun bambu yang rapuh itu bertabrakan tepat di ujung sinar es.
Sinar "Jari Embun Beku" yang kuat itu bergetar hebat, lalu seperti kaca yang retak, sinar itu hancur berkeping-keping, lenyap menjadi bintik-bintik cahaya dingin sebelum menguap di udara.
Daun bambu itu, setelah menghancurkan serangan kuat tersebut, kehilangan momentumnya dan jatuh dengan lembut ke tanah di depan Lin Feng, masih utuh dan berwarna hijau cerah.
Liu Xue'er membeku. Matanya yang indah membelalak karena syok dan tidak percaya.
Bagaimana... Bagaimana ini bisa terjadi?
Serangan kekuatan penuhnya... dihancurkan oleh sehelai daun?
"Tidak mungkin! Ini pasti kebetulan! Kau pasti menggunakan semacam harta karun pertahanan!" serunya, suaranya sedikit meninggi karena panik. Ini adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal di benaknya.
Rasa kagetnya dengan cepat berubah menjadi penghinaan yang lebih besar. Sampah ini tidak hanya berani melawannya, tetapi juga menggunakan cara-cara licik untuk mempermalukannya!
"Aku akan melihat harta apa yang bisa menyelamatkanmu kali ini!"
Kali ini, dia tidak lagi menyerang dari jarak jauh. Tubuhnya yang anggun melesat maju seperti bayangan putih, kecepatannya jauh melebihi apa yang bisa ditandingi oleh ahli Penempaan Tubuh biasa. Dalam sekejap, dia sudah berada di depan Lin Feng.
Telapak tangannya yang seputih giok, kini diselimuti oleh lapisan es tebal, menghantam lurus ke arah dada Lin Feng. "Telapak Es Misterius!"
Serangan ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Hawa dingin yang ekstrim membuat tanah di sekitar Lin Feng mulai membeku.
Namun, tepat saat telapak tangannya hanya berjarak beberapa sentimeter dari dada Lin Feng... sosok Lin Feng tiba-tiba kabur dan lenyap.
"Apa?!"
Liu Xue'er terkejut. Serangannya menghantam udara kosong. Ke mana dia pergi?
"Kecepatanmu... terlalu lambat."
Sebuah suara tenang terdengar tepat dari belakangnya.
Jantung Liu Xue'er serasa berhenti berdetak. Dia berbalik dengan ngeri. Lin Feng kini berdiri sekitar lima meter di belakangnya, di posisi di mana dia berdiri beberapa detik yang lalu. Dia bahkan tidak tahu kapan atau bagaimana Lin Feng bergerak!
Gerakan itu bukanlah teknik kecepatan, melainkan pemanfaatan sempurna dari waktu dan ruang, sebuah konsep yang berada jauh di luar pemahaman seorang kultivator di dunia fana ini.
Liu Xue'er menatap Lin Feng dengan tatapan yang sama sekali baru. Tidak ada lagi penghinaan atau cemoohan. Yang ada hanyalah keterkejutan yang mendalam, kebingungan, dan jejak ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Pria di depannya ini... sama sekali bukan Lin Feng yang ia kenal.
"Kau... siapa kau sebenarnya?" tanyanya, suaranya bergetar untuk pertama kalinya.
Lin Feng menatapnya dengan dingin. Dia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan dari seseorang yang telah mengkhianati kepercayaan pemilik tubuh ini.
"Kompetisi Klan dua minggu lagi," kata Lin Feng dengan suara datar, seolah memberikan ultimatum. "Jika kau bertemu denganku di atas panggung, menyerahlah. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika wajah cantikmu itu terluka."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, yang bagi Liu Xue'er terdengar lebih arogan daripada apa pun yang pernah ia dengar, Lin Feng tidak tinggal lebih lama. Dia berbalik dan dengan beberapa lompatan ringan, sosoknya menghilang ke dalam hutan bambu, meninggalkannya sendirian di puncak yang sunyi itu, pikirannya dalam kekacauan total.