NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27: Rencana Jahat yang Terlaksana dan Bayangan Kesalahan

Malam itu, langit Eldoria tertutup oleh awan tebal yang menyembunyikan bulan-bulan yang biasanya bersinar terang. Udara terasa dingin dan penuh dengan ketegangan yang tidak bisa dijelaskan. Leonard telah bekerja lembur di ruang kerja untuk menyelesaikan dokumen penting tentang kerja sama dengan dunia manusia, sementara Alexandria sedang mengantar Darius tidur di kamar anaknya.

"Sampai jumpa besok pagi, Ayahku yang paling baik!" ucap Darius dengan senyum lebar saat Leonard mencium dahinya.

"Selamat tidur, anakku yang terbaik," jawab Leonard dengan penuh cinta. "Semoga mimpi indah ya."

Setelah memastikan Darius telah tertidur nyenyak, Leonard kembali ke kamar utamanya untuk istirahat. Tubuhnya merasa sangat lelah setelah bekerja seharian penuh, sehingga ia langsung mengambil segelas anggur dari meja sisi tempat tidur dan meminumnya dengan cepat sebelum berbaring di tempat tidur yang besar.

Namun apa yang tidak ia ketahui, pelayan Marta—yang telah disogok oleh Seraphina—telah menyelinap masuk ke kamar beberapa menit sebelumnya dan menambahkan cairan khusus ke dalam gelas anggurnya. Cairan itu adalah obat bius perangsang yang dibuat dari ramuan haram yang bisa membuat orang yang meminumnya merasa sangat lelah namun juga meningkatkan hasrat secara tidak wajar.

Setelah beberapa menit, efek obat mulai bekerja pada tubuh Leonard. Ia merasa kepalanya mulai pusing dan tubuhnya merasa sangat panas. Ia mencoba untuk berdiri dan memanggil pelayan, tapi kekuatan sepertinya keluar dari tubuhnya secara perlahan. Saat ia hampir kehilangan kesadaran, pintu kamar terbuka perlahan dan sosok seorang wanita muda masuk dengan hati-hati.

Wanita itu bernama Liana—seorang gadis muda dari desa kecil yang telah direkrut dan dibayar mahal oleh Seraphina untuk memainkan peran penting dalam rencananya. Dia mengenakan gaun tidur yang tipis dan menutupi wajahnya dengan syal tipis saat masuk ke kamar.

Menurut instruksi Seraphina, Liana berjalan dengan hati-hati ke arah tempat tidur dan berbaring di samping Leonard yang sudah hampir tidak sadarkan diri. Dia kemudian melepas syal dari wajahnya dan mulai membuat tanda-tanda kesalahan pada kamar—melemparkan baju ke lantai, menyebarkan rambutnya di bantal, dan bahkan menusuk sedikit tangannya untuk membuat noda darah kecil di seprai putih.

"Sekarang tunggu saja sampai pagi hari," bisik Liana dengan suara rendah, lalu menutup matanya seolah sedang tidur nyenyak di sisi Leonard.

Sementara itu, Seraphina sendiri sedang mengawasi dari balik tirai jendela kamar. Dia telah menyusun segala sesuatu dengan sangat cermat, bahkan telah menyuruh salah satu pelayan muda untuk secara tidak sengaja memberi tahu Alexandria bahwa ada sesuatu yang tidak beres di kamar suaminya.

"Yang Mulia Ratu," ucap pelayan muda dengan suara yang tampak khawatir saat menemui Alexandria yang sedang membaca buku di ruang tamu.

"Saya rasa ada sesuatu yang tidak beres di kamar Yang Mulia Raja. Aku melihat seorang wanita masuk ke sana dan tidak keluar sampai sekarang..."

Alexandria merasa hati nya seperti tertusuk tajam mendengar kata-kata itu. Ia tidak mau mempercayainya, tapi rasa curiga dan kekhawatiran mulai muncul dalam dirinya. Dengan hati yang berdebar kencang, dia berjalan perlahan menuju kamar utama mereka, diiringi oleh pelayan muda itu.

Ketika mereka sampai di depan pintu kamar, suara yang terdengar dari dalam membuatnya semakin pusing, suara napas yang berat dan suara bisikan yang tampak penuh hasrat. Tanpa berpikir panjang, Alexandria membuka pintu kamar dengan cepat, dan apa yang dilihatnya membuat dunia nya seolah runtuh berkeping-keping.

Di tempat tidur besar mereka, Leonard sedang terbaring tanpa sadarkan diri dengan tubuh yang hanya tertutup seprai tipis. Di sisinya, seorang wanita muda dengan rambut kusut dan tubuh terbuka sebagian sedang terbaring dengan wajah yang tampak puas. Seprai putih yang biasanya rapi kini kusut dan terdapat noda darah kecil yang jelas terlihat.

"Leo... apa ini..." bisik Alexandria dengan suara yang penuh dengan rasa sakit dan kecewa. Air mata mulai mengalir deras dari matanya, namun dia tidak bisa bergerak dari tempatnya.

Liana yang seolah baru terbangun dengan kaget segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu menangis dengan suara yang terdengar sangat bersalah.

"Maafkan saya, Yang Mulia Ratu... saya tidak bisa menolak... Yang Mulia Raja memaksa saya..."

Alexandria tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia berbalik dan berlari keluar dari kamar dengan menangis kesakitan, tidak peduli Leonard yang mulai sadar dan memanggil namanya dengan suara yang lemah.

"Alex! Tunggu... aku tidak tahu apa yang terjadi..." panggil Leonard dengan suara yang masih sedikit kabur akibat efek obat. Namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk mengejarnya.

Seraphina yang melihat semua itu dari kejauhan tersenyum dengan puas. Rencana pertamanya telah berhasil dengan sempurna, Alexandria merasa terluka dan kecewa, sementara Leonard akan kesulitan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Sekarang hanya tinggal menunggu langkah berikutnya," gumamnya dengan senyum jahat, lalu menyelinap pergi sebelum siapapun menyadari keberadaannya.

Alexandria berlari ke kamar anaknya, menangis penuh kesakitan sambil memeluk Darius yang masih tertidur nyenyak. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dilihatnya, bagaimana bisa Leonard, pria yang selalu mencintainya dengan sepenuh hati, melakukan hal seperti itu padanya?

"Kenapa ini bisa terjadi, Leo..." bisiknya dengan suara yang merengek, air mata terus mengalir ke pipinya yang pucat. "Aku selalu percaya padamu..."

Di kamar utama, Leonard akhirnya berhasil bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang masih merasa lemah dan pusing. Dia melihat sekeliling kamar yang berantakan dan gadis muda yang sedang menangis di sudut kamar. Kemudian ingatan tentang gelas anggur yang diminumnya tiba-tiba muncul dalam benaknya.

"Aku telah ditipu..." bisiknya dengan suara penuh amarah dan kesedihan.

Dia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu terhadap Alexandria jika dalam kondisi sadar penuh.

Dia segera memanggil panglima pasukan pribadinya, Marcus, dengan suara yang penuh dengan tekad.

"Marcus! Segera kawal gadis ini dan selidiki semua yang terjadi malam ini! Jangan biarkan siapapun keluar dari istana sampai kita menemukan tahu siapa yang berada di balik semua ini!"

Marcus yang datang dengan cepat melihat kondisi kamar dan wajah Leonard yang penuh dengan kesedihan serta amarah.

"Tentu saja, Yang Mulia Raja. Saya akan segera menyelidiki semua dan menemukan siapa yang bertanggung jawab!"

Namun sementara penyelidikan sedang dilakukan, berita tentang apa yang terjadi malam itu sudah mulai menyebar ke seluruh istana dengan kecepatan yang luar biasa. Para pelayan dan pegawai istana mulai berbisik-bisik, dan rasa hormat yang mereka miliki terhadap kerajaan mulai sedikit goyah.

Alexandria sendiri tidak bisa tidur sepanjang malam. Dia menghabiskan waktu dengan memeluk Darius dan menatap foto kenangan mereka bersama Leonard yang ada di meja anaknya. Hatinya penuh dengan rasa sakit dan kebingungan, apakah semua cinta dan kepercayaan yang mereka bangun selama ini hanya sebuah ilusi belaka?

"Sekarang apa yang harus kulakukan, Leo..." bisiknya dengan suara yang penuh dengan keputusasaan.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!