NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Suara mesin motor tua Agus membelah kesunyian gang sempit menuju rumahnya. Di sepanjang jalan pulang, Agus tidak berhenti menghirup aroma yang tertinggal di lengan kemeja biru tuanya. Itu bukan aroma debu semen, bukan pula aroma keringatnya sendiri. Itu adalah sisa-sisa aroma tubuh Nor Rahma perpaduan vanila dan lavender yang lembut. Aroma itu terasa sangat asing di tengah lingkungan pemukiman padat yang berbau sampah basah dan asap kayu bakar. Untuk beberapa saat, Agus merasa seolah-olah ia masih berada di taman kota, duduk di samping wanita yang begitu bersih dan anggun.

Namun, semakin dekat ia dengan pintu rumahnya yang miring, semakin cepat pula khayalan itu memudar. Lampu jalan di depan rumahnya mati, menyisakan kegelapan yang pekat. Hanya ada satu titik cahaya kuning redup dari jendela ruang tengah. Agus mematikan mesin motornya, menyandarkannya pada batang pohon mangga yang kering, dan menarik napas panjang. Ia merapikan kemejanya yang kini terasa sangat gerah.

Saat ia melangkah masuk, bau minyak kayu putih dan aroma apek dari kain-kain tua langsung menyambut indra penciumannya. Tidak ada lagi wangi vanila. Yang ada hanyalah realita yang menyesakkan.

"Gus? Kamu sudah pulang?" suara ibu agus terdengar karau dari arah kamar belakang.

"Sudah, Bu," jawab Agus pelan. Ia meletakkan helmnya di atas meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas.

Ibu agus keluar dengan wajah yang tampak lelah. Matanya merah dan sembap. Ia berjalan mendekati Agus sambil menyeka tangannya ke kain sarung yang ia gunakan sebagai selendang. "Bapakmu, Gus... tadi sore setelah kamu berangkat, batuknya tidak berhenti-berhenti. Sampai badannya menggigil hebat."

Jantung Agus yang tadi berdegup kencang karena jatuh cinta, kini berdegup karena ketakutan. "Sekarang bagaimana kondisi Bapak, Bu? Sudah diminumkan obat yang Agus beli kemarin?"

"Sudah, tapi sepertinya sudah tidak mempan lagi. Bapakmu tadi sampai sesak napas. Ibu mau panggil kamu, tapi Ibu tidak tahu kamu di mana. Ibu hanya bisa menggosokkan minyak kayu putih ke dadanya," ucap ibu agus dengan suara bergetar.

Agus segera melangkah menuju ruang tengah. Di sana, bapak agus terbaring di atas kursi panjang kayu dengan selimut berlapis-lapis. Wajah ayahnya terlihat sangat pucat di bawah sinar lampu yang remang-remang. Napasnya terdengar pendek dan berat, disertai bunyi ngik yang memilukan di setiap tarikan udaranya. Bibir bapak agus sedikit membiru, menandakan oksigen tidak mengalir dengan baik di tubuhnya yang sudah ringkih itu.

"Pak..." Agus berlutut di samping kursi itu. Ia memegang tangan ayahnya yang terasa sangat dingin dan kering seperti kulit kayu.

Bapak agus membuka matanya sedikit. Ia mencoba tersenyum, namun yang keluar justru suara batuk yang tertahan di tenggorokan. "Sudah... pulang, Gus?" bisiknya nyaris tak terdengar.

"Sudah, Pak. Bapak kenapa tidak bilang kalau sesak begini? Kita ke Puskesmas sekarang ya?" tanya Agus dengan nada cemas yang memuncak.

Bapak agus menggelengkan kepalanya perlahan. "Nggak usah... mahal. Besok juga... sembuh sendiri."

"Jangan bicara soal uang dulu, Pak. Yang penting Bapak bisa napas enak," Agus berdiri, menoleh ke arah ibunya. "Bu, tolong siapkan kain bersih dan air hangat. Agus mau minta tolong Lukman buat antar pakai motornya ke klinik yang buka dua puluh empat jam di depan jalan raya. Motor Agus lampunya mati, bahaya kalau jalan malam begini."

Ibu agus segera bergerak menuju dapur. Sementara itu, Agus terdiam berdiri di tengah ruangan. Ia merogoh sakunya. Di sana masih ada sisa uang lembur yang ia simpan untuk modal pertemuan selanjutnya dengan Rahma. Uang itu jumlahnya tidak seberapa, mungkin hanya sekitar tujuh puluh ribu rupiah. Ia juga teringat uang sepuluh ribu yang diberikan ibunya tadi sore.

Ia mengeluarkan uang-uang itu dari sakunya. Uang kertas yang kumal dan sedikit basah karena keringatnya. Ia menatap uang itu dengan perasaan hancur. Di satu sisi, ia ingin menyimpan uang itu untuk membangun rencana masa depan seperti yang diminta Rahma. Di sisi lain, ayahnya sedang bertaruh nyawa di hadapannya.

“Tunjukkan padaku bahwa Mas Agus punya rencana nyata untuk keluar dari pekerjaan di gudang material itu.”

Kalimat Rahma terngiang kembali di telinganya. Rahma ingin ia maju, Rahma ingin ia memiliki tabungan, Rahma ingin ia memiliki martabat sebagai laki-laki yang mapan. Namun, bagaimana ia bisa membangun martabat jika dasarnya saja selalu goyah oleh kemiskinan?

Tak lama kemudian, Lukman, tetangga sebelah rumah, datang dengan motornya. Bersama Agus, mereka membopong bapak agus yang badannya terasa sangat ringan, seolah-olah hanya tinggal tulang dan kulit. Di atas motor, Agus memegangi tubuh ayahnya dari belakang, memastikan bapaknya tidak jatuh. Angin malam yang dingin menusuk pori-pori, namun Agus tidak merasakannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, Berapa biaya klinik nanti?

Sesampainya di klinik kecil di pinggir jalan raya, Bapak agus segera dibawa ke ruang pemeriksaan. Seorang perawat memasangkan selang oksigen ke hidung bapak agus. Agus berdiri di depan pintu ruang periksa, bersandar pada dinding cat putih yang sudah mengelupas. Ia melihat ke arah tangannya. Masih ada noda hitam di bawah kuku, sisa kerja di gudang yang belum bersih benar meskipun ia sudah mandi tadi sore.

Seorang dokter muda keluar setelah memeriksa bapak agus. "Keluarga bapak agus?"

"Saya anaknya, Dok," jawab Agus sigap.

"Bapak Anda mengalami infeksi paru-paru yang cukup serius. Napasnya sesak karena ada penumpukan cairan. Untuk sementara kami berikan bantuan oksigen dan uap untuk mengencerkan dahak. Tapi saran saya, Bapak sebaiknya dirujuk ke rumah sakit umum agar bisa rontgen dan mendapat perawatan lebih lengkap," jelas dokter itu dengan nada datar, seolah-olah berita buruk itu adalah hal biasa baginya.

Agus menelan ludah. "Kalau di sini saja dulu bagaimana, Dok? Berapa biayanya untuk malam ini?"

Dokter itu melihat ke arah catatan medis. "Untuk pemeriksaan, oksigen, dan tindakan uap, totalnya seratus lima puluh ribu rupiah. Itu belum termasuk obat-obatan yang harus ditebus di apotek."

Dunia Agus serasa runtuh. Seratus lima puluh ribu. Ia hanya punya delapan puluh ribu di sakunya. Ia harus mencari tujuh puluh ribu lagi hanya untuk membayar biaya malam ini, belum lagi obatnya, belum lagi biaya rumah sakit jika ayahnya harus dirujuk.

Ia duduk di kursi tunggu klinik yang keras. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak. Ada satu notifikasi pesan masuk.

Nor Rahma: "Mas Agus, terima kasih ya buat hari ini. Aku senang bisa mengobrol banyak. Jangan lupa kabari aku kalau Mas sudah sampai rumah."

Agus menatap pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin membalas. Ia ingin bercerita bahwa ia sedang di klinik, bahwa ayahnya sedang sakit, bahwa ia sedang bingung mencari uang tujuh puluh ribu rupiah. Tapi jarinya kaku. Ia teringat kata-kata Rahma tentang laki-laki yang punya harga diri.

Apakah laki-laki yang punya harga diri adalah laki-laki yang selalu mengeluh tentang kemiskinannya kepada wanita yang baru ia temui? Apakah Rahma akan tetap memandangnya sebagai laki-laki yang punya visi jika ia tahu bahwa malam ini Agus harus berhutang pada tetangga untuk membayar klinik?

Agus mematikan layar ponselnya tanpa membalas pesan Rahma. Ia memilih untuk tetap berada di dunianya yang gelap sendirian.

Ia bangkit dari kursi, mendekati Lukman yang masih menunggunya di depan klinik. "Man, boleh aku pinjam uang seratus ribu? Nanti gajian minggu depan aku cicil bayarnya. Aku benar-benar buntu, Man."

Lukman, yang juga hanya seorang buruh pabrik kerupuk, terdiam sejenak. Ia merogoh dompetnya yang tipis. "Aku cuma ada lima puluh ribu, Gus. Ini sisa buat beli susu anakku besok. Pakai saja dulu, yang penting Bapakmu tertolong."

Agus menerima uang itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Man. Terima kasih banyak. Aku tidak akan lupa kebaikanmu."

Malam itu, di bawah lampu neon klinik yang berkedip, Agus menyadari satu hal yang menyakitkan. Cintanya pada Nor Rahma adalah sebuah kemewahan yang mungkin tidak sanggup ia beli. Rahma meminta bukti berupa masa depan yang lebih baik, sementara realita menuntut bukti berupa nyawa ayahnya.

Ia kembali masuk ke ruang periksa, melihat ayahnya yang kini sudah bisa bernapas sedikit lebih lega karena bantuan oksigen. Agus duduk di samping ranjang, mematikan ponselnya sepenuhnya. Aroma parfum Rahma di kemejanya kini sudah hilang, digantikan oleh bau alkohol dan obat-obatan yang tajam.

Di dalam hatinya, Agus mulai bertanya-tanya. Apakah ia sedang memperjuangkan sesuatu yang mustahil? Ataukah Nor Rahma adalah ujian yang dikirim Tuhan untuk melihat seberapa kuat ia bisa dihancurkan oleh keadaan?

Agus menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang kasar. Di klinik kecil itu, di tengah malam yang sunyi, Agus menangis tanpa suara. Bukan karena lelah memikul semen, tapi karena lelah menjadi laki-laki yang tidak pernah punya pilihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!