⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjamin yang Murka
Nada bicara Pak Yudo sungguh terlalu kasar dan arogan, membuat pria di ujung telepon tak kuasa ikut meninggikan suaranya. "Kalian curiga? Ada buktinya?! Kalau memang ada bukti kuat, jalankan sesuai prosedur resmi! Jangan berani-beraninya menggangguku dengan tuduhan tak berdasar di tengah malam begini!"
"Soal ada bukti atau tidak, itu urusan internal kepolisian!" bentak Pak Yudo tak mau kalah gertak. "Anda cukup jawab bersedia atau tidak menjadi penjamin Siska, lalu sebutkan nama dan alamat lengkap Anda!"
Sebenarnya, tuntutan Pak Yudo soal "penjamin" ini murni akal-akalannya saja untuk mempersulit Banyu dan Siska. Ia sendiri sadar, jika masalah ini diperpanjang hingga melibatkan pihak luar secara resmi, ia tidak akan mendapat keuntungan apa-apa. Oleh karena itu, ia hanya meminta nama dan alamat di telepon, bukannya memaksa pria itu datang langsung ke kantor polisi.
Pria di seberang telepon terdiam sejenak, seolah sedang menahan amarah yang luar biasa, sebelum akhirnya menjawab dengan suara berat yang menekan. "Namaku Wijaya. Alamatku di Kompleks Pejabat Pemprov Nomor 9, Jalan Merdeka, Rumah Dinas Nomor 3! Kalau kepolisian kalian punya keraguan sekecil apa pun soal Siska, silakan cari aku kapan saja!"
Klik. Setelah melontarkan kalimat itu, Pak Wijaya langsung menutup telepon secara sepihak. Sikap polisi tadi benar-benar di luar batas dan sangat biadab, sukses memancing kemarahan sang Wakil Gubernur. Namun, lebih dari rasa marahnya, Pak Wijaya sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya. Setelah berpikir sejenak, ia memutar sebuah nomor dari kontak daruratnya.
"Halo, Dimas? Ini Wijaya. Maaf mengganggumu selarut ini," sapa Pak Wijaya. "Barusan aku menerima telepon dari Polres Metro Timur. Katanya, putriku dituduh memberikan kesaksian palsu dan mereka memintaku menjadi penjaminnya. Firasatku agak tidak enak. Bisakah kau tolong periksa dan cari tahu situasi sebenarnya di sana? Tentu saja, kalau dia memang terbukti melanggar hukum, proses saja sesuai prosedur. Jangan sampai karena posisiku, kinerja kalian jadi terhambat."
Kombes Pol Dimas adalah Wakil Kepala Polrestabes (Wakapolrestabes) Kota Bandung. Begitu mendengar nama Pak Wijaya disebut, rasa kantuknya langsung menguap tak berbekas. Dengan posisi siaga, ia menjawab lantang, "Siap, Pak Wagub! Bapak tenang saja, saya akan meluncur dan mengusut masalah ini detik ini juga. Setelah semuanya jelas, saya akan segera melapor pada Bapak!"
"Terima kasih atas bantuanmu, Dimas," balas Pak Wijaya dengan nada datar, lalu menutup teleponnya.
Kombes Dimas langsung melompat dari ranjangnya, berpakaian secepat kilat, dan memacu kendaraannya menuju Polres Metro Timur. Darahnya mendidih memikirkan ada oknum bodoh di wilayah hukumnya yang berani menahan putri seorang Wakil Gubernur, bahkan sampai berani menelepon dan membentak beliau di tengah malam untuk meminta jaminan! Mengingat nada bicara Pak Wijaya yang sedingin es tadi, Kombes Dimas menggertakkan giginya dan mengumpat, "Bajingan tolol mana yang buta huruf ini?! Kelihatannya dia memang sudah bosan pakai seragam polisi!"
Di sisi lain, Pak Yudo sama sekali tidak tahu bahwa kariernya sedang di ujung tanduk dan Wakapolrestabes sedang memburunya. Begitu telepon ditutup, ia justru menatap Pak Nandito dengan wajah bingung. "Kompleks Pejabat Pemprov Nomor 9 di Jalan Merdeka itu daerah mana, sih? Penjaminnya bilang dia tinggal di Rumah Dinas Nomor 3. Alamatnya kok aneh banget ya?"
Si pembicara mungkin tak sadar, tapi sang pendengar langsung bereaksi. Mendengar deretan alamat itu, Pak Nandito merasa jantungnya nyaris copot dan keringat dingin langsung membanjiri sekujur tubuhnya. Ia buru-buru menarik Pak Yudo keluar dari ruang interogasi dan berbisik dengan wajah pucat pasi, "Kamu... kamu yakin tidak salah dengar alamatnya?!"
"Yakin lah! Memangnya kenapa?" Pak Yudo masih clueless.
"Dasar tolol!" umpat Pak Nandito dengan suara bergetar menahan panik. "Kompleks Pejabat Pemprov Nomor 9 di Jalan Merdeka itu... itu kawasan perumahan eksklusif para pejabat elit pemerintah provinsi! Dan Rumah Dinas Nomor 3... astaga, itu kediaman resmi Bapak Wijaya, Wakil Gubernur kita! Pria tadi namanya Wijaya, dan nama wanita di dalam itu Siska... Jangan-jangan, dia itu putri kandung Pak Wagub?!"
Mendengar penjelasan itu, wajah Pak Yudo yang tadinya garang langsung berubah sepucat kertas. Tubuhnya gemetar hebat. "Pria tadi memang bilang namanya Wijaya! Astaga... a-apa mungkin dia benar-benar Pak Wagub?! Terus, kita harus bagaimana sekarang?!"
Mendengar Pak Yudo menggunakan kata "kita", Pak Nandito mendelik kesal. Kasus sialan ini sejak awal didalangi sepenuhnya oleh Yudo, dan sekarang setelah bencana besar terjadi, bajingan ini malah berniat menyeretnya turun bersama! Tentu saja mood Pak Nandito langsung hancur berantakan. Namun, karena mereka berdua sedang piket bersama di ruang interogasi, tak bisa dipungkiri mereka sudah terikat di kapal karam yang sama. Pak Nandito hanya bisa memeras otak mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Sementara kedua polisi korup itu panik di luar, di dalam ruang interogasi, Siska langsung menghampiri Banyu dengan raut wajah penuh kecemasan. "Kau... kau beneran nggak diapa-apain kan?!"
"Masih aman, kok," Banyu tersenyum santai. "Untung saja kamu datang mendobrak masuk di waktu yang sangat tepat. Anjing gila itu belum sempat mengayunkan tongkatnya."
Melihat Banyu bersikap biasa saja dan sama sekali tidak terlihat marah padanya, Siska diam-diam mengembuskan napas lega. Dengan suara pelan ia menunduk, "Soal pertengkaran kita di rumah sakit tempo hari... aku benar-benar minta maaf. Waktu itu pikiranku sedang sangat kacau dan panik, makanya aku malah melampiaskannya padamu. Maafkan aku, ya."
Banyu sangat memahami karakter Siska. Untuk wanita dengan ego dan gengsi setinggi dirinya, bersedia menurunkan harga diri dan meminta maaf secara langsung adalah sebuah keajaiban. Insiden hari ini juga telah membuktikan seberapa berharganya Banyu di mata Siska wanita itu bahkan rela mempertaruhkan nama baiknya demi melindunginya! Sisa-sisa kejengkelan di hati Banyu langsung menguap bersih.
Dengan suara lembut ia menghibur, "Sudahlah, lupakan saja. Saat itu kau sedang memikul tekanan mental yang sangat berat, wajar kalau emosimu sedikit meledak. Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kabar penyakit Melati sekarang?"
Mendengar nama putrinya disebut, wajah Siska langsung berseri-seri. "Hasil pemeriksaan lab terbarunya sudah keluar. Melati dinyatakan sembuh total secara ajaib! Memang sih, secara fisik dia masih agak lemas dan kadar hemoglobinnya sedikit di bawah normal. Tapi Profesor Zuhdi bilang itu wajar, asalkan dia banyak istirahat dan makan bergizi, dia akan kembali sehat sepenuhnya!"
Setelah menyampaikan kabar gembira itu, Siska terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap ke sekeliling untuk memastikan tak ada yang mencuri dengar, lalu berbisik sangat pelan pada Banyu, "Soal insiden Rendi... jujur saja, itu perbuatanmu, kan?"
"Hah? Tentu saja bukan! Aku ini kan warga negara yang taat hukum dan rajin bayar pajak, mana mungkin aku melakukan hal barbar seperti itu?!" Banyu menyangkal dengan sangat meyakinkan lewat mulutnya, namun di detik yang sama, ia menatap mata Siska dan menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum simpul.
Melihat anggukan konfirmasi dari Banyu, hidung Siska seketika terasa perih dan air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Menyadari bahwa Banyu rela mengotori tangannya dan mengambil risiko pidana yang sangat besar demi membebaskannya dari jeratan iblis seperti Rendi, hati Siska benar-benar tersentuh. Ia kini semakin yakin bahwa Banyu adalah pria sejati yang bisa ia jadikan sandaran seumur hidup.
"Terima kasih..." bisik Siska dengan suara bergetar. Meski hanya dua kata singkat, ucapan itu memuat lautan cinta dan rasa syukur yang tak terhingga.
"Ehem... Saudara Banyu, Nona Siska, situasinya sudah jelas sekarang. Kalian berdua sudah boleh pulang!" Tepat pada momen haru itu, Pak Nandito melangkah masuk dengan senyum canggung yang dipaksakan. "Insiden malam ini murni salah paham prosedural. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, tolong jangan dimasukkan ke hati ya."
Sambil berbasa-basi, Pak Nandito mengulurkan tangannya berniat membuka borgol Banyu. Namun, Siska yang sudah muak langsung meledakkan aura dominasinya. Ia menepis kasar tangan Pak Nandito dan membentak, "Jangan sok jadi pahlawan kesiangan! Tadi sudah kubilang dengan jelas: siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut Banyu untuk interogasi paksa, aku akan pastikan seragamnya dicopot!"
Pak Yudo yang mengekor di belakang Pak Nandito sudah tak punya sisa keangkuhan sedikit pun. Dengan wajah nyaris menangis, ia baru saja hendak membuka mulut untuk memohon ampun, ketika sebuah suara bariton yang sarat akan otoritas menggelegar dari ambang pintu ruang interogasi.
"SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INTEROGASI PAKSA?! AKU SENDIRI YANG AKAN MELUCUTI SERAGAMNYA HINGGA TELANJANG BULAT!"
"Tamatlah riwayatku..."
Mendengar suara yang sangat familier dari atasannya di tingkat Polrestabes itu, lutut Pak Yudo langsung lemas seperti jeli. Harapan terakhirnya hancur berantakan. Tak sanggup menopang berat badannya, ia merosot perlahan dan bersandar pasrah ke dinding.
Setengah jam kemudian, Kombes Dimas secara pribadi mengawal Banyu dan Siska berjalan keluar dari gerbang Polres Metro Timur. Sang Wakapolrestabes meminta maaf secara mendalam atas insiden memalukan tersebut, dan berjanji akan memberikan sanksi paling tegas kepada oknum polisi yang melanggar SOP, serta memastikan Banyu mendapat keadilan yang layak.
Janji Kombes Dimas itu secara efektif menjadi vonis mati bagi karier kepolisian Pak Yudo dan Pak Nandito. Tak sekadar dipecat, dengan pelanggaran sefatal ini, keduanya sangat berpeluang dijebloskan ke dalam penjara. Namun, Banyu sama sekali tidak merasa kasihan. Keduanya memang pantas mendapatkan balasan setimpal atas kesombongan dan korupsi mereka.
Kombes Dimas dengan sangat sopan menawarkan mobil dinasnya untuk mengantar Banyu dan Siska pulang, namun Siska menolaknya dengan halus. Sebagai polisi senior yang peka, Kombes Dimas tentu bisa membaca gestur bahwa sepasang pria dan wanita ini membutuhkan ruang privasi. Ia pun tak memaksa dan pamit kembali ke markas.
Setelah mobil dinas Kombes Dimas menghilang dari pandangan, suasana malam kembali hening. Siska menoleh menatap Banyu di bawah temaram lampu jalan. Dengan suara pelan dan tatapan lembut yang mengundang, ia berbisik, "Ayo... menginaplah di tempatku malam ini."