Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penempaan di Tepi Jurang dan Lapis Pertama
Angin melolong buas di sekitar Pelataran 404, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Lin Tian melangkah masuk ke halamannya tepat saat matahari terbenam. Di dalam ruangan utama yang sudah dibersihkan, ia melihat Lin Chen sedang duduk bersila. Uap putih tipis mengepul dari puncak kepala remaja itu, menandakan Pil Pengumpul Qi sedang dicerna dengan baik.
Lin Tian tersenyum tipis. Lin Chen memiliki bakat yang lumayan; dengan asupan sumber daya yang cukup, menembus tingkat dua hanya masalah waktu. Tanpa mengganggu adiknya, Lin Tian berjalan melewati halaman dan langsung menuju ke batas belakang pelataran—tepi jurang Tebing Angin Puyuh.
Ia berdiri di bibir tebing. Di bawahnya terbentang jurang berkabut tanpa dasar, sementara angin dari depan menghantamnya seperti ribuan bilah pisau tumpul. Ia mengeluarkan giok salinan dari balik jubahnya dan menempelkannya ke dahi.
Informasi dari Tinju Runtuh Sembilan Lapis mengalir ke dalam pikirannya.
"Mengompresi Qi hingga ke titik batas absolut sebelum meledakkannya," gumam Lin Tian, menganalisis teori teknik tersebut. "Pantas saja ini dianggap teknik bunuh diri. Jika Qi biasa dipadatkan dengan paksa, ia akan memberontak dan menghancurkan pembuluh darah dari dalam layaknya bom yang meledak di dalam ruang tertutup."
Lin Tian memejamkan mata. Ia melebarkan kuda-kudanya, menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke tanah berbatu agar tidak terhempas oleh angin tebing.
"Mari kita lihat sekuat apa tulang naga ini."
Ia mengambil napas panjang. Siluet naga hitam di dadanya menyala redup di balik pakaiannya. Lin Tian mulai mengalirkan Qi ungu keemasan miliknya dari lautan meridian menuju ke lengan kanannya. Alih-alih membiarkannya mengalir bebas seperti biasa, ia menggunakan kemauannya yang sekeras baja untuk menekan energi tersebut.
Kretek!
Suara gesekan tulang terdengar nyaring dari lengan kanan Lin Tian. Wajah pemuda itu langsung berubah pucat. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah lengannya sedang dijepit oleh rahang monster raksasa dan dikunyah perlahan.
Qi naga astralnya terlalu padat! Mengompresi energi yang sudah berat ini membutuhkan tenaga mental yang gila. Namun, daya tahan tubuhnya yang telah ditempa oleh inti binatang buas tingkat tiga membuktikan kehebatannya. Pembuluh darah di lengan kanannya menonjol hitam kebiruan, kulitnya merembeskan titik-titik darah halus, tetapi meridian utamanya tetap utuh—tidak meledak seperti yang ditakutkan oleh Penatua Paviliun.
"Tekan!" raung Lin Tian di dalam hati.
Di bawah tekanan angin tebing yang brutal dari luar dan tekanan Qi naga dari dalam, lengan kanan Lin Tian perlahan mulai memancarkan pendaran cahaya keemasan yang menyilaukan. Energi di tinjunya berputar tak terkendali, membentuk pusaran kecil yang bahkan membuat angin di sekitarnya tersedot masuk.
"Lapis Pertama!"
Lin Tian membuka matanya yang kini memerah karena pembuluh darah kapiler yang pecah. Ia melepaskan tinjunya lurus ke depan, menghantam udara kosong di atas tebing.
BOOM!
Sebuah ledakan yang memekakkan telinga bergema. Udara di depan Lin Tian seolah hancur berantakan. Gelombang kejut berbentuk pusaran ungu keemasan melesat sejauh sepuluh meter ke depan, membelah angin puyuh tebing hingga menciptakan jalur hampa udara sesaat. Sebuah bongkahan batu karang sebesar kereta kuda yang menonjol di sisi tebing hancur menjadi bubuk pasir begitu terhantam sisa gelombang energi tersebut.
Lin Tian jatuh berlutut, napasnya memburu. Lengan kanannya terkulai ke bawah, mati rasa sepenuhnya. Ia menatap bubuk batu yang berterbangan ditiup angin dengan mata terbelalak ngeri sekaligus takjub.
"Ini... ini baru lapis pertama?" gumamnya tak percaya.
Kekuatan destruktifnya jauh melampaui ekspektasinya. Teknik ini mengklaim bahwa satu lapis bisa menandingi kultivator satu tingkat di atas. Namun, karena Lin Tian menggunakan Qi naga yang kualitasnya ribuan kali lebih murni dari Qi biasa, daya hancur Lapis Pertama miliknya melonjak secara tak masuk akal.
Bahkan seorang kultivator ranah Mortal tingkat lima atau enam yang terkena pukulan ini secara telak pasti akan hancur menjadi kabut darah!
"Hanya saja, beban pada tubuhku terlalu besar," evaluasi Lin Tian sambil memijat lengan kanannya, menyalurkan sisa Qi lembut untuk menyembuhkan otot yang tegang. "Satu pukulan Lapis Pertama menguras seperempat total energiku. Jika aku memaksakan pukulan kedua tanpa jeda istirahat, tulang lenganku pasti retak."
Selama tujuh hari berikutnya, Pelataran 404 menjadi saksi bisu dari rutinitas gila Lin Tian.
Siang dan malam, tanpa memedulikan rasa sakit, ia terus memadatkan Qi dan memukul udara tebing. Angin kencang menjadi lawan tanding pasifnya. Setiap kali lengannya nyaris hancur, ia menelan sisa energi dari inti Ular Sisik Batu yang ia simpan di dalam tubuhnya untuk memulihkan diri dengan cepat. Rasa sakit yang berulang kali menghancurkan dan membangun kembali ototnya membuat lengannya kini sekeras baja murni.
Di hari ketujuh, Lin Chen akhirnya berhasil menembus tingkat kedua ranah Mortal, menghabiskan tiga botol Pil Pengumpul Qi.
Sementara itu, Lin Tian kini mampu melontarkan Tinju Runtuh Sembilan Lapis lapis pertama tanpa membuat lengannya mati rasa, dan waktu yang ia butuhkan untuk mengompresi energi berkurang dari hitungan menit menjadi hanya dua detik. Ia telah menjadikan teknik buangan ini sebagai kartu as paling mematikan di tangannya.
Namun, masa damai mereka tidak berlangsung lebih lama.
Pada pagi hari kedelapan, suara benturan keras memecah keheningan. Gerbang kayu Pelataran 404 yang telah diperbaiki hancur berkeping-keping, ditendang dari luar.
Debu berterbangan menutupi sinar matahari pagi. Dari balik debu tersebut, sosok jangkung Zhao Kuang melangkah masuk dengan aura membunuh yang tidak disembunyikan sama sekali. Di belakangnya, Zhao Hai yang lengannya masih digips berjalan mengikuti dengan senyum bengis. Di tangan Zhao Kuang, terdapat selembar perkamen berwarna merah darah.
"Lin Tian! Keluar kau, Sampah!" raung Zhao Kuang, suaranya yang diperkuat oleh Qi tingkat enam menggetarkan atap pelataran. "Kau berani melumpuhkan anak buahku dan mengabaikan peringatanku. Hari ini, aku datang bukan untuk mematahkan kakimu."
Lin Tian keluar dari ruangan dengan tenang, diikuti Lin Chen yang wajahnya memucat melihat tekanan energi dari musuh.
Zhao Kuang melemparkan perkamen merah itu hingga menancap di meja batu di depan Lin Tian. Itu adalah Surat Tantangan Duel Kematian.
"Di Sekte Pedang Langit, pembunuhan sesama murid di luar arena dilarang keras," ucap Zhao Kuang dingin. "Tapi besok siang, di Arena Hidup Mati sekte luar, aku menantangmu. Jika kau menolak, aku jamin tidak ada satu hari pun kau dan adikmu bisa hidup tenang di sekte ini. Kalian berdua akan memohon kematian setiap malam."
Lin Tian menatap surat merah yang menancap di meja batu. Bukannya panik, sudut bibirnya justru sedikit terangkat, memperlihatkan senyum predator yang telah lama menunggu mangsanya masuk ke dalam perangkap.
"Kau sangat terburu-buru ingin mencium tanah, Zhao Kuang," jawab Lin Tian datar. Ia mencabut surat itu dan menyimpannya. "Tantangan diterima. Siapkan peti matimu besok."