"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Jejak yang Seharusnya Tidak Ada
Malam kian melarut, namun atmosfer di dalam ruang kerja penthouse The Obsidian justru semakin memadat, seolah-olah oksigen di ruangan itu perlahan-lahan digantikan oleh kecemasan.
Jam digital di sudut layar laptop Adrian menunjukkan pukul 01.47 dini hari.
Di luar, Kota Valerika mulai meredup, tetapi di dalam ruangan ini, denyut ketegangan baru saja mencapai puncaknya.
File audio misterius itu masih terpampang di layar, menampilkan visualisasi gelombang suara yang naik turun dengan ritme konstan, sebelum akhirnya terputus secara brutal.
Garis lurus yang mendadak muncul di menit ketujuh belas kini terasa seperti sebuah ejekan digital yang terus menghantui dan memprovokasi pikiran mereka.
Alea berdiri di dekat jendela kaca besar, kedua tangannya terlipat rapat di dada.
Pantulan lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan menari-nari di sepasang matanya yang tajam dan lelah.
Sementara itu, Adrian masih setia duduk di depan meja mahoni, memutar ulang bagian terakhir rekaman untuk kesekian kalinya.
Volume pelantang suara dinaikkan hingga batas maksimal, menangkap setiap desis dan distorsi frekuensi.
"...jika salah satu dari mereka mengetahui tentang proyek itu, maka seluruh fondasi merger akan—"
Statis. Sunyi. Lalu rekaman berakhir begitu saja dengan bunyi klik mekanis yang dingin.
Adrian menghentikan pemutaran dengan satu sentakan kasar pada tombol spasi.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, mengembuskan napas berat yang telah ia tahan selama beberapa menit.
"Masih sama," ujar Adrian, memecah kesunyian yang mencekam.
Alea tidak langsung berbalik.
Ia tetap menatap keluar jendela sebelum akhirnya menoleh perlahan.
"Tidak ada tambahan? Tidak ada frekuensi tersembunyi atau pesan subliminal yang terlewat oleh perangkat lunakmu?"
"Tidak ada. Potongannya bersih. Terlalu bersih untuk sebuah kecelakaan teknis," jawab Adrian, matanya masih terpaku pada grafik audio yang statis.
Alea berjalan mendekat, langkah kakinya teredam oleh karpet bulu yang tebal.
"Aku mulai membenci suara statis itu. Rasanya seperti seseorang sedang menertawakan kita dari balik tembok."
"Aku juga," bisik Adrian, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Keheningan kembali memenuhi ruangan yang luas itu.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam keheningan tersebut.
Ketegangan yang ada bukan lagi berasal dari kecurigaan di antara mereka berdua.
Dinding ketidakpercayaan yang sengaja mereka bangun sejak hari pertama pernikahan kontrak ini diumumkan kini telah runtuh secara perlahan, terkikis oleh ancaman yang nyata.
Ada musuh lain di luar sana sebuah entitas tak kasatmata yang sedang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak hidup mereka disatukan secara paksa, Adrian dan Alea mulai melihat masalah yang sama dari sisi yang sama.
Mereka bukan lagi dua orang asing yang terjebak dalam satu ruangan, melainkan dua sekutu yang terpaksa berbagi parit perlindungan yang sama.
Adrian kembali menatap layar laptopnya yang memancarkan pendaran cahaya biru redup.
Ada sesuatu yang mengganggunya sejak satu jam terakhir.
Sebuah kejanggalan yang terus berputar di kepala, seperti sebuah teka-teki dengan satu kepingan yang dipaksakan masuk.
Sesuatu yang tidak cocok. Sesuatu yang terasa... terlalu rapi.
Pria itu memutar kursi kerjanya perlahan, menghadap langsung ke arah Alea yang kini bersandar di tepi meja.
"Alea."
"Hm?" Alea mengangkat pandangannya, menangkap keseriusan yang berbeda di wajah suaminya.
"Menurutmu, apa yang paling aneh dari semua kejadian ini? Sejak kita menerima ancaman pertama di cermin kamar mandi hingga malam ini."
Alea menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku.
"Daftarnya terlalu panjang, Adrian. Mulai dari sabotase sistem keamanan kita hingga rekaman audio hantu dari masa lalu ini."
"Bukan. Aku serius. Pikirkan baik-baik secara logis," desak Adrian, matanya menyipit tajam.
Wanita itu terdiam sejenak, mencoba menyusun kembali kronologi teror yang mereka alami dalam beberapa minggu terakhir.
"Lalu jawabanku tetap sama. Rekaman itu. Rekaman yang melibatkan kakekmu dan mendiang kakekku adalah anomali terbesar."
"Bukan rekamannya," potong Adrian cepat.
Alea mengernyitkan alisnya, tidak suka pikirannya dipatahkan begitu saja.
"Lalu apa?"
Adrian menatap langsung ke dalam manik mata Alea, memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. "Cara rekaman itu dikirim."
Ruangan mendadak hening seketika.
Pertanyaan Adrian memicu sirkuit logika di dalam kepala Alea.
Sebagai seorang wanita yang terbiasa dengan analisis strategis di dunia korporasi, Alea mulai memahami arah pemikiran suaminya.
"Kita menerima amplop fisik di meja restoran minggu lalu," kata Alea perlahan, merunut kembali.
"Benar," sahut Adrian.
"Foto-foto pengintaian yang diletakkan di cermin juga dikirim secara fisik. Seseorang harus masuk ke dalam area pribadi kita untuk meletakkannya."
"Benar."
"Bahkan insiden pemadaman listrik di ballroom saat malam galeri juga dilakukan secara fisik dengan menyabotase sirkuit utama di ruang generator."
"Ya," Adrian menyilangkan kedua tangannya di dada, tubuhnya condong ke depan.
"Semua aksi itu membutuhkan kehadiran fisik. Risiko tertangkapnya sangat tinggi.
Pelaku menyusup, mengintai, dan menyentuh properti kita. Tapi kemudian... lihat apa yang terjadi malam ini."
Adrian mengetuk layar laptopnya.
"Tiba-tiba, tanpa ada peringatan fisik, seseorang mengirimkan file digital terenkripsi tingkat tinggi langsung ke server pribadi penthouse ini. Sebuah file yang dikemas dalam protokol keamanan yang hampir mustahil dilacak oleh tim IT terbaik kita."
Alea membeku di tempatnya. Ia langsung menangkap kejanggalan struktural tersebut.
Metodenya berubah secara drastis, dari konvensional-fisik menjadi digital-canggih. Perubahan itu terlalu radikal untuk dilakukan oleh satu operator yang sama tanpa alasan taktis yang kuat.
Seolah-olah ada dua arsitek berbeda yang sedang menjalankan operasi di atas papan catur yang sama, namun dengan gaya permainan yang bertolak belakang.
"Kau berpikir ada lebih dari satu pelaku dalam pusaran ini?" tanya Alea, suaranya merendah.
"Atau lebih dari satu kelompok yang memiliki agenda berbeda terhadap kita," tambah Adrian.
Alea berjalan mendekati meja kerja, ketertarikannya kini sepenuhnya tersedot oleh penjelasan Adrian. "Katakan padaku apa analisis medatadamu."
Adrian membuka beberapa jendela data baru di layar, menampilkan baris-baris kode pemrograman dan log aktivitas sistem.
"Pelaku pertama sebut saja Kelompok A suka bermain psikologis dengan cara konvensional," Adrian mengklik tetikusnya, memunculkan gambar foto di cermin.
Klik berikutnya menampilkan foto amplop cokelat, dan klik ketiga menampilkan manifes kerusakan generator listrik.
"Semuanya membutuhkan akses fisik, keberanian untuk menyusup, dan teror yang intim. Mereka ingin kita merasa tidak aman di rumah kita sendiri."
Lalu, Adrian menutup jendela-jendela tersebut dan membuka file audio berdurasi 17 menit itu kembali. "Tapi file ini... ini adalah gaya Kelompok B."
Ia memperbesar bagian metadata tersembunyi dari file audio tersebut.
Alea memicingkan matanya, menatap deretan informasi teknis, kode biner, dan string karakter yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Namun, ada satu baris data di bagian paling atas yang dicetak dengan format waktu universal yang langsung menarik perhatiannya.
Tanggal pembuatan file.
"Apa itu?" tanya Alea, meski hatinya sudah merasakan firasat buruk.
"Ini adalah timestamp asli kapan file audio digital ini pertama kali dikompresi dan disimpan," kata Adrian, suaranya terdengar sangat dingin.
Alea membaca angka-angka digital di layar: 14-06-2022.
Wajah Alea berubah seketika, kehilangan sedikit rona alaminya.
"Tidak mungkin..."
"Persis," cetus Adrian.
"File ini dibuat empat tahun lalu. Empat tahun, Alea. Bukan minggu lalu ketika teror fisik kita dimulai. Bukan bulan lalu ketika rencana merger kita diumumkan ke publik. File ini sudah ada di dalam penyimpanan digital seseorang selama empat tahun."
"Itu berarti..." Alea mencoba merangkai logika di kepalanya yang mulai berdenyut,
"seseorang telah menyimpan rahasia ini, memotongnya dengan sengaja, dan menunggunya selama bertahun-tahun. Dan mereka baru memilih momen malam ini untuk mengirimkannya kepada kita. Kenapa sekarang? Kenapa tidak saat kita bertunangan?"
"Itulah pertanyaan yang membuatku terjaga," Adrian bersandar kembali ke kursinya, matanya menyempit menatap kilatan kode di layar.
"Tapi ada satu hal lagi yang membuatku merasa sangat tidak nyaman, Alea. Fakta bahwa metadata ini... terlalu mudah untuk kutemukan."
"Maksudmu?"
"Aku bukan peretas tingkat dunia, namun aku bisa membongkar metadata ini hanya dalam waktu lima menit dengan alat forensik standar. Jika pengirim file ini memiliki kemampuan untuk menembus enkripsi server penthouse kita, dia pasti tahu bahwa aku akan dengan mudah menemukan tanggal pembuatan file ini."
Alea terdiam, mematung di sisi meja. Kesadaran baru perlahan muncul di kepalanya seperti hantaman ombak dingin.
"Dia sengaja... Dia sengaja membiarkan kita mengetahui bahwa file ini adalah dokumen lama."
Adrian mengangguk pelan.
"Ya. Kita tidak sedang diancam oleh file ini. Kita sedang dituntun. Seseorang tidak sedang menyerang pertahanan kita, melainkan sedang mengarahkan pandangan kita ke sebuah titik spesifik di masa lalu. Seperti menggiring dua bidak catur yang keras kepala menuju petak yang sudah mereka siapkan."
Dan Adrian sangat membenci kenyataan itu.
Sebagai seorang Hutama, ia terbiasa memegang kendali atas hidup dan bisnisnya.
Mengetahui bahwa dirinya sedang digiring seperti ternak oleh entitas yang tidak ia ketahui identitasnya membuat rahangnya mengeras karena amarah yang tertahan.
Bzzzt... Bzzzt...
Tiba-tiba, keheningan analisis mereka dipecahkan oleh getaran keras dari ponsel milik Alea yang diletakkan di atas meja kaca.
Layar gawai itu menyala terang di dalam kegelapan ruangan, menampilkan sebuah nama kontak yang langsung membuat ekspresi wajah Alea berubah menjadi dingin dan tegang.
Julian.
Lagi. Pria itu kembali muncul seperti jelaga yang enggan hilang setelah kebakaran.
Alea memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang yang sarat akan rasa muak.
"Laki-laki itu benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah."
Adrian mengangkat sebelah alisnya, matanya melirik sinis ke arah ponsel yang masih bergetar.
"Dia meneleponmu pada jam dua pagi? Di distrik mana dia tinggal sekarang hingga mengira ini adalah waktu yang sopan untuk menghubungi istri orang lain?"
"Tepatnya jam satu lima puluh tiga," ralat Alea dengan nada datar, meski ada getaran kekesalan di suaranya.
"Dan ya, kelakuannya semakin hari semakin tidak rasional."
"Itu bukan sekadar tidak sopan, Alea. Itu mencurigakan," komentar Adrian, matanya mengawasi pergerakan ponsel tersebut hingga getarannya berhenti karena panggilan itu berakhir karena kehabisan waktu.
Namun, belum sempat mereka kembali ke pembahasan metadata, ponsel itu kembali bergetar singkat. Satu notifikasi pesan masuk.
Alea meraih ponselnya, membuka kunci layar, dan membaca pesan teks yang tertera di sana.
Dalam hitungan detik, seluruh otot di tubuh wanita itu tampak menegang.
Matanya melebar, menatap deretan kata di layar seolah-olah ia baru saja melihat sebuah kutukan.
Adrian yang selalu waspada langsung menangkap perubahan drastis pada gestur tubuh Alea.
"Ada apa? Apa yang dia katakan?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alea menyerahkan ponselnya kepada Adrian. Jari-jarinya sedikit dingin saat menyentuh kulit suaminya.
Adrian menerima gawai tersebut dan membaca pesan singkat yang dikirimkan dari nomor Julian:
Jika kau ingin tahu siapa Thomas Armand sebenarnya, datanglah sendiri ke galeri tua di Distrik Utara besok malam pukul sembilan.
Jangan bawa Adrian, atau kau tidak akan pernah mendapatkan sisa rekaman itu.
Keheningan seketika meledak di dalam ruangan kerja tersebut.
Kata-kata di dalam pesan itu seolah memiliki berat berton-ton yang menghantam kesadaran mereka. Alea dan Adrian saling menatap dalam kebisuan yang panjang.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik, karena satu nama spesifik yang tertera di sana adalah nama yang sama yang telah mengubur banyak rahasia di Valerika.
Thomas Armand.
Nama yang beberapa jam lalu baru saja diangkat kembali dari laci rahasia oleh Raymond Hutama di kediaman utamanya. Nama yang seharusnya sudah mati dan terkubur dalam sejarah kelam bisnis kota ini.
"Bagaimana... bagaimana bisa Julian mengetahui nama itu?" Suara Alea hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan.
"Bahkan di dalam keluarga Corisand, nama Thomas Armand adalah tabu yang tidak pernah diucapkan oleh nenekku di depan siapa pun."
Adrian tidak langsung menjawab.
Pikirannya bergerak secepat sirkuit komputer, mencoba menghubungkan titik-titik acak yang mendadak muncul secara bersamaan.
Selama bertahun-tahun, nama Thomas Armand nyaris tidak pernah disebutkan dalam dokumen legal perusahaan, rapat dewan direksi, maupun dalam obrolan makan malam keluarga Hutama.
Nama itu telah dihapus secara sistematis dari ingatan publik.
Namun sekarang, seorang mantan kekasih masa lalu Alea yang seharusnya berada di luar lingkaran konspirasi ini, mendadak menyebut nama itu dengan begitu kasual.
"Itu bisa jadi jebakan," kata Alea, mencoba mengembalikan logikanya yang sempat goyah.
"Julian mungkin hanya digunakan oleh seseorang, atau dia sendiri yang mencoba memancingku untuk memisahkan kita."
"Tentu saja ini jebakan," sahut Adrian, suaranya terdengar sangat tenang namun berbahaya.
"Metodenya terlalu kentara. Menggunakan nama sensitif untuk memancingmu datang sendirian."
"Kalau begitu kita abaikan saja pesan ini. Aku akan memblokir nomornya dan kita cari cara lain untuk mengurai metadata ini," ujar Alea, berbalik hendak mengambil kembali ponselnya.
"Tidak," jawab Adrian tegas.
Alea menghentikan gerakannya, menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya.
"Tidak? Kau ingin aku mendatangi tempat itu sendirian di malam hari?"
Adrian berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela kaca besar, meninggalkan laptopnya yang masih menyala.
"Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam waktu yang bersamaan, Alea. Dan sejak aku mengambil alih operasional proyek The Obsidian, aku sudah berhenti percaya pada apa yang disebut sebagai kebetulan."
Pria itu menatap lautan cahaya Kota Valerika di bawah sana, yang kini tampak seperti papan permainan raksasa yang menanti untuk dihancurkan.
"Julian mungkin adalah seorang idiot yang tidak tahu apa yang sedang ia pegang saat ini. Dia mungkin hanya bidak kecil yang diberi instruksi oleh orang lain. Tapi faktanya, seseorang di balik Julian... ingin kita memperhatikan nama Thomas Armand."
Alea ikut berdiri, melangkah mendekati punggung Adrian.
"Dan kau benar-benar ingin kita mengikuti petunjuk yang sengaja mereka tebarkan seperti remah roti ini? Kau tahu risiko apa yang menanti kita jika kita melangkah ke Distrik Utara?"
Adrian membalikkan tubuhnya perlahan.
Di bawah temaram cahaya ruangan, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya senyuman khas seorang predator yang selalu muncul ketika insting bisnis dan taktik perangnya mulai menemukan pola yang jelas dari kekacauan.
"Kita tidak akan sekadar mengikuti petunjuk mereka, Alea," kata Adrian dengan nada suara yang penuh keyakinan.
"Lalu apa rencana yang ada di kepalamu?"
"Aku ingin melihat siapa sebenarnya yang sedang berdiri di ujung tali ini, mengira bahwa mereka bisa menggerakkan kita seperti boneka kayu."
BAB IX: Dua Bayangan di Ruang Monitor
Jauh di belahan lain Kota Valerika, di dalam ruangan bawah tanah yang dipenuhi oleh pendaran biru belasan monitor, ketenangan malam juga tidak pernah benar-benar ada.
Seseorang masih duduk setia di depan meja kendali utama, mengawasi log aktivitas digital yang masuk dari peretasan jaringan komunikasi seluler. Di salah satu layar, transkrip pesan yang dikirimkan oleh Julian ke ponsel Alea terpampang dengan jelas dalam teks berwarna hijau digital.
Sebuah laporan baru masuk dari sistem otomatis:
[SYSTEM]: TARGET C (ALEA CORISAND) TELAH MEMBACA PESAN. AKTIVITAS ENKRIPSI PADA PERANGKAT SUAMINYA MENUNJUKKAN ADANYA ANALISIS FORENSIK PADA FILE AUDIO. UMPAN TELAH DITERIMA SECARA PENUH.
Orang bertudung hitam itu kembali tersenyum lebar di dalam kegelapan.
Tangannya bergerak menuju keyboard, berniat untuk mengirimkan instruksi berikutnya kepada operator lapangan mereka di Distrik Utara untuk mempersiapkan fase penyergapan psikologis.
Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol pertama, sebuah suara berat dan dingin mendadak terdengar dari arah belakangnya, memotong kesunyian ruangan dengan otoritas yang mutlak.
"Kau melangkah terlalu cepat."
Senyuman di wajah orang pertama langsung menghilang seketika. Gerakan tangannya membeku di atas keyboard.
Perlahan, ia memutar kursi kerjanya ke arah kegelapan di ambang pintu masuk ruangan bawah tanah tersebut.
Sosok kedua berdiri di sana.
Tubuhnya tinggi tegap, mengenakan setelan jas gelap yang dipotong dengan sangat rapi, namun wajahnya tetap tersembunyi sepenuhnya di balik bayangan luar jangkauan cahaya monitor.
Kehadirannya membawa aura intimidasi yang begitu pekat hingga suhu di dalam ruangan itu terasa turun beberapa derajat.
"Terlalu cepat?" tanya orang pertama, mencoba menyembunyikan sedikit getaran kekhawatiran dalam nadanya.
"Semua berjalan sesuai jadwal. Adrian dan Alea sudah mulai bergerak ke arah yang kita tentukan. Umpan Thomas Armand telah berhasil memicu reaksi mereka."
"Kau mulai membuat mereka melihat ke arah yang salah dengan melibatkan bidak tidak berguna seperti Julian," sahut sosok kedua, suaranya terdengar seperti gesekan pisau pada batu asah.
"Julian adalah variabel yang terlalu tidak stabil. Jika Adrian mendeteksi keterlibatan pihak lain di belakang pria itu sebelum waktunya, seluruh rencana kita untuk mengisolasi mereka dari Raymond dan Eleanor akan gagal."
"Kita tidak punya banyak waktu lagi," balas orang pertama, mencoba membela kalkulasinya.
"Raymond dan Eleanor sudah bertemu malam ini di kediaman Hutama. Mereka sedang memeriksa arsip lama. Jika kita tidak menekan anak-anak muda itu sekarang untuk bergerak, para tetua itu akan menemukan cara untuk menutup celah keamanan mereka kembali!"
"Kita tidak punya banyak waktu, itu benar," kata sosok kedua sambil melangkah satu tindak lebih maju ke dalam ruangan, namun tetap menjaga wajahnya agar tidak terkena pendaran cahaya monitor.
"Namun, kita juga tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun. Perang ini telah dikubur selama bertahun-tahun oleh mereka, dan jika kita ingin membongkarnya, kita harus memastikan bahwa setiap retakan terjadi dari dalam fondasi mereka sendiri. Bukan karena dorongan luar yang terlalu kentara."
Ruangan bawah tanah itu kembali dilingkupi oleh keheningan yang mencekam. Hanya ada dengung konstan dari mesin server dan detak jam dinding digital yang terus berjalan.
Dua bayangan. Dua orang dengan tingkat kecerdasan yang mengerikan.
Dan dari perdebatan dingin itu, menjadi sangat jelas bahwa di balik layar konspirasi Valerika, bukan hanya ada satu dalang tunggal yang sedang menggerakkan bidak-bidak catur.
Ada faksi-faksi tersembunyi dengan kepentingan yang saling bergeseran, yang masing-masing mengklaim memiliki hak atas kehancuran dinasti Hutama dan Corisand.
Di dalam penthouse The Obsidian, Adrian menutup laptop peraknya dengan satu gerakan perlahan namun definitif.
Bunyi katupan laptop itu menandai berakhirnya malam analisis mereka dan dimulainya fase aksi nyata yang penuh risiko.
Pikirannya masih terus bekerja dengan kecepatan penuh, menyusun ulang kepingan-kepingan informasi yang baru saja mereka dapatkan malam ini: Metadata digital yang menunjukkan usia file empat tahun lalu. Nama Thomas Armand yang tiba-tiba muncul dari kubur sejarah.
Julian yang mendadak bertindak sebagai pembawa pesan rahasia. Dan rekaman audio yang terputus di menit ketujuh belas.
Terlalu banyak kepingan teka-teki yang belum tersusun dengan sempurna pada tempatnya. Gambar besarnya masih buram, diselimuti oleh kabut intrik yang tebal.
Namun, untuk pertama kalinya sejak rangkaian teror ini dimulai mengacaukan hidup mereka, Adrian merasa kakinya telah berpijak di atas jalur yang benar.
Mereka tidak lagi hanya bertahan dari serangan badai, melainkan mulai berjalan menentang arah angin.
Sayangnya, baik Adrian maupun Alea belum menyadari satu fakta yang paling mengerikan dari permainan ini.
Setiap langkah taktis yang mereka ambil dengan penuh keyakinan untuk menuju apa yang mereka sebut sebagai "kebenaran", sebenarnya juga sedang membawa mereka berjalan semakin dekat ke pusat badai yang selama ini sengaja disembunyikan oleh dunia.
Dan badai masa lalu itu memiliki daya hancur yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih berbahaya daripada yang bisa dibayangkan oleh ambisi muda mereka berdua.
Malam di Kota Valerika mungkin akan segera berakhir seiring fajar yang mendekat, namun bagi Adrian dan Alea, kegelapan yang sesungguhnya baru saja dimulai.