NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Beban yang Terangkat

Berita tentang penangkapan Paman Surya dan Bibi Rina membuat Naura terdiam cukup lama. Ia memegang surat pemberitahuan dari kepolisian itu dengan tangan gemetar, perasaannya campur aduk antara terkejut, sedih, namun juga ada rasa lega yang tidak bisa ia sembunyikan. Selama bertahun-tahun, mereka adalah bayang-bayang yang selalu mengancam hidupnya, dan kini bayangan itu perlahan menghilang.

Aldo yang melihat reaksi Naura segera mendekat, berdiri di sampingnya dengan sikap waspada. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut, nada bicaranya tidak lagi sekeras saat pertama kali mereka bertemu.

Naura mengangguk perlahan, napasnya terasa sedikit lebih lega. "Saya... saya tidak tahu harus merasa bagaimana. Mereka memang sering menyakiti dan memanfaatkan saya, tapi tetap saja mereka orang yang mengasuh saya saat saya tidak punya siapa-siapa. Tapi di sisi lain, saya juga merasa beban di pundak saya terasa lebih ringan."

Aldo meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Naura, membuat gadis itu menoleh dan menatapnya. "Perasaanmu itu wajar. Kamu tidak harus merasa bersalah karena merasa lega. Mereka memilih jalan hidup mereka sendiri, dan konsekuensinya harus mereka tanggung. Sekarang, kamu tidak perlu lagi takut mereka datang mengganggu."

Kata-kata itu menenangkan hati Naura. Ia merasa dimengerti, bukan dihakimi. Sejak hari itu, benar-benar tidak ada lagi gangguan dari masa lalunya. Hidup di rumah besar itu menjadi semakin tenang, dan hubungan antara Naura serta Aldo perlahan berubah menjadi lebih dekat dan hangat.

Aldo yang dulunya selalu dingin dan tertutup, kini sering menunjukkan sisi lembutnya. Ia mulai bercerita tentang masa kecilnya yang sepi, tumbuh di keluarga kaya yang lebih mementingkan status daripada kasih sayang. Ia mengakui bahwa sifat dinginnya terbentuk karena ia tidak pernah belajar bagaimana cara mencintai dan diperlakukan dengan tulus—sampai ia bertemu Naura.

"Sejak kecil, saya diajarkan untuk selalu kuat, tidak boleh menunjukkan kelemahan, dan tidak boleh percaya pada siapa pun. Semua orang di sekeliling saya seolah hanya melihat kekayaan dan nama keluarga saya," ungkap Aldo suatu sore, saat mereka duduk di teras sambil menikmati teh hangat.

Naura mendengarkan dengan seksama, hatinya terasa perih mendengar kisah itu. Ia baru sadar bahwa di balik kemewahan dan kekuasaan, Aldo juga menyimpan kesepian yang mendalam. "Tapi Tuan... eh, Aldo. Sekarang ada saya. Saya tidak melihat harta atau nama besarmu. Saya hanya melihatmu sebagai dirimu sendiri," ucap Naura dengan tulus.

Mendengar ucapan itu, Aldo menatap matanya dalam-dalam. Ada kilatan perasaan yang jelas terlihat di sana—perasaan yang selama ini ia coba sembunyikan. "Itulah yang membuatmu berbeda dari semua orang yang pernah saya kenal. Kamu tulus, jujur, dan tidak pernah meminta apa-apa. Kamu telah mengubah banyak hal dalam hidup saya, Naura."

Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama tanpa ada rintangan. Suatu hari, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Dari sana turun seorang wanita cantik berpakaian sangat modis dan mahal, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang terlihat berwibawa—mereka adalah Ibu Aldo dan paman dari pihak ayahnya.

Begitu masuk ke dalam rumah, pandangan mereka langsung tertuju pada Naura yang sedang membersihkan meja di ruang tengah. Ibu Aldo mengernyitkan dahi, menatap Naura dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan merendahkan.

"Jadi ini pembantu yang sering kau ceritakan? Terlihat sederhana sekali," gumamnya dengan suara yang cukup keras untuk didengar.

Aldo segera berdiri di samping Naura, melindungi gadis itu tanpa sadar. "Bu, ini Naura. Dan dia bukan sekadar pembantu. Dia orang yang saya percayai," tegas Aldo dengan nada tegas.

Ibu Aldo mendengus tidak puas. "Percayai? Aldo, kamu tahu posisi kita. Kita adalah keluarga terpandang. Jangan sampai kamu terlalu dekat dengan orang yang tidak memiliki latar belakang yang jelas. Siapa tahu dia mendekatimu hanya demi kekayaanmu."

Mendengar tuduhan itu, wajah Naura memucat. Ia merasa rendah diri dan tidak nyaman. Ia tahu dari awal bahwa perbedaan status mereka akan menjadi masalah, dan kini hal itu benar-benar terjadi.

"Ibu salah menilai dia. Naura tidak pernah meminta apa pun dari saya. Dia bekerja keras dengan jujur dan tidak pernah memanfaatkan situasi apa pun," bela Aldo dengan tegas.

"Kamu masih muda dan buta perasaan. Nanti kamu akan mengerti," potong pamannya. "Lebih baik dia pergi dari sini sebelum timbul masalah yang lebih besar. Kami tidak ingin nama baik keluarga tercoreng."

Naura merasa tidak sanggup mendengar lebih lanjut. Dengan suara lembut namun tegas, ia berkata, "Maaf mengganggu. Saya akan pergi sebentar." Ia lalu berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan Aldo yang terlihat kesal dan khawatir.

Di dalam kamar, Naura duduk di tepi tempat tidur. Kata-kata ibu dan paman Aldo terus terngiang di telinganya. Ia sadar, meski perasaan di antara mereka tumbuh, dunia mereka tetaplah berbeda. Ia hanyalah gadis sederhana tanpa harta dan nama, sedangkan Aldo adalah pewaris konglomerat besar. Apakah mereka bisa benar-benar bersatu?

Tidak lama kemudian, ketukan pintu terdengar. Aldo masuk dan melihat Naura yang terlihat sedih. Ia duduk di samping gadis itu, lalu berkata dengan lembut, "Jangan pedulikan kata-kata mereka. Mereka tidak mengenalmu seperti saya mengenalmu."

Naura menunduk, air matanya menetes perlahan. "Tapi mereka benar, Aldo. Kita berasal dari dunia yang berbeda. Saya hanya gadis biasa, sedangkan kamu adalah CEO besar. Mungkin saya tidak pantas berada di sisimu."

Aldo segera memegang bahu Naura dan memaksanya menatap wajahnya. "Jangan pernah bicara seperti itu. Nilai seseorang tidak diukur dari harta atau statusnya, tapi dari hatinya. Kamu lebih berharga daripada semua wanita kaya dan berpendidikan yang pernah saya temui. Kamu membuat saya merasa hidup, membuat rumah ini terasa seperti rumah yang sebenarnya. Saya tidak peduli apa kata orang lain."

Kata-kata itu membuat hati Naura berdebar kencang. Ia melihat ketulusan dan keyakinan di mata Aldo. Namun, keraguan masih ada di hatinya. "Tapi keluarga..."

"Akan saya bicara dengan mereka. Saya akan meyakinkan mereka. Beri saya waktu," janji Aldo.

Beberapa hari kemudian, ibu dan paman Aldo kembali datang, kali ini membawa seorang wanita muda cantik bernama Karina—putri dari rekan bisnis ayah Aldo. Mereka berniat menjodohkan keduanya, menganggap Karina adalah pasangan yang cocok untuk Aldo.

"Karina ini lulusan universitas ternama, berasal dari keluarga yang setara dengan kita. Dia pasangan yang tepat untukmu, Aldo," kata ibu Aldo sambil memuji Karina.

Karina tersenyum manis, namun matanya melirik Naura dengan pandangan yang tidak bersahabat. "Halo, saya Karina. Tuan Aldo pasti sering merasa kesepian tinggal di rumah sebesar ini. Untung ada pembantu yang rajin," ucapnya dengan nada yang menyindir.

Naura hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab. Ia tahu ia tidak boleh membalas, meski hatinya terasa perih. Namun, Aldo segera merespons dengan tegas. "Terima kasih atas perkenalannya, tapi saya tidak tertarik dengan perjodohan. Dan tolong, hargai orang yang bekerja di sini."

Karina tertegun, tidak menyangka Aldo akan bersikap dingin padanya. Ibu Aldo menghela napas kesal. "Kamu ini keras kepala! Apakah kamu lebih memilih pembantu daripada wanita yang setara denganmu?"

"Yang saya pilih adalah orang yang saya cintai dan yang mencintai saya apa adanya. Bukan karena harta atau nama keluarga," jawab Aldo tegas.

Pertengkaran itu berlangsung cukup lama, namun Aldo tetap tidak bergeming. Akhirnya, keluarga Aldo pergi dengan perasaan kesal, namun mereka sadar tidak bisa memaksa Aldo dengan mudah.

Setelah mereka pergi, suasana menjadi hening. Aldo menoleh ke arah Naura, lalu berkata dengan suara lembut namun mantap, "Sudah saya katakan, saya tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita. Apakah kamu mau memberi saya kesempatan untuk membuktikannya?"

Naura menatap mata Aldo yang tulus, lalu perlahan mengangguk. Rasa takut dan ragu perlahan berganti dengan keyakinan. Mungkin perbedaan itu besar, tapi selama mereka saling percaya dan berjuang bersama, tidak ada yang tidak mungkin.

Namun, mereka belum tahu bahwa rintangan sebenarnya baru saja dimulai. Karina, yang merasa tersaingi dan malu karena ditolak, bertekad untuk menyingkirkan Naura dengan cara apa pun. Ia mulai merencanakan sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi Naura di mata Aldo dan keluarganya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!