NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Pagi menyapa Jakarta dengan hiruk-pikuk yang biasa terdengar di mana-mana, namun di dalam bangsal VVIP rumah sakit itu, suasana masih terasa hening dan sunyi senyap. Sunny sudah berpamitan sejak fajar baru menyingsing untuk berangkat ke sekolah. Ia sempat mengomel panjang lebar karena merasa berat sekali meninggalkan Bianca sendirian, namun keharusan mengikuti pelajaran dan ujian memaksanya melangkah pergi, baru beranjak setelah memastikan para perawat akan menjaga Bianca dengan saksama.

Gwen dan Kiyo pun tidak terlihat batang hidungnya di rumah sakit pagi itu. Gwen, sang atlet kebanggaan sekolah, terikat jadwal pertandingan basket antarklub yang sangat penting. Jika ia mangkir, pelatih pasti akan langsung menghubungi Maxwell Anderson, dan hal itu adalah masalah besar yang tidak ingin ia hadapi. Sementara Kiyo, meski hatinya sudah tidak tertinggal di kelas, terpaksa tetap hadir karena hari ini adalah hari Senin. Upacara bendera dan rapat besar pengurus OSIS menunggunya sebagai salah satu petinggi organisasi. Ia tidak punya pilihan selain menahan segala rasa kesal dan marah di balik penampilan seragamnya yang rapi.

Di tengah suasana yang sepi itu, sesosok tubuh muncul di ujung lorong bangsal VVIP. Sosok itu mengenakan hoodie longgar, topi baseball yang ditarik rendah menutupi sebagian wajah, kacamata hitam, serta masker yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. Ia melangkah dengan gerakan waspada, menghindari tatapan atau kontak mata dengan siapa saja hingga akhirnya tiba tepat di depan kamar bernomor 502.

Pintu kamar itu terbuka perlahan. Bianca yang sedari tadi melamun menatap ke arah jendela langsung menoleh dengan cepat. Begitu melihat sosok itu melepas topi dan maskernya, wajah Bianca yang pucat seketika berubah cerah dan berseri-seri.

"Bec!" seru Bianca pelan dengan nada suara yang terdengar girang.

Rebecca Harrington tersenyum tipis lalu meletakkan kantong plastik berisi bubur ayam langganan mereka serta martabak manis kesukaan Bianca ke atas meja samping ranjang. Melihat Bianca yang berusaha bangkit dan duduk tegak, Rebecca segera mendekat untuk mencegahnya.

"Jangan banyak gerak dulu, Bi. Lo masih lemes," ucap Rebecca lembut, nada bicaranya sangat berbeda dengan gaya bicara ketus yang biasa ia gunakan di lingkungan sekolah.

Bianca menatap kakaknya dengan senyum manis yang begitu tulus, sebuah senyum polos yang sudah sangat lama tidak ia perlihatkan kepada siapa pun. Melihat senyum itu, hati Rebecca terasa begitu perih. Ingatannya seketika melayang kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Saat itu Bianca masih berusia sepuluh tahun dan dirinya dua belas tahun. Mereka sering berlarian bermain di taman belakang rumah lama mereka, tertawa lepas tanpa beban, dan belum mengenal rasa sakit akibat kehancuran yang akan terjadi.

Senyum yang tulus dan polos itulah sesuatu yang sangat dirindukan oleh Rebecca. Namun kenyataan pahit telah menghancurkan segalanya. Berawal dari ambisi dan kelicikan keluarga Anderson, hidup keluarga mereka hancur berkeping-keping. Ayah mereka kini mendekam di penjara akibat fitnah dan jebakan kotor yang dilakukan Anderson, dan dengan keadaan yang terpaksa, Rebecca harus ikut berperan mengubah adiknya sendiri menjadi sosok yang berbeda. Ia menjadikan Bianca sebagai umpan yang cantik namun mematikan untuk meruntuhkan kekuasaan keluarga Anderson dari dalam.

'Andai ada jalan lain, Bi. Gue nggak mau lo jadi kayak gini,' batin Rebecca dengan perasaan yang sangat sedih.

Melihat Rebecca yang tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong dan matanya mulai berkaca-kaca, Bianca mengerutkan kening kebingungan. Ia lalu meraih tangan kakaknya agar kembali sadar.

"Bec? Lo kenapa? Kok malah bengong?" tanya Bianca makin penasaran.

Rebecca tersentak kaget dan segera mengerjapkan matanya berulang kali lalu memasang raut wajah yang tegar. "Nggak apa-apa. Gue cuma... gue cuma kaget aja liat keadaan lo yang beneran sekacau ini."

Rebecca lalu duduk di pinggir ranjang, matanya beralih menatap rambut Bianca. Rambut yang dulunya sangat indah, panjang, dan selalu dirawat dengan hati-hati itu, kini tampak pendek berantakan dengan potongan yang kasar dan tidak beraturan. Hati Rebecca terasa nyeri. Ia tahu betul betapa Bianca sangat menyayangi dan mencintai rambut indahnya itu.

"Gimana kejadian aslinya, Bi? Cerita ke gue," pinta Rebecca dengan nada yang serius.

Bianca menghela napas panjang lalu mulai bercerita. Ia menceritakan betapa lelahnya ia menjalani semuanya, bagaimana tekanan dari sandiwara yang ia mainkan perlahan mulai mencekiknya, hingga momen di mana ia nekat mengambil gunting itu. Meski begitu, Bianca tetap menutup rapat bagian tentang pertemuannya dengan Jonathan di taman kota. Baginya, Jonathan adalah luka pribadi yang belum sanggup ia bagi dengan siapa pun, bahkan dengan kakaknya sendiri.

Mendengar cerita adiknya yang terdengar begitu rapuh dan menderita, Rebecca tidak sanggup lagi menahan perasaannya. Ia langsung menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya yang erat, mendekap kepala adiknya itu di dadanya sekuat tenaga.

"Maafin gue, Bi... maafin gue," bisik Rebecca dengan suara parau. Air matanya kini jatuh menetes deras tanpa bisa dicegah lagi.

Di tengah pelukan hangat itu, Rebecca mengelus rambut pendek Bianca yang terasa kasar di ujung jarinya. Rasa bersalah yang mendalam menusuk hatinya. "Bi... kalau lo emang udah capek banget, kalau lo ngerasa nggak sanggup lanjutin ini semua... bilang ke gue ya? Jangan dipaksain lagi."

Rebecca sedikit melepaskan pelukannya agar bisa menatap mata Bianca lekat-lekat. "Bilang ke gue kalau lo mau berhenti. Biar gue aja yang lanjutin pembalasan dendam kita. Biar gue yang hadapin Anderson sendirian. Lo bisa pergi jauh, hidup tenang sambil nunggu Ayah bebas. Gue nggak mau liat lo hancur kayak gini lagi."

Bianca terdiam sejenak dalam dekapan kakaknya. Ia bisa merasakan detak jantung Rebecca yang penuh dengan rasa cemas dan khawatir. Namun perlahan, Bianca menggelengkan kepalanya. Ia lalu melepaskan diri dari pelukan itu dan menatap wajah kakaknya dengan sorot mata yang berubah drastis, terasa begitu dingin dan tajam.

"Enggak, Bec. Gue nggak akan pernah menyerah," ucap Bianca dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan.

"Tapi, Bi..."

"Gue nggak akan berhenti sampe keluarga Anderson hancur total," potong Bianca dengan tegas. "Mereka harus ngerasain sakit yang jauh lebih parah dari apa yang kita dan Ayah alami selama bertahun-tahun ini. Mereka udah ngambil semuanya dari kita, Bec. Jadi gue bakal ambil semuanya dari mereka. Nyawa mereka pun kalau perlu."

Rebecca menatap adiknya dengan perasaan ngeri sekaligus bangga di saat bersamaan. Bianca benar-benar sudah melangkah terlalu jauh. Sosok mengerikan yang mereka ciptakan itu kini telah tumbuh begitu kuat, bahkan mungkin lebih kuat dari penciptanya sendiri.

"Gue bakal selalu di belakang lo, Bi," ucap Rebecca akhirnya seraya menyeka sisa air mata yang menetes di pipi Bianca. "Apapun yang lo butuhin, gue bakal siapin. Termasuk kalau lo butuh bikin Gwen dan Kiyo saling bunuh."

Bianca tersenyum miring, sebuah senyum yang sangat kontras dengan wajah polos dan manisnya. "Makasih, Bec. Foto dan video yang lo kirim ke Kiyo kemarin bener-bener kerja bagus. Mereka berantem hebat di sini sampe harus dilerai sama sekuriti rumah sakit."

Rebecca tertawa kecil meski hatinya masih terasa berat. "Gue tau Kiyo nggak bakal tinggal diem liat kakaknya yang kelihatan baik itu malah ngambil tempat dia. Sekarang, lo fokus buat sembuh dulu. Biar drama selanjutnya bisa lo mainin dengan sempurna."

Bianca mengangguk setuju lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rebecca. Di ruangan mewah itu, dua bersaudara Harrington kembali menguatkan tekad mereka. Di luar sana, keluarga Anderson sama sekali belum sadar bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar dimulai. Bianca akan kembali dengan identitas barunya, dengan rambut pendeknya yang menjadi lambang matinya sosok Bianca yang dulu, sekaligus tanda kelahiran sang penghancur yang tidak lagi memiliki rasa ampun kepada siapa pun.

"Makan dulu buburnya, mumpung masih anget," kata Rebecca seraya membuka bungkusan makanan itu. "Setelah ini, gue harus balik ke sekolah sebelum ada yang curiga gue bolos terlalu lama."

"Iya, Bec. Hati-hati," sahut Bianca lembut.

Saat Rebecca kembali memakai maskernya dan bersiap melangkah pergi, Bianca menatap punggung kakaknya yang menjauh.

1
Reva Reva nia wirlyana putri
udh gk tau mau komen apa intinya bagussss
Reva Reva nia wirlyana putri
ihhh sukak bgt sama alurnya
Reva Reva nia wirlyana putri
akhirnya lanjut
Nian Sari
suka banget sama persahabatan mereka😍
Nian Sari
sangat mengganaskan sekali
Nian Sari
suka banget🎊
Nian Sari
lah dah lanjut ternyata😱
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!