NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. Luapan Amarah Yang Berbahaya.

Rin pergi ke Elfuss menjalankan perintah dari Kurza. ‎Sesampainya di perbatasan hutan Lindung. Rin melangkah menyusuri jalanan setapak Elfuss yang rimbun, tempat di mana aroma kayu basah dan energi alam terasa begitu kental. (Black Shadows / sihir lainya tidak mampu menembus perlindungan Elfuss). Rin menemui penjaga Hutan Lindung agar di antar masuk ke Elfuss. Rin paham betul jika ia nekad menembus Hutan Lindung sendiri yang ada ia akan tersesat.

Setelah Rin bertemu dengan salah satu penjaga Hutan Lindung yang sudah mengenaleju Rin. Rin pun di antar ke Elfuss. Setelah menyelesaikan tugasnya menyampaikan pesan kepada Kepala Suku jika dalam waktu dekat ini Kurza akan berkunjung ke Elfuss.

Rin kembali ke Alabas, jika keluar dari Elfuss; Black Shadows bisa digunakan,. ‎"VWOOM!” Bayangan di bawah kakinya meluas dengan cepat, menelan tubuhnya ke dalam kegelapan total. Hanya butuh beberapa saat baginya untuk melintasi jarak yang memisahkan Elfuss dan ibu kota Alabas.

Rin muncul kembali di sudut tempat persembunyian. Ia segera merasakan aura Kurza—dingin, tajam, namun juga terasa goyah karena beban emosi yang dipendam pria itu. Ia menemukan Kurza sedang berdiri di atas sebuah atap bangunan tua, menatap menara istana yang kini dikuasai Zhit.

"Rin, temui Kel dan suruh dia mencari informasi kapan dan dimana Zhit membawa persembahan untuk iblis." Perintah Kurza selanjutnya. "Baik Tuan" jawab Rin dan menghilang begitu saja. Kurza berdiri buka semata - mata untuk melihat atau memandangi menara istana. Ia menunggu malam tiba untuk bergerak ke pemukiman.

Malam pun tiba. ‎Malam di Alabas terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah kegelapan itu sendiri bernapas. Kurza mengenakan jubah hitam lusuh, wajahnya tertutup kain tipis yang hanya menyisakan sorot matanya yang dingin. Ia melesat dari atap ke atap, bergerak dikegelapan malam tanpa suara “thud” sedikit pun.

Penglihatannya yang tajam dan penciumannya yang peka memungkinkannya melihat atau mencium bau busuk iblis yang menyamar menjadi manusia. Satu iblis yang sedang berjaga di gang gelap menjadi sasaran pertama. Kurza muncul tepat di belakangnya. “Kreeekkkk.... Kreeekkk” suara leher di putar oleh Kurza, tanpa suara, tanpa pertempuran. Satu iblis berhasil ia lumpuhkan.

Kurza bergerak lagi. Di sebuah kedai tua yang sudah tutup, tiga iblis lainnya sedang berpesta. Dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata manusia, Kurza menerjang masuk.“SWISH—THWACK—CRUNCH!”Satu hantaman di dada, satu hantaman di ulu hati, dan satu patahan leher yang bersih.

Ketiganya tewas dalam hitungan detik. Kurza berdiri di tengah ruangan, napasnya tenang, menatap tangannya yang sedikit bergetar—bukan karena takut, tapi karena emosi mulai meluap. Kurza menarik napas panjang, mengatur kembali emosinya, yang terganggu oleh ingatan jika kini Ratu Iris telah meninggal di bunuh oleh iblis.

Kurza ingin melanjutkan aksinya, namun dia sendiri ragu pada dirinya, luapan emosi yang tidak bisa terkontrol. "Rin... Kemarilah!" Panggil Kurza. "Rin muncul dari dan kaget melihat Aura merah pekat dan hitam keluar dari tubuh tuanya. "Ada apa Tuan Kurza" tanya Rin. "Ambil bangkai - bangkai ini dan musnahkan jangan sampai ada jejak!" perintah Kurza sambil menunjuk ke arah iblis yang baru saja ia habisi. "Setelah itu, temui aku di kamar!" lanjut Kurza.

Kurza melangkah masuk ke dalam kamar. Ia duduk di pinggiran tempat tidur dalam kegelapan, membiarkan keheningan ruangan menyelimuti dirinya yang lelah. Tak lama kemudian, pintu berderit pelan; Rin muncul dari balik bayangan, wajahnya memancarkan kekhawatiran karena melihat aura dari tuanya yang berbeda. "Rin," panggilnya, suaranya rendah dan serak. "Ya, Tuan Kurza?" sahut Rin sambil mendekat. "Siapkan air hangat. Aku ingin mandi," perintah Kurza tanpa menoleh.

‎Rin bergerak cepat dan menyiapkan apa yang Kurza perintahkan. Segera menyiapkan bak kayu besar dengan air hangat yang mengepul, mencampurkannya dengan rempah aroma terapi. Kurza melihat Rin selesai dengan tugasnya. Ia kemudian berdiri dan mulai melepaskan Semua pakaian yang menempel di badanya.

Rin canggung melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia hanya bisa diam dan melihat tuanya melangkah je arah bak kayu tanpa sehelai kain pun. Saat Kurza sudah berada di dalam bak, Kurza menengok ke arah Rin. Rin yang masih belum paham apa maksud dari tuannya itu hanya diam. Menunggu aba - aba dari Kurza.

Kurza yang memahami jika Rin belum paham apa yang di inginkan olehnya. Memberikan perintah pada Rin. "Sini Rin, bantu aku membersihkan badan!" Rin yang kaget dengan perintah Kurza sedikit bengong. Karena permintaan itu terasa intim, namun ia tahu bahwa dalam kondisi seperti ini, Kurza hanya sedang mencari cara untuk membasuh beban mental yang menghimpitnya.

Tanpa jawaban Rin melepas Jubah dan penutup wajah yang selama ini ia kenakan. Kini wajah cantik Rin terpampang jelas. Rin melangkah maju dengan kain lembut. Dengan canggung ia mulai menggosok bahu dan punggung Kurza. Uap air yang hangat memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang tenang dan harum oleh rempah - rempah aroma terapi.

Kurza memejamkan mata, merasakan kehangatan air dan sentuhan Rin yang kaku. Bagi Rin, momen ini adalah momen yang spesial, ia bisa leluasa menyentuh badan tuannya dari kaki sampai wajah. Karena dari 5 anggota Vallen hanya Miyuki saja yang dengan leluasa menyentuh bahkan memukul Kurza.

Rin mengeringkan badan Kurza dengan sebuah kain , dan memakaikan kain itu di tubuh Kurza dari bawah perut sampai lutut. Kurza menarik Rin ke arah tempat tidur dan menyuruh Rin untuk duduk di tepian ranjang.

Kurza, dengan telanjang dada, merebahkan kepalanya di pangkuan Rin. Sebuah keintiman yang langka bagi perempuan bayangan seperti Rin. "Rin," gumam Kurza sambil menatap langit - langit kamar yang lusuh. "Tadi di kota, saat aku menghabisi iblis - iblis itu... aku tidak hanya sedang membersihkan kota." Ia terdiam sejenak, wajahnya mengeras menahan emosi.

"Aku sedang menguji diriku sendiri. Aku ingin tahu, seberapa kuat aku bisa bertahan saat ingatan tentang kematian Iris menyerangku di hadapan iblis - iblis itu. Setiap kali aku membunuh iblis, wajahnya Iris selalu muncul, seolah mengingatkan kegagalanku untuk menjaganya." Kurza memejamkan mata, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Rin hanya bisa terdiam, kekhawatirannya selama ini semakin nyata. Ia mencoba menyetuh rambut Kurza namun Rin tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya. "Maafkan saya Tuan, dalam kegagalan saya untuk melindungi Ratu Iris dan mengendus rencana Zhit." Seru Rin yang penuh penyesalan. "Tidak Rin, kau tidak salah, malah aku berterima kasih kau berhasil membawa bayi Khiya." jawab Kurza.

"Aku tidak bisa bergerak tanpa Miyuki, Rin. malam ini istirhat lah. Hari ini kau melakukan banyak pekerjaan." Perintah Kurza sembari bangun dari pangkuan Rin. Tanpa aba - aba dan perintah Kurza menarik badan Rin langsung menggigit leher Rin. Sentak Rin kaget dengan apa yang di lakukan oleh Kurza dengan sangat cepat. Namun belum sempat otak Rin merespon apa yang terjadi, tubuh Rin merasakan sensasi yang luar biasa.

Rin Terperanga seperti patung merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini. Cukup lama Kurza menghisap darah Rin. Rambut Rin yang mengganggu di singkirkan dengan kasar oleh Kurza. Setelah cukup lama menghisap darah Rin, Kurza melepaskan gigitannya. Menyentuh lembut pipi Rin. Rin merasakan darah manusianya hilang di hisap oleh Kurza. Sekarang yang ada di tubuh Rin sisa darah Vampir Kurza.

"Tuan?" Gumam Rin yang kebingungan. "Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang berharga bagiku." Sekarang kau sepenuhnya menjadi Vampir. Lihatlah! begitu cantiknya matamu." Ucap Kurza dengan penuh senyum. Rin tersipu malu mendengar pengakuan dari Kurza. "Terima kasih Tuan." Balas Rin dengan wajah yang memerah. "Besok kita ke Elfuss, meminta ijin untuk membawa daun dari pohon Ash (pohon suci milik bangsa Elf)." Seru Kurza.

1
T28J
hadiir kakak 🙏
T28J: mampir juha ketempat saya kak🙏
kita saling support ya 👍
total 2 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!