Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Ruangan bunker kembali sunyi setelah file milik Han terbuka. Monitor tua itu masih berkedip redup, menampilkan wajah Han kecil dengan angka 021 di bawah fotonya. Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Arga bahkan sampai lupa kopinya sudah mulai dingin.
Sementara Nara masih berdiri sambil memandang barcode di dada Han. Ia mencoba memahami bagaimana seseorang bisa bertahan hidup setelah semua kejadian itu. Han akhirnya membenarkan kausnya kembali dengan pelan. Gerakannya tenang seperti biasa.
Setelah melihat isi file itu, Nara menyadari satu hal, kalau ketenangan Han bukan bawaan dari lahir. Itu hasil menahan rasa sakit selama bertahun tahun.
Han duduk kembali di kursi dekat meja komputer. Matanya menatap ke layar monitor.
“Aku bukan satu-satunya anak di sana,” katanya pelan.
“Ya jelas,” potong Arga sambil mengusap wajahnya.
Han menggeleng , “maksudku… aku tidak sendirian waktu masuk.”
Nara langsung memperhatikan perubahan nada suaranya. Lebih pelan dan lebih berat.
Han menatap dengan pandangan kosong ke layar monitor yang masih berkedip redup.
“Aku punya adik.”
Kalimat itu membuat Arga perlahan duduk tegak lagi.
“Adik?”
Han mengangguk pelan.
“Namanya Rian.”
Nama itu keluar sangat pelan. Namun bisa membuat seluruh ruangan terasa berubah. Nara belum pernah mendengar Han menyebut nama siapa pun dengan cara seperti itu. Seolah takut kenangan itu hancur kalau diucapkan terlalu keras.
“Aku terus teringat dia,” lanjut Han. “Itu alasan mereka ngga pernah bisa cuci otakku sepenuhnya.”
Arga mengernyitkan dahinya, “mereka tahu soal dia?”
Han tertawa kecil. Pahit. Tatapannya perlahan mengeras.
“Tentu.”
“Helios selalu tahu titik lemah semua orang.”
“Apa yang mereka lakukan?” kata Nara sambil duduk perlahan di kursi di seberang Han.
Han diam beberapa detik. Lalu mulai bicara pelan.
“Waktu kami diambil, Rian sedang sakit.”
“Paru-parunya lemah sejak kecil.”
Tatapan Han kosong, seolah ia melihat masa lalunya tepat di depan mata.
“Mereka bilang akan merawatnya.”
Suara dengung ventilasi kembali terdengar memenuhi kesunyian ruangan itu.
Han melanjutkan, “mereka bilang kalau aku patuh…”
“…kalau aku bertahan…”
“…Rian akan hidup.”
Nara merasakan dadanya menegang. Tiba-tiba semuanya masuk akal. Kenapa Han sanggup bertahan. Kenapa ia bisa terus hidup di tempat seperti itu. Bukan demi dirinya sendiri tapi demi adiknya.
Han menunduk pelan.
“Aku percaya.”
Potongan memori perlahan muncul di kepalanya. Ruangan putih. Han kecil duduk dengan penuh luka di lantai yang dingin. Seorang pria berseragam hitam berdiri di depannya sambil memperlihatkan foto seorang anak laki-laki kecil yang sedang tidur di ranjang medis.
“Adikmu masih hidup.”
“Bertahanlah sedikit lagi.”
Han kecil menggenggam foto itu erat. Matanya merah dan ia mengangguk. Dan sejak hari itu, ia berhenti melawan. Bukan karena menyerah, tapi karena ia ingin Rian hidup.
Kembali ke bunker, Han mengusap wajahnya pelan.
“Aku melakukan semua yang mereka mau.”
“Latihan.”
“Misi.”
“Eksekusi.”
Tatapannya kosong.
“Karena aku pikir, selama aku berguna buat mereka… Rian akan aman.”
Arga menatap layar perlahan. Ekspresinya berubah lagi, kini bukan hanya marah, tapi juga sedih.
“Han…”
Han menggeleng kecil. Sudut bibirnya bergerak tipis.
“Lucunya…”
“…aku bahkan hampir lupa wajahnya.”
Kalimat itu terasa menghantam lebih keras daripada cerita lain sebelumnya. Nara tidak tahu harus berkata apa. Karena tidak ada kata yang cukup untuk seseorang yang dipaksa tumbuh dalam keadaan seperti itu.
Han bangkit perlahan lalu berjalan ke arah lemari besi. Ia membuka salah satu laci kecil paling bawah dan mengeluarkan sebuah map tipis berwarna abu-abu.
Berbeda dari map yang lain, ini terlihat jauh lebih kusut, terlihat lebih sering dibuka. Han kembali ke meja dan meletakkannya dengan perlahan.
“Aku menemukan ini beberapa tahun lalu.”
Nara memperhatikan map itu, ada bekas lipatan lama di ujungnya.
Han membuka perlahan dan menarik satu lembar file medis dari dalamnya.
Di bagian atas tertulis:
SUBJECT SUPPORT RECORD — RIAN
Nara menahan napas. Han tidak langsung melihat isi file itu. Seolah meski sudah berkali-kali membacanya, rasa sakitnya tidak pernah benar-benar hilang.
Arga membaca beberapa baris pertama pelan.
Lalu wajahnya langsung berubah.
“…Han.”
Han tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Nara mengambil lembar itu perlahan. Matanya bergerak membaca bagian bawah.
STATUS: DECEASED
AGE: 8
ORGAN HARVEST COMPLETED
Napas Nara tercekat, matanya melotot dan tangannya gemetar. Tidak, ini tidak mungkin.
Han cuma duduk diam seperti patung dengan tatapan yang lurus ke depan.
“Aku menemukan file itu saat menyusup ke arsip internal.”
“Rian sudah mati, jauh sebelum aku menyelesaikan pelatihanku,” lanjutnya dengan suara yang tenang seperti sudah kehilangan emosinya.
Sunyi total. Bahkan Arga, tidak mampu bergerak sekarang, hanya diam termangu. Han menatapnya sambil tertawa kecil, tapi terasa ada yang patah.
“Mereka cuma memakai namanya buat mengendalikanku.”
Nara merasakan amarahnya mulai naik perlahan dalam dadanya. Tapi Han… Han justru terlihat terlalu tenang. Dan itu terasa lebih menyakitkan.
“Aku ingat malam itu,” katanya pelan.
Potongan memori lain muncul. Han muda berdiri di ruang arsip yang gelap. Tangannya gemetar memegang file Rian. Matanya merah dan napasnya tidak beraturan. Lalu suara langkah mendekat dari lorong belakangnya. Dan untuk pertama kalinya, Han membunuh seseorang bukan karena perintah. Tapi karena marah.
Kembali ke bunker.
Han menunduk pelan.
“Setelah malam itu…”, tatapannya perlahan naik ke arah layar monitor , “…aku mulai mencari cara menghancurkan Helios.”
Nara akhirnya berdiri pelan dan tanpa banyak bicara, ia mendekat dan memegang tangan Han. Pria itu sedikit terkejut. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak ada yang menyentuhnya tanpa rasa takut. Nara menggenggam tangannya dengan erat. Dan untuk pertama kalinya ia melihat tatapan Han benar-benar goyah.