NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Sayap Yang Terluka

Aroma alkohol mahal, kepulan asap cerutu yang tipis, dan dentum musik bertempo lambat dengan aransemen jazz yang seksi langsung menyambut siapa saja yang melangkah melewati pintu kedap suara The Butterfly. Kelab malam ini tersembunyi dengan sangat rapi di salah satu sudut distrik bisnis paling elite di Jakarta. Tempat ini tidak memiliki papan nama besar di luar gedung. Hanya mereka yang memegang kartu keanggotaan VIP berlapis emas yang tahu keberadaan oasis malam ini—sebuah tempat di mana para konglomerat, pejabat, dan pewaris takhta bisnis melepas topeng kemunafikan mereka dan memuaskan hasrat terdalam mereka.

​Di dalam salah satu ruang rias eksklusif yang diterangi lampu neon bernuansa ungu dan merah marun, Renata berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas. Ia menatap lekat pantulan dirinya sendiri.

​Jika ada orang dari perpustakaan kota tempatnya bekerja di siang hari melihatnya saat ini, mereka pasti tidak akan pernah mengenali gadis itu. Di siang hari, Renata adalah lambang dari gadis yang tak kasat mata—memakai kacamata bulat tebal yang menutupi separuh wajahnya, rambut cokelat yang selalu dicepol asal-asalan, serta sweter longgar rajut yang menenggelamkan bentuk tubuhnya.

​Namun malam ini, di bawah lampu kelab malam, ia adalah "Papillon". Kupu-kupu malam yang paling dicari, paling misterius, dan paling mahal di seluruh bar.

​Sebuah gaun malam berbahan sutra hitam pekat melekat sempurna di tubuhnya yang ramping, mengekspos lekuk bahunya yang indah namun tetap terlihat sangat elegan. Jemari lentiknya yang dingin perlahan mengambil sebuah topeng renda hitam bermotif sayap kupu-kupu dari atas meja rias. Dengan gerakan yang anggun, ia mengikatkan tali topeng itu di balik kepalanya. Topeng itu menyembunyikan mata dan separuh wajah bagian atasnya, menyisakan hidung mancung dan bibir ranum yang kini dipulas lipstik merah menyala.

​"Papillon, kamu sudah siap?"

​Pintu ruang rias terbuka sedikit, menampilkan wajah cemas sang manajer bar, seorang pria paruh baya bernama mami Sandra. Wanita itu menatap Renata dengan pandangan campur aduk antara kagum dan khawatir.

​"Tamu di Ruang VIP 1 malam ini bukan orang sembarangan. Dia memesanmu secara khusus, bahkan membayar sepuluh kali lipat dari tarif biasamu hanya untuk memastikan tidak ada hostess lain yang mendekatinya malam ini. Tolong berhati-hatilah. Pria itu... dia bisa menghancurkan kelab ini hanya dengan satu petikan jari."

​Renata membalikkan tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu memikat namun sedingin es di balik topeng rendanya. "Siapa pun dia, Mami, selama dia punya uang dan kekuasaan, aku akan melayaninya dengan baik. Bukankah itu tugas seekor kupu-kupu?"

​Mami Sandra mendesah pelan, lalu menutup pintu kembali. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang melatarbelakangi gadis secerdas dan seanggun Renata terjun ke dunia malam ini. Renata tidak pernah menyentuh narkoba, tidak pernah membiarkan tamu menyentuh tubuhnya lebih dari batas wajar, dan selalu menjaga jarak yang ketat. Namun, ada satu hal yang mami Sandra tahu pasti: ada api kemarahan yang membakar di dalam mata indah gadis itu.

​Setelah pintu tertutup, senyum di bibir Renata langsung lenyap. Tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

​‘Siapa pun dia, semakin tinggi jabatannya di kota ini, semakin dekat aku dengan kebenaran,’ batin Renata dalam hati.

​Kilasan memori satu tahun lalu kembali menghantam dadanya seperti godam yang berat. Malam kelam saat kakak perempuannya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, pulang ke rumah dalam keadaan hancur. Tubuhnya penuh memar, pakaiannya robek, dan jiwanya telah mati sebelum akhirnya jasadnya ditemukan tergantung di langit-langit kamar mandi beberapa hari kemudian. Polisi dengan cepat menutup kasus itu, menyebutnya sebagai murni bunuh diri akibat depresi. Namun, Renata menemukan sebuah manset kemeja berlapis emas dengan grafir lambang elang—lambang dari Dirgantara Group, raksasa bisnis terbesar di negeri ini.

​Kakaknya adalah korban dari kebinatangan salah satu petinggi perusahaan itu, dan Renata bersumpah di atas makam kakaknya bahwa ia akan menyeret pelakunya ke neraka, tidak peduli seberapa tinggi ia harus memanjat atau seberapa kotor ia harus melangkah.

​Renata menarik napas dalam-dalam, menyusun kembali dinding pertahanannya, lalu melangkah keluar dari ruang rias. Langkah kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter terdengar berirama di atas lantai marmer hitam koridor menuju Ruang VIP 1.

​Dua orang pengawal berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam langsung membukakan pintu kayu jati besar begitu Renata mendekat. Atmosfer di dalam ruangan itu seketika berubah begitu Renata melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dilengkapi dengan fasilitas mewah, namun suasananya terasa begitu mencekam dan sunyi. Tidak ada musik yang menyala.

​Di tengah ruangan, duduk seorang pria sendirian di atas sofa kulit hitam yang panjang. Pria itu mengenakan kemeja hitam formal yang dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan garis leher yang tegas. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku, memamerkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya serta urat-urat tangan yang menonjol maskulin.

​Pria itu adalah Adrian Dirgantara.

​CEO muda yang terkenal kejam di dunia bisnis, perfeksionis, dan pewaris tunggal dari seluruh kekayaan Dirgantara Group. Wajahnya yang simetris bak pahatan patung Yunani terlihat dingin tanpa ekspresi di bawah pendar lampu temaram kelab. Mata elangnya yang tajam langsung terarah ke arah Renata begitu pintu menutup di belakang gadis itu.

​Adrian sedikit tertegun, namun ekspresinya tetap datar. Sepanjang hidupnya, ia dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang selalu mencari perhatiannya, entah itu model papan atas atau putri dari rekan bisnisnya. Biasanya, wanita malam yang dikirim ke ruangannya akan langsung merangkak mendekat, bergelayut manja di lengannya, dan mengeluarkan aroma parfum yang menyengat.

​Namun wanita di depannya ini berbeda. Wanita bertopeng renda hitam ini tetap berdiri tegak, menjaga jarak sekitar tiga langkah darinya. Dagunya terangkat sedikit, memancarkan aura keanggunan yang alami dan keteguhan yang aneh untuk ukuran seorang wanita yang bekerja di tempat seperti ini.

​"Jadi, kamu yang bernama Papillon?" suara berat dan bariton Adrian memecah keheningan ruangan, bergema dengan nada intimidasi yang kuat. "Kupu-kupu malam yang rumornya mengatakan tidak bisa dibeli atau disentuh hanya dengan segepok uang?"

​Renata tidak gentar. Ia berjalan mendekati meja marmer di depan Adrian dengan gerakan yang sangat halus, lalu mengambil botol wiski mahal yang sudah tersedia di sana. Dengan lihai, ia menuangkan cairan amber itu ke dalam gelas kristal berisi es batu, tanpa menimbulkan suara dentingan yang mengganggu.

​"Di tempat ini, Tuan yang Terhormat," suara Renata terdengar lembut namun memiliki penekanan yang berani, "uang Anda hanya membeli waktu saya untuk menuangkan minuman dan mendengarkan keluh kesah Anda. Uang Anda tidak membeli tubuh saya, apalagi harga diri saya."

​Adrian mendengus remeh, namun kilatan ketertarikan melintas di matanya yang hitam pekat. "Harga diri di sebuah bar? Sungguh sebuah lelucon yang menarik."

​Adrian menerima gelas yang disodorkan Renata. Jari mereka sempat bersentuhan selama sepersekian detik, dan Adrian bisa merasakan betapa dinginnya jemari wanita itu, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang tampak membara di balik topeng.

​Tanpa diduga, Adrian menaruh gelas wiski itu kembali ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras. Ia kemudian merobek keheningan dengan mengeluarkan sebuah dokumen tebal berlogo resmi dari dalam tas kerjanya dan melemparkannya ke atas meja marmer, tepat di hadapan Renata.

​Di halaman depan dokumen itu, tercetak huruf-huruf tebal yang sangat jelas: PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.

​Renata menurunkan pandangannya, menatap dokumen itu dengan kening yang sedikit berkerut di balik topengnya. "Apa maksudnya ini, Tuan?"

​"Aku tidak datang ke tempat kotor ini untuk mencari hiburan malam atau teman tidur," ujar Adrian dengan nada sedingin es. "Aku butuh seorang wanita yang bisa berakting dengan sempurna. Wanita yang tidak memiliki ikatan dengan keluarga konglomerat lain, tidak memiliki latar belakang yang bisa dimanfaatkan musuhku, dan yang paling penting... wanita yang tahu cara menyimpan rahasia."

​Adrian memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut, menatap Renata seolah-olah sedang menguliti jiwa gadis itu. "Kakekku memberikan syarat dalam wasiatnya. Aku harus menikah dalam waktu satu bulan ini jika ingin mempertahankan takhta sebagai CEO tertinggi di Dirgantara Group. Jika tidak, sepupuku yang licik itu yang akan mengambil alih."

​Mendengar nama 'sepupu' dan melihat logo Dirgantara Group berlapis emas di pojok dokumen tersebut, jantung Renata tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang. Rasa ngeri sekaligus gembira yang luar biasa menjalar di dalam dadanya.

​Arsen Dirgantara... Sepupu Adrian adalah orang yang selama ini ia curigai sebagai pelaku utama pembunuhan kakaknya. Dan sekarang, takdir justru mengantarkan Adrian Dirgantara—sang pemegang kekuasaan tertinggi—langsung ke hadapannya, menawarkan sebuah kunci emas untuk masuk ke dalam lingkaran terdalam keluarga terkutuk itu.

​"Aku menawarkan sebuah kesepakatan," lanjut Adrian, tidak menyadari badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam diri wanita di depannya. "Jadilah istri sewaanku selama satu tahun. Aku akan membayar semua hutangmu jika kamu punya, memberimu kemewahan yang tidak pernah kamu bayangkan, dan membersihkan namamu dari tempat ini. Setelah satu tahun, kita bercerai, dan kamu bebas pergi dengan membawa uang kompensasi yang sangat besar. Namun ada satu syarat mutlak."

​Adrian berdiri, membuat tubuhnya yang tinggi tegap menjulang di depan Renata, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa. "Jangan pernah lancang untuk jatuh cinta padaku. Dan jangan pernah berbohong, karena aku membenci pengkhianatan lebih dari apa pun di dunia ini. Begitu aku tahu kamu bermain di belakangku, aku pastikan kamu akan lenyap tanpa jejak."

​Renata menatap mata elang Adrian. Ancaman pria itu nyata, bukan sekadar gertakan. Namun, dendam yang sudah mengakar di dalam hati Renata jauh lebih besar daripada rasa takutnya terhadap kematian. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup yang tidak boleh ia lewatkan.

​Renata tersenyum manis, sebuah senyuman misterius yang membuat Adrian terpaku sesaat. Gadis itu maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga Adrian bisa menghirup aroma parfum melati yang samar dan menenangkan dari tubuh Renata—sangat berbeda dari parfum menyengat wanita malam pada umumnya.

​"Tawaran yang sangat murah hati, Tuan Dirgantara," bisik Renata dengan nada suara yang berani.

​Adrian menyipitkan matanya, kilatan curiga muncul di wajahnya yang tegas. "Bagaimana kamu bisa tahu margaku? Aku tidak pernah menyebutkan nama belakangku sejak masuk ke sini."

​Renata tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti denting lonceng perak namun menyimpan misteri. "Siapa di kota ini yang tidak mengenal sang penguasa tunggal Dirgantara Group? Wajah Anda sering muncul di majalah bisnis, Tuan. Lagipula, seekor kupu-kupu harus tahu bunga mana yang memiliki madu paling beracun sebelum ia hinggap."

​Mendengar jawaban tak terduga itu, sudut bibir Adrian terangkat sedikit membentuk seringai tipis yang jarang sekali ia perlihatkan. "Kamu menarik, Papillon. Jadi, apa jawabanmu?"

​Renata tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih pulpen berlapis emas yang terselip di saku kemeja Adrian dengan gerakan yang berani namun tetap terlihat sopan. Ia menarik dokumen pernikahan kontrak itu mendekat, lalu dengan tangan yang mantap, ia menorehkan tanda tangan di atas garis bertuliskan 'Pihak Kedua'.

​Ia tidak menuliskan nama aslinya. Ia menuliskan nama fiktif yang selama ini melindunginya di dunia malam: Papillon.

​"Mulai malam ini, saya menerima kontrak Anda, Suamiku," ucap Renata, menatap langsung ke dalam manik mata Adrian dengan tatapan yang penuh intrik tersembunyi.

​Adrian mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani itu dengan puas. "Besok pagi, asisten pribadiku akan menjemputmu. Mulai besok, kamu bukan lagi kupu-kupu malam di bar ini. Kamu adalah Nyonya Adrian Dirgantara."

​Adrian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP tanpa menoleh lagi, menyisakan Renata yang masih berdiri di bawah pendar lampu ungu yang temaram.

​Begitu pintu tertutup rapat dan langkah kaki Adrian menjauh, Renata perlahan melepaskan topeng renda hitamnya. Di balik topeng itu, air mata yang sudah lama ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya yang mulus, namun matanya memancarkan kilat balas dendam yang membara.

​"Kak... tunggu aku," bisik Renata lirih pada kegelapan malam. "Aku sudah berhasil masuk ke dalam rumah mereka. Aku bersumpah, mereka semua akan membayar setiap tetes darah dan air mata yang telah mereka renggut darimu."

​Permainan berbahaya di atas kertas pernikahan telah resmi dimulai. Renata telah mengepakkan sayapnya ke dalam api, siap terbakar demi membakar musuh-musuhnya. Namun, ia tidak pernah menyadari bahwa Adrian Dirgantara bukanlah pria biasa yang bisa ia kendalikan, dan rahasia di antara mereka berdua akan menjebak mereka dalam pusaran takdir yang tak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!