NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perusahaan Apple Giant

Hampir seluruh lingkaran pertemanan Nowi berhubungan dengan Agnia. Jika bukan karena Agnia yang selalu mengajaknya bergaul, Nowi hanya akan menghabiskan waktu di rumah untuk membaca buku. Sejak mengenal Agnia, hidup Nowi menjadi jauh lebih baik. Ia sadar, tanpa sahabatnya itu, hidupnya pasti akan kacau balau.

Segila apa pun Agnia, ia adalah tempat pulang bagi Nowi. Ia adalah orang yang membuat Nowi merasa hidup dan menikmati hari-harinya.

Ponsel Nowi berdering lagi. Ini adalah yang kesepuluh kalinya dalam tiga puluh menit terakhir. Dengan wajah lelah, ia mengambil ponsel dari dalam tas, mendorongnya ke arah Agnia di seberang meja bar, lalu meletakkan kepala di atas meja sambil mengerang pelan.

“Giliran kamu yang lihat. Dia lagi, kan?”

Agnia mengambil ponsel itu, membaca isinya sebentar, lalu memutar layarnya agar Nowi dapat melihatnya.

“Wah. Baru satu jam, dia berubah dari orang sombong jadi orang Gila, Nowi.”

Nowi membaca pesan-pesan yang nada bicaranya semakin tidak terkendali.

Oktavian: Kita harus ngobrol. Pulang, kita selesaiin ini baik-baik.

Oktavian: Nowi. Kamu nggak boleh lakuin ini.

Oktavian: Angkat telepon itu, Nowi, jangan diem aja.

Nowi mendorong balik ponsel itu karena tidak sanggup melihatnya lagi. Ia tidak mau membiarkan laki-laki itu memengaruhinya.

“Udah diemin aja. Matiin atau buang aja juga nggak masalah. Dia cuma marah karena ketahuan.” Nowi duduk tegak, meremas kedua tangannya di pangkuan lalu mengibaskannya, berusaha menenangkan diri. “Aku nggak bakal panik. Nggak mau ada serangan panik di sini malam ini.”

“Ayo dong, cantik. Kita minum dan bersenang-senang aja!” dengus Agnia.

Selama dua jam berikutnya, mereka pun menghabiskan waktu dengan minum-minum dan menari di lantai dansa.

Agnia berusaha sekuat tenaga agar Nowi melupakan masalahnya dan menikmati malam itu. Namun, pikiran Nowi tetap gelisah karena terus memikirkan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

Sekitar tengah malam, mereka naik kendaraan dan kembali ke apartemen Agnia. Nowi langsung merebahkan diri di sofa, berharap bisa tidur meski hanya sebentar. Pikiran mengenai kepulangan ke kampung halaman terus terngiang di kepalanya. Rumah peninggalan orang tuanya masih berdiri di sana.

Di dalam kamar yang gelap, Nowi tetap terjaga dan memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Tabungannya cukup untuk bertahan hidup sementara waktu. Namun, jika tetap tinggal di Lagoon, uang itu akan cepat habis karena biaya hidup dan sewa tempat yang sangat mahal.

Meskipun demikian, mungkin ada jalan keluar lain. Jika ia pulang dulu ke Batu dan menjual rumah peninggalan orang tuanya, kondisi keuangannya akan menjadi lebih aman. Mungkin itu adalah langkah yang paling tepat untuk diambil saat ini.

Namun, saat membayangkan kembali ke kota itu setelah sepuluh tahun berlalu, satu nama langsung terlintas di dalam pikirannya. Laki-laki yang hatinya telah ia hancurkan saat meninggalkan kota itu. Laki-laki yang sangat mencintainya hingga sudah merencanakan masa depan bersama. Namun, Nowi pergi begitu saja.

...***...

Di tempat lain, di kota Batu ....

“Memangnya aku peduli gimana caranya kamu lakuin itu? Enggak peduli. Pokoknya kerjain, sialan.”

“Iya, Pak Anggoro,” jawab saudara laki-lakinya dengan nada menyindir.

“Jangan jadi orang bego, Zaki.”

“Kamu cuma mau marahin saudara kamu sendiri atau memang ini gaya baru kamu buat ngurus perusahan ini? Dulu Papa nggak pernah begini di tempat kerja.” Zaki memalingkan wajah, berpura-pura bijak dengan sikap yang sangat menjengkelkan.

“Dengar,” kata Vito sambil menahan amarah, “cari orang buat lakuin tugas ini. Aku nggak peduli kamu setuju atau enggak, kita bakal bikin acara di sini. Ini untung buat perusahaan dan warga sekitar. Semua usulan yang masuk sudah kamu tolak. Mau aku kasih tugas ini ke orang lain?”

“Kamu bosnya, aku yang kerjain. Tapi aku tetap nggak setuju, ini cuma bikin masalah baru. Tempat Kita bukan tempat wisata, nggak perlu buka-bukaan biar semua orang tahu apa yang kita kerjain.”

“Paham... Sudah selesai?”

“Iya. Nanti aku kasih kabar terbaru, Bos!”

Zaki memberi hormat dengan gaya yang menyebalkan, lalu keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Vito bersandar pada sandaran kursi dan melipat lengan kemejanya. Menjadi pemimpin Apple Giant Distillery memang sudah menjadi rencananya sejak lama. Usaha ini didirikan oleh kakek buyut mereka dan diwariskan turun-temurun selama empat generasi. Saat Ayahnya bersiap pensiun, Vito sudah tahu posisi ini akan diserahkan kepadanya. Ia tidak menyangka hal itu terjadi saat usianya baru dua puluh sembilan tahun.

Enam bulan lalu, ayah mereka mengalami serangan jantung. Akibatnya, kondisi fisik dan kognitifnya menurun drastis sehingga tidak mampu lagi mengelola usaha. Kini, Vito memegang kendali penuh atas bisnis keluarga. Bersama saudara-saudaranya yang sering membuatnya pusing.

Ponsel di atas meja bergetar tanda ada pesan masuk. Kelima bersaudara ini memang memiliki kedekatan yang erat dan tidak memiliki batasan dalam berkomunikasi. Mereka memiliki grup obrolan, sehingga ponsel Vito hampir selalu berbunyi setiap hari karena aktivitas salah satu anggota keluarga.

Zaki: Hati-hati ya. Big Bos lagi marah besar.

Rowan: Wah. Kamu ngapain sampai bikin dia kesal?

Zaki: Enggak ngapa-ngapain. Aku cuma ngomong apa adanya.

Astrid: Asyik! Aku suka panggilan barunya. Lanjut terus.

Jaylon: Berarti si Zaki lagi kena semprot ya.

Astrid: Hahaha

Rowan: Ini lucu banget sih.

Zaki: Dasar kalian semua nyebelin.

Astrid: Nggak bisa bantah kan? Maaf ya Kakak Tertua.

Jaylon: Maaf ya. Tapi panggilan itu cocok banget.

Zaki: Kenapa malah aku yang diserang? Vito yang suka marah-marah dan nyuruh-nyuruh orang.

Jaylon: Lagi ada rapat, aku matiin notifikasi kalian semua. Dasar bocah belum dewasa.

Zaki: Rapat apa? Pasti cuma mampir ke tempat Safira buat ngewew malam ini.

Astrid: Ih jijik banget. Jaylon, kamu kan sudah tidur sama hampir semua cewek di sini. Emangnya Masih ada yang belum?

Zaki: Mungkin cuma Bu Ninik dan Safira yang tersisa. Dua-duanya juga pasti nggak mau deketan sama kamu.

Pernyataan mereka tidak sepenuhnya salah.

Jaylon memang dikenal sering berganti ganti pasangan dan telah menyakiti hati banyak orang. Pengecualiannya hanya Bu Ninik yang sudah lanjut usia serta Safira yang juga tidak muda lagi.

Safira memiliki satu-satunya tempat minum di daerah itu, dan Jaylon sering berkunjung ke sana.

Jaylon: Ngomong apa sih. Mereka semua pasti senang kalau ada aku.

Kemungkinan besar pernyataannya itu benar. Vito hanya menggelengkan kepala karena merasa kesal.

Astrid: Jijik banget kelakuanmu.

Rowan: Ada-ada saja kalian ini.

^^^Vito: Balik lagi ke topik dong, orang bodoh.^^^

Zaki: Enak aja kamu, Vito. Dasar orang pemarah.

Astrid: Kalian berdua nggak pernah berhenti bertengkar ya?

Zaki: Ayo sini kalau berani. (Emoji cium)

Rowan: Nggak usah dipikirin omongan mereka. Mereka cuma lagi buang stres aja. Aku bakal datang ke sana nanti.

Vito mengusap dagunya, lalu meletakkan kembali ponsel di meja dan mengabaikan percakapan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!