Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Tau
“Sekarang berapa usiamu?” tanya Evander kembali.
“Dua puluh empat tahun,” jawab Evelyn pelan.
Evander sedikit terdiam. Dua puluh empat tahun.
Bagi manusia, usia itu masih terbilang muda. Namun entah kenapa, gadis di hadapannya terlihat jauh lebih dewasa dibanding usianya.
Mungkin karena dia hidup sendirian terlalu lama.
Tatapan Evander kembali memperhatikan tangan Evelyn yang dipenuhi luka-luka kecil dan bekas goresan samar.
“Tanganmu terluka.”
Evelyn refleks melihat telapak tangannya sendiri lalu tersenyum kecil.
“Oh, ini biasa,” ucapnya santai. “Kadang terkena duri atau pisau saat mencari tanaman obat.”
Evander tidak mengatakan apa pun lagi.
Namun tatapannya tetap tertuju pada tangan itu cukup lama.
Aneh.
Luka kecil seperti itu seharusnya tidak berarti apa-apa baginya. Tetapi saat melihatnya di tubuh Evelyn. Dia merasa sedikit terganggu.
Sementara itu, Evelyn diam-diam juga mulai penasaran terhadap pria di depannya.
Sejak tadi, Evander terlihat sangat berbeda dari orang biasa.
Cara berbicaranya tenang dan dingin. Pakaiannya pun terlihat mahal walaupun sudah rusak karena darah dan hujan.
Belum lagi mata merah gelap miliknya. Evelyn belum pernah melihat warna mata seperti itu sebelumnya.
“Kamu sebenarnya berasal dari mana?” tanya
Evelyn hati-hati. Evander terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia menjawab singkat.
“Tempat yang jauh.”
Jawaban itu membuat Evelyn sedikit bingung.
“Jauh bagaimana?”
“Jauh.”
“….”
Evelyn langsung terdiam canggung.
“Jawabanmu aneh sekali,” gumamnya pelan.
Untuk sesaat, suasana menjadi hening.
Namun tiba-tiba.
Perut Evelyn berbunyi cukup keras. Gadis itu langsung membeku. Wajahnya perlahan memerah karena malu.
Evander menatapnya tanpa berkedip. Sementara Evelyn buru-buru memalingkan wajahnya.
“A-aku lupa makan sejak semalam…” ucapnya pelan dengan suara kecil.
Evelyn bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju lemari kayu kecil di sudut gubuk.
Sesampainya di sana, dia segera mengambil dua bungkus roti yang dibungkus kain tipis. Setelah itu, Evelyn kembali duduk di dekat perapian bersama Evander.
“Kamu mau?” tanya Evelyn pelan sambil menyodorkan salah satu roti itu.
Namun bukannya langsung menjawab, tatapan Evander justru tidak lepas dari Evelyn.
“Kau hanya memakan roti?” tanyanya datar.
Evelyn sedikit terdiam.
“E-eh… i-iya,” jawabnya pelan sambil tersenyum kecil. “Karena hasil pendapatanku hanya cukup untuk membeli roti.”
Sunyi.
Tatapan Evander perlahan menyapu seluruh isi gubuk kecil itu.
Perabotannya sederhana. Dinding kayunya bahkan sudah mulai rapuh di beberapa bagian.
Namun gadis itu masih bisa berbicara dengan tenang seolah semuanya baik-baik saja.
Evander kembali menatap roti di tangan Evelyn.
“Kau hidup seperti ini selama bertahun-tahun?” tanyanya lagi.
Evelyn mengangguk kecil.
“Aku sudah terbiasa.”
Jawaban sederhana itu entah kenapa membuat dada Evander terasa sedikit sesak. Sementara Evelyn malah tersenyum tipis lalu mulai memakan rotinya perlahan.
“Kamu tidak suka roti?” tanyanya penasaran saat melihat Evander hanya diam.
Evander menatap roti itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambilnya.
“Aku jarang memakannya.”
“Kalau begitu, coba saja sedikit.”
Evelyn terlihat benar-benar serius menyuruhnya makan.
Dan anehnya.
Evander menurut.
Raja Vampir itu perlahan menggigit sedikit roti di tangannya. Evelyn langsung menatapnya penuh harap.
“Bagaimana?”
Evander terdiam beberapa saat.
“…Aneh.”
“Hah?”
“Rasanya aneh.”
Evelyn langsung tertawa kecil untuk pertama kalinya di depan Evander.
“Itu karena kamu terlalu lama tidak makan makanan biasa.”
Suara tawa kecil itu membuat Evander tanpa sadar kembali menatap wajah Evelyn cukup lama.
“Aku mau keluar,” ucap Evander tiba-tiba, membuat Evelyn terkejut.
“Hah?” Evelyn langsung menoleh cepat. “B-bagaimana dengan lukamu?”
Evander berdiri perlahan dari kursinya.
“Sudah kubilang, aku tidak selemah itu.”
“Tapi tadi kamu hampir jatuh,” balas Evelyn khawatir.
Evander terdiam sesaat.
Tatapan merah gelapnya mengarah ke luar jendela kecil gubuk itu. Tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya.
Dia membutuhkan darah. Bukan darah manusia. Melainkan darah hewan untuk memulihkan kekuatannya kembali.
“Aku tidak apa-apa,” ucap Evander datar. “Jangan pedulikan aku.”
Setelah mengatakan itu, Evander mulai berjalan menuju pintu gubuk.
“Eh, tunggu—”
Namun pria itu sudah lebih dulu membuka pintu dan keluar begitu saja.
Evelyn hanya bisa terdiam sambil menatap punggung tinggi Evander yang perlahan menjauh dari gubuknya.
Angin pagi berembus pelan, membuat rambut hitam pria itu bergerak sedikit. Entah kenapa, Evelyn merasa pria itu terlihat sangat kesepian.
Tak lama kemudian.
Langkah Evander tiba-tiba berhenti. Dan dalam sekejap mata. Tubuh pria itu menghilang begitu saja dari pandangan Evelyn.
“…Eh?”
Mata Evelyn langsung membulat kaget.
“Hah?!”
Dia refleks berdiri dari duduknya lalu berlari keluar gubuk.
Namun di sana sudah tidak ada siapa-siapa.
Hanya pepohonan hutan yang bergerak pelan tertiup angin. Evelyn menatap sekeliling dengan wajah kebingungan.
“Ke mana perginya…?” gumamnya pelan.
Padahal beberapa detik lalu Evander masih berdiri tepat di depan matanya.
**
Pagi berganti siang.
Cahaya matahari mulai menyinari hutan yang semalam diguyur hujan deras. Udara terasa jauh lebih hangat, sementara aroma tanah basah masih samar tercium di sekitar pepohonan.
Di dalam gubuk kecil itu, Evelyn sedang tertidur pulas di dekat perapian.
Tubuhnya meringkuk kecil dengan selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya. Wajah gadis itu terlihat sangat lelah karena semalaman tidak tidur.
Beberapa helai rambut cokelatnya bahkan menutupi pipinya.
Tak lama kemudian. Pintu gubuk perlahan terbuka. Evander kembali.
Kini penampilannya terlihat sedikit berbeda dibanding tadi pagi.
Walaupun wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak jauh lebih segar. Tatapan matanya kembali tajam dan dingin seperti sebelumnya.
Luka-luka di tubuhnya juga mulai pulih lebih cepat.
Evander melangkah masuk dengan tenang.
Matanya langsung menyapu ke arah Evelyn yang sedang tertidur pulas di dekat perapian.
Sunyi.
Tatapan merah gelap miliknya berhenti cukup lama pada gadis itu.
Sementara di tangannya, terdapat beberapa buah hutan yang bisa dimakan. Bahkan ada beberapa apel merah langka yang sangat sulit ditemukan oleh penduduk desa biasa.
Evander sebenarnya tidak pernah peduli dengan makanan manusia.
Namun entah kenapa.
Saat melihat Evelyn hanya memakan roti keras tadi pagi, dia tanpa sadar pergi mencari buah-buahan itu.
Tatapannya kembali mengarah pada wajah Evelyn. Gadis itu benar-benar tertidur lelap. Mungkin terlalu lelah.
Perlahan, Evander berjalan mendekat lalu meletakkan buah-buahan itu di atas meja kecil dekat perapian.
Namun saat hendak berbalik.
Bruk.
Kaki Evelyn tanpa sadar bergerak hingga selimut tipisnya jatuh ke lantai.
Evander terdiam. Tatapannya turun menatap tubuh kecil gadis itu yang kini sedikit menggigil karena udara dingin.
Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Evander mengambil kembali selimut itu dan menyelimutkan tubuh Evelyn tanpa suara.
“Aneh…” gumam Evander pelan.
Tatapan matanya masih tertuju pada Evelyn yang tertidur lelap di depan perapian. Sudah sangat lama sejak terakhir kali dia memedulikan seseorang.
Bahkan selama ratusan tahun hidupnya, Evander tidak pernah merasa terganggu melihat manusia kelaparan ataupun terluka.
Namun gadis ini berbeda. Sangat berbeda.
Evander perlahan menatap tangannya sendiri yang tadi tanpa sadar menyelimuti tubuh Evelyn.
“Aku bahkan kembali hanya karena memikirkan manusia ini…” gumamnya lagi dengan suara rendah.
Hal itu terasa begitu asing baginya. Di luar sana, banyak vampir rela membunuh manusia hanya untuk memuaskan rasa haus mereka.
Sedangkan dirinya.
Justru membawa buah-buahan hanya karena gadis itu bilang dirinya hanya mampu membeli roti.
Tatapan Evander kembali mengarah pada apel merah langka di atas meja. Buah itu biasanya tumbuh jauh di bagian terdalam hutan dan sangat sulit ditemukan.
Namun tanpa sadar dia mencarinya. Hanya untuk Evelyn. Sunyi memenuhi gubuk kecil itu.
Suara kayu terbakar terdengar pelan dari perapian. Lalu tiba-tiba, Evelyn bergerak sedikit dalam tidurnya.
“Mm…”
Evander refleks menoleh. Dan beberapa detik kemudian, mata Evelyn perlahan terbuka.