NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Keputusan Arvano.

Suara mesin mobil Tara yang membawa Aurel pergi sudah lama menghilang dari ujung jalan. Namun suasana di rumah itu masih terasa berat. Seolah-olah sesuatu yang penting baru saja hilang dari sana.

Di ruang tamu, tidak ada yang berbicara. Indah duduk diam dengan mata yang masih sembab. Feni berdiri di dekat dapur sambil sesekali mengusap air matanya. Satrio hanya menundukkan kepala. Sedangkan Bagaskara masih duduk di sofa utama, wajahnya terlihat keras. Namun jauh di dalam hatinya, juga merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Sementara itu, di depan pintu rumah. Arvano masih berdiri mematung. Tatapannya mengarah ke jalan yang sudah kosong. Pikirannya masih tertinggal pada mobil yang membawa Aurel pergi, pada koper yang dibawa gadis itu, pada tangisan yang berusaha disembunyikan Aurel, dan pada kenyataan bahwa dirinya gagal mempertahankan orang yang dicintainya. Tangannya perlahan mengepal, dadanya terasa sesak.

Arvano merasa kalah, bukan dalam bisnis, bukan dalam pekerjaan, melainkan dalam hal yang jauh lebih penting. Perasaannya sendiri.

Arvano akhirnya berbalik. Langkahnya cepat, langsung menuju ruang tamu. Semua orang menoleh saat melihatnya datang. Tatapannya langsung tertuju pada Bagaskara. Tidak ada lagi ketenangan seperti biasanya, dan tidak ada lagi sikap dingin yang selalu ditunjukkan, yang ada sekarang hanyalah kemarahan.

"Papa puas sekarang?" Suasana langsung membeku.

Indah langsung menoleh. "Arvano."

Namun Arvano tidak memedulikannya. Tatapannya tetap tertuju pada Bagaskara. "Puas setelah mengusir Aurel?"

Bagaskara berdiri perlahan. "Kamu masih belum sadar?"

"Sadar apa?" Tanya Arvano.

"Sadar bahwa dia hanya pembantu." Ucapan Bagaskara langsung membuat rahang Arvano mengeras.

"Aku tidak peduli." Kata Arvano yang tegas.

"Kamu harus peduli." Ucap Bagaskara.

"Aku mencintainya." Sahut Arvano.

"Dan Ayah tidak setuju." Suara Bagaskara terdengar tegas.

Tidak memberi ruang untuk perdebatan, namun kali ini Arvano juga tidak mau mengalah. "Kalau begitu aku pergi."

Ruangan mendadak sunyi.

Indah langsung berdiri. "Arvano!"

Feni membelalakkan mata. Satrio juga terlihat terkejut.

Namun Arvano tetap melanjutkan. "Aku tidak akan tinggal di rumah ini yang telah mengusir orang yang aku cintai."

"Arvano!" Panggil Indah lagi.

Namun Arvano hanya menggeleng.

Bagaskara menatap putranya. "Lihat? Ini yang Papa takutkan."

"Papa tidak takut, hanya egois." Ucap Arvano.

Plak! Tangan Bagaskara menghantam meja. "Kamu keterlaluan!"

Arvano tertawa pahit. "Keterlaluan? Yang keterlaluan itu Papa."

Indah segera berdiri di antara mereka. "Cukup!"

Namun suasana sudah terlanjur panas. Arvano mengambil kunci mobilnya, lalu berjalan menuju pintu. Indah buru-buru mengejarnya. "Jangan pergi."

Feni ikut menyusul. "Mas Arvano."

Satrio juga mencoba menghentikan. Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun, Bagaskara berkata dingin. "Biarkan saja."

Semua langsung terdiam.

"Kalau dia mau pergi, silakan." Ucapan Bagaskara membuat Arvano berhenti sejenak.

Setelah itu Arvano kembali melangkah, dan pergi meninggalkan rumah.

Mobil Arvano melaju tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kacau. Arvano tidak ingin kembali ke rumah, tidak ingin berbicara dengan siapa pun, dan yang paling tidak ingin lakukan adalah menerima kenyataan bahwa Aurel sudah pergi.

Sudah berkali-kali Arvano mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Namun belum pernah sesulit ini. Mobil terus melaju, hingga akhirnya menuju sebuah apartemen yang berada di kawasan elit Jakarta.

Apartemen itu tidak diketahui oleh keluarganya, hanya beberapa sahabat dekat yang tahu. Tempat itu biasanya digunakan Arvano saat ingin menyendiri, saat tidak ingin diganggu siapa pun.

Dan malam ini, Arvano sangat membutuhkan tempat untuk menyendiri. Apartemen Rahasia. Mobil memasuki area parkir basement. Arvano turun, masuk ke lift, lalu menuju unit apartemennya.

Begitu pintu terbuka, suasana sepi langsung menyambutnya. Apartemennya rapi, modern, namun terasa dingin. Tidak ada kehidupan, tidak ada suara dan tidak ada siapa-siapa.

Arvano melempar kunci ke meja, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. Ponselnya bergetar, namun tidak memedulikannya. Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya Arvano mengambil ponsel dan membuka grup pertemanan mereka. Alga, Devon, dan Fero.

^^^Arvano mengetik singkat. "Gue di apartemen."^^^

"Ada masalah?" Balas Devon.

^^^"Datang saja." Kata Arvano.^^^

Tak lama kemudian ketiganya membalas. Mereka akan segera datang. Sekitar satu jam kemudian. Bel apartemen berbunyi. Arvano membuka pintu. Alga, Devon, dan Fero masuk. Begitu melihat wajah Arvano, mereka langsung tahu, keadaannya Arvano tidak baik-baik saja. Biasanya Arvano adalah orang paling tenang di antara mereka. Namun malam ini, matanya terlihat lelah, wajahnya kusut, dan jelas sedang memikul beban besar.

"Ada apa?" Tanya Alga.

Arvano duduk kembali. Tidak langsung menjawab.

Fero dan Devon saling pandang. Mereka sudah menduga masalah ini ada hubungannya dengan Aurel, dan dugaan mereka benar.

Arvano akhirnya mulai bercerita, tentang CCTV, tentang Bagaskara yang mengetahui hubungan mereka, tentang Aurel yang diusir dan tentang perpisahan yang baru saja terjadi. Semua diceritakan tanpa ada yang ditutupi.

Sahabat-sahabatnya melihat sisi rapuh seorang Arvano. Pria yang biasanya kuat, pria yang biasanya selalu bisa menyelesaikan masalah, kini terlihat kehilangan arah.

Setelah selesai bercerita. Ruangannya menjadi sunyi.

Alga menghela napas panjang. "Berat."

"Sangat berat." Sambung Devon.

Fero mengangguk.

Namun kemudian Alga berkata pelan. "Tapi ini belum selesai."

Arvano mengangkat kepala. "Maksud lo?"

"lo masih mencintainya." Kata Alga.

"Iyaa." Jawab Arvano.

"Aurel juga mencintaimu." Tanya Alga.

Arvano diam, karena itu memang benar.

"Lalu kenapa menyerah?" Ucapan Alga membuat Arvano terdiam cukup lama. Harapan yang Belum Padam

Malam semakin larut. Lampu kota terlihat dari jendela apartemen. Arvano berdiri di sana, menatap keramaian Jakarta. Namun pikirannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Aurel. Arvano tidak tahu sekarang Aurel ada di mana, tidak tahu bagaimana keadaan Aurel, tidak tahu apakah Aurel masih menangis. Dan itu membuatnya semakin gelisah. Akhirnya Arvano menoleh kepada ketiga sahabatnya.

"Kalau kalian melihat Aurel....." Suaranya terdengar pelan. ".....Kabarin Gue."

Ketiganya mengangguk.

"Tentu, kami akan bantu. Jangan khawatir." Ucap Devon.

Fero ikut menepuk bahu Arvano. "Jangan putus asa."

Alga tersenyum tipis. "Perjuanganmu belum selesai."

Arvano sedikit merasa tenang. Meski hanya sedikit, karena setidaknya tidak sendirian.

Malam semakin larut. Satu per satu sahabat Arvano akhirnya pulang. Apartemen kembali sunyi. Arvano berdiri di dekat jendela, memegang ponselnya. Matanya tertuju pada kontak Aurel. Berkali-kali Arvano ingin menghubungi Aurel. Namun akhirnya tidak jadi, karena tahu Aurel juga sedang terluka.

Di tempat Tara. Aurel duduk di kamar tamu rumah Tara, menatap koper yang masih belum dibuka. Matanya kembali basah saat melihat pesan terakhir dari Arvano.

Sementara itu, Di rumah keluarga Argas. Bagaskara duduk sendirian di ruang kerjanya. Meski bersikap keras, pikirannya tidak tenang. Rumah yang biasanya ramai kini terasa kosong.

Bagaskara mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apakah keputusan yang diambilnya benar?

Namun pertanyaan itu belum sempat terjawab, karena saat itu ponselnya bergetar. Sebuah laporan masuk dari seseorang yang dikenal. Laporan tentang keberadaan Arvano. Bagaskara membaca pesan itu perlahan, lalu wajahnya berubah serius.

Karena kini dirinya tahu, putranya benar-benar pergi dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!