NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NARA MULAI BERGERAK

Udara taman malam terasa jauh lebih tenang dibanding riuh restoran di dalam.

Lampu taman menggantung di sepanjang jalan setapak, memantulkan cahaya keemasan di daun-daun yang bergerak pelan tertiup angin.

Senja berdiri di samping pagar kaca, memandang kolam kecil di depan mereka.

Airnya tenang, tidak seperti hatinya.

Keano berdiri tidak jauh. Tangannya masuk ke saku jas, tapi tatapannya terus tertuju pada gadis di sampingnya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Aneh.

Tidak canggung. Justru nyaman.

"Aku tuh merasa gak cocok di tempat semewah ini." ujar Senja

Keano menoleh."Kenapa?"

Senja tersenyum kecil.

"Aku pikir… tempat seperti ini bukan dunia aku."

Keano mengernyit sedikit.

"Maksud lo?"

"Iya." Senja mengangkat bahu pelan. "Semua orang di dalam keliatan… sempurna. Rapi. Mahal. Sementara aku…" ia menunduk melihat gaunnya sendiri, "...ya begini."

Keano mengikuti arah pandangannya.

Lalu ia menggeleng pelan.

"Gue gak suka lo insecure kayak gini."

Senja menatapnya tenang.

Keano bersandar ringan pada pagar.

"Semua orang di dalam sibuk keliatan hebat. Sibuk jaga image. Kadang… gak ada yang beneran tulus."

Ia berhenti sebentar.

Tatapannya kembali pada Senja.

"Jadi lo gak usah ngerasa gak pantas, menurut gue cuma lo yang terlihat beda, bukan hanya status sosialnya tapi ada dalam diri lo yang bikin gue merasa......"

Deg.

Senja menahan napas.

"merasa apa?"

Keano tersenyum tipis. Bukan senyum percaya diri seperti biasanya. Lebih jujur.

"Lo itu nyata dan gue selalu merasa nyaman dan tenang."

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa jauh lebih dalam dari pujian apa pun.

Senja tertawa kecil untuk menutupi gugupnya.

"Kalimat kamu cukup bahaya juga ya."

"Kenapa?"

"Bisa bikin orang salah paham."

Keano tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap diam di wajah Senja.

Dan untuk pertama kalinya… ia tidak mengalihkan pandangan.

"Ya gue emang mau lo salah paham?"

Jantung Senja langsung berdebar kacau.

Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.

Ia cepat menoleh ke arah lain.

"Keano…"

Namun sebelum kalimat itu selesai—

Suara langkah sepatu mendekat dari belakang.

"Jadi kalian di sini."

Suara itu membuat suasana langsung berubah.

Nara.

Ia berdiri beberapa langkah dari mereka. Gaun hitam elegannya bergerak pelan tertiup angin malam.

Senyumnya manis, tapi matanya tidak.

"Aku cari kamu dari tadi," katanya pada Keano.

Keano menghela napas kecil.

"Ada apa?"

Mama nanyain kamu, katanya ada tamu penting dari partner bisnis Mama ku, jadi kamu di minta buat nemenin aku"

Keano melirik sekilas ke Senja, seolah ragu meninggalkannya.

Dan Nara melihat itu, jelas sekali.

Tangannya mengepal halus di samping tubuhnya.

"Aku bisa balik sendiri kok," ucap Senja cepat, mencoba mencairkan suasana.

Keano menggeleng.

"Gue anter dulu."

"Gak usah," Senja tersenyum lembut. "Serius, kalian pergi aja."

Nara tersenyum tipis.

"Iya, Keano, mereka pasti nyaman kok apalagi tempatnya kan emang bagus banget buat orang-orang seperti mereka."

Nada kalimatnya terdengar sopan.

Namun ada tekanan halus di dalamnya.

Keano menatap Senja beberapa detik lagi.

Lalu akhirnya mengangguk pelan."Oke… tapi jangan pulang dulu ya, nanti gue yang anter lo sama Nenek."

Senja mengangguk kecil.

Keano berjalan pergi bersama Nara.

Namun beberapa langkah kemudian—

Ia menoleh lagi, mencari Senja, dan gadis itu masih berdiri di sana melihatnya juga.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Sesuatu terasa berubah malam ini.

Sesuatu yang tidak bisa lagi dianggap kebetulan.

Sementara itu…

Di dalam restoran.

Arelina sedang mengobrol santai dengan nenek Senja ketika Mama Ranti kembali mendekat.

Senyumnya sopan.

Tapi kali ini matanya lebih fokus.

"Kalian sudah lama kenal Keano?"

Pertanyaan itu terdengar ringan.

Namun Arelina langsung menangkap maksud tersembunyi nya.

Ia tersenyum elegan, "Kami teman sekolah, Tante."

Mama Ranti mengangguk pelan.

Tatapannya kemudian jatuh pada kursi kosong tempat Senja tadi duduk.

"Kemana gadis yang satu lagi?"

Nenek Senja tersenyum hangat.

"tadi lagi ke taman."

dan tak lama Senja pun datang, dia tersenyum kecil Mama Ranti diam sebentar.

Menilai. Mengamati, lalu berkata pelan—

"Keano itu… jarang sedekat itu dengan seseorang."

Kalimat itu terdengar netral.

Namun cukup membuat Arelina dan nenek Senja saling bertukar pandang.

Di sisi lain ruangan—

Nara berdiri di samping Keano yang sedang berbicara dengan tamu bisnis.

Tapi perhatian Keano jelas tidak sepenuhnya di sana. matanya beberapa kali mencari arah di mana Senja berada. dan Nara menyadarinya.

Perlahan… senyumnya memudar.

Dalam hatinya muncul keputusan baru.

Jika sebelumnya ia hanya ingin mempertahankan posisi—

Malam ini berbeda.Ia ingin menang.

Di kursinya, Senja tidak benar-benar fokus,dia juga melihat ke arah Keano dan Nara yang terlihat sibuk menyambut tamu-tamu penting

Tangannya pelan.

Ia menarik napas panjang.

"Apa sih ini…" bisiknya lirih, perasaan hangat itu.

Harapan kecil yang mulai tumbuh.

Dan ketakutan yang datang bersamaan.

Tanpa ia sadari—

Dari kejauhan, seseorang memperhatikannya.

Seorang pria dewasa berdiri di ujung taman, berbicara melalui ponsel dengan suara rendah.

Tatapannya tertuju pada Senja.

Lama.

Seolah mengenali sesuatu.

"...iya," katanya pelan di telepon.

" Saya sudah menemukannya."

Senja tidak tahu—

Malam ini bukan hanya tentang perasaan.

Tapi juga awal dari masa lalu yang perlahan kembali muncul.

Malam grand opening hampir berakhir.

Para tamu mulai meninggalkan restoran satu per satu. Musik piano berubah lebih pelan, lampu ruangan diredupkan sedikit, menciptakan suasana hangat menjelang penutupan acara.

Namun di sudut ruangan—Nara tidak terlihat santai.

Ia berdiri sambil memegang gelas jusnya, matanya diam mengamati arah, Keano.

lalu … Senja

Keano baru selesai menyambut para tamu, dia terlihat serius dan tegas, tapi justru itu yang membuatnya terlihat berbeda.Keano terlihat tenang.

Ekspresi yang jarang Nara lihat.

Biasanya Keano ramah, santai, mudah tertawa.

Tapi kali ini… ia tampak nyaman.

Dan Nara tahu.Itu berbahaya.

Nara menarik napas pelan."Aku gak boleh kelihatan cemburu."

Ia tersenyum kembali.

Topeng sosialnya terpasang sempurna.

Lalu ia berjalan mendekat ke arah Senja.

"Hai Senja."

Senja sedikit terkejut ketika Nara tiba-tiba menyapanya langsung.

"Iya…"

Nara tersenyum ramah. Sangat ramah sampai sulit dicurigai.

"Aku Nara, kita belum sempat berkenalan langsung tadi."

"Oh… iya."

Senja membalas senyum sopan.

Keano mengernyit kecil menatap mereka, ia mengenal sebagian sipat Nara, nada suara itu terlalu… manis.

Dan biasanya itu berarti sesuatu.

"Aku tadi lihat kamu sama Nenek. Kalian kelihatan nya cukup dekat ya." lanjut Nara.

"Iya… Nenek yang ngerawat aku dari kecil."

"Oh…" Nara mengangguk pelan, matanya seolah penuh simpati."Pasti berat ya."

Senja tersenyum kecil. "Tapi aku bersyukur."

Nara menatapnya beberapa detik.

Lalu perlahan berkata—"Kamu kuat ya."

Kalimat pujian, tapi entah kenapa terasa seperti penilaian.

Arelina dan Nenek memperhatikan interaksi mereka.

Hanya diam, tapi di dalam hati Arelina ada berbagai pertanyaan yang mengusik.

" kayak nya ada yang aneh." batin Arelina

Keano mulai merasa tidak nyaman dan langsung menghampiri mereka.

"Nara, lo lagi apa?" tanyanya langsung.

Nara tertawa kecil.

"boleh kan aku ngobrol sama dia?"

"Boleh. Tapi jangan aneh-aneh."

Nara pura-pura tersinggung.

"Ih, kamu ini."

Lalu ia kembali menoleh ke Senja.

"Besok kamu masuk sekolah, kan?"

"Iya."

"Aku juga nanti bakal sekolah di tempat kalian." Senyumnya melebar sedikit. "Aku pengen ngajak kamu duduk bareng kita di kantin."

Keano langsung menoleh.

"Nara."

"Apa?" jawabnya ringan. "Aku cuma pengen kenal teman kamu."

Nada bicaranya tidak salah. Tidak kasar.

Tidak bisa diprotes.

Dan justru itu membuatnya sulit ditolak.

Senja mengangguk sopan.

"Iya… boleh."

Nara tersenyum puas. Langkah pertamanya berhasil.

Apa Arelina akan curiga pada Nara??.....yuk teman-teman kita baca lanjutan cerita nya ... jangan lupa kasih komen dan masukannya ya..🥰🥰

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!