NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lingkaran Yang Lebih Luas

Hari ini di kampus terasa lebih hidup. Bukan hanya karena aktivitas biasa, tapi karena ada acara seminar terbuka di aula utama.

Mahasiswa dari berbagai jurusan berkumpul dalam satu ruangan, termasuk beberapa tamu dari luar.

“Kamu ikut?” tanya Sinta saat mereka berjalan ke aula.

“Ikut aja,” jawab Nayra.

“Lumayan, siapa tahu dapet ilmu.”

Nayra mengangguk. Namun pikirannya tidak sepenuhnya disana. Saat mereka masuk ke aula,suasana sudah ramai.

Beberapa kursi hampir penuh.

“Duduk sini aja,” kata Sinta sambil menarik Nayra ke barisan tengah.

Nayra duduk. Matanya menyapu ruangan.Dan kemudian,bia berhenti.bDi barisan depan dan melihat Arsen.

Namun kali ini, ia tidak sendiri. Beberapa pria dan wanita berpakaian formal duduk di sekitarnya. Aura mereka berbeda, lebih tegas, lebih berkelas.

“Na…” bisik Sinta.

Nayra tidak menjawab. Matanya masih terpaku.

“Dia di depan,” lanjut Sinta.

“Iya…”

“Dan gak sendiri.”

Nayra menelan ludah. Ia melihat, wanita kemarin yaitu Livia dan duduk tidak jauh dari Arsen. Berbicara sesuatu sambil tertawa kecil.

Nayra langsung mengalihkan pandangannya. "Aku gak nyaman,” gumamnya.

Sinta menepuk tangannya pelan. “Fokus ke acara.”

Nayra mengangguk. Namun jelas, fokusnya tidak benar-benar ada.

Beberapa menit kemudian acara dimulai. Pembawa acara menyebutkan nama-nama tamu penting dan salah satunya membuat seluruh ruangan sedikit lebih hening. “Direktur utama dari perusahaan Astra Virel Group…” Nayra menegang.

“Bapak Arsen Pradipta.”

Tepuk tangan terdengar.

Nayra menatap ke depan lagi dan Arsen berdiri dengan Tenang dan percaya diri.

Dan untuk pertama kalinya, Nayra benar-benar melihatnya di dunianya. Bukan di taman kampus, bukan di depan kos, tapi di tempatnya. Tempat di mana dia terlihat… sangat berbeda.

“Dia… beda banget ya,” bisik Nayra.

Sinta mengangguk pelan. “Iya.”

Arsen berjalan ke depan. Naik ke panggung, ia berbicara. Suara tegas, Terstruktur dan penuh kendali.

Nayra hanya bisa diam. Ia mendengarkan. Namun bukan hanya isi kata-katanya, tapi juga cara dia menyampaikan.

“Aku gak pernah lihat dia kayak gini,” bisiknya.

Sinta menoleh. “Sekarang kamu dah lihat.”

Nayra menggenggam tangannya sendiri.bDan untuk pertama kalinya, perasaan “berbeda dunia” itu terasa jauh lebih nyata.

Setelah acara selesai, aula menjadi ramai. Orang-orang mulai bergerak. Beberapa mahasiswa mendekati Arsen.

Meminta foto dan berbicara.

Nayra hanya berdiri di tempat.

“Kamu mau nyamperin?” tanya Sinta.

Nayra langsung menggeleng. “Enggak.”

“Kenapa?”

Nayra menatap ke arah depan. “Aku gak tahu harus jadi siapa di situ.”

Sinta terdiam. “Temen?” lanjutnya pelan. “Bukan atau lebih dari itu?”

Nayra menggeleng lagi. “Belum.”

Sinta akhirnya menghela napas. “Ya udah… kita pergi aja.”

Namun sebelum mereka sempat benar-benar pergi, suara itu memanggil.

“Nayra.”

Langkah Nayra berhenti.Ia menoleh.

Arsen berdiri tidak jauh dan beberapa orang masih di sekitarnya. Namun matanya hanya ke arah Nayra.

“Sebentar,” katanya pada orang-orang di sekitarnya.

Lalu berjalan mendekat.

“Udah selesai?” tanya Arsen.

Nayra mengangguk. “Iya.”

“Gimana?”

Nayra terdiam sejenak. “Bagus.” Jawaban singkat.

Arsen menatapnya.“Kamu mau pulang?”

Nayra ragu.

Sinta menyikut pelan.

“…iya,” jawab Nayra akhirnya.

Arsen mengangguk. “Tunggu sebentar.” Lalu kembali ke kelompoknya.

Nayra berdiri diam.

“Na…” bisik Sinta.

“Iya?”

“kamu kelihatan… kecil tadi.”

Nayra tersenyum tipis. “Iya.”

Beberapa menit kemudian, Arsen kembali. “Yuk.”

Mereka berjalan keluar aula.Namun di tengah jalan, Livia muncul lagi.

“Arsen,” panggilnya.

Langkah mereka berhenti.

Livia menatap Nayra sebentar. Lalu tersenyum tipis. “Mau pulang?”

“Iya,” jawab Arsen.

Livia mengangguk. “Meeting sore jangan lupa.”

Arsen mengangguk.

“Dan…” Livia melirik Nayra lagi, “jaga kesehatan ya.”

Nayra hanya mengangguk kecil.

Namun setelah Livia pergi, ia langsung menghela napas panjang.

“Kamu gak apa-apa?” tanya Arsen.

Nayra menatap ke depan, “Aku makin ngerti sekarang.”

“Ngerti apa?”

Nayra menoleh. “Dunia mu.”

Arsen tidak langsung menjawab dan kali ini, ia tidak menyangkal.

Di dalam mobil, suasana lebih sunyi dari biasanya.

Nayra menatap ke luar jendela. “Arsen…”

“Iya?”

Nayra menarik napas. “Kalau aku ada di dunia mu…”

Arsen menoleh sedikit.

"aku bakal kelihatan aneh ya?”

Arsen tidak langsung menjawab. “Aku gak peduli orang lain lihat kamu gimana.”

Nayra tersenyum kecil, “Tapi aku peduli.”

Mobil melambat.

“Dan sekarang aku tahu…”bNayra menatap ke depan. “Kenapa aku takut.”

Arsen memarkir mobil di depan kos. Mesin dimatikan. Namun tidak ada yang langsung turun.

“Na…”

Nayra menoleh.

“Kamu gak harus jadi bagian dari dunia ku.”

Nayra terdiam.

“Aku bisa datang ke dunia mu.”

Kalimat itu, membuat Nayra benar-benar diam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban. Beberapa detik kemudian, ia membuka pintu.

Namun sebelum turun, ia berkata pelan, “aku butuh waktu buat percaya itu.”

Arsen mengangguk, “Aku tunggu.”

Nayra turun, langkahnya pelan. Namun kali ini, pikirannya lebih luas. Karena ia tidak hanya melihat Arsen, tapi juga, lingkaran orang-orang di sekitarnya.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!