NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Pagi itu, suara kokok ayam jantan dari kandang tetangga terdengar lebih parau di telinga Agus. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar yang dihiasi jaring laba-laba dan noda bekas bocoran air hujan yang telah mengering. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah papan dinding terasa begitu tajam, seolah sedang menelanjangi kemiskinan yang menyelimuti kamar sempit itu. Tubuh Agus terasa sangat berat, seakan-akan tulang-tulangnya baru saja dipukuli dengan balok kayu semalaman.

Namun, yang paling menyiksa adalah pergelangan kaki kirinya. Saat ia mencoba menggeser kakinya sedikit saja di atas kasur lantai yang tipis, rasa nyeri yang luar biasa langsung menjalar hingga ke pinggang. Denyutnya terasa seirama dengan detak jantungnya, sebuah denyutan panas yang seolah ingin meledakkan kulitnya yang meregang kencang. Warna birunya kini sudah berubah menjadi ungu gelap, hampir hitam di bagian tengahnya.

Agus mendesah pelan, menggigit ujung bantalnya agar erangan sakitnya tidak terdengar sampai ke luar. Ia teringat kembali pada malam tadi. Lantai marmer yang dingin, lampu kristal yang berkilau, dan wajah Ibu Farida yang menatapnya penuh keraguan. Di sana, di Cempaka Indah, dunia terasa begitu rapi dan terukur. Namun di sini, di kamarnya yang berbau lembap, dunia hanyalah soal bagaimana ia bisa berdiri dan berangkat kerja hari ini tanpa pingsan di tengah jalan.

Ia bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya pada dinding yang kasar. Kemeja biru tuanya masih tergantung di paku dinding, tampak lemas dan pudar, seolah-olah pakaian itu juga ikut kelelahan setelah menjalani sandiwara semalam. Agus meraih sebuah kaos singlet yang sudah menguning di bagian ketiaknya dan mengenakannya dengan tangan yang masih gemetar.

"Gus? Sudah bangun?" suara ibu agus terdengar pelan, disusul suara langkah kaki yang diseret di lantai semen ruang tengah.

Pintu kamar terbuka sedikit. Ibu agus masuk membawa segelas air putih hangat dan sebuah piring berisi sepotong singkong rebus yang masih mengepulkan uap. Wajah ibunya tampak sangat cemas saat melihat Agus sedang memegangi kakinya yang bengkak.

"Jangan dipaksakan hari ini, Gus. Ibu punya firasat buruk kalau kamu berangkat ke gudang dengan kaki seperti itu," ucap ibu agus sambil meletakkan air putih di lantai.

Agus menelan ludah yang terasa pahit. "Tidak bisa, Bu. Pak Jono sudah kasih peringatan kemarin. Kalau Agus tidak masuk lagi hari ini, jatah bongkar semen Agus bisa dikasih ke orang lain secara permanen. Ibu tahu sendiri, alat berat mau masuk bulan depan. Agus harus cari muka supaya tetap dipakai di sana."

"Tapi lihat kakimu itu, Gus. Warnanya sudah mengerikan begitu. Nanti kalau ada apa-apa di jalan, siapa yang susah?" mata ibu agus mulai berkaca-kaca.

"Agus masih punya tangan yang kuat, Bu. Cuma kaki ini saja yang agak rewel," Agus mencoba bercanda, meski wajahnya pucat. Ia meraih singkong rebus itu, mengunyahnya pelan. Rasanya hambar, namun ia butuh energi. Ia teringat uang empat ribu rupiah di bawah bantalnya. Uang itu kini harus ia gunakan untuk membeli sedikit bensin tambahan karena tangki motornya tadi malam sudah hampir kering lagi.

Di ruang tengah, bapak agus terdengar terbatuk-batuk panjang. Batuk yang dalam dan seolah-olah sedang mengoyak paru-parunya. Agus segera menghabiskan air minumnya dan berdiri dengan bantuan kayu penyangganya. Ia melangkah keluar kamar, mendapati bapaknya sedang duduk bersandar dengan wajah yang sangat pucat.

"Gus... berangkat?" tanya bapak agus dengan suara yang sangat lemah.

"Iya, Pak. Doakan Agus kuat hari ini," jawab Agus sambil mencium tangan bapaknya. Tangan bapak agus terasa sangat dingin, sebuah tanda bahwa kondisi kesehatan bapaknya sedang berada di titik yang tidak stabil.

"Hati-hati... jangan terlalu... memaksakan diri," pesan bapak agus yang terputus oleh batuk berikutnya.

Perjalanan menuju gudang material pagi itu adalah sebuah siksaan yang panjang. Setiap kali motor tuanya melibas lubang di jalanan desa, Agus harus menahan napas agar tidak berteriak. Kaki kirinya yang bengkak dibungkusnya dengan kain perban kain yang cukup tebal agar tidak terlihat terlalu mencolok jika Pak Jono memperhatikannya.

Sesampainya di gudang, suasana sudah sangat bising. Truk-truk besar bermuatan semen sudah berbaris. Debu putih dari sisa-sisa semen kemarin beterbangan tertiup angin, membuat udara terasa sesak dan kering. Agus memarkirkan motornya di bawah pohon waru yang meranggas, lalu berjalan perlahan menuju area bongkar muat tanpa kayu penyangganya. Ia mencoba berjalan dengan normal, menumpukan seluruh berat badannya pada kaki kanan, meskipun hal itu membuat pinggulnya terasa miring dan sakit.

Pak Jono berdiri di depan pos jaga dengan memegang papan dada berisi daftar absen. Ia menatap Agus yang datang mendekat.

"Gus, kirain kamu nggak masuk lagi. Kaki kamu sudah sembuh?" tanya Pak Jono dengan nada menyelidik.

"Sudah agak mendingan, Pak. Masih bisa dipakai kerja," jawab Agus sambil berusaha tersenyum lebar.

"Ya sudah. Truk nomor tiga itu isinya semen lima puluh kiloan. Hari ini ada dua ratus sak yang harus turun. Kalau kamu memang kuat, langsung gabung sama yang lain. Tapi ingat, jangan bikin lambat pekerjaan. Kita kejar target sebelum ekskavator masuk area belakang," ucap Pak Jono dingin.

Agus mengangguk patuh. Ia melangkah menuju bak truk. Langkah pertamanya menaiki tangga besi truk fuso itu terasa seperti menginjak bara api. Rasa nyeri yang tajam menusuk dari pergelangan kaki hingga ke sumsum tulang belakangnya. Keringat dingin langsung membanjiri dahinya hanya dalam hitungan detik.

Ia memposisikan dirinya di atas bak truk. Satu sak semen diletakkan di atas pundaknya oleh teman kerjanya. Beratnya lima puluh kilogram. Beban itu seolah langsung menekan seluruh persendiannya ke bawah. Agus menarik napas dalam-dalam, mencoba mengunci otot perutnya, lalu mulai melangkah menuruni tangga.

Setiap anak tangga adalah sebuah ujian nyawa. Saat kaki kirinya harus menapak di lantai semen gudang yang keras, Agus hampir saja jatuh tersungkur. Ia menggigit bibirnya begitu keras hingga ia merasakan amis darah di mulutnya. Satu sak.

Ia kembali lagi ke truk. Dua sak. Tiga sak.

Pada sak ke sepuluh, debu semen mulai menempel pada keringat yang mengalir di leher dan lengannya, menciptakan lapisan kerak yang gatal dan perih. Luka gores di lengannya yang didapat saat memikul besi beberapa hari lalu kembali terbuka, mengeluarkan darah tipis yang bercampur dengan abu semen. Agus tidak peduli. Di kepalanya, ia terus menghitung angka-angka. Setiap sak berarti lima ratus rupiah. Seratus sak berarti lima puluh ribu.

Di tengah kerja keras itu, ponsel di saku celananya bergetar. Agus berhenti sejenak di balik pilar besar gudang, mengambil kesempatan untuk mengatur napas yang tersengal. Ia merogoh ponselnya dengan tangan yang putih karena semen.

Ada pesan dari Nor Rahma.

Nor Rahma: "Selamat pagi, Mas Agus. Semoga harimu menyenangkan ya. Oh iya, Ibu tadi pagi bilang rendangnya masih ada banyak, kalau Mas Agus mau, nanti sore aku bisa minta kurir untuk antar ke rumah Mas. Ibu sepertinya senang kemarin mengobrol denganmu."

Agus menatap layar ponsel itu dengan tatapan hampa. Ibu senang? Pikir Agus pahit. Ia tahu itu hanya basa-basi orang kota yang terhormat. Ibu Farida tidak senang dengannya; wanita itu hanya mengasihaninya atau mungkin sedang menguji seberapa besar nyali Agus untuk terus bertahan.

Agus menyeka keringat di dahinya, namun tangannya yang berdebu semen justru membuat matanya perih. Ia ingin membalas pesan itu, tapi ia melihat tangannya sendiri. Tangan yang kasar, putih karena semen, dan gemetar karena menahan beban. Ia melihat ke sekelilingnya; tumpukan sak semen yang berdebu, kuli-kuli lain yang berteriak kasar, dan suara bising mesin truk yang tak henti-henti.

Dunia Rahma yang penuh rendang hangat dan kurir antar-jemput terasa seperti dongeng yang mustahil. Sementara dunia Agus saat ini adalah debu yang masuk ke paru-paru dan rasa sakit yang membuat kakinya mati rasa.

Agus: "Selamat pagi, Rahma. Terima kasih tawarannya, tapi tidak usah repot-repot ya. Bilang ke Ibu terima kasih banyak. Saya sedang sibuk sekali hari ini di gudang, mungkin sampai sore tidak bisa pegang HP."

Agus menekan tombol kirim, lalu memasukkan ponselnya kembali. Ia tidak ingin berlama-lama di dalam percakapan itu. Ia takut jika ia terus membaca kata-kata manis dari Rahma, ia akan kehilangan keberaniannya untuk memikul sak ke-sebelas.

"Gus! Jangan melamun! Cepat kembali ke truk!" teriak Pak Jono.

Agus kembali berdiri. Ia memaksakan kaki kirinya untuk melangkah lagi. Rasa sakitnya kini sudah mencapai titik di mana ia merasa kakinya sudah bukan lagi miliknya. Ia merasa seperti robot yang digerakkan oleh kebutuhan akan beras dan obat bapaknya.

Sepanjang sisa pagi itu, Agus terus bergerak di bawah terik matahari yang mulai menyengat atap seng gudang. Suhu udara di dalam gudang meningkat drastis, membuat debu semen semakin mudah menempel dan menyumbat pori-pori kulitnya. Setiap kali ia menjatuhkan satu sak semen ke tumpukan palet, ia merasa separuh dari harga dirinya ikut jatuh ke lantai.

Ibu Farida benar, pikir Agus di setiap langkahnya. Rahma tidak boleh menderita sepertinya. Rahma tidak boleh tahu rasanya bagaimana debu semen ini masuk ke dalam tenggorokan dan membuatnya sesak setiap malam. Jika ia ingin memiliki Rahma, ia harus keluar dari debu ini. Tapi bagaimana caranya? Saat ini, bahkan untuk sekadar membeli perban baru saja ia harus menghitung sisa upahnya nanti sore.

Pukul dua belas siang, peluit tanda istirahat berbunyi. Agus terduduk di lantai gudang yang dingin, menyandarkan kepalanya pada pilar semen. Ia memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya yang remuk beristirahat sejenak. Namun, di dalam kegelapan itu, ia tidak melihat wajah Rahma yang cantik. Ia melihat sebuah angka besar di buku tabungan yang tidak pernah ia miliki, dan sebuah surat PHK yang sewaktu-waktu bisa datang dari tangan Pak Jono.

Agus menyadari satu hal yang sangat pahit, hari Sabtu kemarin adalah puncak kebahagiaannya, dan mulai hari ini, ia harus membayar kebahagiaan itu dengan rasa sakit yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!