NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.

Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.

Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.

namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.

Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.

Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.

Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bertemu Adik

​Sinar matahari baru aja masuk lewat jendela kaca besar, perlahan kabut yang masih nempel di taman belakang rumah mulai menghilang.

Aroma nasi goreng rempah dan pekatnya kopi hitam mengisi ruang makan pagi ini. Di ujung meja, Nara duduk dengan tegap. Laki-laki itu memang punya aura beda—wibawanya dapet banget.

​Di seberangnya, Yiwa malah sibuk ngelamun. Jemari lentiknya males-malesan ngaduk teh anget yang udah mulai dingin. Pikirannya bener-bener lagi nggak di meja makan.

​"Nara, gue mau nanya deh," kata Yiwa akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.

​Nara naruh cangkir kopinya tanpa suara. Sorot mata tajamnya langsung tertuju ke Yiwa, penuh perhatian. "Kenapa?"

​Yiwa narik napas dalem-dalem, nyari keberanian buat nanyain hal yang bikin dia overthinking belakangan ini. "Kenapa sih... akhir-akhir ini gue jadi bisa liat hantu?Kenapa gue jadi indigo dadakan gini?"

​Nara nggak terlihat kaget sama sekali. Ekspresi wajahnya tetep tenang dan berwibawa, seolah-olah dia udah tahu pertanyaan ini bakal keluar dari mulut Yiwa. Dia ngulurkan tangan di atas meja, terus meraih tangan Yiwa. Genggamannya anget, bikin Yiwa yang tadinya agak parno langsung ngerasa aman.

​"Begini, Yiwa. Sawiji ing ludira terjadi, jiwa kamu sama jiwa saya sudah saling keterikatan," jawab Nara. "Kamu tahukan kalau saya itu wadah pecahan sukma Raden Abhiromo? karena itu saya jadi punya kelebihan lain. Energi magis yang mengalir di darah saya itu perlahan nular dan memengaruhi energi kamu. Makanya, penghalang gaib yang membatasi pandangan kamu sama dunia astral itu perlahan menipis karena tubuh kamu sedang adaptasi dengan aura saya."

"Please, jelasin pakai bahasa bayi aja bisa?"

Nara tersenyum. "Intinya setelah ritual itu dan menikah dengan saya, kamu jadi ketularan bisa melihat makhluk gaib."

​Yiwa langsung rolling eyes tapi sambil senyum tipis.

"Jadi ini semua gara-gara gue nikah sama lo? Efek sampingnya dapet bonus bisa liat makhluk halus, gitu?"

​"Bisa dibilang begitu," Nara terkekeh pelan, bikin tampang berwibawanya runtuh dikit gara-gara gemas sama Yiwa.

"Hidup gue bakal di gangguin mereka dong?"

Wajah Nara berubah serius. "Sebenarnya rumah ini sudah saya pasang penghalang, tapi jika pikiran saya tidak fokus ke kamu, orang yang saya jaga, penghalangnya mungkin tidak akan cukup kuat."

"Gue paham kok. Asal lo datang tepat waktu aja sih."

Nara mengangguk. "Saya pasti melindungi kamu, Yiwa."

​Setelah menyelesaikan sarapan, Nara pamit pergi keluar karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Yiwa pun kebagian tugas buat beresin meja makan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Yiwa beres-beres meja makan, karena hanya mereka berdua di rumah ini. Setelah memastikan semuanya beres, Yiwa segera menuju kamarnya.

Namun, sebelum benar-benar masuk ke kamar, Yiwa terdiam sebentar di depan pintu. ​Ada suara ketawa renyah dari arah kamar tamu di ujung lorong. Kamar yang biasanya selalu ditempati Mregapati.

​"Hihihi... Om! Lagi! Mau terbang lagi!"

​Yiwa langsung mengernyitkan dahi. Suara itu kedengeran jernih banget, suara cempreng dan riang yang khas banget milik anak kecil. Masalahnya, di rumah ini kan nggak ada anak kecil sama sekali.

​Jantung Yiwa mulai berdegup agak kencang. Berkat kemampuan barunya, dia bisa ngerasain kalau suara itu bukan berasal dari manusia hidup. Tapi anehnya, alih-alih merinding atau ketakutan, Yiwa malah merasa ada kehangatan yang aneh mengalir di dadanya. Tawa itu terdengar suci , murni, dan sama sekali tidak ada niat jahat.

​Karena penasaran setengah mati, dia jalan pelan-pelan tanpa suara mendekati kamar tamu. Saat sudah di depan pintu, ternyata pintu itu agak sedikit renggang. Yiwa langsung mendekatkan wajahnya, ngintip ke dalem ruangan yang agak remang-remang itu.

​Begitu ngeliat pemandangan di dalem kamar, Yiwa bener-bener syok. Tangannya refleks ngebungkam mulutnya sendiri biar nggak kelepasan teriak.

​Di lantai, terlihat Mregapati dalam wujud manusianya. ​Tapi pemandangan sekarang bener-bener meruntuhkan harga diri sang macan putih. Makhluk pelindung legendaris itu lagi merangkak pake lutut dan kedua tangannya di atas lantai. Terus, di atas punggung tegapnya, duduk seorang anak kecil bertubuh gempal yang kayaknya baru berumur sekitar dua tahunan. Anak itu pakai baju putih bersih, kulitnya putih, matanya bulat besar sehitam kelam, tapi badannya agak sedikit transparan dengan pendar cahaya keemasan lembut di sekelilingnya.

​"Aummm..." Mregapati niruin suara harimau, tapi versinya pelan banget, mirip dengkur kucing gede yang lagi manja supaya si bocah tidak takut. Dia menggoyangkan pundaknya hati-hati, memberi sensasi seolah-olah anak itu lagi naik binatang buas di tengah hutan.

​Bocah kecil itu bertepuk tangan gembira, tawa renyahnya kedengeran lagi. "om lucu! Kuda putihnya hebat!"

​"Saya ini harimau, Adik kecil, bukan kuda," koreksi Mregapati dengan suara bass-nya yang diusahakan selembut mungkin, walaupun ekspresi mukanya tetep datar tanpa dosa. Kontras sekali: sosok pelindung gaib yang ditakuti, sekarang pasrah sekali dijadikan tunggangan roh balita.

 Yiwa yang melihat dari balik celah pintu benar-benar harus menaahan tertawa agar tidak ngakak di tempat.

​Yiwa akhirnya mutusin buat masuk. Dia dorong pintu kamar agak lebar. Suara engsel pintu yang halus ternyata langsung ketangkap sama pendengaran tajam Mregapati. Insting pelindungnya langsung bangkit, matanya sempat berkilat warna kuning keemasan yang tajam. Tapi begitu tau kalau yang dateng itu Yiwa, ketegangan di tubuh kekarnya langsung ilang.

 Mregapati dengan sigap langsung nurunin si bocah, dan berdiri membenarkan jubahnya yang agak miring. ​Anak kecil itu mengucek matanya yang bulat pake tangan mungilnya, terus mengalihkan pandangannya ke arah Yiwa yang sekarang sedang melangkah masuk ke dalam kamar.

​Yiwa jalan perlahan, nyoba biar gerakannya nggak bikin makhluk kecil itu kaget. "Mregapati... lo lagi ngapain sih? Terus ini bocil siapa? Kenapa bisa ada roh anak kecil di dalam rumah ini?" tanya Yiwa, matanya nggak bisa lepas dari roh balita itu.

​Belum sempat Mregapati buka mulut buat ngejelasin, roh anak kecil itu tiba-tiba bangkit berdiri. Kaki-kaki mungilnya yang transparan melangkah tertatih-tatih di atas karpet, bergerak mendekati Yiwa. Wajah polosnya langsung berbinar cerah banget, memancarkan rasa suka cita yang luar biasa seolah-olah dia baru aja ketemu sama orang yang paling dia sayang di dunia.

​Yiwa mendadak matung di tempatnya. Dia ngerasain ada getaran aneh di dalam dadanya—sebuah ikatan batin yang mendadak muncul dan mencengkeram hatinya kuat-kuat. Ada rasa nyesek, kangen, sekaligus bahagia yang campur aduk jadi satu.

​Anak itu berhenti tepat di depan kaki Yiwa. Dia mendongak, natap lurus ke dalam mata Yiwa dengan pandangan yang penuh kerinduan yang mendalam. Terus, kedua lengan mungilnya terentang lebar ke atas, minta digendong dan didekap.

​"Mama..." bisik roh kecil itu pake suara cadelnya yang kedengeran jernih banget. "Mama... Adik kangen..."

​Mendengar kata itu, pertahanan Yiwa langsung runtuh. Panggilan "Mama" dari bibir mungil itu rasanya bener-bener nyata dan langsung nembus sampai ke sukmanya. Tanpa mikirin logika lagi, Yiwa langsung berlutut di atas karpet dan merentangkan tangannya lebar-lebar, memeluk erat roh kecil yang tak kasat mata bagi dunia luar tersebut ke dalam dekapannya.

...♡Bersambung ♡...

1
Kim Borahae
seru!! semangat yaa💪

Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile saya. Terima kasih /Smirk/
Ana Dww
maaf yiwa, aku adalah Nara yang setiap pulang dari pergi agak jauh harus mandi
Ana Dww
Lanjuttt kakk
Ana Dww
Aku suka karena emang ada horor, romantis dan komedinyaaa
Ana Dww
🤣🤣🤣
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
heeeyy siapa lagi ini
Ana Dww
Woy, kram kamar mandi kosku sering bocir dikit malam hari 😭😭😭😭
seren_dpty: positif thinking aja, mungkin lagi di buat mainan🤭
total 1 replies
Ana Dww
Yiwa, kita sama tidur terlalu hening bikin pikiran berisik
Ana Dww: 🤣 biar nanti tidurnya sambil mimpi kicau mania
total 2 replies
Ana Dww
waittt
Ana Dww
Kak, ini cerita horor romantiskah?
seren_dpty: iyaps betull
total 1 replies
Ana Dww
Waaahhh , suka sama ceritanya
seren_dpty: makasih ya kakkk
total 1 replies
Ana Dww
Waaah keren kak 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!