Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung yang meresahkan
GGGRROOOOKKKHHH.....
GGGRROOOOOKKHHH.....
Clarinda terjaga tengah malam. Em, bukan. Tepatnya Clarinda ini tak tahu tengah malam atau dini hari atau malah sudah pagi. Matanya masih terpejam.
"Ya ampuuun... Kebo siapa nyasar dimari?!" Gumam Clarinda.
GRRROOOOKKKHHHH…
GGRRROOOOKKKKHHH...
Clarinda membuka mata perlahan, penglihatannya masih belum jelas. Cahaya kamar remang-remang. Keningnya mengernyit. Hening beberapa detik. Lalu...
GRRROOOOKKHHHH…
GGGRRROOOOKKKHHH...
Clarinda spontan duduk.
Mukanya langsung pucat syok.
"Oemjiiiiii beneran ada kebo?!"
Ia menoleh kanan kiri.
Matanya langsung membulat sempurna.
GRRRROOOOKHHHHH…
HUAAAAAA!!!
Clarinda sungguh terkejot!
Zavian tidur terlentang tanpa atasan dengan sangat tenang. Tubuh atletis nya terpampang jelas. Wajahnya damai sangat tampan.
Eh tunggu! Clarinda ada di kasur? Tidur bersama Zavian?
Lagi, seperti kemarin???
Padahal jelas-jelas tadi tidur di sofa.
“Astaga…” Clarinda menelan ludah.
Jangan-jangan dia benar-benar punya kelainan sleep walking?!
Namun pikirannya buyar saat suara itu terdengar lagi.
GGGRRROOOOKKKHHH...
GGGRRROOOOKKKHHH...
OH YA AMPUN!!!
Clarinda melongo tak percaya.
“Ganteng ganteng ngoroknya brutal…” bisiknya shock.
Kemarin aman-aman saja kok. Kenapa sekarang berisik banget!
Ia mendekat sedikit ke wajah Zavian.
GRRROOOKHHH…
Clarinda refleks mundur.
“Oemjiii… kebo munggah kasur."
Tangannya menutup mulut menahan tawa.
Lalu mendekat lagi. Wajah Zavian benar-benar tampan. Rahangnya tegas, hidung mancung, bulu mata lentik.
GGGRRRROOOOKKKHHHH...
"Diiih... Kenalpot blong. Ck, ck, ck, ck..." Clarinda cekikikan sendiri.
Lalu tangannya jahil memainkan ujung hidung Zavian seperti babi.
“Preeet… preeet..."
GGGRRRROOOOKKKHHHH…
"Preeeet..."
GGGRRRROOOOKKKHHHH...
"Preeeet..."
GGGRRROOOOKKKHHH...
Clarinda sampai terguling menahan ngakak. Suaranya tawanya cuma bisa ia redam, cekikikan seperti mbak Kunti. Hihihihihihihi.....
Lalu matanya berbinar.
“Aha!” Ia mengambil ponsel kemudian merekam wajah tidur Zavian.
“Ini bukti sejarah,” bisiknya penuh kemenangan.
Belum juga semenit...
“Teruskan!!! Kugantung kau di sutet.”
“AAAAAA!” Clarinda menjerit sampai hampir menjatuhkan HP.
“Lho kok bangun?"
Mata Zavian memang masih terpejam. Namun suaranya terdengar jelas.
“Instingku normal. Hapus!”
Clarinda langsung memeluk ponselnya erat.
“Nggak mau! Ini aset berharga tau!"
“Clarinda.”
Akhirnya Zavian membuka mata perlahan. Lirikannya tajam. Tapi ia masih setengah mengantuk.
“Kasih sini.”
“Nggak!”
“Hapus!”
“Ogah!”
“Hapus kok!”
“Sudah kubilang ini aset berharga!”
“CLARINDA!!!”
“Hahahaha malu nih yeeee... ternyata Bapak Zavian jelmaan kebo!”
Zavian langsung bangkit duduk.
Clarinda terpaku pada Zavian yang bertelanjhang da da.
Deg.
Matanya langsung membesar.
“Aaaaa! Cabul cabul cabul! Mesum mesum mesum!”
Zavian mengusap wajah frustrasi.
“Berisik banget sih.”
“PAKAI BAJU PAKAI BAJU! Tidak tahu malu!Mataku ternoda ini!"
“Lah terus tadi kau ngrekam apa? Aku sudah begini sejak jaman batu!"
"Oh dasar...emang tua."
“Sini HP-nya.”
“Nggak mau!”
Zavian yang mulai kesal langsung bergerak cepat.
“HEY!”
Tubuh Clarinda dijatuhkan ke kasur.
Bruk!
Tahu-tahu Zavian sudah mengungkung tubuh gadis itu. Clarinda langsung panik setengah mati.
“HUAHAAAA! Mamaaaa! Tolooong! Aku mau dicabuli!”
“DIAM!” Zavian buru-buru membekap mulut Clarinda.
Hening.
Sangat hening.
Napas mereka bertabrakan.
Wajah mereka terlalu dekat.
Clarinda mendadak diam.
Jantungnya langsung jungkir balik tak karuan. Suaranya bahkan terdengar seperti detak jam dinding.
Deg.
Deg.
Deg.
Mata Zavian menatapnya dalam.
Terlalu dekat.
Terlalu tampan.
Dan aroma tubuh lelaki itu... ya Tuhan.
Clarinda bahkan bisa melihat jelas garis rahang tegasnya.
Bulu matanya.
Tatapan matanya.
“Kenapa bengong?” gumam Zavian rendah.
Clarinda langsung tersadar. “M-mana aku bengong!”
Padahal jelas dia bengong. Parahnya lagi da-danya berdetak semakin brutal seperti genderang perang.
Sepertinya ia harus minum obat jantung biar tenang.
Hari ini dua lelaki membuat jantungnya kerja ronda, eh kerja rodi.
Rama bikin deg-degan.
Zavian bikin hampir gagal napas.
Menyebalkan.
Clarinda masih menatap wajah Zavian tanpa sadar. Dilihat dari sudut mana pun lelaki ini memang ganteng.
Sayang...
“Tua,” batin Clarinda otomatis.
Saat Clarinda masih sibuk melongo, tahu-tahu ponselnya sudah berpindah tangan.
“Hah?!”
Zavian puas menggoyangkan ponselnya.
“Kembalikan!”
Zavian santai menghapus video tentang dirinya tadi.
“NOOOOO! Bukti sejarahku!”
“Sudah hilang.” Zavian meletakkan HP itu kembali di samping Clarinda. “Sekarang tidur.” Tubuh Zavian menjauh lalu berbaring ditempatnya tadi.
Clarinda langsung duduk sambil manyun.
“Aaaah dasar kebo! Kebo tuwir. Waktunya di gor0k buat Qurban."
Zavian tak menggubris ocehan gadis itu.
Clarinda turun dari kasur hendak kembali ke sofa. Namun suara Zavian menghentikannya.
“Tetap di tempatmu bocah.”
Clarinda menoleh.
“Aku malas menggendongmu lagi.”
Clarinda langsung membeku. “Ja-Jadi… yang mindahin aku ke kasur itu kau?”
“Memangnya kau melayang sendiri?”
Clarinda langsung melongo.
Jadi bukan karena sleepwalking yak? Padahal dia sudah cemas. Bahaya banget kalau merem jalan nyasar ke kuburan.
'Jadi... Pak Tua yang mindahin?!'
'Digendong?'
'Oemjiiii!'
Wajah Clarinda mendadak panas, pipinya seperti digerayangi seribu semut krangnggang.
“Tidur bocah! Awas kau ribut lagi!”
Clarinda berdiri kikuk tapi akhirnya kembali naik ke kasur perlahan. Ia tidur membelakangi Zavian. Memberikan batas dengan guling menarik selimut sampai kepala. Mukanya merah total.
Sementara di belakangnya, Zavian melirik gundukan selimut itu sekilas. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kebo, kenalpot... sopan sekali mulutnya,” sarkas Zavian.
Kamar kembali hening. Lalu...
GRRROOOOKKKHHHH… Zavian berlagak ngorok sekeras mungkin.
"AAAAAA... TIDUR DI KANDANG KEBO SANA PAK TUA!!!" teriak Clarinda frustasi dari dalam selimut.
Zavian langsung ngakak. Ini momen yang sangat langkah lelaki itu bisa tertawa lepas.
***
Selama para tetua masih di rumah, maka Clarinda dan Zavian akan terus berangkat bersama. Clarinda turun di gang rumah Arin. Arin sudah standby menunggu mobil kepala sekolah itu menjauh sebelum akhirnya keluar menghampiri Clarinda dan berangkat sekolah bersama.
Tak butuh waktu lama sampai di parkiran sekolah. Arin sudah tak sabar mendengar cerita Clarinda soal kencannya bersama Rama, dan yang lebih antusias lagi tentu cerita tentang Clarinda yang sekarang sudah menikah dengan kepala sekolah mereka sendiri.
“Kita cari waktu yang tepat deh, Rin.”
“Gini aja, lo nginep di rumah gue. Besok kan hari Minggu tuh. Kayak dulu, Cle. Lo sekarang udah nggak pernah nginep lagi. Mama nanyain kamu terus.” Arin membujuk sambil menggandeng tangan sahabatnya. “Atau aku aja yang ke rumahmu?”
“Ngawur! Bisa dicekik gue sama Pak Tua.”
Arin terkekeh geli. “Manggil suami tuh yang romantis dong,” godanya.
“Apaan sih.”
Mereka berjalan menuju kelas. Saat melewati pertigaan lantai dua, Clarinda dan Arin berhenti sejenak. Di sebelah kanan terdapat ruang kepala sekolah. Di depan pintu ruangan itu berdiri seorang wanita cantik. Ia tersenyum tipis sebelum mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.
“Cih, nggak cukup satu. Kebo playboy,” gumam Clarinda kesal.
“Siapa tuh?” tanya Arin penasaran.
“Dara, kakaknya Meta.”
“Meta punya kakak?”
“Iya. Gue taunya pas di rumah sakit waktu itu.”
“Wah, pasti ada apa-apa tuh sama Pak Zavian. Yuk kita intip, Cle.” Arin menarik tangan Clarinda, tapi gadis itu malah diam di tempat.
“Biarin aja.”
“Loh kok? Itu suamimu loh.”
“Arin! Mulut lo!”
“Ups, sorry.” Arin pura-pura memukul bibirnya sendiri. “Tapi serius, kamu nggak takut Pak Zavian diapa-apain?”
Clarinda malah tertawa kecil. “Justru gue takut ceweknya yang diapa-apain.”
“Waduh, Cle. Itu malah gawat. Kalau kakaknya si Meta minta pertanggungjawaban gimana? Bisa jadi madu lo nanti. Atau yang lebih ekstrim, lo diceraikan.”
Clarinda memutar matanya malas. “Kebanyakan nonton sinetron lo.”
“Bukan… tapi dracin sama drakor juga."
“Udahlah, ayo ke kelas.”
*
“Pagi, Del…” sapa Clarinda dan Arin bersamaan.
“Pagi, sobat-sobat gue!” Dela menyambut heboh sambil menggoyangkan bolpoin pink miliknya yang memiliki hiasan benang menyerupai rambut di ujungnya.
Arin dan Clarinda duduk di bangku mereka. Namun dari bangku belakang, Dela tiba-tiba mendekatkan kepalanya masuk di antara mereka berdua.
“Lo jadian sama Rama, Cle?” tanyanya tiba-tiba.
“Jadian?” Clarinda belum connect.
Dela berdiri lalu pindah ke bangku Arin dan Clarinda.
“Aduh, Clea… lemot banget sih. Di grup kelasnya Rama udah heboh.”
“Heboh apaan?” tanya Arin ikut penasaran.
“Foto-foto kalian di mall kemarin bikin heboh kelasnya Rama tau!” Dela menunjukkan salah satu foto di ponselnya.
“What?” Clarinda dan Arin saling pandang.
“Coba sini lihat.” Arin mengambil ponsel Dela. Ternyata bukan cuma satu foto. Ada beberapa gambar yang memperlihatkan Clarinda dan Rama berjalan bersama. Bahkan ada foto saat tangan mereka saling menggenggam. Pantas saja semua orang langsung mengira mereka jadian.
“Dari tadi Meta bolak-balik nyamperin kelas kita,” tambah Dela.
Fix. Ada penguntit nih.
Clarinda ingin menemui Rama tapi guru sudah lebih dulu masuk ke kelas.
Bu Nindi—wali kelas XII IPS 2—langsung memberikan materi geografi lalu diakhir beliau mengumumkan bahwa minggu depan diadakan simulasi ujian nasional. Para siswa diminta mempersiapkan diri dengan baik.
Seketika kelas langsung heboh.
“Yaaa… cepat banget waktunya!”
Bu Nindi lalu menatap Clarinda. “Clea, temui kepala sekolah di ruangannya ya.”
Deg!
“Apalagi maunya?” gerutu Clarinda pelan.
“Wah Cle, lo bikin kasus apa lagi sampai dipanggil kepala sekolah?” bisik Dela dari belakang dengan mata berbinar penasaran.
“Em… harus sekarang ya, Bu?” Clarinda males ketemu Zavian.
Bu Nindi mengangguk. “Tapi saya nggak merasa punya kasus kok, Bu.”
“Nanti kamu jelaskan sendiri saja, Clea.”
Clarinda menghela napas panjang lalu beranjak keluar kelas. Alih-alih langsung menuju ruang kepala sekolah, ia malah turun ke kantin.
Nge-es teh dulu sebelum berhadapan sama Pak Tua.
Tapi begitu mencium aroma harum masakan kantin, perutnya langsung keroncongan.
“Mie goreng, Budhe… kasih bakso, kasih sosis, cabe lima ya. Oh iya, taburan ayamnya banyakin.”
Budhe kantin terkekeh. “Lho, Mbak Clea nggak ada kelas emangnya?”
“Bolos bentar. Laper,” jawab Clarinda santai sambil nyengir. “Daripada pingsan di kelas.”
Setelah dirasa cukup mengisi amunisi, Clarinda akhirnya berjalan menuju ruang kepala sekolah. Saat melewati ruang pendaftaran murid baru, langkahnya melambat.
“Ramai banget,” gumamnya pelan.
Namun beberapa detik kemudian Clarinda malah syok sendiri melihat para calon wali murid yang didominasi ibu-ibu berdandan mencolok dari atas sampai bawah.
Clarinda menghampiri salah satu ibu yang baru keluar dari ruangan sambil membawa map plastik biru berlogo SMA Cendikia Bangsa.
“Anaknya daftar masuk sini ya, Bu?” sapa Clarinda ramah.
“Iya, Mbak,” jawab ibu itu bangga. “Kepala sekolahnya ganteng banget. Ibu serasa balik remaja kalau lihat.”
Clarinda nyengir kaku.
“Pindah ke sekolah lain aja, Bu. Jangan di sini. Saya aja mau keluar.”
Wajah ibu itu langsung berubah panik. “Loh? Emangnya kenapa, Mbak?”
“Kepseknya emang ganteng sih…” Clarinda mendekat sedikit lalu berbisik dramatis, “tapi cabul. Bahaya!”
“Astaga… yang bener, Mbak?!”
Clarinda mengangguk meyakinkan. “Beneran, Buk. Dia tuh modal wajah ganteng buat ngincer siswi-siswi cantik di sini, masih seger.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kayak saya misalnya. Makanya saya mau keluar sekolah. Takut.”
Bukannya panik, ibu itu malah terkekeh geli. “Wah bagus dong kalau anak saya jadi inceran. Pak Zavian langsung saya jadiin mantu.” Ibu itu mesem-mesem gak jelas.
Clarinda sampai kehilangan kata-kata.
"Stress!” batinnya pasrah.
“Mbak, fotoin saya bareng Pak Zavian," ibu itu memberikan paksa ponselnya ke tangan Clarinda. Lalu melesat melewati Clarinda.
Clarinda mendelik pelan. Ia langsung berbalik
dan hampir saja jantungnya copot.
Zavian sudah berdiri tepat di belakangnya.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"